Ketaatan Prajurit Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar

Ketaatan Prajurit Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar

Latar Belakang Sejarah Perang Khaibar

Perang Khaibar adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menceritakan ketaatan prajurit. Perang ini terjadi pada tahun 7 Hijriah, setelah Perjanjian Hudaibiyah. Khaibar merupakan sebuah daerah subur di utara Madinah yang dipenuhi dengan benteng-benteng kokoh milik kaum Yahudi. Kaum Muslimin memandang pentingnya menaklukkan Khaibar karena wilayah tersebut menjadi basis kekuatan musuh yang sering melakukan provokasi dan ancaman terhadap umat Islam di Madinah.

Pada saat itu, pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ berjumlah sekitar 1.400 orang. Mereka menghadapi musuh dengan persenjataan lengkap serta pertahanan yang sangat kuat. Di sinilah muncul sebuah kisah yang menggambarkan bukan hanya keberanian, tetapi juga ketaatan prajurit sejati dalam menjalankan perintah Rasulullah ﷺ.

Seorang prajurit berjenggot mengenakan baju perang hitam, tersenyum dengan penuh semangat, menggambarkan ketaatan prajurit muslim dalam sejarah pertempuran.
Ilustrasi ketaatan prajurit yang menunjukkan senyum semangat (foto: freepik)

Perang Khaibar dan Penunjukan Ali bin Abi Thalib

Dalam perjalanan perang, Rasulullah ﷺ menyampaikan sabdanya: “Sungguh, besok aku akan memberikan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keesokan harinya, panji itu diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Pada waktu itu, beliau sedang sakit mata. Rasulullah ﷺ kemudian meludahi mata Ali dan dengan izin Allah, sakitnya langsung sembuh. Dengan semangat dan iman yang kokoh, Ali menerima tugas besar tersebut untuk memimpin pasukan menghadapi benteng Khaibar.

Keberanian dan Ketangguhan Ali

Ali bin Abi Thalib tidak hanya menunjukkan keteguhan hati, tetapi juga kekuatan fisik yang luar biasa. Beliau mampu merobohkan pintu benteng Khaibar yang beratnya tidak mampu diangkat oleh banyak orang sekalipun. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa keberanian dan keimanan dapat melahirkan kekuatan yang tidak terbayangkan.

Baca juga: Abdullah bin Ummi Maktum, Teladan Semangat dan Ketaatan

Nilai Ketaatan Prajurit dalam Islam

Kisah Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar adalah contoh yang sangat jelas tentang ketaatan prajurit. Ia tidak meragukan perintah Rasulullah ﷺ, meski kondisi dirinya tidak prima. Ketaatan ini membawanya pada kemenangan besar, sekaligus menjadi teladan sepanjang masa.

Pelajaran Bagi Generasi Kini

Nilai-nilai ketaatan dan disiplin dari kisah ini relevan sepanjang zaman. Dalam kehidupan modern, kita bisa meneladani sikap Ali dengan menaati aturan, menghormati pemimpin, serta tetap sabar dan teguh dalam menghadapi cobaan. Dengan demikian, setiap Muslim dapat menjadi “prajurit” dalam perjuangan hidupnya masing-masing.

Baca juga: Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Dalil Tentang Ketaatan

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 59:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu…”

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa ketaatan seorang Muslim, termasuk prajurit di medan perang, adalah bagian dari ibadah yang mendatangkan ridha Allah.

Peristiwa Perang Khaibar menunjukkan bahwa kemenangan bukan hanya ditentukan oleh strategi dan kekuatan fisik, tetapi juga oleh iman dan ketaatan. Kisah Ali bin Abi Thalib menjadi teladan agung bahwa prajurit sejati adalah mereka yang tunduk penuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga semangat ini dapat menginspirasi kita untuk lebih disiplin, taat, dan teguh dalam menghadapi perjuangan hidup sehari-hari.

Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

Dalam sejarah Islam, banyak kisah inspiratif tentang keikhlasan sahabat Nabi ﷺ dalam berinfak di jalan Allah. Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi menjelang Perang Tabuk, ketika Rasulullah ﷺ menyeru kaum muslimin untuk bersedekah demi mendukung perjuangan. Pada saat itulah tercatat kisah mulia tentang sedekah Abu Bakar dan Umar.

sedekah harta rampasan perang, harta karun. kisah sedekah Umar bin Khattab dan Abu Bakar di Perang Tabuk
Ilustrasi sedekah harta perang Sayyidina Umar dan Abu Bakar (gambar hanya ilustrasi. foto: freepik)

 

Kisah Sedekah Abu Bakar dan Umar

Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat untuk memberikan harta mereka, Umar bin Khattab r.a. datang dengan membawa setengah dari hartanya. Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Umar?” Umar menjawab, “Aku tinggalkan sebanyak yang kubawa.”

