Perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah Jombang Berlangsung Meriah

Perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah Jombang Berlangsung Meriah

AL MUANAWIYAH – SMPQ dan MA Qur’an Al-Mu’awanawiyah sukses menyelenggarakan Perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah pada Sabtu (17/01). Kegiatan ini berlangsung dengan sangat meriah di halaman sekolah, kemudian dilanjutkan dengan perayaan bersama masyarakat di Masjid Baitul Mukminin Sambisari. Seluruh santriwati dan asatidz Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an (PPTQ) Al-Mu’awanawiyah turut meramaikan agenda tersebut.

Pawai Keliling Desa dan Syiar Islam

Agenda Perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah Jombang bermula pukul 07.00 WIB dengan pawai ta’aruf. Ratusan santriwati berjalan menyusuri rute keliling desa di sekitar pondok. Selain itu, mereka mengenakan atribut yang sangat kreatif dan religius. Pawai ini menjadi ajang unjuk kekompakan antar-kelas. Oleh karena itu, kegiatan ini juga menjadi sarana syiar Islam kepada warga setempat.

Lantunan sholawat dan kibaran bendera hias mewarnai sepanjang jalan desa. Kemudian, warga sekitar tampak antusias menyaksikan barisan santriwati dari depan rumah. Pihak sekolah menegaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah. Meskipun kegiatannya sangat seru, pendekatan yang sekolah gunakan tetap bermakna bagi santri.

Baca juga: 15 Siswa SMPQ Al Muanawiyah Ikuti Munaqosah Jombang 2025

“Kami ingin santriwati memaknai Isra’ Mi’raj bukan sekadar sejarah. Oleh sebab itu, momentum ini harus memperbaiki kualitas ibadah mereka,” ujar panitia.

gambar fashion show santri dalam perayaan Isra' Mi'raj Al Mu'anawiyah Jombang
Maskot kelas dalam ajang fashion show perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah Jombang

Pentas Seni dan Pidato Bahasa Arab

Setelah pawai selesai, kemeriahan berpindah ke panggung utama di halaman sekolah. Grup Banjari Al-Mu’anawiyah menampilkan sholawat merdu untuk menambah kekhidmatan acara. Suasana menjadi lebih syahdu. Penampilan ini membuktikan kreativitas santriwati dalam melestarikan seni musik islami.

Baca juga: Sejarah Hadrah: Asal-Usul, Persebaran, dan Tokoh yang Berperan

Acara inti Perayaan Isra’ Mi’raj Al Mu’anawiyah Jombang berlanjut dengan berbagai perlombaan bakat. Perwakilan setiap kelas berkompetisi dalam ajang fashion show busana muslimah. Namun, para peserta tetap wajib menjaga adab kesopanan dalam berpakaian. Selanjutnya, para siswi menunjukkan kemampuan hebat dalam pidato bahasa Arab. Hal ini menunjukkan kualitas pendidikan bahasa internasional di Al-Mu’awanawiyah yang unggul.

Kegiatan berakhir siang hari dengan semangat persaudaraan yang kental. Harapannya, mereka mampu bertransformasi menjadi generasi Qur’ani yang unggul dan berakhlakul karimah.

Sejarah Shalat: Perjalanan Agung yang Penuh Hikmah

Sejarah Shalat: Perjalanan Agung yang Penuh Hikmah

Sejarah shalat memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ibadah ini tidak disampaikan melalui perantara malaikat seperti syariat lainnya. Perintah shalat diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ saat peristiwa Isra’ Mi’raj. Perjalanan agung tersebut terjadi pada masa dakwah di Makkah, tepatnya setelah Nabi mengalami kesedihan mendalam akibat wafatnya Abu Thalib dan Khadijah.

 

Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa

Isra’ dimulai ketika Nabi dibawa dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsa. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam firman-Nya, QS. Al Isra’ ayat 1

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

sejarah shalat masjid al aqsa peristiwa isra' mi'raj, turunnya perintah shalat
Masjidil Aqsa, tempat bermulanya sejarah shalat

Perjalanan Mi’raj dari Masjid Al Aqsa ke Langit

Dari sana, beliau naik ke langit dalam peristiwa Mi’raj. Di setiap tingkatan langit, Nabi bertemu dengan para nabi terdahulu. Nabi Adam, Isa, Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, hingga Ibrahim menyambut beliau dengan penuh penghormatan. Pertemuan itu menjadi simbol bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ adalah kelanjutan dari risalah para nabi sebelumnya.

Baca juga: Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Sesampainya di Sidratul Muntaha, Nabi menerima perintah awal untuk melaksanakan shalat lima puluh waktu sehari. Saat kembali, Nabi Musa menasihati agar meminta keringanan kepada Allah. Dengan penuh kasih, Allah mengurangi jumlahnya hingga menjadi lima waktu sehari. Meski jumlahnya berkurang, pahalanya tetap setara lima puluh waktu.

Shalat menjadi tiang agama dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah ini mengajarkan kedisiplinan waktu, kekhusyukan hati, dan kebersihan jiwa. Perintahnya yang disampaikan langsung kepada Nabi menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalat dibanding ibadah lainnya.

Hingga kini, sejarah shalat menjadi pengingat bahwa ibadah ini adalah anugerah besar. Setiap rakaat yang kita lakukan bukan sekadar rutinitas, melainkan warisan dari peristiwa agung yang menghubungkan bumi dan langit. Menghayati sejarah shalat membantu kita menjalankannya dengan kondisi mental health yang baik dan penuh syukur. Dengan begitu, shalat benar-benar menjadi cahaya dalam kehidupan sehari-hari.