Dalam khazanah hadits Nabi, Hadits Arbain karya Imam Nawawi menjadi rujukan penting bagi umat Islam. Setiap hadits di dalamnya memuat prinsip dasar ajaran Islam. Salah satu yang sangat fundamental adalah hadits arbain ke-7, yang menekankan makna nasihat dalam agama.
Hadits ini sering dibaca, namun belum tentu dipahami secara utuh. Padahal, pesan yang terkandung di dalamnya menyentuh inti hubungan seorang Muslim dengan Allah, Rasul-Nya, dan sesama manusia.
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]
Pernyataan singkat ini menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar ritual ibadah. Islam juga menuntut kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab sosial dari seorang Mukmin dan Muslim.
Saling menasehati contoh pengamalan hadits arbain nawawi ke-7 (foto: freepik)
Nasihat kepada Allah dan Kitab-Nya
Nasihat kepada Allah bukan berarti memberi masukan kepada Sang Pencipta. Maknanya adalah memurnikan tauhid, menaati perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Sikap ini tercermin dalam keikhlasan beribadah dan menjauhi kemusyrikan.
Sementara itu, nasihat kepada Kitab Allah diwujudkan dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Selain itu, menjaga kehormatannya serta tidak menyelewengkan maknanya juga termasuk bentuk nasihat yang nyata.
Hadits arbain ke-7 juga menegaskan pentingnya nasihat kepada Rasulullah. Hal ini diwujudkan dengan mencintai beliau, mengikuti sunnahnya, serta membela ajarannya dari penyimpangan.
Adapun nasihat kepada pemimpin kaum Muslimin berarti menginginkan kebaikan bagi mereka. Bentuknya bisa berupa doa, dukungan dalam kebaikan, serta mengingatkan dengan cara yang bijak. Islam tidak mengajarkan provokasi, melainkan perbaikan yang dilandasi adab.
Nasihat untuk Sesama Umat Islam
Bagian terakhir dari hadits ini menekankan kewajiban saling menasihati antar sesama Muslim. Nasihat bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menjaga. Dalam praktiknya, nasihat harus disampaikan dengan kelembutan dan niat yang lurus.
Faktanya, banyak konflik sosial bermula dari hilangnya semangat nasihat yang tulus. Kritik berubah menjadi celaan. Kepedulian bergeser menjadi kepentingan pribadi.
Relevansi Hadits Arbain ke-7 dalam Kehidupan Modern
Di tengah kehidupan yang serba cepat, nilai nasihat sering dianggap tidak penting. Namun, justru pada masa inilah hadits arbain ke-7 menjadi sangat relevan. Media sosial, misalnya, membutuhkan etika nasihat agar tidak menjadi sarana fitnah.
Hadits ini mengajarkan bahwa kualitas iman tercermin dari kepedulian terhadap kebaikan orang lain. Tanpa nasihat, agama hanya akan menjadi simbol tanpa ruh.
Hadits arbain ke-7 menegaskan bahwa agama berdiri di atas keikhlasan dan kepedulian. Nasihat bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama sesuai kapasitas masing-masing.
Dengan memahami hadits ini secara menyeluruh, seorang Muslim diharapkan mampu menjaga hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan sosial. Inilah wajah Islam yang rahmatan dan penuh keseimbangan.
Kitab Arbain Nawawi merupakan salah satu karya hadits paling populer dalam memastikan dasar ajaran Islam tetap terjaga. Kitab ini sering menjadi rujukan awal bagi penuntut ilmu di pesantren maupun lembaga pendidikan Islam. Bahkan hingga kini, arbain nawawi masih diajarkan lintas generasi. Hal tersebut menunjukkan kedalaman isi dan relevansinya sepanjang zaman.
Identitas Singkat Kitab Arbain Nawawi
Kitab Arbain Nawawi disusun oleh Imam Nawawi, ulama besar mazhab Syafi’i abad ketujuh hijriah. Beliau menghimpun hadits-hadits yang bersifat jami’, yakni mencakup pokok ajaran agama. Dalam kitab ini, Imam Nawawi mengumpulkan empat puluh dua hadits shahih. Tujuannya agar umat Islam memahami fondasi agama secara ringkas namun mendalam.