Tak lama kemudian, Abu Bakar r.a. pun datang dengan membawa seluruh hartanya. Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar?” Ia menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”

Kedua sahabat mulia ini memperlihatkan bagaimana kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu mendorong mereka untuk bersedekah dengan penuh keikhlasan.

Pondok Quran Almuanawiyah Jombang

Sedekah Melipatgandakan Kebaikan

Allah berfirman:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261).

Allah ﷻ dalam surah Al-Baqarah ayat 261 menjelaskan bahwa sedekah ibarat menanam sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh bulir, dan setiap bulir berisi seratus biji. Artinya, satu amal kebaikan bisa dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak Allah.

Ayat ini memberi isyarat bahwa harta yang kita keluarkan tidak akan hilang, melainkan justru berkembang menjadi pahala yang berlipat ganda. Sama seperti benih yang ditanam di tanah subur, ia akan tumbuh dan memberi hasil yang berlimpah. Maka, sedekah tidak mengurangi harta, tetapi menambah keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Baca juga: Cerita Teladan Sedekah dari Ummu Umarah

Kisah sedekah Abu Bakar dan Umar dalam Perang Tabuk menjadi teladan bagi umat Islam untuk senantiasa berinfak di jalan Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Semangat mereka adalah cermin bahwa harta yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan, dan pengorbanan di jalan Allah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Mari kita lanjutkan semangat kedermawanan para sahabat dengan mendukung pendidikan Islam. Melalui program Wakaf Pendidikan Al Muanawiyah, setiap rupiah yang kita sisihkan akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Bergabunglah bersama para pewakaf, insyaAllah menjadi bekal terbaik menuju akhirat.

Tips Menghafal Al-Qur’an dengan Mudah Melalui Pengulangan

Tips Menghafal Al-Qur’an dengan Mudah Melalui Pengulangan

Menghafal Al-Qur’an adalah ibadah mulia yang dijanjikan banyak keutamaan. Namun, tidak sedikit yang merasa sulit menjaga hafalan agar tetap kuat. Salah satu tips menghafal Al-Qur’an yang terbukti efektif adalah melakukan pengulangan (tikrar) sesering mungkin.

 

Pentingnya Pengulangan dalam Menghafal

 

Dalam tradisi para ulama, pengulangan menjadi kunci keberhasilan hafalan. Hafalan yang tidak diulang akan cepat hilang, sebagaimana hadits Rasulullah SAW

 (( إنَّمَامَثَلُ صَاحبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ ، إنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أمْسَكَهَا ، وَإنْ أطْلَقَهَا ذَهَبَتْ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan orang yang menghafal Al-Qur’an adalah seperti unta yang diikat dengan tali. Jika dijaga, maka tidak akan lari. Jika dibiarkan tanpa diikat, maka akan lepas.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789]

 

Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan. Beliau sering membaca ayat-ayat yang sama dalam shalat malam, bahkan berulang kali. Cara sahabat Nabi menghafal Al-Qur’an juga dituntun untuk banyak diulang dalam shalat. Hal ini menunjukkan bahwa pengulangan adalah metode yang diajarkan langsung oleh Nabi.

Allah SWT pun berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk diingat, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Ayat ini memberi isyarat bahwa Al-Qur’an memang dimudahkan untuk dihafal, salah satunya melalui pengulangan yang konsisten.

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kita Harus Menghafal Al-Qur’an

Alasan Ilmiah Metode Pengulangan

 

Dari sisi ilmiah, otak manusia memiliki mekanisme spaced repetition, yaitu kemampuan menyimpan informasi lebih kuat ketika diulang secara berkala. Setiap kali hafalan dibaca ulang, jalur saraf di otak akan semakin kuat, sehingga ayat-ayat Al-Qur’an lebih mudah melekat dalam ingatan jangka panjang.

Selain itu, penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa hafalan yang sering diulang akan berpindah dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Dengan demikian, pengulangan bukan sekadar rutinitas, tetapi strategi ilmiah yang sangat efektif.

Program Pengulangan di PPTQ Al Muanawiyah

 

Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah, metode pengulangan menjadi bagian penting dari kurikulum tahfidz. Santri dibimbing agar selalu menjaga hafalannya melalui program-program khusus, antara lain:

  • Tasmi’ kelipatan 5 juz, untuk melatih mental dan konsistensi hafalan.

  • Tilawah harian 5 juz, agar santri terbiasa mengulang bacaan dalam jumlah banyak.

  • Ayatan, yaitu pengulangan ayat-ayat dengan sambung ayat secara terfokus untuk memperkuat hafalan detail.

Dengan program ini, santri tidak hanya menghafal, tetapi juga mampu menjaga hafalan tetap kuat sepanjang waktu.

mengulang ayat tasmi' hafalan ujian terbuka wisuda tahfidz pondok pesnatren tahfidz putri Al Muanawiyah Jombang
Tips menghafal Al-Qur’an dengan pengulangan di PPTQ Al Muanawiyah

Dari uraian di atas, jelas bahwa salah satu tips menghafal Al-Qur’an paling efektif adalah pengulangan sesering mungkin. Baik dari sisi syariat maupun ilmu pengetahuan, pengulangan terbukti menjaga hafalan agar tidak mudah hilang.

PPTQ Al Muanawiyah telah menerapkan metode ini secara sistematis melalui berbagai program. Mari turut serta mendukung lahirnya generasi Qur’ani dengan bergabung dalam Wakaf Pendidikan Al Muanawiyah. Dukungan Anda akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bersama lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari para santri.

Pengertian dan Syarat Nazar dalam Islam

Pengertian dan Syarat Nazar dalam Islam

Nazar adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki kedudukan khusus dalam ajaran Islam. Banyak umat Muslim yang bertanya-tanya tentang pengertian dan syarat nazar, terutama karena praktik ini sering dilakukan sebagai bentuk janji kepada Allah SWT. Artikel ini akan membahas definisi, hukum, serta syarat-syarat nazar berdasarkan keterangan para ulama.

Pengertian Nazar dalam Islam

Secara bahasa, nazar berarti janji, baik janji melakukan kebaikan maupun keburukan. Namun menurut istilah syariat, nazar adalah komitmen seorang Muslim untuk melakukan ibadah tertentu sebagai bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Allah SWT.

gambar jabat tangan menggambarkan perjanjian nazar dalam Islam
Ilustrasi nazar dalam Islam (foto: freepik)

Dalam kitab al-Yaqut an-Nafis, Sayyid Ahmad bin ‘Umar As-Syatiri menjelaskan bahwa nazar hanya sah bila terkait dengan ibadah sunnah atau fardhu kifayah. Sedangkan nazar yang berkaitan dengan hal wajib seperti shalat lima waktu, atau hal makruh, haram, maupun mubah, tidak sah dilakukan.

Para ulama juga membedakan bentuk nazar. Ada nazar tabarrur, yaitu janji ibadah murni karena Allah, dan ada nazar mu’allaq, yaitu janji ibadah yang digantungkan pada tercapainya suatu harapan, misalnya sembuh dari sakit atau sukses dalam ujian.

Baca juga: Marak di Kalangan Artis, Bagaimana Hukum Operasi Plastik?

Syarat Nazar yang Sah

Dalam pembahasan fikih, ada beberapa syarat yang menjadikan nazar sah menurut syariat Islam:

  1. Pelaku nazar adalah Muslim, mukallaf, dan rasyid (berakal dan mampu bertanggung jawab).

  2. Isi nazar berupa ibadah sunnah atau fardhu kifayah, bukan ibadah wajib fardhu ‘ain, bukan maksiat, dan bukan hal mubah.

  3. Nazar harus diucapkan dengan lafadz yang jelas, bukan sekadar niat dalam hati. Sebagaimana ditegaskan dalam al-Muhadzab karya Abu Ishaq as-Syairazi: “Nazar tidak sah kecuali dengan ucapan.”

  4. Lafadz nazar harus mengandung kepastian, bukan keraguan. Misalnya, “Saya bernazar akan berpuasa Senin depan,” bukan “Mungkin saya akan puasa.”

  5. Kewajiban mengikuti sesuai isi nazar. Jika yang dinazarkan umum, cukup dilaksanakan dalam bentuk minimal yang sudah memenuhi makna ibadah. Namun bila yang dinazarkan khusus, maka wajib dipenuhi sesuai detail yang diucapkan.

Dampak Nazar dalam Ibadah

Salah satu ketentuan penting dari nazar adalah berubahnya hukum ibadah. Sesuatu yang asalnya sunnah akan menjadi wajib bagi orang yang bernazar. Misalnya, sedekah kepada fakir miskin pada dasarnya sunnah, tetapi jika dinazarkan maka menjadi kewajiban pribadi.

Sebaliknya, jika seseorang tidak mampu menunaikan nazarnya, maka ia wajib membayar kafarat, sebagaimana dalam hukum sumpah. Kafarat tersebut bisa berupa memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian, atau berpuasa tiga hari bila tidak mampu.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian dan syarat nazar adalah janji seorang hamba untuk menunaikan ibadah sunnah atau fardhu kifayah yang sah menurut syariat, dengan syarat pelaku berakal, Muslim, serta melafadzkan nazar dengan jelas. Nazar tidak boleh berkaitan dengan maksiat, hal mubah, atau ibadah wajib.

