Nasihat Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu warisan berharga dalam khazanah Islam. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ dan termasuk Khulafaur Rasyidin. Selain dikenal sebagai sosok pemberani dan berilmu, Ali juga memiliki banyak nasihat tentang ilmu, akhlak, persahabatan, serta cara menjalani kehidupan.
Nasihat tersebut tetap relevan hingga sekarang. Terlebih bagi seorang Muslim yang ingin memperbaiki diri, perkataan penuh hikmah dapat menjadi bahan renungan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
1. Ilmu Lebih Utama daripada Harta
Salah satu nasihat Ali bin Abi Thalib yang populer berkaitan dengan kedudukan ilmu. Ilmu memiliki nilai yang berbeda dari harta karena ilmu dapat menjaga pemiliknya, sedangkan harta membutuhkan penjagaan.
Ilmu juga dapat terus berkembang ketika seseorang membagikannya kepada orang lain. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak berhenti mengejar kekayaan dunia, tetapi juga berusaha memperkaya diri dengan ilmu yang bermanfaat.
Bagi pelajar, pesan ini menjadi pengingat agar tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar. Kesungguhan menuntut ilmu dapat menjadi bekal untuk kehidupan sekaligus mendatangkan manfaat bagi orang lain.

2. Jangan Menilai Seseorang dari Penampilannya
Manusia sering kali memberikan penilaian berdasarkan apa yang terlihat. Padahal, penampilan tidak selalu menggambarkan kualitas akhlak dan hati seseorang.
Ali bin Abi Thalib mengajarkan pentingnya melihat seseorang dengan lebih bijaksana. Oleh karena itu, jangan terburu-buru merendahkan orang lain hanya karena melihat kekurangan yang tampak dari luar.
Sikap tersebut juga membantu kita menjaga diri dari kesombongan. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak selalu diketahui oleh orang lain.
3. Jaga Lisan dalam Berbicara
Perkataan dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan masalah. Karena itu, menjaga ucapan menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Nasihat Ali bin Abi Thalib tentang lisan dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak berbicara secara sembarangan. Sebelum menyampaikan sesuatu, kita perlu mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.
Apalagi pada era media sosial, seseorang dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara juga perlu diterapkan ketika menulis komentar, mengunggah konten, atau membagikan informasi.
Baca juga: Asal Peringatan Maulid Nabi dan Sejarah Perkembangannya
4. Pilih Teman dengan Bijak
Lingkungan pertemanan dapat memengaruhi kebiasaan dan karakter seseorang. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan dan mendorong kita untuk melakukan kebaikan.
Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat membuat seseorang terbiasa melakukan hal yang tidak baik. Maka dari itu, memilih teman bukan hanya persoalan menemukan orang yang menyenangkan, tetapi juga mencari lingkungan yang membantu kita menjadi pribadi lebih baik.
Pelajar khususnya perlu memperhatikan hal ini. Masa sekolah dan masa remaja merupakan periode ketika pengaruh teman sangat kuat dalam membentuk kebiasaan.
5. Jangan Berhenti Melakukan Introspeksi
Manusia tidak luput dari kesalahan. Karena itu, seseorang perlu memiliki kebiasaan mengevaluasi dirinya sendiri.
Muhasabah membantu kita mengenali kekurangan dan memperbaikinya secara bertahap. Daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, seseorang sebaiknya terlebih dahulu melihat apa yang masih perlu diperbaiki dalam dirinya.
Dengan demikian, nasihat Ali bin Abi Thalib dapat kita jadikan bahan untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih baik. Ilmu, ucapan, pertemanan, dan sikap terhadap diri sendiri perlu mendapat perhatian.
Mengamalkan Nasihat Ali bin Abi Thalib
Mempelajari nasihat Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan menghafalkan kata-kata bijaknya. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang pelajar dapat memulainya dengan bersungguh-sungguh mencari ilmu, menjaga perkataan, memilih teman yang baik, serta berani mengakui kesalahan. Sementara itu, orang dewasa dapat menerapkannya dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, nasihat yang baik akan memberikan manfaat ketika seseorang mau mengamalkannya. Semakin sering kita melakukan introspeksi, semakin besar pula kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi Muslim yang lebih baik.















