Mandi sebelum berihram merupakan amalan sunnah yang dianjurkan bagi umat Islam yang hendak menunaikan ibadah haji atau umrah. Mandi ini bertujuan membersihkan tubuh dan mempersiapkan diri sebelum memasuki rangkaian ibadah di Tanah Suci. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), mandi ihram bukan syarat sah ihram sehingga jamaah tetap dapat berihram meskipun belum melakukannya.
Anjuran mandi sebelum berihram memiliki dasar dari hadis Nabi Muhammad SAW:
عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجَرَّدَ لِإِهْلَالِهِ وَاغْتَسَلَ
Artinya: “Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya, bahwa ia melihat Nabi SAW menanggalkan pakaian untuk memulai ihramnya, lalu mandi.” (HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut menjadi dasar anjuran mandi sebelum memulai ihram. Mayoritas ulama menilai mandi ihram sebagai amalan sunnah, bukan kewajiban. Karena itu, jamaah sebaiknya melaksanakannya sebagai bentuk kesiapan diri dalam menjalankan ibadah.
Apa Hukum Mandi Sebelum Berihram?
Hukum mandi sebelum berihram adalah sunnah muakkadah menurut penjelasan fikih Mazhab Syafi’i. Artinya, amalan ini sangat dianjurkan bagi orang yang hendak menunaikan haji atau umrah, tetapi tidak menentukan sah atau tidaknya ihram.
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ bahwa para ulama menganjurkan mandi ketika seseorang hendak berihram untuk haji, umrah, atau keduanya. Anjuran ini berlaku baik ketika seseorang memulai ihram dari miqat maupun dari tempat lainnya.
Dengan demikian, jamaah tidak perlu khawatir jika tidak sempat mandi sebelum berihram. Mereka tetap dapat melanjutkan ibadah dengan memenuhi ketentuan ihram lainnya.

Tata Cara Mandi Sebelum Berihram
Tata cara mandi ihram pada dasarnya sama seperti mandi untuk membersihkan tubuh. Jamaah dapat mengikuti langkah-langkah berikut.
-
Membaca Niat Mandi Ihram
Sebelum mandi, jamaah dapat berniat dalam hati untuk melaksanakan mandi sunnah ihram. Sebagian panduan juga mencantumkan lafaz niat berikut:
نَوَيْتُ غُسْلَ الْإِحْرَامِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu ghuslal ihrāmi sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat mandi ihram sunnah karena Allah SWT.”
Lafaz tersebut merupakan rumusan niat yang lazim digunakan dalam panduan fikih. Jamaah tidak wajib melafalkannya dengan suara keras karena niat pada dasarnya berada di dalam hati.
-
Membersihkan Tubuh secara Menyeluruh
Jamaah membasahi seluruh tubuh dengan air dan memastikan tidak ada bagian yang terlewat. Mereka dapat membersihkan rambut, kulit kepala, serta bagian tubuh lainnya dengan baik.
Mandi ini bertujuan menjaga kebersihan sebelum menjalankan ibadah. Karena itu, jamaah sebaiknya melakukannya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.
Baca juga: Amalan Ketika Thawaf Wada Sebelum Meninggalkan Makkah
-
Mengenakan Pakaian Ihram
Setelah mandi, jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain ihram sesuai ketentuan. Sementara itu, jamaah perempuan mengenakan pakaian yang menutup aurat, tidak ketat, dan tidak mencolok.
Jamaah juga perlu memperhatikan larangan ihram ketika memilih perlengkapan. Laki-laki, misalnya, harus menghindari pakaian yang membentuk anggota tubuh sesuai ketentuan ihram.
-
Bersiap Menuju Miqat dan Berniat Ihram
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian, jamaah bersiap menuju miqat atau tempat yang ditentukan untuk memulai ihram. Mereka kemudian berniat memasuki ibadah haji atau umrah sesuai jenis ibadah yang akan dijalankan.
Penting untuk membedakan mandi ihram dengan niat ihram. Mandi merupakan amalan sunnah sebelum ihram, sedangkan niat memasuki ibadah menjadi bagian penting dalam memulai rangkaian manasik.
Apakah Perempuan Haid Boleh Mandi Sebelum Berihram?
Perempuan yang sedang haid atau nifas tetap dianjurkan mandi sebelum berihram. MUI menjelaskan bahwa mandi ihram bertujuan membersihkan tubuh, bukan untuk mengangkat hadas atau mensyaratkan seseorang dalam keadaan suci.
Ketentuan tersebut berbeda dari mandi wajib setelah haid atau nifas. Jika darah haid atau nifas masih keluar, mandi ihram tidak menjadikan perempuan tersebut suci dari hadas besar. Namun, ia tetap dapat memulai ihram dan menjalankan amalan haji atau umrah yang diperbolehkan dalam kondisinya.
Perempuan yang sedang haid perlu mengikuti arahan pembimbing ibadah mengenai amalan yang boleh dan ketentuan thawaf. Dengan demikian, kondisi haid tidak menghalangi niat untuk memasuki ihram.
Hikmah Mandi Sebelum Berihram
Mandi sebelum berihram mengajarkan pentingnya kebersihan ketika hendak menjalankan ibadah. Tubuh yang bersih membantu jamaah merasa nyaman selama perjalanan dan ketika mengikuti rangkaian manasik.
Selain itu, mandi ihram menjadi bentuk persiapan lahiriah sebelum memasuki ibadah yang menuntut kedisiplinan. Jamaah tidak hanya menyiapkan perlengkapan fisik, tetapi juga perlu menata niat dan mempersiapkan hati untuk beribadah dengan sungguh-sungguh.
Mandi ihram juga mengingatkan bahwa persiapan ibadah perlu memperhatikan tuntunan. Jamaah dapat mempelajari ketentuan ihram sejak sebelum keberangkatan agar mampu membedakan amalan sunnah, rukun, dan kewajiban dalam manasik.
Penutup
Mandi sebelum berihram merupakan sunnah muakkadah bagi jamaah haji dan umrah. Amalan ini membantu menjaga kebersihan tubuh serta mempersiapkan diri sebelum memasuki rangkaian ibadah. Jamaah dapat melakukannya dengan membersihkan seluruh tubuh, mengenakan pakaian ihram, kemudian berniat sesuai jenis ibadahnya.
Meskipun sangat dianjurkan, mandi ihram bukan syarat sah ihram. Bahkan, perempuan yang sedang haid atau nifas tetap dapat melakukannya. Dengan memahami hukum dan tata caranya, jamaah dapat mempersiapkan ibadah secara lebih tertib sesuai tuntunan syariat.