Setiap hadits dalam kitab ini mengandung kaidah penting dalam Islam. Hadits-hadits tersebut membahas niat, keikhlasan, hukum halal dan haram, serta adab sosial. Selain itu, terdapat pembahasan tentang akhlak, muamalah, dan tanggung jawab pribadi. Oleh sebab itu, kitab ini dianggap mewakili ruh ajaran Islam secara utuh.
Bahasa yang ringkas menjadi keunggulan kitab ini dibanding kitab hadits lainnya. Imam Nawawi memilih redaksi hadits yang jelas dan mudah dihafal. Selain itu, jumlah hadits yang terbatas memudahkan proses pembelajaran bertahap. Maka dari itu, kitab ini sering dijadikan materi hafalan dasar.
Kitab Arbain Nawawi (sumber: dutailmu.co.id)
Penggunaannya di Lingkungan Pesantren
Di banyak pesantren, kitab arbain nawawi menjadi materi awal pembelajaran hadits. Kitab ini berfungsi membentuk pola pikir dan adab santri sejak dini. Melalui pemahaman hadits-hadits tersebut, santri diajak memahami Islam secara seimbang. Akhirnya, pembelajaran tidak berhenti pada hafalan, tetapi berlanjut pada pengamalan.
Meski ditulis ratusan tahun lalu, kitab hadits ini tetap relevan hingga saat ini. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjawab problem kehidupan modern. Hadits tentang niat, kejujuran, dan tanggung jawab tetap dibutuhkan. Oleh karena itu, kitab ini layak terus diajarkan lintas zaman.
Bagi penuntut ilmu, kitab ini merupakan pintu masuk memahami hadits Nabi secara benar. Kitab ini menanamkan prinsip beragama yang lurus dan moderat. Dengan mempelajarinya, seseorang tidak hanya memahami hukum, tetapi juga hikmah. Pada akhirnya, arbain nawawi menjadi fondasi penting dalam perjalanan keilmuan Islam.
Nama Imam Nawawi hampir selalu disebut ketika umat Islam mempelajari hadits dan fiqih. Bahkan hingga saat ini, karya-karyanya masih menjadi rujukan utama di pesantren, majelis ilmu, dan perguruan tinggi Islam. Oleh karena itu, memahami biografi imam nawawi bukan sekadar mengenal tokoh, tetapi juga meneladani jalan hidup seorang ulama besar.
Imam Nawawi dikenal sebagai sosok yang zuhud, tekun menuntut ilmu, dan sangat produktif dalam menulis. Meski usia beliau terbilang singkat, pengaruh keilmuannya justru melintasi zaman.
Latar Belakang dan Masa Kecil Imam Nawawi
Imam Nawawi memiliki nama lengkap Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah. Beliau lahir di Nawa, sebuah desa di wilayah Hauran, Suriah, pada tahun 631 Hijriah. Sejak kecil, Imam Nawawi telah menunjukkan kecenderungan kuat terhadap ilmu agama.
Dahulunya, beliau dikenal sebagai anak yang lebih senang membaca dan menghafal daripada bermain. Bahkan, ayahnya memperhatikan bahwa Imam Nawawi kecil selalu menjaga waktunya untuk belajar. Karena itulah, sang ayah kemudian membawanya ke Damaskus agar mendapatkan pendidikan yang lebih luas.
Kota Damasku tempat Imam Nawawi belajar (foto: wikipedia)
Perjalanan Menuntut Ilmu yang Penuh Kesungguhan
Setibanya di Damaskus, Imam Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyah. Di tempat ini, beliau menghafal kitab-kitab penting dan mendalami berbagai disiplin ilmu Islam. Mulanya, beliau mempelajari fiqih mazhab Syafi’i, ushul fiqih, hadits, bahasa Arab, hingga ilmu tafsir.
Menariknya, Imam Nawawi dikenal sangat menjaga waktu. Dalam biografi imam nawawi disebutkan bahwa beliau belajar hampir sepanjang hari. Bahkan, beliau menghadiri belasan majelis ilmu dalam satu hari tanpa merasa lelah. Kesungguhan inilah yang kemudian membentuk kedalaman ilmunya.
Kepribadian dan Akhlak Imam Nawawi
Selain keilmuannya, Imam Nawawi juga dikenal karena akhlaknya yang luhur. Beliau hidup sederhana, menjauhi kemewahan, dan sangat berhati-hati terhadap urusan dunia. Bahkan, beliau menolak pemberian yang berpotensi mengikat kebebasan ilmunya.
