Jejak Terbang Jidor dalam Perkembangan Islam di Mataraman

Jejak Terbang Jidor dalam Perkembangan Islam di Mataraman

Tidak banyak yang tahu bahwa di balik dentuman ritmis terbang jidor tersimpan sejarah dakwah yang strategis dari para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Di wilayah Mataraman, alat musik ini bukan sekadar pengiring selawatan atau kirab desa. Tetapi jejak nyata bagaimana budaya Timur Tengah diakulturasikan untuk mendekatkan masyarakat kepada ajaran Islam. Konon, beberapa anggota Walisongo memperkenalkan bentuk awal terbang dan jidor sebagai media syiar. Membungkus pesan dakwah dalam seni yang mudah diterima masyarakat. Namun bagaimana kesenian ini bisa menyebar begitu luas? Siapa ulama yang pertama kali membawanya ke Mataraman, dan bagaimana ia bertahan melewati perubahan zaman? Artikel ini akan membahas selengkapnya.

Jejak Dakwah Islam di Wilayah Mataraman

Wilayah Mataraman memiliki sejarah panjang dalam menerima dakwah Islam, dan salah satu media budaya yang ikut membentuk perjalanan itu adalah terbang jidor. Tradisi tabuhan ini awalnya merupakan perkembangan dari rebana besar (jidr dalam bahasa Arab berarti “gendang besar”). Dibawa para mubaligh dari Timur Tengah dan Gujarat sejak abad ke-14 hingga ke-16. Saat itu, jalur perdagangan Laut Jawa ramai dan kegiatan dakwah berlangsung bersamaan dengan interaksi budaya. Ketika para ulama dari jaringan Walisongo mulai memperluas pengajaran Islam ke wilayah pedalaman Jawa, mereka menggunakan alat musik pukul. Termasuk di dalamnya bentuk awal jidor, untuk menarik perhatian masyarakat dan mempermudah penyampaian pesan keagamaan.

gamabr pedagang Gujarat, cikal bakal persebaran Islam di Nusantara
Para pedagang Gujarat yang turut serta dalam sejarah masuknya Islam di Nusantara (foto: tugassekolah.com)

Dalam catatan tradisi lisan masyarakat Mataraman, terbang jidor mulai dikenal luas pada masa pengaruh Sunan Kalijaga dan para wali penerusnya. Walaupun tidak ada tanggal yang sangat pasti, banyak peneliti seni Jawa memperkirakan terbang jidor mulai menguat sebagai tradisi lokal sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Saat pesantren dan komunitas santri–kiai mulai tumbuh di wilayah Kediri, Nganjuk, Madiun, hingga Ponorogo. Para kiai keliling membawa jidor bersama syair puji-pujian, sehingga seni ini menjadi bagian dari metode dakwah santun yang diteruskan hingga generasi selanjutnya.

Baca juga: Sejarah Hadrah: Asal-Usul, Persebaran, dan Tokoh yang Berperan

Warisan Budaya Terbang Jidor yang Tetap Lestari

Seiring meluasnya jaringan pesantren Mataraman pada abad ke-18 hingga ke-19, terbang jidor berkembang menjadi kesenian komunal. Ia tidak hanya hadir dalam kegiatan dakwah, tetapi juga dalam upacara adat, selametan desa, dan peringatan Maulid. Tabuhannya yang ritmis membuat masyarakat berkumpul, lalu di sela-sela pertunjukan itulah ajaran moral Islam disampaikan. Dengan demikian, terbang jidor berfungsi sebagai jembatan budaya antara nilai-nilai Islam dengan karakter masyarakat Jawa yang lekat dengan seni dan ritual.

Hingga kini, beberapa pesantren dan kelompok seni tradisi tetap melestarikan terbang jidor. Walaupun tidak semasif masa lampau, seni ini masih menjadi simbol cara dakwah. Pesannya mengedepankan kedamaian, kreativitas, dan penghargaan terhadap kearifan lokal. Melalui warisan budaya ini, kita dapat melihat bagaimana Islam di Mataraman tidak hadir secara kaku, melainkan tumbuh dalam irama, bersanding dengan budaya, bukan menggusurnya.

