Tafsir Al Fajr ayat 11-20 membahas kesombongan kaum terdahulu, azab yang menimpa mereka, serta cara manusia memandang harta dan kemuliaan. Setelah menyebut kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun pada ayat sebelumnya, Surat Al-Fajr menjelaskan sifat-sifat yang membawa mereka kepada kebinasaan. Selanjutnya, pembahasan beralih kepada kesalahan manusia ketika menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan.
Melalui ayat 11 hingga 20, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kekuatan, kekayaan, dan kedudukan tidak menentukan kedudukan seseorang di sisi Allah. Sebaliknya, manusia perlu melihat keimanan dan ketakwaan sebagai ukuran utama kemuliaan.
Baca juga: Tafsir Al-Fajr Ayat 1-10: Sumpah Allah dan Kisah Kaum yang Dibinasakan
Ayat 11: Melampaui Batas di Negeri
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ
Artinya:
“Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri.”
Ayat ini menjelaskan sifat kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun. Mereka melampaui batas, melakukan kezaliman, serta menyombongkan diri di negeri-negeri mereka. Kesombongan sering mendorong seseorang untuk bertindak sewenang-wenang.
Ketika seseorang merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan, ia dapat mengabaikan batas yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, thughyan atau sikap melampaui batas tidak hanya merusak diri sendiri. Sikap tersebut juga dapat menjadi awal munculnya kezaliman terhadap orang lain.
Ayat 12: Kesombongan Melahirkan Kerusakan
فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ
Artinya:
“Lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu.”
Setelah melampaui batas, kaum-kaum tersebut kemudian melakukan banyak kerusakan. Hal ini menunjukkan bahwa kesombongan dan kekuasaan yang tidak dikendalikan dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat. Seseorang yang bertindak sewenang-wenang sering kali tidak lagi memperhatikan hak orang lain. Akibatnya, kezaliman berkembang dan kerusakan semakin meluas.
Dengan demikian, ayat ini menunjukkan hubungan antara kesombongan dan kerusakan. Ketika manusia tidak lagi tunduk kepada aturan Allah, ia dapat menggunakan kekuatan untuk memenuhi kepentingannya sendiri.
Ayat 13: Cemeti Azab bagi Orang yang Berbuat Kerusakan
فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
Artinya:
“Karena itu Tuhanmu menuangkan cemeti azab kepada mereka.”
Karena mereka terus melakukan kerusakan, azab pun menimpa kaum-kaum tersebut. Dalam penjelasan Ustadz Firanda Andirja terkait tafsir Al Fajr, penggunaan kata “cemeti” menunjukkan bahwa azab dunia yang mereka terima masih ringan dibandingkan dengan azab akhirat.
Kaum ‘Ad menerima azab melalui angin yang menghancurkan mereka. Kaum Tsamud menerima azab berupa suara yang sangat keras. Sementara itu, Fir’aun dan bala tentaranya binasa karena tenggelam di laut. Semua bentuk azab tersebut sangat mudah bagi Allah.
Fir’aun dan Laut yang Terbelah
Kisah Fir’aun menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana kekuasaan manusia tidak mampu melawan ketetapan Allah. Nabi Musa membawa Bani Israil keluar pada malam hari. Kemudian, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut.

Dalam Surat Thaha ayat 77 disebutkan:
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
Artinya:
“Dan sungguh telah Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pergilah bersama hamba-hamba-Ku pada malam hari dan buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu. Engkau tidak perlu takut akan tersusul dan tidak perlu khawatir.’”
Atas izin Allah, laut terbelah dan Bani Israil berhasil melewatinya. Setelah itu, Nabi Musa tidak menutup kembali laut tersebut. Dalam Surat Ad-Dukhan ayat 23–24, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk membiarkan laut tetap terbelah.