Dalam keseharian, Imam Nawawi terkenal jujur, tegas dalam kebenaran, dan berani menasihati penguasa jika terjadi penyimpangan. Meski demikian, beliau tetap menjaga adab dan tidak bersikap kasar. Sikap inilah yang membuatnya dihormati oleh kawan maupun lawan.
Warisan Karya Imam Nawawi yang Mendunia
Para ulama memperkirakan jumlah karya Imam Nawawi mencapai sekitar 40–50 kitab, meskipun terdapat perbedaan pendapat karena sebagian karya beliau tidak selesai atau berupa risalah singkat. Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal dan terus dipelajari hingga kini ialah Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Riyadhus Shalihin, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Minhajut Thalibin, serta At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. Kitab-kitab tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, terutama hadits, fiqih mazhab Syafi’i, dan adab, yang menunjukkan keluasan keilmuan Imam Nawawi meski beliau wafat dalam usia relatif muda.
Salah satu karya beliau yang paling masyhur adalah Al-Arba’in Nawawiyyah, yang dikenal luas sebagai Kitab Hadits Arbain Nawawi. Kitab ini berisi empat puluh dua hadits pilihan yang menjadi landasan pokok ajaran Islam, meliputi akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak. Imam Nawawi menghimpun hadits-hadits tersebut karena kandungannya bersifat jami’, yaitu merangkum prinsip-prinsip utama agama, sehingga kitab ini sangat dianjurkan untuk dihafal dan dipelajari oleh penuntut ilmu dari berbagai tingkat.
Imam Nawawi wafat pada tahun 676 Hijriah di kampung halamannya, Nawa, dalam usia sekitar 45 tahun. Meski usianya singkat, warisan ilmunya terus hidup hingga kini. Bahkan, hampir tidak ada kajian hadits dan fiqih yang terlepas dari rujukan karya beliau.
Biografi imam nawawi mengajarkan bahwa keikhlasan, disiplin, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu akan melahirkan manfaat yang panjang. Sosok beliau menjadi teladan nyata bahwa keberkahan ilmu tidak diukur dari usia, melainkan dari ketulusan dan pengabdian kepada Allah Swt.
Al Muanawiyah – Hadits ke-3 Arbain Nawawi adalah salah satu hadits paling mendasar dalam ajaran Islam. Hadits ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima pilar utama, yang menjadi fondasi dalam ibadah sekaligus panduan menjalani kehidupan. Bunyi dari hadits tersebut adalah:
“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kelima pilar ini bukan hanya ritual ibadah, tetapi ajaran yang membentuk karakter, moral, dan kepribadian seorang muslim, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Makna Inti Hadits ke-3 Arbain Nawawi
1. Syahadat: Fondasi Tauhid
Syahadat merupakan pernyataan iman yang mengikat hati, lisan, dan perbuatan. Maknanya bukan hanya mengenal Allah, tetapi hidup dengan penuh kesadaran bahwa semua keputusan, tujuan, dan nilai berasal dari tuntunan-Nya.
2. Shalat: Penghubung Hamba dengan Allah
Shalat adalah tiang agama yang menjaga hati tetap hidup. Dengan shalat lima waktu, seorang muslim belajar disiplin, kesabaran, dan kontrol diri. Shalat juga menjadi penjaga dari perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45.
3. Zakat: Membersihkan Harta dan Hati
Zakat mengajarkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi. Ia menjadi solusi ketimpangan sosial dan sarana untuk saling membantu. Spirit zakat membentuk pribadi yang tidak kikir, jujur dalam mengelola harta, dan peka terhadap kebutuhan sesama.
4. Puasa: Melatih Kesabaran dan Kendali Diri
Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang melatih ketahanan mental, pengendalian hawa nafsu, dan empati terhadap orang yang kurang mampu. Ibadah ini menjaga kemurnian hati serta menumbuhkan ketenangan batin. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, puasa mengajarkan mindfulness dan kesadaran penuh atas setiap tindakan.
5. Haji: Simbol Persatuan dan Ketundukan Total
Haji merupakan ibadah puncak yang menggambarkan kesetaraan umat manusia. Semua jamaah memakai pakaian yang sama, melakukan ritual yang sama, dan memiliki tujuan yang sama: mendekat kepada Allah. Haji menumbuhkan ketawaduan, rasa syukur, dan komitmen untuk kembali kepada kehidupan yang lebih baik.
Di tengah derasnya arus teknologi, hiburan, dan distraksi, rukun Islam menjadi fondasi moral agar seorang muslim tetap berada pada jalur yang benar. Rukun Islam menanamkan nilai:
kedisiplinan (shalat),
kepedulian sosial (zakat),
kesehatan spiritual (puasa),
tekad dan ketangguhan (haji),
serta komitmen iman (syahadat).
Dengan menghidupkan nilai-nilai ini, seorang muslim mampu menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan arah dan prinsip.
Hikmah Hadits ke-3 Arbain Nawawi
Hadits ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Nilai rukun Islam menyentuh semua aspek: ibadah, sosial, ekonomi, hingga moral. Ketika kelima pilar dijalankan, seseorang akan memiliki karakter yang kokoh, mental yang stabil, dan akhlak yang baik.
Memahami hadits ke-3 Arbain Nawawi merupakan langkah awal. Namun, yang lebih penting adalah menjadikannya panduan dalam keseharian. Mari menjaga shalat, memperbaiki ibadah, menguatkan iman, dan menebar kebaikan melalui zakat, puasa, serta semangat menunaikan haji bila telah mampu.
Al Muanawiyah – Hadits Arbain ke-2 merupakan salah satu riwayat penting dari kumpulan Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Nawawi. Hadits ini dikenal sebagai Hadits Jibril, karena malaikat Jibril datang dalam rupa manusia untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Islam, iman, dan ihsan. Banyak ulama menyebut hadits ini sebagai “Ummus Sunnah”, sebab kandungan ilmunya mencakup fondasi ajaran Islam secara lengkap.
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]
Kandungan Pokok Hadits
Dalam hadits ini, Jibril mengajukan tiga pertanyaan pokok. Pertama adalah tentang Islam yang terdiri dari lima rukun, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu. Pertanyaan kedua mengenai iman yang mencakup enam keyakinan, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir baik dan buruk. Pertanyaan ketiga tentang ihsan yang dijelaskan sebagai ibadah yang dilakukan seakan-akan melihat Allah. Ketiga bagian ini menjadi dasar utama dalam memahami pokok keislaman seorang Muslim.
Hadits Arbain ke-2 juga menjelaskan tanda-tanda kiamat yang menjadi bagian dari dialog tersebut. Rasulullah SAW menyebutkan beberapa ciri seperti hamba sahaya melahirkan tuannya dan para penggembala miskin berlomba membangun gedung tinggi. Para ulama menafsirkan tanda-tanda tersebut dengan berbagai pendekatan, termasuk perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat dari masa ke masa. Kandungannya tidak dimaksudkan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan agar umat lebih dekat dengan Allah.
Pentingnya Memahami Hadits Iman Islam dan Ihsan
Riwayat hadits Arbain ke-2 ini bersumber dari Umar bin Khattab RA dan tercatat dalam Shahih Muslim. Keotentikan riwayat ini membuatnya menjadi rujukan utama bagi para ulama fikih, akidah, hingga tasawuf. Banyak madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam menjadikan hadits ini sebagai materi wajib karena mencakup prinsip dasar yang harus diketahui setiap Muslim. Pemahaman terhadap hadits ini membantu pelajar mengenali struktur keimanan yang benar dan aplikasinya dalam kehidupan.
Hadits Arbain ke-2 memberikan gambaran utuh tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menjalani agama. Islam mengatur amal lahir. Iman mengatur keyakinan batin. Ihsan menyempurnakan hubungan hamba dengan Allah melalui kualitas ibadah. Ketiga unsur tersebut tidak bisa dipisahkan karena saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang kokoh dan bertakwa. Ketika seseorang memahami ketiganya, ia akan mampu menata hidup secara lebih terarah dan bermanfaat.
Contoh penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang mengalami sakit. Ia harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang menyembuhkan Ia kemudian berusaha mencari pengobatan, baik dengan obat, istirahat, maupun konsultasi medis, sebagai bentuk ikhtiar yang diajarkan agama. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah, karena hanya Allah yang menentukan sembuh atau tidaknya seseorang. Sikap seperti ini menunjukkan perpaduan antara iman, usaha, dan tawakal.
