Adab Membaca Al-Qur’an yang Sering Diabaikan Padahal Penting

Adab Membaca Al-Qur’an yang Sering Diabaikan Padahal Penting

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi kalam Allah yang penuh petunjuk dan kemuliaan. Namun sayangnya, banyak dari kita yang terbiasa membacanya tanpa memperhatikan adab yang seharusnya dijaga. Padahal, adab membaca Al-Qur’an bukan hanya tentang cara duduk atau memakai pakaian bersih, tetapi juga tentang kesiapan hati, niat, dan penghormatan terhadap firman Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, adab-adab ini sering kali diabaikan—entah karena ketidaktahuan, terburu-buru, atau sudah menjadi kebiasaan yang kurang tepat. Artikel ini mengajak kita untuk kembali merenungi pentingnya menjaga adab dalam membaca Al-Qur’an, agar setiap huruf yang kita lantunkan benar-benar menjadi cahaya dan penenang hati.

Gambar beberapa anak membaca mushaf al quran bersama-sama dibimbing seorang ustadz contoh adab membaca Al-Qur’an dengan khusyuk
Adab membaca Al Qur’an yang dianjurkan

Adab Membaca Al Qur’an yang Jarang Diperhatikan

1. Meluruskan niat

Membaca Al-Qur’an seharusnya dimulai dengan meluruskan niat: bukan sekadar mengejar target khatam, apalagi hanya untuk didengar orang lain, tetapi semata-mata sebagai bentuk ibadah, sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan upaya untuk mencari petunjuk hidup. Niat yang benar akan menghidupkan bacaan kita, menenangkan jiwa, dan menjadikan setiap huruf yang kita lantunkan bernilai pahala di sisi-Nya.

2. Membersihkan Diri Sebelum Membaca

Salah satu cara menghormati Al-Qur’an saat dibaca yang utama adalah menjaga kebersihan. Sebelum menyentuh mushaf, dianjurkan untuk berwudu. Ini menumbuhkan kesadaran bahwa kita sedang berinteraksi dengan kitab suci yang agung.

Baca juga: Tips Menghafal Al-Qur’an dengan Cepat dan Mudah

3. Menghadap Kiblat dan Duduk dengan Sopan

Menghadap kiblat dan duduk dengan sikap sopan menambah kekhusyukan. Meski tidak wajib, ini menjadi bagian dari adab yang dianjurkan oleh para ulama.

4. Membaca dengan Tartil dan Penuh Penghayatan

Allah berfirman: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil)” (QS. Al-Muzzammil: 4). Membaca dengan tartil adalah inti dari tata cara membaca Al-Qur’an karena mencerminkan ketenangan dan penghayatan terhadap makna ayat-ayat Allah. Selain itu, berusaha menghayati makna setiap ayat, meski berpura-pura. Dianjurkan dengan menangis pada ayat-ayat yang berisi azab dan murka, serta berbahagia pada ayat-ayat yang berisi rahmah dan berita gembira.

ويستحب البكاء والتباكي لمن لا يقدر على البكاء

Artinya, “Disunnahkan untuk menangis dan pura-pura menangis (dipaksa menangis) jika tidak mampu menangis (dengan sendirinya),” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004], juz I, halaman 165) (islam.nu.or.id)

5. Memilih Tempat dan Waktu yang Layak

Hindari membaca Al-Qur’an di tempat ramai atau kotor. Pilih suasana yang tenang, agar jiwa lebih fokus. Ini termasuk dalam etika sopan santun dalam membaca Al-Qur’an yang sering dilupakan.

6. Menjaga Sikap dan Tidak Bermain-main

Saat membaca, jaga sikap tubuh dan hati. Jangan disambi bercanda, makan, atau bermain gadget. Ingatkan anak bahwa akhlak membaca Al-Qur’an yang baik adalah bentuk penghormatan kepada kalamullah.

Mempelajari dan membiasakan adab membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar formalitas, tapi jalan untuk membuka hati agar lebih peka terhadap petunjuk-Nya. Saat orangtua mengajarkan adab ini kepada anak-anak, mereka sedang mewariskan nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu.

