Amalan Ketika Thawaf Wada Sebelum Meninggalkan Makkah

Amalan Ketika Thawaf Wada Sebelum Meninggalkan Makkah

Amalan ketika thawaf wada menjadi bagian penting yang perlu dipahami jemaah haji sebelum meninggalkan Kota Makkah. Thawaf wada adalah thawaf perpisahan yang jemaah lakukan setelah menyelesaikan seluruh rangkaian manasik haji dan hendak pulang. Ibadah ini menjadi kesempatan terakhir untuk berpamitan dengan Baitullah sebelum meninggalkan Tanah Suci.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan jemaah agar menjadikan Baitullah sebagai akhir dari rangkaian ibadah haji mereka, kecuali perempuan yang sedang haid mendapat keringanan. Hadis ini menjadi dalil penting mengenai ketentuan thawaf wada. Mayoritas ulama menghukuminya wajib bagi jemaah haji yang hendak meninggalkan Makkah, sedangkan Mazhab Maliki memandangnya sebagai sunnah. (HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1328).

Tata Cara Thawaf Wada yang Perlu Diketahui

Sebelum memahami amalan ketika thawaf wada, jemaah perlu mengetahui tata cara pelaksanaannya. Secara umum, tata cara thawaf wada mengikuti ketentuan thawaf lainnya, dengan tujuan sebagai penutup ibadah sebelum meninggalkan Makkah.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Memastikan seluruh rangkaian haji selesai. Jemaah melaksanakan thawaf wada setelah menyelesaikan manasik haji yang menjadi kewajibannya.
  2. Memulai dari Hajar Aswad. Jemaah memulai putaran dari Hajar Aswad atau titik yang sejajar dengannya.
  3. Mengelilingi Ka’bah tujuh putaran. Jemaah berjalan dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri dan menjaga arah putaran sesuai tuntunan.
  4. Menjaga kesucian dan menutup aurat. Jemaah memastikan badan, pakaian, dan tempat thawaf memenuhi ketentuan yang berlaku.
  5. Mengakhiri thawaf dengan persiapan pulang. Setelah selesai, jemaah melanjutkan persiapan keberangkatan tanpa sengaja menetap kembali untuk kegiatan lain yang tidak diperlukan.

Jemaah sebaiknya memperhatikan arahan pembimbing haji, terutama jika menghadapi kondisi khusus atau perubahan jadwal keberangkatan.

gambar jamaah haji mengelilingi ka'bah contoh amalan ketika thawaf wada
Tawaf wada adalah salah satu rukun wajib haji (foto: id.pinterest.com/ALifeWithAllah/)

5 Amalan Ketika Thawaf Wada

Thawaf wada bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah. Jemaah juga dapat mengisinya dengan zikir, doa, dan sikap yang mencerminkan penghormatan kepada Baitullah.

1. Membaca Zikir saat Memulai Thawaf

Ketika memulai putaran, jemaah dapat membaca basmalah dan takbir. Jika memungkinkan, jemaah juga disunnahkan menyentuh atau mencium Hajar Aswad tanpa menyakiti orang lain maupun berdesakan.

Salah satu bacaan yang disebutkan dalam referensi Detik Hikmah adalah:

بِسْمِ اللهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Latin: Bismillaahi wallaahu akbar.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Mahabesar.”

Jemaah tidak perlu memaksakan diri mendekati Hajar Aswad apabila kondisi ramai. Memberi ruang dan menjaga keselamatan sesama jemaah tetap menjadi perhatian utama.

2. Memperbanyak Doa dan Zikir

Amalan ketika thawaf wada berikutnya adalah memperbanyak doa dan zikir kepada Allah SWT. Jemaah dapat memohon ampunan, kesehatan, keselamatan, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan setelah pulang.

Tidak ada kewajiban membaca doa khusus yang berbeda untuk setiap putaran thawaf. Karena itu, jemaah dapat berdoa dengan kalimat yang dipahami dan sesuai kebutuhan selama tidak mengganggu jemaah lain.

