Ali bin Abi Thalib masuk Islam pada usia yang masih sangat muda. Ia merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW yang sejak kecil memiliki kedekatan dengan beliau. Kedekatan tersebut semakin erat ketika Nabi Muhammad SAW membantu mengasuh Ali saat keluarga Abu Thalib menghadapi masa paceklik di Makkah.
Kisah masuk Islamnya Ali menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah awal dakwah Rasulullah SAW. Selain menunjukkan kedekatannya dengan Nabi, kisah ini juga menggambarkan bagaimana Ali menerima ajaran Islam setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Rasulullah.
Kedekatan Ali bin Abi Thalib dengan Rasulullah
Ali bin Abi Thalib merupakan putra Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Ibunya bernama Fatimah binti Asad yang masih memiliki hubungan keturunan dengan Bani Hasyim. Sejak kecil, Ali memiliki hubungan yang dekat dengan Rasulullah SAW.
Kedekatan tersebut bermula ketika Makkah mengalami paceklik yang berat. Kondisi itu membuat Abu Thalib kesulitan mengurus keluarganya yang cukup banyak. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah SAW bersama Abbas kemudian membantu meringankan beban Abu Thalib dengan mengambil Ali dan Ja’far untuk diasuh.
Rasulullah SAW kemudian mengasuh Ali, sedangkan Abbas mengasuh Ja’far. Dengan demikian, Ali tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kedekatan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Ali hingga kemudian menerima Islam.

Bagaimana Ali bin Abi Thalib Masuk Islam?
Ali bin Abi Thalib masuk Islam setelah melihat Rasulullah SAW melaksanakan shalat bersama Sayyidah Khadijah. Ali kemudian bertanya kepada Nabi mengenai apa yang sedang beliau lakukan.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ibadah tersebut merupakan agama Allah yang Dia pilih dan dengan agama itu Allah mengutus para rasul. Nabi juga mengajak Ali untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan kepada Lata dan Uzza.
Ali yang saat itu masih sangat muda merasa perlu mempertimbangkan ajakan tersebut. Ia bahkan ingin berkonsultasi terlebih dahulu dengan ayahnya, Abu Thalib. Namun, Rasulullah SAW meminta Ali untuk merahasiakan perkara tersebut jika belum memutuskan masuk Islam.
Baca juga: Penyebab Sulit Shalat Malam dan Cara Mengatasinya
Malam itu, Ali memikirkan ajakan Rasulullah SAW. Kemudian, Allah memberikan keteguhan kepada hatinya sehingga pada pagi harinya Ali datang menemui Nabi Muhammad SAW.
Ali kembali menanyakan ajaran yang ditawarkan kepadanya. Rasulullah SAW kemudian mengajaknya untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mengingkari Lata dan Uzza, serta berlepas diri dari kemusyrikan. Ali menerima ajakan tersebut dan menyatakan keislamannya.
Menurut riwayat yang dikutip NU Online dari Ibnul Atsir dan Ibnu Katsir, Ali menjadi orang pertama dari kalangan pemuda yang masuk Islam. Saat itu, usianya disebut sekitar 11 tahun.
Ali Merahasiakan Keislamannya
Setelah Ali bin Abi Thalib masuk Islam, ia tidak langsung mengumumkan keislamannya kepada banyak orang. Ia masih merahasiakan keimanannya dari Abu Thalib dan tetap datang kepada Rasulullah SAW dalam keadaan berhati-hati.
Hingga suatu ketika, Abu Thalib melihat Ali sedang melaksanakan shalat bersama Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian bertanya tentang agama yang diikuti Ali. Ali menjelaskan bahwa dirinya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan shalat bersama beliau. Menariknya, Abu Thalib memberikan tanggapan yang baik. Ia mengatakan bahwa Muhammad tidak pernah mengajak kecuali kepada kebaikan dan meminta Ali untuk terus mengikuti ajaran tersebut.
Keteladanan dari Kisah Masuk Islam Ali
Kisah Ali bin Abi Thalib masuk Islam memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, usia muda bukan penghalang untuk mengenal kebenaran dan mengambil keputusan besar dalam kehidupan. Ali menunjukkan bahwa anak muda juga dapat memiliki keteguhan hati dalam memegang keyakinan.
Selain itu, kisah Ali mengajarkan pentingnya kedekatan dengan orang saleh dan lingkungan yang baik. Sejak kecil, Ali mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Rasulullah SAW sehingga ia dapat melihat langsung akhlak dan ibadah beliau. Pada akhirnya, perjalanan Ali menjadi bagian penting dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya dikenal sebagai sepupu dan menantu Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai salah satu sahabat utama yang memiliki peran besar dalam perkembangan umat Islam.