“Orangtua yang kuat adalah mereka yang tak hanya mengajari anaknya membaca Al-Qur’an, tapi juga menanamkan adab dalam mencintainya.”

Dengan memahami adab membaca Al-Qur’an, semoga hati kita dan keluarga senantiasa terhubung dengan Al-Qur’an, bukan hanya sebagai bacaan, tapi sebagai cahaya hidup sehari-hari.

Motivasi Hidup Keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Motivasi Hidup Keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Di zaman yang serba cepat ini, hidup seolah tak memberi jeda. Orang tua dituntut untuk kuat secara ekonomi, emosi, dan spiritual, sementara di waktu yang sama mereka juga harus membesarkan anak-anak dengan baik. Tak jarang, kelelahan datang tanpa diminta. Lelah batin, lelah hati, bahkan perasaan tak cukup baik sebagai orang tua. Di tengah kelelahan ini, motivasi hidup Islami sangat dibutuhkan agar hati tidak runtuh—dan di sinilah Surat Al-Insyirah hadir sebagai penenang.

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? … Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 1 & 6)

Surat pendek ini sering dibaca, tapi jarang direnungi dalam-dalam. Padahal isinya adalah pelajaran besar tentang hidup: bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan, tapi bukan akhir dari segalanya. Justru bersamanya, ada jalan keluar yang Allah siapkan.

Gambar keluarga bahagia dengan seorang ayah, seorang ibu yang berpelukan dengan anak perempuannya
Motivasi hidup keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Mendidik Anak Adalah Perjalanan Jiwa

Tak ada orangtua yang sempurna. Tapi mereka yang terus belajar dan mendampingi anaknya dengan niat karena Allah, sejatinya sedang menjalani ibadah yang besar. Salah satu bentuk ikhtiar mendidik anak adalah dengan memperkenalkan mereka pada Al-Qur’an sejak dini. Ada banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke pondok pesantren. Sebagian mungkin ragu: “Apakah anak saya kuat? Apakah saya tega berpisah? Apakah ini akan berguna?”

Jawabannya bisa ditemukan lewat nilai-nilai dalam surat Al-Insyirah.
Menghafal Al-Qur’an memang bukan hal ringan. Namun, saat anak diajari untuk sabar, disiplin, dan ikhlas dalam menghafal, sebenarnya mereka sedang menempa jiwanya. Banyak santri yang bertumbuh bukan hanya dalam hafalan, tapi juga dalam karakter—lebih sabar, lebih kuat menghadapi cobaan, dan lebih tahu cara memaknai kesulitan.

Dan yang terpenting, dalam proses itu orang tua pun ikut ditempa. Doa mereka semakin dalam. Harapan mereka tumbuh dari sujud. Bahkan ketika anak sempat ingin menyerah, orang tualah yang menjadi semangat utama untuk mereka bangkit lagi.

Motivasi Hidup Islami: Bersama Al-Qur’an Ada Ketenangan

Ketika orang tua mulai letih dalam mendampingi anak—baik dalam hal hafalan, sekolah, atau bahkan hanya menjaga akhlaknya di rumah—ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang melebihi kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286). Allah tahu apa yang sedang kita perjuangkan.

Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tapi penyejuk jiwa. Ia mampu menguatkan hati anak-anak, sekaligus menenangkan jiwa orang tua yang sedang dilanda kekhawatiran. Saat kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat hidup keluarga, maka rumah tak hanya hangat secara fisik, tapi juga secara spiritual.

Baca juga: Pengertian dan Syarat Nazar dalam Islam

Hidup Tak Akan Selalu Mudah, Tapi Allah Selalu Bersama Kita

Setiap kesulitan, sekecil apapun, adalah bagian dari proses mendewasakan hati. Sebagai orang tua, jangan pernah merasa sendiri. Jadikan motivasi hidup Islami dari surat-surat pendek seperti Al-Insyirah sebagai pelita di saat gelap, agar kita bisa terus melangkah, walau perlahan.

Dan kepada anak-anak kita, tanamkan keyakinan: bahwa menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan jiwa yang akan membawa banyak kemudahan—baik di dunia maupun akhirat.

Wisuda Tahfidz 2025: Mewujudkan Mimpi Ayah Tercinta

Wisuda Tahfidz 2025: Mewujudkan Mimpi Ayah Tercinta

Al-MuanawiyahDi balik megahnya acara Wisuda Tahfidz 2025 yang akan segera digelar, ada kisah perjuangan panjang yang bisa menjadi motivasi menghafal Al Qur’an. Salah satunya datang dari seorang santri putri bernama Nasywa Mitsfalah, 21 tahun, asal Gresik. Ia merupakan calon wisudawati kategori bil ghoib,  santri kelas tahfidz murni yang telah menempuh perjalanan dua tahun penuh dedikasi di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang.

Perjuangan motivasi menghafal al quran santri putri pondok pesantren tahfidz terbaik Jombang
Kisah Inspiratif Perjuangan Menghafal Al Qur’an

Dari Tayangan Hafiz Cilik Hingga Wisuda Tahfidz

Kisahnya bermula dari ketertarikan masa kecil pada hafiz cilik yang sering ia lihat di televisi. Sejak saat itu, Nasywa kecil mulai mengenal kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Dengan bekal motivasi dari tayangan itu dan motivasi keluarga—terutama dari seorang anggota keluarga yang juga alumni pondok—Nasywa memutuskan untuk mondok setelah lulus SD. Sebelum bergabung di pondok saat ini, ia sudah mengantongi hafalan 15 juz.

Ketika santri lain sempat merasa iri melihat kehidupan luar pondok, Nasywa justru menjalaninya dengan sukarela. “Karena mondok keinginan sendiri, jadi tidak iri dengan temen-temen di luar,” ujarnya.

Namun, perjalanannya tak selalu mudah. Ia pernah mengalami masa bimbang antara mengutamakan hafalan atau pelajaran sekolah. “Dulu ketika SMP lebih banyak belajar pelajaran sekolah daripada menghafal, karena ada ketakutan ketinggalan pelajaran.” Hafalannya pun sempat berjalan lambat, hanya lima baris hingga setengah halaman setiap setoran.

Baca juga: Motivasi Menghafal Al-Qur’an: Tidak Mondok Bukan Hambatan

Kini, penyesalan kecil itu menjadi pelajaran besar. “Sekarang setelah menjalani prosesnya, akhirnya merasa menyesal kenapa tidak sejak dahulu fokus hafalan.” Ia menyadari, usia muda adalah masa emas dalam menghafal. Tapi meski tak sejak dini, ia tetap menjalani proses memutqinkan hafalan dengan tekad kuat. Setelah proses yang begitu panjang, Nasywa berhasil menjadi salah satu santri yang akan diwisuda tahun ini.

Kisah Inspiratif Motivasi Menghafal Al Quran
Tasmi’ Bil Ghoib 30 Juz Santri Berprestasi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang

Menjadi Tangguh Bersama Pondok dan Al-Qur’an

Lebih dari sekadar mengejar hafalan, pondok menjadi ladang tumbuhnya potensi diri. Nasywa dipercaya mengemban berbagai amanah, menjadi musyrifah penyimak hafalan, MC podcast, hingga akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa kuliah penuh (fully funded) melalui jalur tahfidz di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang. Ini menjadi salah satu buah dari fokus hafalannya selama di pondok.

Namun, ujian hidup tak datang dari hafalan, melainkan dari rumah. Masalah ekonomi menimpa keluarganya sejak ia duduk di bangku SMP. Rumah harus dijual, orangtua sakit, dan ketika akhirnya ia khatam 30 juz, tak lama kemudian sang ayah meninggal dunia. “Ada titik di mana ingin menyerah untuk mengejar mimpi kuliah dan hafalan mutqin,” kenangnya. Tapi pondok bukan hanya tempat belajar, melainkan rumah kedua yang menguatkannya. Dengan bimbingan Ayah Amar dan Uma Ita Harits selaku pengasuh pondok, ia bangkit kembali, bahkan melanjutkan ke perguruan tinggi seperti yang diimpikan almarhum ayahnya.

Wisuda Tahfidz 2025 bukan sekadar seremoni. Ia adalah penanda perjuangan panjang, tangis dalam diam, dan doa orangtua yang dikabulkan. Nasywa adalah satu dari sekian banyak santri yang akan melangkah di panggung wisuda, membawa harapan, cita-cita, dan kebanggaan untuk orangtuanya.

“Hafalan itu harus dibuat target dan jadwal, kita harus bertanggung jawab. Semisal tidak sampai target, maka harus buat sanksi untuk diri sendiri, seperti tidak boleh jajan sehari, mencuci baju, menata lemari, dan lain-lain yang buat kapok tidak akan mengulanginya lagi. Hargai waktumu, sampai kamu merasakan bahwa waktu itu sangat berharga. Sekali kita melalaikan waktu, kita bisa kehilangan 1000 kesempatan di masa depan,”

Melalui cerita Nasywa, kita kembali diingatkan bahwa pondok pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga tempat menempa jiwa, memperkuat mental, dan memantapkan jalan menuju keberkahan. Di sinilah calon-calon hafiz dan hafizah dibentuk, bukan hanya cerdas dalam hafalan, tetapi tangguh menghadapi kehidupan.

Bukan Obat, Ini Terapi Mental Health Paling Ampuh Menurut Riset

Bukan Obat, Ini Terapi Mental Health Paling Ampuh Menurut Riset

Di zaman sekarang, banyak remaja merasa cemas, tertekan, dan cepat emosi. Penyebabnya beragam: media sosial, beban sekolah, konflik keluarga, hingga rasa tidak percaya diri. Sayangnya, masalah ini sering tidak terlihat, bahkan tidak disadari oleh orang tua. Padahal menurut WHO, secara global 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan perilaku yang bisa berdampak jangka panjang (World Health Organization, 2021). Jika tidak ditangani, ini bisa memengaruhi prestasi, pergaulan, dan masa depan anak. Maka penting bagi orang tua untuk mencari terapi mental health yang paling ampuh untuk menenangkan anak remaja—dan Al‑Qur’an adalah salah satu cara terbaik.

 

Baca juga: Peran Orangtua dalam Membersamai Anak di Pesantren

 

Al‑Qur’an, Obat Terapi Mental Health yang Ampuh

Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa membaca, mendengar, dan menghafal Al‑Qur’an terbukti menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan, stres, dan depresi. Sebuah ulasan dari berbagai penelitian menyatakan bahwa Al‑Qur’an memberikan efek positif untuk kesehatan mental dan bisa digunakan sebagai terapi non-obat (Rozali et al., 2022; Health Science Reports, 2022). Studi meta-analisis tahun 2023 juga menunjukkan bahwa orang yang mendengarkan Al‑Qur’an mengalami penurunan rasa cemas dan stres yang signifikan dibandingkan yang tidak (Almardini et al., 2023). Hasil uji klinis di Universa Medicina pada 2024 memperkuat temuan ini. Orang dewasa sehat yang rutin mendengarkan bacaan Al‑Qur’an selama beberapa hari mengalami penurunan hormon stres dan kualitas tidur yang membaik (Putra et al., 2024).

Seorang remaja muslimah berhijab tampak bersedih, menggambarkan kondisi mental health yang dapat ditenangkan dengan terapi Al-Qur’an sebagai solusi terbaik menurut riset.
Terapi mental health dari Al-Qur’an

 

Penelitian lain dari Malaysia menyebutkan bahwa penghafal Al‑Qur’an menunjukkan keseimbangan emosi yang lebih baik, kemampuan konsentrasi lebih tinggi, dan kualitas hidup lebih sehat secara keseluruhan (Ishak et al., 2022). Ini artinya, mendampingi anak menghafal Al‑Qur’an bukan hanya membuatnya jadi anak shalih/shalihah, tapi juga meningkatkan kualitas mental health anak tetap kuat di masa remaja.

Membiasakan anak remaja dekat dengan Al‑Qur’an—terutama melalui hafalan—adalah pilihan terbaik untuk menjaga ketenangan hati, kestabilan emosi, dan kekuatan mental mereka. Menghafal atau mendengarkan Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga terapi spiritual yang terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kecemasan. Aktivitas ini membantu menenangkan pikiran, meredakan ketegangan emosional, dan memperkuat mental—terutama pada remaja yang rentan terhadap tekanan zaman modern.

Jika Anda ingin anak tumbuh jadi pribadi yang cerdas, kuat mental, dan dekat dengan Al-Qur’an, pertimbangkan untuk membimbing mereka di lingkungan seperti pondok pesantren tahfidz putri terbaik di Jombang. Di sana, selain hafalan, anak juga dibina akhlaknya. Anda juga dapat mendukung program ini melalui wakaf pondok tahfidz, agar lebih banyak anak merasakan manfaat spiritual dan mental.

Daftar Referensi Ilmiah

  1. Rozali, C. W. M. et al. (2022). The Impact of Listening to, Reciting, or Memorizing the Quran on Physical and Mental Health of Muslims: Evidence from Systematic Review. PubMed

  2. Health Science Reports. (2022). The effect of the holy Quran recitation and listening on anxiety, stress, and depression: A scoping review. PubMed

  3. Almardini, A. et al. (2023). The Effect of Holy Qur’an Recitation on Anxiety: A Systematic Review. PubMed

  4. Putra, M. A. et al. (2024). The Effect of Listening to Holy Quran Recitation on Stress among Healthy Adults. Universa Medicina. Link

  5. Ishak, I. et al. (2022). The Impact of Quran Memorization on Psychological and Health Well‑Being. RIGEO. Link
Amal Sunnah di Penghujung Muharam yang Tak Boleh Terlewat

Amal Sunnah di Penghujung Muharam yang Tak Boleh Terlewat

Bulan Muharam adalah salah satu bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Keutamaannya tidak hanya pada awalnya, tetapi juga hingga penghujungnya. Maka, menyambut 5 hari terakhir bulan Muharram dengan amal-amal sunnah adalah bentuk kesungguhan seorang muslim dalam mengejar keberkahan waktu.

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai “Syahrullah al-Muharram”—bulan Allah yang dimuliakan. Dalam bulan ini, pahala amal kebaikan dilipatgandakan, sementara dosa pun semakin berat timbangannya. Oleh karena itu, amal-amal sunnah seperti puasa, sedekah, dan memperbanyak ibadah sangat dianjurkan.

amal sunnah terbaik bulan muharam muharram
Amal sunnah terbaik di bulan Muharam

Amal Sunnah di Bulan Muharam yang Bisa Diperbanyak

Berikut beberapa amalan sunnah yang bisa dimaksimalkan di akhir bulan Muharram:

1. Puasa Sunnah

Meski puasa Asyura (10 Muharram) telah berlalu, puasa sunnah tetap dianjurkan di hari-hari lain. Nabi ﷺ menganjurkan puasa di bulan Muharam karena memiliki keutamaan yang besar. Puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyamul bidh (13, 14, 15 Hijriyah), jika bertepatan di akhir Muharram, sangat layak dihidupkan.

2. Perbanyak Dzikir dan Istighfar

Salah satu cara menutup bulan dengan kebaikan adalah memperbanyak istighfar. Muhasabah diri dan memperbanyak dzikir bisa menjadi amalan ringan namun bermakna besar. Sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar hati semakin dekat kepada-Nya. Jangan lupa untuk senantiasa melantunkan doa agar keturunan kita menjadi anak yang shalih shalihah.

3. Sedekah dan Membantu Sesama

Memanfaatkan waktu-waktu mulia dengan berbagi adalah pilihan cerdas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga makanan, tenaga, atau perhatian kepada mereka yang membutuhkan. Amalan ini menjadi sebab dilapangkannya rezeki dan diampuni dosa.

Baca juga: Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

 

4. Menjaga Shalat Berjamaah dan Qiyamul Lail

Muharam adalah kesempatan menyemarakkan kembali semangat ibadah. Perbanyak shalat sunnah, termasuk qiyamul lail (shalat malam), sebagai bentuk kedekatan kepada Allah. Apalagi di akhir bulan, amal-amal kita akan diangkat dan dicatat.

5. Niatkan Hijrah dan Perubahan Diri

Karena Muharram adalah pembuka tahun hijriah, mari menjadikan momen akhir ini untuk memperbaharui niat, memperkuat azzam, dan meninggalkan kebiasaan buruk. Hijrah bukan soal tempat, tetapi tentang memperbaiki diri.

Penutup Muharam dengan Amal Sunnah Terbaik

Banyak orang semangat di awal, tapi lupa menutup dengan baik. Padahal, penutupan yang baik adalah kunci diterimanya amal. Dalam 5 hari terakhir bulan Muharram ini, kita bisa memaksimalkan amal sunnah sebagai bentuk kesungguhan mempersembahkan yang terbaik kepada Allah ﷻ.

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari)

Salah satu bentuk amal jariyah yang tak terputus meski kita telah tiada adalah wakaf untuk pendidikan. Wakaf ini menjadi ladang pahala abadi karena setiap ilmu yang dipelajari, setiap hafalan Al-Qur’an yang dilantunkan, dan setiap santri yang tumbuh menjadi da’i akan menjadi aliran keberkahan bagi sang pewakaf.

Yuk, maksimalkan hari-hari terakhir Muharram dengan bersedekah dan berwakaf untuk pendidikan santri. Jadilah bagian dari perubahan masa depan melalui amal terbaik hari ini.

Peran Orangtua dalam Membersamai Anak di Pesantren

Peran Orangtua dalam Membersamai Anak di Pesantren

Menyekolahkan anak di pesantren bukan akhir dari peran orangtua dalam mendidik, melainkan babak baru untuk terus membersamai mereka—meski dari kejauhan. Di balik santri yang kuat hafalannya, sabar adabnya, dan tenang jiwanya, ada orangtua yang tak lelah mendoakan, mendukung, dan memenuhi kewajiban mereka dengan penuh tanggung jawab.

Sebagian orangtua mungkin merasa kehilangan saat pertama kali anak masuk pondok. Tidak bisa lagi mengawasi secara langsung, apalagi saat anak sedang sakit, rindu rumah, atau menghadapi ujian. Namun, yakinlah bahwa dukungan orangtua tidak harus selalu berupa kehadiran fisik. Justru dari kejauhan, ada banyak cara untuk terus membersamai mereka.

Suasana podcast Al Muanawiyah yang membahas peran orangtua dalam membersamai anak di pesantren, menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam pendidikan santri.
Podcast PPTQ Al Muanawiyah Jombang tentang peran orangtua dalam membersamai anak di pesantren

Peran Orangtua Bagi Anak di Pesantren

1. Doa yang Mengiringi Setiap Langkah

Doa orangtua adalah pelindung yang tak kasat mata. Rasulullah ﷺ menyebut doa orangtua sebagai salah satu doa yang mustajab. Maka, jangan pernah merasa kecil saat hanya bisa mendoakan. Setiap hafalan yang lancar, setiap ujian yang terlewati, bisa jadi buah dari doa-doa itu.

2. Menjalankan Kewajiban dengan Ikhlas dan Tepat Waktu

Salah satu bentuk dukungan yang jarang disorot adalah memenuhi kewajiban administratif seperti pembayaran syahriyah atau infak bulanan. Ini bukan sekadar tanggung jawab keuangan, tapi bukti keseriusan orangtua dalam ikut berjuang bersama anak. Pesantren yang dikelola dengan baik membutuhkan partisipasi aktif dari wali santri—baik secara spiritual maupun material.

Baca juga: Doa Sebelum Belajar Agar Mendapat Ilmu Bermanfaat

3. Menjaga Komunikasi dan Semangat Anak

Sesekali, kirimkan pesan yang menguatkan hati. Jangan hanya menanyakan nilai atau capaian hafalan, tapi tanyakan juga kabar hati dan keseharian anak. Kalimat sederhana seperti “Abi dan Umi bangga padamu” bisa menjadi penyemangat luar biasa bagi anak di pesantren.