KH Ardani Ahmad: Ulama Blitar Pengarang Risalatul Mahidh

KH Ardani Ahmad: Ulama Blitar Pengarang Risalatul Mahidh

Al MuanawiyahNama KH Ardani Ahmad dikenal sebagai salah satu ulama asal Blitar yang memberi kontribusi besar dalam kajian fikih wanita. Beliau merupakan pengarang kitab Risalatul Mahidh, sebuah karya ringkas namun sangat sistematis yang membahas hukum-hukum haid, nifas, dan istihadhah. Karya ini banyak dipelajari di pesantren, khususnya di kalangan santri putri, karena menjelaskan persoalan-persoalan fikih perempuan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.

Biografi Singkat KH Ardani Ahmad

KH Muhammad Ardani bin Ahmad adalah ulama asal Blitar yang lahir di Banyuwangi tahun 1956 dan merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Jeblog di Talun, Blitar. Beliau menempuh pendidikan pesantren di Al-Falah Ploso, Kediri, dan menulis kitab Risālah al-Maḥīḍ (Risalatul Mahidh) pada tahun 1992. Kitab ini membahas fikih haid, nifas, dan istihadhah secara sistematis menggunakan bahasa Arab Pegon dan Jawa Krama agar mudah dipahami santri putri.

Kitab risalatul mahidh fikih darah wanita kitab kuning pondok pesantren tahfidz putri Jombang
Kitab Risalatul Mahidh (foto: shopee.co.id)

Selain aktif menulis, beliau juga mengelola pesantren yang menerapkan kurikulum salaf dan sekolah formal (SMP/SMA) serta program tahfidz, menjadikan pondoknya tempat pembinaan karakter dan keilmuan untuk generasi muda. Beliau membina santri dengan pendekatan melalui pengajaran kitab kuning. Sebagian muridnya kemudian menjadi pengajar fikih perempuan di berbagai pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh beliau tidak hanya melalui tulisan, tetapi juga melalui kaderisasi ulama dan pendidik di tingkat lokal. Hingga kini, Blitar masih mengenang beliau sebagai sosok ulama yang tekun dan bersahaja.

KH Ardani Ahmad lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren di Blitar. Sejak kecil, beliau telah akrab dengan tradisi keilmuan klasik. Riwayat pendidikannya menunjukkan bahwa beliau berguru kepada sejumlah kiai di Jawa Timur, terutama yang dikenal mendalami bidang fikih. Berkat ketekunan itu, beliau kemudian mengajar di pesantren dan aktif menulis karya-karya keislaman. Risalatul Mahidh menjadi salah satu kitab yang paling luas penyebarannya, dipelajari mulai dari pesantren kecil hingga lembaga pendidikan Islam modern.

Pokok Isi dan Keunggulan Risalatul Mahidh

Kitab Risalatul Mahidh berisi penjelasan terperinci mengenai tanda-tanda haid, batas waktunya, hukum ibadah bagi perempuan yang sedang haid, serta perbedaan haid dan istihadzah. Dalam tradisi pesantren, kitab ini sering dijadikan materi wajib dalam kelas fikih perempuan. Banyak kiai dan nyai menjadikannya rujukan karena merangkum pendapat fuqaha klasik dalam bentuk ringkas. Di beberapa daerah, kitab ini diajarkan dalam pengajian khusus ibu-ibu untuk meningkatkan pemahaman dasar tentang ibadah dan kesucian.

Teladan Keilmuan Bagi Santri Masa Kini

Warisan keilmuan KH Ardani Ahmad menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya santri yang ingin memperdalam ilmu fikih. Ketekunan beliau dalam menulis dan mengajar menunjukkan bahwa ilmu dapat diwariskan melalui karya dan teladan. Dalam konteks pendidikan pesantren masa kini, semangat beliau mendorong para penuntut ilmu untuk terus belajar. Membaca, menelaah, dan menyampaikan ajaran dengan cara yang bijak adalah kemampuan dasar santri. Kitab Risalatul Mahidh digunakan sebagai fondasi pemahaman fikih perempuan dan menjadi bukti kontribusi ulama daerah dalam khazanah keilmuan Islam Indonesia.