Dengan memahami ketentuan ini, umat Muslim diharapkan lebih berhati-hati dalam mengucapkan nazar. Sebab, apa yang awalnya sunnah bisa berubah menjadi kewajiban yang harus ditunaikan di hadapan Allah SWT.

Referensi

almuanawiyah.com

Marak di Kalangan Artis, Bagaimana Hukum Operasi Plastik?

Marak di Kalangan Artis, Bagaimana Hukum Operasi Plastik?

Al MuanawiyahBelakangan ini, fenomena operasi plastik semakin marak diperbincangkan, terutama di kalangan artis. Banyak figur publik yang secara terang-terangan mengakui telah melakukan operasi plastik demi alasan penampilan. Namun, sebagai seorang Muslim, tentu muncul pertanyaan: bagaimana hukum operasi plastik dalam Islam?

Pandangan Ulama tentang Operasi Plastik

Dalam forum bahtsul masail NU tahun 2006, para kiai membedakan antara operasi plastik yang dilakukan karena alasan kesehatan dan yang dilakukan murni untuk estetika. Jika operasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi tubuh, menghilangkan cacat, atau memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan, hukumnya boleh.

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
“Boleh memindah anggota badan dari satu tempat di tubuh seseorang ke tempat lain, selama manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya. Disyaratkan pula operasi itu dilakukan untuk mengembalikan bentuk semula, memperbaiki cacat, atau menghilangkan gangguan fisik dan psikis.” (Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, VIII: 5124).

Dengan kata lain, jika operasi plastik bertujuan menghilangkan rasa sakit, tekanan batin, atau memperbaiki cacat fisik, maka Islam memberikan keringanan.

gambar wajah wanita digambar ilustrasi hukum operasi plastik dalam Islam
Ilustrasi hukum operasi plastik (foto: freepik)

Larangan Operasi Plastik untuk Mengubah Ciptaan Allah

Namun berbeda halnya jika operasi plastik hanya bertujuan mengubah bentuk tubuh agar tampak lebih cantik atau tampan, padahal tidak ada cacat yang mengganggu. Imam Ath-Thabari dalam Fathul Bari menegaskan, mengubah ciptaan Allah untuk sekadar memperindah diri termasuk perbuatan yang terlarang. Misalnya, mencabut alis hingga mengubah bentuk wajah, atau memperbesar bagian tubuh agar sesuai standar kecantikan tertentu.

Baca juga: Potensi Zakat Tunjangan DPR dan Peluang Kebermanfaatannya

Fenomena Artis dan Relevansinya

Kini, tidak sedikit artis yang memilih jalan operasi plastik demi alasan penampilan. Mereka beranggapan bahwa popularitas menuntut kesempurnaan wajah dan tubuh. Namun dari kacamata Islam, tindakan seperti ini perlu dilihat secara hati-hati. Jika hanya didorong oleh tren, gengsi, atau ingin mengikuti standar kecantikan modern, maka hal itu bisa masuk dalam kategori tahrim (terlarang).

Meski demikian, jika operasi tersebut dilakukan karena faktor medis, seperti rekonstruksi akibat kecelakaan atau luka bakar, atau untuk membuka saluran pernafasan yang terhambat, maka hukumnya mubah bahkan bisa bernilai maslahat.

Hikmah yang Bisa Diambil

Fenomena ini memberikan pelajaran bahwa kecantikan sejati bukan sekadar soal fisik. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Artinya, penilaian utama dalam Islam bukanlah pada fisik, melainkan pada hati dan amal. Maka, daripada berfokus pada penampilan luar semata, lebih baik memperindah akhlak dan memperbanyak amal kebaikan.

Kesimpulan

Berdasarkan pandangan para ulama dan hasil bahtsul masail NU, hukum operasi plastik terbagi dua:

  1. Boleh, jika untuk mengembalikan fungsi tubuh, menghilangkan cacat, atau mengatasi gangguan psikis dan fisik.

  2. Haram, jika hanya untuk mengubah ciptaan Allah demi memperindah diri tanpa kebutuhan medis.

Fenomena artis yang ramai melakukan operasi plastik hendaknya menjadi refleksi, bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga penampilan dan tetap mensyukuri ciptaan Allah.