3. Membaca Doa Sapu Jagat

Salah satu doa yang dapat dibaca ketika thawaf adalah doa memohon kebaikan dunia dan akhirat. Bacaan ini dikenal sebagai doa sapu jagat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Doa ini mengajarkan jemaah untuk memohon kebaikan secara menyeluruh. Mereka tidak hanya meminta kelancaran perjalanan pulang, tetapi juga keberkahan hidup dan keselamatan di akhirat.

4. Memohon Ampunan dan Penerimaan Amal

Menjelang berakhirnya perjalanan haji, jemaah dapat memohon ampunan atas dosa dan kekurangan selama beribadah. Mereka juga dapat meminta agar Allah menerima amal serta memberikan kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci.

Doa tersebut dapat jemaah panjatkan dengan bahasa sendiri. Hal terpenting adalah menghadirkan hati yang tulus, mengakui kekurangan diri, dan berharap kepada rahmat Allah SWT.

Baca juga: Tahallul Awal dan Tsani: Pengertian, Perbedaan, dan Ketentuannya

5. Menjaga Adab hingga Meninggalkan Makkah

Jemaah hendaknya menjaga ketenangan, tidak menyakiti orang lain, dan mengikuti arahan petugas selama thawaf wada. Setelah menyelesaikannya, mereka dapat melanjutkan persiapan keberangkatan.

Menurut penjelasan Rumaysho, thawaf wada hendaknya menjadi amalan terakhir sebelum meninggalkan Makkah. Jemaah masih boleh menunggu kendaraan, menyiapkan barang, atau berpamitan. Namun, jika mereka kembali melakukan aktivitas lain yang membuatnya menetap cukup lama, ketentuan pengulangan thawaf dapat bergantung pada jenis aktivitas dan keadaan. Karena itu, jemaah sebaiknya berkonsultasi dengan pembimbing jika mengalami kondisi tersebut.

Apakah Ada Doa Khusus Setelah Thawaf Wada?

Sejumlah kitab doa memuat bacaan yang dapat dibaca ketika berpamitan dengan Baitullah. Detik Hikmah, misalnya, mengutip doa thawaf wada dari kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Namun, jemaah perlu membedakan antara doa yang boleh diamalkan dan bacaan yang memiliki ketetapan khusus dari Rasulullah SAW. Tidak semua doa yang tercantum dalam buku panduan merupakan bacaan wajib atau memiliki dalil khusus sebagai doa penutup thawaf wada.

Jemaah dapat berdoa memohon keselamatan perjalanan, ampunan, dan penerimaan ibadah. Mereka juga dapat mengungkapkan rasa haru saat meninggalkan Makkah tanpa menganggap satu redaksi tertentu sebagai syarat sah thawaf.

Siapa yang Mendapat Keringanan dari Thawaf Wada?

Perempuan yang sedang haid atau nifas mendapat keringanan untuk tidak melaksanakan thawaf wada. Ketentuan ini berdasarkan hadis tentang keringanan bagi perempuan haid yang telah menyelesaikan thawaf ifadah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW tidak memerintahkan rombongan menunggu Shafiyah ketika beliau mengetahui bahwa Shafiyah telah melaksanakan thawaf ifadah. Hadis tersebut menjadi dasar keringanan bagi perempuan yang mengalami haid menjelang kepulangan.

Jika jemaah menghadapi kondisi lain, seperti sakit atau perubahan jadwal keberangkatan, sebaiknya mereka meminta penjelasan pembimbing haji agar dapat mengetahui ketentuan yang sesuai.

Baca juga: Sunnah dalam Melempar Jumrah yang Perlu Diketahui Jamaah Haji

Penutup

Amalan ketika thawaf wada meliputi pelaksanaan tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, memperbanyak doa dan zikir, memohon ampunan, serta menjaga adab hingga meninggalkan Makkah. Jemaah dapat membaca doa sapu jagat dan memanjatkan permohonan dengan bahasa sendiri tanpa meyakini adanya bacaan wajib untuk setiap putaran.

Dengan memahami tata cara dan ketentuannya, jemaah dapat menjadikan thawaf wada sebagai penutup perjalanan haji yang tertib dan penuh kesadaran. Semoga Allah SWT menerima ibadah haji seluruh jemaah dan memberikan kesempatan untuk kembali mengunjungi Baitullah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *