Masyarakat Jawa mewarisi tembang macapat sebagai karya sastra yang sarat makna. Munculnya tembang ini bertepatan dengan masa akhir Majapahit dan awal penyebaran Islam oleh Wali Songo. Para wali menggunakan media ini untuk menyisipkan ajaran tauhid secara halus. Hingga kini, kandungan tembang macapat tetap relevan sebagai panduan moral dan spiritual bagi siapa pun yang mendalaminya.
Berikut adalah beberapa aspek utama yang membangun kekayaan makna dalam tembang macapat:
1. Filosofi Perjalanan Hidup Manusia
Secara garis besar, kandungan tembang macapat menceritakan siklus hidup manusia dari alam rahim hingga liang lahat. Para pujangga membagi fase ini ke dalam sebelas jenis tembang yang berurutan.
Misalnya, tembang Maskumambang menggambarkan janin yang masih mengapung di rahim ibu. Selanjutnya, tembang Mijil menceritakan proses kelahiran bayi ke dunia. Memasuki usia remaja, muncul tembang Sinom yang melambangkan masa muda yang bersemi.
Tak berhenti di situ, fase dewasa terwakili oleh Asmaradana yang berbicara tentang cinta. Kemudian, tembang Pangkur mengajak manusia untuk mulai menjauhi nafsu duniawi di usia tua. Akhirnya, seri ini ditutup dengan Pocung yang menggambarkan raga saat terbungkus kain kafan.

2. Muatan Pendidikan dan Budi Pekerti
Selain filosofi usia, kandungan tembang macapat juga membawa pesan moral yang sangat kuat. Penulis tembang sering menyisipkan nasihat tentang pentingnya kejujuran, kerendahan hati, dan kerja keras. Sunan Muria, yang dikenal sebagai penulis tembang Sinom dan Kinanthi, juga menggunakan tembang tersebut untuk berdakwah.
Aturan baku seperti guru gatra dan guru lagu bukan sekadar hiasan teknik. Struktur yang disiplin ini sebenarnya mengajarkan manusia untuk hidup teratur dan patuh pada norma. Melalui bait-baitnya, nenek moyang kita ingin membentuk karakter generasi yang beradab dan memiliki integritas tinggi.
3. Media Dakwah dan Transformasi Nilai
Transisi budaya dari Hindu-Buddha ke Islam terlihat sangat jelas dalam kandungan tembang macapat. Walisongo berhasil mengubah narasi lama menjadi media dakwah yang efektif. Mereka mengganti isi tembang dengan ajaran tauhid, cara beribadah, dan kisah-kisah teladan para Nabi.
Strategi ini terbukti sangat ampuh karena masyarakat tidak merasa dipaksa untuk berpindah keyakinan. Mereka belajar agama melalui nada dan rima yang sudah akrab di telinga. Hasilnya, Islam mampu menyatu dengan budaya lokal tanpa harus menghilangkan identitas asli masyarakat Jawa.
4. Refleksi Kedekatan dengan Sang Pencipta
Pada bagian akhir setiap rangkaian, kandungan tembang macapat selalu mengingatkan manusia akan kematian. Tembang Megatru dan Pocung menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara.
Pesan ini mendorong pendengarnya untuk selalu mempersiapkan bekal amal sebelum ajal menjemput. Dengan demikian, tembang macapat berfungsi sebagai pengingat spiritual agar manusia tetap berjalan di jalur yang benar.
Baca juga: Makna dan Sejarah Lagu Gundul Gundul Pacul
Mempelajari kandungan tembang macapat membuat kita lebih bijak dalam memahami hakikat diri. Warisan ini menawarkan perspektif mendalam tentang bagaimana seharusnya kita bersikap di setiap tahapan umur. Meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai luhur di dalamnya tetap bisa menjadi kompas bagi kita untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.