Ilustrasi penerapan hadits arbain ke-2 dalam kondisi sakit (sumber: freepik)
Dengan memahami hadits Arbain ke-2, umat Islam diharapkan mampu menjalani agama secara lebih seimbang. Pelajaran tentang Islam, iman, dan ihsan menjadi bekal utama dalam menghadapi berbagai permasalahan modern. Hadits ini tetap relevan sepanjang masa karena menyentuh inti ajaran yang tidak berubah. Setiap Muslim dapat menjadikannya sebagai rujukan untuk memperbaiki kualitas hidup dan semakin dekat dengan Allah.
Al Muanawiyah – Dalam setiap amal yang dilakukan oleh seorang Muslim, niat memiliki peran yang sangat penting. Niat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan tekad dan tujuan dalam hati yang menentukan nilai suatu amal di sisi Allah. Salah satu hadits paling terkenal tentang hal ini adalah hadits niat, yang menjadi pembuka dalam kumpulan Hadits Arbain An-Nawawi.
Hadits Arbain Pertama: “Sesungguhnya Segala Amal Bergantung pada Niat”
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Innamal a‘mālu binniyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā.” “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ra., dan menjadi hadits pertama dalam kumpulan Hadits Arbain karya Imam Nawawi. Para ulama menilai hadits ini sebagai salah satu pokok ajaran Islam, karena keikhlasan niat menjadi penentu diterima atau tidaknya amal seseorang.
Makna Hadits Niat
Hadits niat mengandung pesan mendalam bahwa niat adalah pembeda antara ibadah dan kebiasaan biasa. Misalnya, seseorang yang bangun pagi bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk shalat Subuh atau mencari rezeki halal. Namun, jika tanpa niat ibadah, maka perbuatan itu hanya rutinitas duniawi.
Imam Syafi’i rahimahullah bahkan berkata bahwa hadits niat mencakup sepertiga ilmu Islam, karena amal dalam Islam bergantung pada tiga hal: hati (niat), lisan, dan perbuatan. Maka, tanpa niat yang benar, amal tidak memiliki nilai di sisi Allah.
Ilustrasi Subuh, waktu manusia memulai kesibukan dengan niat yang sesuai (sumber: freepik)
Pentingnya Menjaga Niat dalam Kehidupan
Menjaga niat bukan hanya saat memulai ibadah, tetapi juga selama melakukannya. Kadang seseorang memulai dengan niat yang ikhlas, namun di tengah jalan muncul keinginan dipuji atau dikenal. Oleh karena itu, para ulama menekankan agar seorang Muslim senantiasa memperbarui niatnya. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa syirik kecil, yaitu riya’ (pamer amal), bisa menghapus nilai kebaikan seseorang tanpa disadari.
Tips menjaga niat:
Luruskan tujuan setiap amal hanya untuk mengharap ridha Allah.
Perbanyak doa, agar hati dijauhkan dari riya’ dan ujub.
Renungkan keutamaan ikhlas, karena Allah hanya menerima amal dari hati yang bersih.
Perbaharui niat setiap kali merasa tergoda oleh pujian atau ambisi duniawi.
Dalam kehidupan modern, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas dakwah, belajar, atau bahkan berbagi di media sosial bisa menjadi ladang pahala, namun juga bisa kehilangan nilai jika tujuannya berubah menjadi pencitraan.
Hadits ke-1 Arbain Nawawi ini mengingatkan bahwa keberkahan amal tidak diukur dari besarnya pengaruh, tetapi dari keikhlasan di baliknya. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengingat kembali pesan Rasulullah ﷺ bahwa segala amal harus dimulai dengan niat yang benar.
Hadits niat mengajarkan bahwa kunci utama amal adalah keikhlasan. Tanpa niat yang benar, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilai di sisi Allah. Maka, marilah kita menjaga niat dalam setiap langkah — baik dalam ibadah, belajar, maupun bekerja.
Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam hadits pertama Arbain Nawawi, “Segala amal tergantung pada niatnya.” Semoga setiap amal kita menjadi sarana meraih ridha-Nya.