Fir’aun kemudian melanjutkan pengejaran bersama pasukannya. Namun, ketika mereka berada di tengah laut, Allah menutup kembali lautan dan menenggelamkan seluruh pasukan tersebut. Menurut penjelasan tafsir yang menjadi dasar pembahasan ini, penggunaan kata ṣabba atau “menuangkan” juga memberikan gambaran tentang azab yang datang secara cepat dan tiba-tiba.
Kaum ‘Ad melihat awan dan mengira mereka akan mendapatkan hujan. Ternyata, yang datang adalah angin pembawa azab. Kaum Tsamud juga tidak mengetahui bentuk azab yang akan menimpa mereka. Demikian pula Fir’aun yang masuk ke tengah laut tanpa menyadari akhir yang menunggunya.
Ayat 14: Tidak Ada yang Luput dari Pengawasan Allah
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
Artinya:
“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”
Ayat ini menjadi peringatan setelah kisah kebinasaan kaum terdahulu. Allah mengetahui setiap perbuatan manusia. Kesombongan, kekufuran, kezaliman, dan berbagai perbuatan lainnya tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Karena itu, seseorang mungkin dapat menyembunyikan kesalahannya dari manusia. Namun, tidak ada perbuatan yang dapat tersembunyi dari Allah.
Ayat ini juga menjadi peringatan bagi manusia agar tidak merasa aman ketika terus melakukan dosa. Kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun menunjukkan bahwa kekuatan dunia tidak mampu menghalangi keputusan Allah.
Ayat 15: Menganggap Kekayaan sebagai Kemuliaan
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
Artinya:
“Maka adapun manusia apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’”
Ayat ini menggambarkan pola pikir manusia yang menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan. Ketika memperoleh kelapangan rezeki, seseorang dapat langsung menganggap bahwa Allah telah memuliakannya. Padahal, kekayaan juga merupakan ujian.
Dalam penjelasan para ulama yang dikutip Ustadz Firanda, kata al-insan dalam sejumlah pembahasan surat Makkiyah dapat merujuk kepada gambaran orang kafir, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan makna lain. Pola pikir tersebut menjadikan banyaknya harta sebagai bukti bahwa seseorang memiliki kedudukan tinggi.
Ayat 16: Menganggap Kesempitan sebagai Kehinaan
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
Artinya:
“Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’”
Sebaliknya, ketika rezeki seseorang berkurang atau kehidupannya terasa sempit, ia menganggap Allah telah menghinakannya. Cara berpikir tersebut dibantah oleh Al-Qur’an. Kelapangan dan kesempitan sama-sama dapat menjadi ujian. Karena itu, banyaknya harta tidak selalu menunjukkan kemuliaan. Sebaliknya, sedikitnya harta juga tidak berarti seseorang rendah di sisi Allah.
Seorang beriman memiliki ukuran yang berbeda. Ia melihat kemudahan untuk melakukan ketaatan sebagai bentuk nikmat yang besar. Ketika seseorang mendapatkan taufik untuk menjaga shalat, bersedekah, dan melakukan ibadah, ia mendapatkan karunia yang sangat berharga. Sebaliknya, ketika seseorang semakin jauh dari ketaatan, ia perlu mengkhawatirkan keadaan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa:
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
Artinya:
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami.”
Dengan demikian, musibah yang paling perlu ditakuti bukan hanya kehilangan harta. Jauh dari ketaatan kepada Allah juga merupakan musibah yang sangat besar.
Ayat 17: Tidak Memuliakan Anak Yatim
كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim.”
Kata kallā menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa harta menentukan kemuliaan seseorang. Seseorang dapat menjadi mulia meskipun hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap rendah di sisi Allah.
Kemuliaan sejati berkaitan dengan keimanan dan ketakwaan. Orang yang hanya mengejar dunia dapat kehilangan kepedulian terhadap anak yatim. Bahkan, ketamakan terhadap harta dapat mendorong seseorang mengambil hak mereka. Karena itu, ayat ini mengingatkan bahwa keimanan seharusnya melahirkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
Tafsir Al-Fajr Ayat 18: Tidak Saling Mengajak Memberi Makan Orang Miskin
وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Artinya:
“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”
Ayat berikutnya memperlihatkan bentuk lain dari lemahnya kepedulian sosial.