Jika Anda ingin memperdalam kajian fikih perempuan atau mengenal lebih banyak karya ulama Nusantara, membaca kembali karya-karya seperti Risalatul Mahidh dapat menjadi langkah awal yang bermanfaat. Semangat keilmuan yang diwariskan beliau layak dijadikan teladan dalam perjalanan belajar para santri dan masyarakat luas.

Sunan Bonang dan Warisan Dakwah yang Hidup di Zaman Modern

Sunan Bonang dan Warisan Dakwah yang Hidup di Zaman Modern

Nama Sunan Bonang tidak bisa dilepaskan dari sejarah besar Wali Songo, sembilan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa. Melalui pendekatan budaya dan kesenian, beliau berhasil menanamkan nilai Islam di tengah masyarakat yang kala itu masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha. Hingga kini, jejak dakwahnya tetap menjadi inspirasi bagi santri dan pendidik Islam di seluruh Nusantara.

Biografi Singkat Sunan Bonang

Sunan Bonang memiliki nama asli Makhdum Ibrahim, putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Ia lahir di Tuban sekitar abad ke-15. Sejak muda, Makhdum Ibrahim dikenal cerdas, tekun, dan haus ilmu. Ia menimba pengetahuan agama di pesantren ayahnya sebelum melanjutkan belajar ke Pasai, pusat ilmu Islam di Asia Tenggara kala itu.

Setelah kembali ke Jawa, beliau mulai berdakwah di daerah pesisir utara seperti Tuban, Lasem, dan Kediri. Ia kemudian menetap di Bonang — nama yang akhirnya melekat sebagai gelar kehormatannya.

Kisah Perjuangan Dakwah Islam

Keistimewaan Sunan Bonang terletak pada cara berdakwahnya yang lembut dan kreatif. Ia menggunakan kesenian lokal seperti tembang Jawa, gamelan, dan suluk sebagai media dakwah. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Tombo Ati”, tembang yang sarat makna spiritual dan masih sering dilantunkan hingga kini.

gambar tulisan jawa naskah Sunan Bonang
Contoh suluk peninggalan Sunan Bonang (sumber: www.mahadalyjakarta.com)

Pendekatan budaya ini membuat ajaran Islam diterima dengan damai tanpa pertentangan. Melalui metode dakwah yang inklusif, Sunan Bonang tidak hanya mengajarkan syariat Islam, tetapi juga memperkuat karakter moral dan kebudayaan masyarakat Jawa.

Selain itu, beliau dikenal sebagai guru Sunan Kalijaga, yang kemudian meneruskan dakwah melalui pendekatan seni dan arsitektur. Kolaborasi antar Wali Songo ini memperlihatkan betapa pentingnya persatuan dalam menyebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Refleksi untuk Perjuangan Santri Modern

Bagi santri masa kini, perjuangan Makhdum Ibrahim menjadi cermin keteladanan. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, semangat dakwah Wali Songo tetap relevan. Santri tidak hanya dituntut memahami kitab kuning, tetapi juga harus mampu berdakwah dengan bahasa zaman — melalui literasi, media digital, dan karya sosial.

Seperti halnya Sunan Bonang yang memanfaatkan kesenian sebagai sarana dakwah, santri modern dapat menggunakan teknologi dan kreativitas untuk menyebarkan nilai Islam secara bijak. Tantangannya mungkin berbeda, tetapi tujuan dakwah tetap sama: menebarkan cahaya keimanan dan menumbuhkan akhlak mulia di tengah masyarakat.

Warisan Sunan Bonang bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga warisan nilai. Ketulusan, kecerdasan, dan kesantunannya dalam berdakwah menjadi fondasi bagi pendidikan Islam hingga kini.

Melalui semangat Wali Songo, santri di era modern diharapkan terus melanjutkan perjuangan dakwah dengan cara yang damai, kreatif, dan berakar pada budaya bangsa.