Referensi: NU Online

Doa Sebelum Tidur sebagai Perlindungan Saat Kematian Kecil

Doa Sebelum Tidur sebagai Perlindungan Saat Kematian Kecil

Setiap muslim diajarkan untuk memulai dan mengakhiri harinya dengan doa. Salah satu amalan yang sederhana namun penuh makna adalah doa sebelum tidur. Dengan membacanya, seorang hamba menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, memohon perlindungan dari bahaya, serta berharap mendapat keberkahan di waktu istirahatnya. Tidak hanya menenangkan hati, doa ini juga menjadi pengingat bahwa tidur adalah kesempatan untuk beristirahat sekaligus merenungi nikmat Allah yang begitu besar. Sehingga ketika bangun tidur, tubuh menjadi lebih segar untuk melakukan aktivitas ibadah seharian.

Lafadz Doa Sebelum Tidur

Berdoa sebelum tidur adalah sunnah Rasulullah ﷺ yang memiliki banyak keutamaan. Berikut lafadznya yang diajarkan dalam hadits shahih:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

Bismikallohumma amuutu wa ahya
 
Artinya: “Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup”.

Selain doa ini, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa lain sebelum tidur, di antaranya membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas untuk perlindungan diri.

Doa ini bersumber dari hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

وَعَنْ حُذَيْفَةَ، وَأَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِراشِهِ، قَالَ: «بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وأَمُوتُ». رَوَاهُ البُخَارِي.

Dari Hudzaifah dan Abu Dzarr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan beranjak tidur, beliau mengucapkan, “BISMIKA ALLOHUMMA AHYAA WA AMUUT (dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati)” (HR. Bukhari)

[HR. Bukhari, no. 6314 dan Muslim, no. 2711]

Rasulullah ﷺ mencontohkan agar umatnya selalu mengingat Allah sebelum beristirahat. Tidur diibaratkan sebagai “kematian kecil”, sehingga doa ini menjadi pengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah.

doa bangun tidur bismikallahumma amuutu wa ahya
doa bangun tidur

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kita Harus Menghafal Al-Qur’an

Makna Doa Sebelum Tidur

Doa sebelum tidur bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi juga mengandung makna mendalam:

  1. Tauhid: mengingat bahwa kehidupan dan kematian sepenuhnya milik Allah.

  2. Tawakal: menyerahkan diri kepada Allah saat tidur, karena manusia tidak berdaya tanpa penjagaan-Nya.

  3. Syukur: menyadari nikmat istirahat sebagai karunia yang diberikan setelah seharian beraktivitas.

Keutamaan Doa “Bismikallohumma ahya wa amuutu”

Berdoa sebelum tidur membawa banyak keutamaan, di antaranya:

  1. Dilindungi Allah sepanjang malam. Dengan doa, tidur menjadi ibadah dan bernilai pahala.

  2. Menenangkan hati. Mengingat Allah sebelum tidur membuat hati tenang dan jauh dari kegelisahan.

  3. Membangun kebiasaan baik. Mengajarkan rutin membaca doa menjadi sarana mendidik diri dan anak-anak agar terbiasa dekat dengan Al-Qur’an dan sunnah.

  4. Menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Setiap kali membaca doa ini, seorang muslim menghidupkan ajaran Nabi dan mendapat keberkahan.

Doa sebelum tidur adalah amalan sederhana, namun menyimpan makna besar. Dengan mengamalkannya, seorang muslim tidak hanya mendapat ketenangan dalam tidur, tetapi juga perlindungan dari Allah. Mari kita biasakan membaca Bismikallohumma ahya wa amuutu sebelum beristirahat, agar tidur kita bernilai ibadah dan penuh keberkahan.

Apa Itu Tari Saman, Tari yang Menutup Wisuda Tahfidz II?

Apa Itu Tari Saman, Tari yang Menutup Wisuda Tahfidz II?

Tari Saman adalah salah satu warisan budaya Nusantara yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh. Tarian ini diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menggunakan kesenian sebagai media dakwah Islam. Awalnya, tari ini berkembang di meunasah (surau) sebagai sarana pendidikan dan penyampaian pesan moral kepada masyarakat. Kini, ia telah diakui UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity, dan menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, sekaligus kebanggaan bangsa Indonesia.

Makna Filosofis

Gerakan dalam Tari Saman begitu khas karena dilakukan dalam posisi duduk berbaris, diiringi dengan tepukan tangan, hentakan dada, dan nyanyian syair Islami. Filosofi utama dari tari ini adalah tentang keserasian, kekompakan, serta kebersamaan. Tidak ada penari yang menonjol sendiri, semua bergerak dalam irama yang sama. Hal ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan sosial maupun beragama, umat harus saling mendukung dan berjalan seirama demi mencapai tujuan mulia.