Mereka tidak hanya enggan membantu orang miskin. Mereka juga tidak saling mendorong untuk memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Seorang Muslim seharusnya membangun kebiasaan yang berbeda. Selain melakukan kebaikan, ia juga dapat mengajak orang lain untuk peduli kepada sesama. Dengan demikian, kepedulian tidak hanya berhenti sebagai tindakan pribadi. Kebaikan juga dapat tumbuh menjadi budaya dalam keluarga dan masyarakat.

Tafsir Al-Fajr Ayat 19: Tamak terhadap Harta Warisan
وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلًا لَّمًّا
Artinya:
“Sedangkan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan yang halal dan yang haram.”
Dalam penjelasan yang dikutip dari para ahli tafsir, aklan lamma menggambarkan seseorang yang mengambil setiap harta yang ditemukannya tanpa mempedulikan apakah harta tersebut halal atau haram. Ia mengambil miliknya dan bahkan mengambil hak orang lain. Sikap tersebut menunjukkan ketamakan terhadap dunia. Keinginan memperoleh harta membuat seseorang tidak lagi memperhatikan batas halal dan haram.
Ayat ini menjadi peringatan agar seseorang menjaga hak dalam urusan harta, terutama dalam persoalan warisan. Keinginan memperoleh bagian yang lebih banyak tidak boleh mendorong seseorang mengambil hak orang lain.
Tafsir Al-Fajr Ayat 20: Mencintai Harta Secara Berlebihan
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Artinya:
“Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.”
Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mencintai harta. Terlebih lagi, seseorang sering memperoleh harta setelah bekerja keras dan menghabiskan banyak tenaga. Namun, kecintaan tersebut dapat menjadi masalah ketika harta berubah menjadi tujuan utama hidup.
Dalam pembahasan tafsir Al Fajr ayat 11-20, harta bukan sesuatu yang tercela pada dirinya. Akan tetapi, kecintaan yang berlebihan dapat membuat seseorang lupa kepada tujuan akhir hidupnya. Seorang Muslim perlu menyadari bahwa harta yang ia tinggalkan di dunia tidak akan ia bawa setelah meninggal. Sebaliknya, harta yang ia gunakan untuk ketaatan dapat menjadi bekal di akhirat.
Hal tersebut sejalan dengan hadis tentang kambing yang dibagikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ‘Aisyah menyampaikan bahwa hanya bagian pundak yang tersisa, Rasulullah menjelaskan bahwa yang telah dibagikan justru menjadi bagian yang benar-benar tersisa. Artinya, sedekah tidak sekadar mengurangi harta. Sebaliknya, seseorang sedang menyimpan hartanya untuk kehidupan akhirat.
Pelajaran dari Tafsir Al Fajr Ayat 11-20
Rangkaian tafsir Al Fajr ayat 11-20 memberikan peringatan yang saling berkaitan. Kesombongan dapat membawa manusia kepada kezaliman. Kezaliman kemudian melahirkan kerusakan. Jika manusia terus melampaui batas, tidak ada satu pun perbuatannya yang luput dari pengawasan Allah.
Selanjutnya, ayat-ayat tersebut memperbaiki cara manusia memandang kehidupan. Kekayaan bukan jaminan kemuliaan. Kemiskinan juga bukan bukti kehinaan. Yang perlu menjadi perhatian seorang Muslim adalah keimanan dan kedekatannya kepada Allah.
Selain itu, ayat-ayat ini mengajarkan kepedulian terhadap anak yatim dan orang miskin. Manusia juga perlu menjaga diri dari ketamakan serta kecintaan berlebihan terhadap harta. Memahami Al-Qur’an tidak hanya membantu seseorang mengetahui makna ayat. Lebih dari itu, tafsir dapat membantu seorang Muslim menjadikan pesan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.



