Larangan bermalas-malasan dalam Islam menjadi pengingat bahwa seorang Muslim perlu menggunakan waktu dan kemampuannya dengan baik. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjalani hidup tanpa tujuan, menunda kewajiban, atau membiarkan kemampuan yang dimiliki tanpa usaha. Sebaliknya, seorang Muslim perlu berusaha menjalankan kewajiban dan mengambil bagian dalam berbagai kebaikan.
Rasa malas dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin menunda shalat, enggan belajar, tidak menyelesaikan tanggung jawab, atau terus menunda pekerjaan yang sebenarnya dapat ia lakukan. Jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat menghalangi seseorang untuk berkembang dan mencapai tujuan yang baik.
Karena itu, larangan bermalas-malasan dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan duniawi. Sifat malas juga dapat memengaruhi ibadah, perjuangan, pendidikan, dan tanggung jawab seorang Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Islam Mengajarkan Umatnya untuk Bersiap dan Bertindak
Salah satu gambaran tentang bahaya sifat malas terdapat dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 71–72:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, lalu berangkatlah berkelompok-kelompok atau berangkatlah bersama-sama. Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang benar-benar sangat berlambat-lambat. Maka, jika kamu ditimpa musibah, dia berkata, ‘Sungguh, Allah telah memberi nikmat kepadaku karena aku tidak ikut bersama mereka.’”
Ayat tersebut berbicara dalam konteks kesiapan dan perjuangan. Namun, ayat ini juga memberikan pelajaran bahwa seorang Muslim tidak seharusnya terus mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Ketika seseorang memiliki kewajiban yang perlu ia jalankan, ia perlu menyiapkan diri dan mengambil tindakan.
Laman Republika menjelaskan bahwa sifat malas dapat menghalangi seseorang dalam mencapai tujuan dan menjalankan perjuangan. Dalam penjelasan terhadap ayat tersebut, sikap berlambat-lambat digambarkan sebagai bentuk keengganan untuk menjalankan tugas yang semestinya dilakukan.
Rasulullah ﷺ Memohon Perlindungan dari Sifat Malas
Larangan bermalas-malasan dalam Islam juga terlihat dari doa Rasulullah ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari kelemahan dan kemalasan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa susah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari).
Doa tersebut menunjukkan bahwa kemalasan bukan sifat yang seharusnya dipelihara. Sifat malas dapat membuat seseorang tidak menggunakan kemampuan yang sebenarnya telah Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, seorang Muslim dapat menjadikan doa ini sebagai pengingat untuk terus memperbaiki diri.
Baca juga: Contoh Bacaan Dzikir Pagi Sore Beserta Keutamaannya
Kemalasan juga sering berkaitan dengan kebiasaan menunda. Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk belajar, tetapi terus menunggu waktu yang dianggap sempurna. Padahal, perubahan sering kali dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sifat Malas Dapat Mengganggu Ibadah
Rasa malas tidak hanya memengaruhi pekerjaan dan pendidikan. Sifat ini juga dapat mengganggu hubungan seorang Muslim dengan Allah. Seseorang dapat merasa berat untuk berwudhu, menunda shalat, atau enggan membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
Padahal, ibadah membutuhkan kesungguhan dan pembiasaan. Semakin seseorang menuruti rasa malas, semakin sulit pula ia membangun kebiasaan baik. Sebaliknya, ketika seseorang berusaha melawan rasa malas dengan tindakan sederhana, ia dapat membangun kedisiplinan secara perlahan.
Misalnya, seseorang yang merasa berat membaca Al-Qur’an dapat memulai dengan beberapa ayat setiap hari. Santri yang kesulitan memulai hafalan dapat menentukan target kecil terlebih dahulu. Langkah sederhana tersebut lebih baik daripada terus menunggu motivasi datang tanpa melakukan apa pun.
Islam Mendorong Muslim untuk Menggunakan Waktu dengan Baik
Waktu merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang memiliki kesempatan yang terbatas untuk belajar, beramal, dan memperbaiki diri. Karena itu, seorang Muslim perlu belajar mengelola waktunya agar tidak habis untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat.
Namun, menghindari sifat malas tidak berarti seseorang harus bekerja tanpa istirahat. Tubuh tetap memiliki hak untuk beristirahat. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan membiarkan rasa malas menguasai diri hingga seseorang meninggalkan kewajiban atau menyia-nyiakan banyak kesempatan.
Seorang Muslim dapat membagi waktunya antara ibadah, belajar, bekerja, keluarga, dan istirahat. Dengan pengaturan yang baik, seseorang dapat memenuhi kebutuhan tubuh sekaligus menjalankan tanggung jawab. Keseimbangan tersebut membantu seseorang menjadi lebih konsisten dalam menjalani kehidupan.
Baca juga: Agar Tidur Bernilai Ibadah, Ini Niat dan Amalan yang Perlu Dilakukan
Cara Melawan Rasa Malas dalam Kehidupan Sehari-hari
Melawan rasa malas tidak selalu membutuhkan perubahan besar dalam waktu singkat. Seseorang dapat memulai dari kebiasaan kecil yang realistis. Misalnya, menyelesaikan satu tugas sebelum membuka media sosial atau menentukan waktu khusus untuk belajar dan membaca Al-Qur’an.
Selain itu, seseorang perlu mengingat kembali tujuan dari aktivitas yang ia lakukan. Ketika seorang pelajar memahami tujuan belajarnya, ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk tetap berusaha. Begitu pula seorang santri yang mengingat tujuan menghafalkan Al-Qur’an dapat menjadikan tujuan tersebut sebagai motivasi ketika rasa malas muncul.
Doa juga menjadi bagian penting dalam melawan kelemahan diri. Seorang Muslim tidak hanya mengandalkan kekuatan pribadi, tetapi juga memohon pertolongan kepada Allah. Oleh sebab itu, doa Rasulullah ﷺ untuk berlindung dari kelemahan dan kemalasan dapat terus diamalkan.
Larangan Bermalas-malasan dalam Islam sebagai Pengingat untuk Terus Berusaha
Larangan bermalas-malasan dalam Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu memiliki semangat untuk menjalankan tanggung jawab dan melakukan kebaikan. Rasa malas memang dapat muncul pada siapa saja. Namun, seseorang perlu belajar untuk tidak membiarkan rasa tersebut menguasai keputusan dan kebiasaannya.
Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha sambil tetap menyadari keterbatasan diri. Seorang Muslim dapat beristirahat ketika membutuhkan istirahat, tetapi ia juga perlu kembali bergerak ketika memiliki kewajiban. Dengan cara ini, seseorang dapat menjalani kehidupan secara lebih seimbang.
Pada akhirnya, melawan rasa malas dapat kita mulai dari satu langkah sederhana. Bangun dan menunaikan shalat, menyelesaikan tugas yang tertunda, membaca beberapa ayat Al-Qur’an, atau memulai pekerjaan yang selama ini tertunda dapat menjadi langkah awal. Dari kebiasaan kecil yang kita lakukan secara konsisten, seseorang dapat membangun kehidupan yang lebih disiplin dan produktif.