Tari Saman sebagai Sambutan untuk Undangan

Dalam acara besar, warisan budaya dari Kota Serambi Mekah kerap ditampilkan sebagai sambutan yang hangat bagi para tamu undangan. Begitu pula dalam Wisuda Tahfidz II PPTQ Al Muanawiyah pada Ahad (14/09) lalu. Tari Saman dipersembahkan dengan penuh energi dan khidmat di hadapan wali santri, tokoh masyarakat, serta pejabat daerah. Sambutan seni budaya ini membuat suasana terasa meriah sekaligus penuh makna, seolah menyampaikan pesan bahwa para tamu dihormati dengan cara yang indah dan berkesan.

tari saman warisan budaya aceh kota serambi mekah. Penampilan haflah tasyakur wisuda tahfidz pondok pesantren tahfidz putri Al Muanawiyah Jombang
Persembahan tari saman dalam acara Wisuda Tahfidz II PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Hadirnya Tari Saman di penutup acara menjadi simbol ucapan terimakasih bagi undangan, sekaligus memperlihatkan keterampilan dan semangat para santri dalam melestarikan budaya Islami Nusantara. Perpaduan nilai seni dan dakwah ini menjadikan persembahan ini lebih dari sekadar hiburan, tetapi juga bentuk penghormatan yang sarat makna.

Baca juga: Seleksi Wisuda Tahfidz 2025 PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Keistimewaan Tari Saman di Acara Besar

Keindahannya semakin terasa ketika ditampilkan dalam forum yang penuh kebersamaan. Gerakannya yang serempak menampilkan semangat persaudaraan, kerja sama, dan kedisiplinan yang menjadi nilai penting dalam dunia pesantren. Selain itu, manfaat kebudayaan ini membawa pesan spiritual karena syair yang dibawakan sering kali berisi nasihat Islami dan pujian kepada Allah.

Kehadirannya dalam Wisuda Tahfidz tidak hanya menyemarakkan acara, tetapi juga menambah nilai syiar dakwah melalui seni. Para tamu undangan pun terkesan, karena tari ini mampu menciptakan suasana khidmat sekaligus penuh semangat kebersamaan.

Pesan Inspiratif

Tari Saman mengajarkan bahwa kekuatan lahir dari kebersamaan. Sama seperti para penari yang duduk sejajar tanpa membedakan satu sama lain, umat manusia juga seharusnya hidup dengan semangat kesetaraan. Pesan ini sejalan dengan semangat Haflah Tasyakur yang tidak hanya merayakan capaian para santri, tetapi juga mempererat silaturahmi dan persatuan umat.

Persembahan spesial ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga sarana pendidikan, dakwah, dan perekat kebersamaan. Dengan tampilnya Tari Saman di Wisuda Tahfidz II PPTQ Al Muanawiyah, para hadirin diingatkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan semangat persaudaraan, syukur, serta cinta kepada Allah. Saksikan siaran ulang acara di Youtube Al Muanawiyah

Orasi Ilmiah Al-Qur’an DR. Hazin dalam Wisuda II Al Muanawiyah

Orasi Ilmiah Al-Qur’an DR. Hazin dalam Wisuda II Al Muanawiyah

Pada Wisuda Tahfidz II PPTQ Al Muanawiyah yang digelar Ahad lalu (14/09), suasana haru sekaligus penuh semangat semakin terasa ketika acara ditutup dengan orasi ilmiah Al-Qur’an. Orasi tersebut disampaikan oleh DR. Mufarrihul Hazin, S.Pd.I., M.Pd., dosen pascasarjana Universitas Negeri Surabaya sekaligus lulusan doktoral tercepat dengan IPK Cum Laude dari kampus yang sama.

Pesan Tentang Nilai Manusia

Dalam orasinya, DR. Hazin membuka dengan perumpamaan sederhana namun penuh makna. Beliau mengangkat uang Rp100.000, lalu berkata:
“Kalau uang 100.000 ini sudah saya lipat-lipat, saya ludahi, saya injak-injak. Apa masih ada yang mau?”

Tentu saja, meskipun kondisi uang tersebut tidak lagi elok, nilainya tetap sama. Dari perumpamaan itu beliau menegaskan bahwa manusia akan dihargai jika memiliki nilai (added value). Meski dalam kondisi apapun, seseorang tetap bernilai ketika ia memberi manfaat. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no: 3289)

orasi ilmiah Al-Qur'an DR Mufarrihul Hazin wisuda tahfidz pondok pesantren tahfidz putri Al Muanawiyah Jombang, menjadi orang shalih dan mushlih
DR. Mufarrihul Hazin dalam orasi ilmiah Al-Quran di Wisuda Tahfidz II Al Muanawiyah Jombang (14/09)

Menjadi Shalih atau Mushlih

Lebih lanjut, DR. Hazin mengutip perkataan KH. Sahal Mahfudz: “Menjadi orang shalih itu mudah, cukup diam dan tidak neko-neko. Namun jadilah mushlih, yaitu orang yang mengajak orang lain untuk shalih juga.”
Pesan ini selaras dengan visi dan misi pembangunan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah, yakni mencetak generasi Qur’ani yang bermanfaat bagi sesama. Inilah pesan penting yang ditegaskan dalam orasi ilmiah Al-Qur’an yang beliau sampaikan.

Hafalan 30 Juz: Awal Perjalanan Baru

DR. Hazin juga mengingatkan bahwa khatam hafalan 30 juz bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal perjalanan baru. Seperti firman Allah dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!”

Membaca dalam makna luas, tidak hanya teks, tetapi juga tanda-tanda alam (qouliyah dan kauniyah). Para penghafal Al-Qur’an diingatkan untuk melanjutkan perjalanan dengan 4M:

  1. Murojaah (mengulang hafalan),

  2. Mentadabburi (merenungi makna),

  3. Mengamalkan,

  4. Menyebarkan.

Pesan untuk Keluarga Penghafal Al-Qur’an

Dalam penutupnya, beliau menekankan bahwa keluarga yang memiliki anak penghafal Al-Qur’an patut bersyukur. Perjalanan itu tidak mudah, dan setelah hafalan, perjuangan berikutnya akan lebih berat. Dibutuhkan kerja sama, dukungan, dan kesabaran dari seluruh anggota keluarga.

Orasi ilmiah Al-Qur’an dari DR. Mufarrihul Hazin menjadi pengingat bahwa hafalan Al-Qur’an bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu awal menuju kehidupan Qur’ani. Dengan memaknai, mengamalkan, dan menyebarkan Al-Qur’an, generasi penghafal dapat memberi manfaat yang luas bagi umat.

Semoga kita semua dimudahkan Allah untuk membangun keluarga Qur’ani yang tidak hanya menghafal, tetapi juga mampu menebarkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Tonton cuplikan lengkapnya melalui Youtube Al Muanawiyah.

Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Al-Muanawiyah – Shalat bukan hanya ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Allah, tetapi juga mengandung hikmah besar bagi kesehatan tubuh. Salah satu gerakan penting di dalamnya adalah rukuk. Jika dilakukan dengan benar sesuai sunnah Rasulullah ﷺ, rukuk dapat memberikan banyak manfaat, baik secara fisik maupun spiritual. Tak heran jika para ulama dan ahli kesehatan menyoroti manfaat rukuk shalat sebagai amalan yang mampu menjaga kelenturan tubuh, melatih konsentrasi, sekaligus menumbuhkan kerendahan hati di hadapan Allah.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tepat Waktu dan Dampaknya pada Kehidupan

 

Dalil Tentang Rukuk dalam Shalat

Rukuk adalah salah satu rukun shalat yang tidak boleh ditinggalkan. Allah ﷻ berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.”
(QS. Al-Hajj: 77)

Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam sabdanya:

“Kemudian rukuklah hingga kamu tenang dalam rukuk, lalu bangkitlah hingga kamu berdiri lurus.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari dalil ini, jelas bahwa rukuk tidak hanya sekadar menundukkan badan, tetapi harus dilakukan dengan penuh khidmat agar shalat khusyuk dan tenang serta mendapat keberkahan.

gambar animasi pria sedang melakukan rukuk shalat sebagai ilustrasi Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa
Ilustrasi manfaat rukuk shalat (foto: freepik)

Tata Cara Rukuk yang Benar

Agar gerakan rukuk memberikan manfaat sempurna, berikut tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ:

  1. Menurunkan badan dengan punggung lurus, sejajar dengan kepala.

  2. Tangan menggenggam lutut, dengan jari-jari merenggang.

  3. Pandangan mengarah ke tempat sujud.

  4. Membaca doa rukuk:
    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
    Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wa bihamdih
    (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan memuji-Nya).

  5. Tenang dalam posisi rukuk, tidak terburu-buru, sampai semua anggota tubuh benar-benar mantap.

Baca juga: Bahaya Tidur Pagi Menurut Hadits dan Sains

Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan

Gerakan rukuk tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga memberikan dampak positif bagi tubuh:

  1. Menjaga kelenturan tulang belakang – posisi lurus saat rukuk melatih postur tubuh agar tidak bungkuk.

  2. Melancarkan aliran darah ke otak – posisi kepala sejajar punggung membuat peredaran darah lebih optimal.

  3. Menguatkan otot punggung dan perut – gerakan menahan tubuh di posisi tertentu melatih stabilitas otot inti.

  4. Meregangkan otot paha dan betis – baik untuk fleksibilitas dan mengurangi ketegangan sendi.

  5. Melatih keseimbangan tubuh – dengan tangan menempel pada lutut, tubuh terbiasa stabil.

  6. Mengurangi stres dan memberi ketenangan jiwa – doa yang dibaca dalam rukuk membawa ketenangan batin.

Hikmah Rukuk dalam Kehidupan

Selain manfaat fisik, rukuk juga mengandung pesan spiritual yang mendalam. Gerakan ini mengajarkan manusia untuk merendahkan diri di hadapan Allah ﷻ, menumbuhkan rasa syukur, serta menyingkirkan kesombongan. Rukuk adalah simbol kerendahan hati seorang hamba yang menyadari kelemahannya di hadapan Sang Pencipta.

Rukuk bukan sekadar gerakan dalam shalat, melainkan ibadah yang membawa kebaikan lahir dan batin. Dengan memahami tata cara yang benar, seorang muslim dapat meraih manfaat rukuk shalat secara sempurna, baik untuk kesehatan tubuh maupun ketenangan jiwa.

Sejarah Dewi Sartika, Perintis Pendidikan Perempuan

Sejarah Dewi Sartika, Perintis Pendidikan Perempuan

Identitas dan Asal Usul Dewi Sartika

Sejarah Dewi Sartika dimulai sejak kelahirannya pada 4 Desember 1884 di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. Beliau berasal dari keluarga priyayi Sunda. Sejak kecil, Dewi Sartika tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi. Meskipun pada masa itu pendidikan perempuan masih sangat terbatas, ia telah menunjukkan kecerdasan dan kepedulian terhadap kaum wanita.

Ayahnya, Raden Somanagara, dikenal sebagai pejuang yang menolak penjajahan. Semangat perjuangan inilah yang turut mengalir dalam darah Dewi Sartika. Ibunya, Raden Ayu Rajapermas, menanamkan nilai moral dan keberanian dalam diri putrinya sejak dini.

gambar Raden Dewi Sartika pendiri Sekolah Kaoetamaan Istri tokoh pendidikan perempuan
Raden Dewi Sartika

Jejak Perjuangan Dakwah dan Pendidikan

Sejak kecil Dewi Sartika sudah memiliki keinginan kuat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan. Pada tahun 1904, beliau mendirikan Sekolah Istri di Bandung. Sekolah ini mengajarkan membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan rumah tangga.

Kehadiran sekolah tersebut menjadi terobosan besar karena pada masa itu perempuan masih dianggap cukup hanya mengurus rumah. Namun Dewi Sartika berkeyakinan, “Perempuan yang terdidik akan mampu melahirkan generasi yang cerdas.”

Sekolah Istri kemudian berkembang pesat dan pada tahun 1910 berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri. Tidak hanya di Bandung, sekolah ini juga menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat. Dari langkah sederhana ini, Dewi Sartika berhasil membuka jalan bagi lahirnya pendidikan perempuan yang lebih luas di Indonesia.

Semangatnya sejalan dengan dakwah Islam, yakni mengangkat derajat manusia melalui ilmu pengetahuan. Dengan pendidikan, perempuan dapat berperan aktif dalam masyarakat tanpa kehilangan jati dirinya sebagai istri dan ibu.

Baca juga:  Siti Walidah, Pendiri Aisyiyah yang Menginspirasi

Hikmah dari Perjuangan Sejarah Dewi Sartika

Kisah Dewi Sartika memberikan banyak pelajaran berharga bagi generasi saat ini:

  1. Pendidikan adalah hak setiap manusia. Dewi Sartika menegaskan bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang sama seperti laki-laki.

  2. Perjuangan membutuhkan keberanian. Di tengah masyarakat yang masih memandang rendah perempuan, beliau tetap teguh menyuarakan pentingnya ilmu.

  3. Ilmu sebagai jalan dakwah. Dengan pendidikan, seorang muslimah dapat mendidik keluarga menjadi generasi berakhlak mulia dan berwawasan luas.

  4. Warisan inspirasi. Dewi Sartika membuktikan bahwa satu langkah kecil dapat mengubah nasib banyak orang dan berpengaruh hingga lintas generasi.

Sejarah Dewi Sartika ini memberikan kita bukan hanya cerita pahlawan nasional, tetapi juga teladan yang menunjukkan bahwa perjuangan dakwah bisa diwujudkan lewat pendidikan. Beliau telah mewariskan semangat agar perempuan Indonesia berani belajar, berani mengajar, dan berani menginspirasi.

Perjuangan Dewi Sartika adalah pesan abadi: ilmu adalah cahaya, dan perempuan adalah pelita yang mampu menerangi generasi bangsa.