Kesalahpahaman Umum tentang Bid’ah di Masyarakat

Kesalahpahaman Umum tentang Bid’ah di Masyarakat

Di tengah masyarakat Muslim, istilah bid’ah sering memicu perdebatan. Sebagian orang mudah melabeli amalan tertentu sebagai bid’ah. Sementara itu, yang lain justru menolak istilah tersebut secara total. Akibatnya, makna bid’ah menjadi kabur. Banyak umat akhirnya bingung membedakan mana ibadah dan mana kebiasaan.

Kesalahpahaman ini biasanya muncul karena kurangnya pemahaman dasar. Tidak semua hal baru otomatis termasuk bid’ah. Namun, tidak semua pula bisa dibenarkan tanpa dalil. Dalam situasi ini, istilah bid’ah sering digunakan tanpa rujukan ilmiah yang jelas.

Baca juga: Hikmah Surat Al Zalzalah tentang Berhati-Hati dalam Beramal

Dampak Kesalahpahaman yang Berkelanjutan


Kesalahpahaman tentang bid’ah tidak berhenti pada perbedaan pendapat. Dalam banyak kasus, ia memicu sikap saling menyalahkan. Bahkan, hubungan sosial bisa terganggu hanya karena perbedaan praktik ibadah. Padahal, Islam sangat menekankan adab dalam berselisih.

ilustrasi dua ibu jari dengan emoticon bertengkar ilustrasi berbeda pendapat dalam bid'ah
Ilustrasi perbedaan pendapat terkait bid’ah yang harus dijauhi (sumber: freepik)

Lebih jauh, sebagian orang menjadi takut beribadah. Mereka khawatir amalnya tertolak karena dianggap tidak sesuai ajaran Islam. Di sisi lain, ada pula yang terlalu longgar. Mereka menganggap semua amalan baik pasti diterima. Kedua sikap ini sama-sama berbahaya.

Kesalahan lain yang sering muncul adalah mencampuradukkan urusan ibadah dan duniawi. Banyak yang mengira teknologi atau metode baru termasuk bid’ah. Padahal, para ulama telah menjelaskan perbedaannya sejak lama. Jika kondisi ini dibiarkan, pemahaman agama menjadi tidak seimbang.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-5 dan Prinsip Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Pentingnya Memahami Bid’ah Secara Bijak


Solusi dari masalah ini adalah kembali pada pemahaman ulama. Bid’ah berkaitan dengan perkara ibadah yang tidak memiliki dasar syariat. Adapun urusan dunia bersifat terbuka selama tidak melanggar aturan agama. Prinsip ini membantu umat bersikap adil dan tenang.

Selain itu, penting untuk membedakan antara dalil dan kebiasaan. Amalan ibadah harus memiliki contoh dari Nabi. Jika tidak ada, maka perlu ditinggalkan. Namun, perbedaan pendapat harus disikapi dengan adab. Tidak semua perbedaan berarti kesesatan.

Pada akhirnya, perbedaan pandangan dalam memahami ini seharusnya tidak menjauhkan sesama Muslim. Justru, pemahaman yang utuh, berilmu, dan berakhlak akan melahirkan sikap saling menghormati antar madzhab. Karena itu, memperdalam ilmu agama di lingkungan yang mengedepankan adab, persatuan, dan keseimbangan pemikiran menjadi langkah penting agar umat tidak mudah diadu domba oleh ideologi yang merusak. Melalui pendidikan keislaman yang matang dan menyeluruh, generasi Muslim dapat tumbuh dengan wawasan luas sekaligus hati yang menyatu.

Hadits Arbain Ke-5 dan Prinsip Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Hadits Arbain Ke-5 dan Prinsip Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Hadits Arbain ke-5 merupakan salah satu hadits penting dalam Islam yang menegaskan prinsip dasar beragama. Hadits ini menjadi pedoman agar seorang Muslim berhati-hati dalam beramal dan beribadah. Melalui hadits ini, Rasulullah mengingatkan bahaya menambahkan sesuatu dalam agama tanpa dasar yang benar.

Bunyi Hadits Arbain Ke-5 dan Maknanya


Hadits Arbain ke-5 diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini termasuk hadits yang disepakati keshahihannya. Oleh karena itu, kedudukannya sangat kuat sebagai landasan dalam memahami ajaran Islam.


Hadits Arbain ke-5 menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna. Segala bentuk ibadah dan amalan harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah. Jika suatu amalan dibuat tanpa landasan syariat, maka amalan tersebut tidak diterima. Prinsip ini menjaga kemurnian ajaran Islam dari penambahan yang menyesatkan.

gambar al quran
Al Qur’an sebagai sumber utama ibadah seorang Muslim

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan kata “urusan kami” yang merujuk pada agama Islam. Artinya, yang dimaksud adalah perkara ibadah dan keyakinan. Adapun urusan duniawi tetap terbuka untuk ijtihad dan inovasi selama tidak melanggar syariat.

Baca juga: Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial

Pentingnya Menghindari Bid’ah dalam Agama


Hadits Arbain ke-5 sering dijadikan dasar pembahasan tentang bid’ah. Bid’ah dalam agama adalah perkara baru yang tidak memiliki dalil. Rasulullah mengingatkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Amalan harus benar dari sisi tuntunan. Dengan demikian, seorang Muslim perlu belajar dan memahami dalil sebelum beramal.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hadits ini mengajarkan kehati-hatian. Setiap ibadah perlu ditimbang berdasarkan contoh Nabi. Jika tidak ada tuntunan, maka sebaiknya ditinggalkan. Sikap ini justru menjaga keikhlasan dan ketulusan dalam beribadah.

Di tengah maraknya tren ibadah dan amalan populer, hadits ini menjadi pengingat penting. Seorang Muslim diajak untuk kembali kepada sumber ajaran yang sahih. Dengan demikian, agama tidak bercampur dengan kebiasaan yang menyesatkan.

Baca juga: Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Selain itu, hadits ini juga mengajarkan sikap tawadhu. Seorang hamba tidak merasa paling benar dengan amalnya. Ia justru memastikan bahwa amal tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Inilah bentuk kecintaan sejati kepada Nabi.

Hadits Arbain ke-5 menegaskan prinsip dasar dalam beragama, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah secara benar. Setiap amalan harus memiliki dasar syariat agar diterima oleh Allah. Dengan memahami hadits ini, umat Islam dapat menjaga kemurnian ibadah dan menghindari kesalahan dalam beragama. Prinsip ini menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan Islam yang lurus dan bertanggung jawab.