4. Ikut Belajar dan Memahami Dunia Pesantren

Orangtua perlu membuka diri untuk memahami nilai-nilai dan ritme kehidupan pesantren. Dengan begitu, nasihat dan arahan dari rumah akan sejalan dengan yang diajarkan di pondok. Saat anak merasa ada sinergi antara rumah dan pesantren, mereka akan lebih mudah menjalaninya.

Anak yang berjuang di pondok butuh dukungan yang konsisten. Tidak harus selalu berupa materi, tapi cukup dengan kehadiran batin, doa  yang tak putus, dan tanggung jawab yang ditunaikan dengan ikhlas. Karena sejatinya, orangtua adalah tim utama dalam proses pendidikan, meskipun panggung utamanya kini ada di pesantren.

Untuk melihat lebih dalam bagaimana orangtua bisa terus membersamai perjuangan anak-anak mereka di pondok, simak video selengkapnya di kanal resmi kami YouTube Al Muanawiyah

Wakaf Pendidikan Jalan Menuju Amal Jariyah yang Kekal

Wakaf Pendidikan Jalan Menuju Amal Jariyah yang Kekal

Setiap orang tentu ingin meninggalkan warisan terbaik di dunia, bukan sekadar harta, tapi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah ia tiada. Salah satu cara paling mulia untuk mewujudkannya adalah melalui wakaf pendidikan, khususnya untuk lembaga-lembaga yang mencetak generasi Qur’ani seperti pondok tahfidz.

Wakaf pendidikan melalui pesantren tahfidz begitu penting karena ia menyentuh tiga hal utama yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai sumber pahala tak terputus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan. Melalui wakaf untuk pesantren, kita bisa mendapat ketiganya sekaligus—dalam satu amal yang ringan dilakukan, namun berat timbangan pahalanya.

Wakaf pendidikan pondok pesantren tahfidz putri jombang
Tanam pahala amal jariyah lewat wakaf pendidikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Itulah mengapa wakaf pendidikan untuk pondok tahfidz adalah ladang amal jariyah yang luar biasa. Setiap huruf yang dihafalkan santri, setiap ilmu yang diajarkan, dan setiap doa yang dilantunkan menjadi bagian dari aliran pahala bagi para pewakaf.

Mengapa Harus Wakaf untuk Pendidikan?

Wakaf untuk pendidikan menggabungkan manfaat dunia dan akhirat. Ilmu yang diajarkan akan terus diwariskan, santri yang belajar akan menjadi generasi shalih shalihah, dan setiap fasilitas pondok—dari mushaf, kitab, ruang kelas, hingga asrama—bisa menjadi perantara pahala jariyah. Pesantren tidak hanya mendidik akal, tapi juga hati. Maka, berwakaf untuk pendidikan berarti turut membangun masa depan umat Islam. Bentuk wakaf pendidikan dapat disalurkan melalui:

  • Pendirian bangunan hasil wakaf seperti ruang kelas dan asrama santri

  • Pengadaan Al-Qur’an, kitab kuning, atau perlengkapan belajar

  • Beasiswa santri yatim dan dhuafa

  • Wakaf air, listrik, dan fasilitas harian pondok

Kesempatan Menanam Amal Jariyah untuk Bekal Akhirat

Wakaf tidak harus besar jumlahnya. Bahkan dengan nominal kecil tapi konsisten, Anda telah membuka jalan amal yang tak terputus. Setiap kali santri membaca Al-Qur’an dari mushaf wakaf, atau guru mengajar di kelas hasil donasi Anda—pahala itu akan terus bertambah.

Sebagaimana kita ingin anak-anak kita mendapat pendidikan terbaik, mari bantu anak-anak pondok mendapat fasilitas terbaik pula. Wakaf pendidikan adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan Islam—dan juga tiket menuju surga.

Jangan menunggu mampu untuk berwakaf. Tapi berwakaflah agar Allah menjadikan kita orang yang mampu. Salurkan wakaf terbaik Anda untuk pendidikan Qur’ani melalui Wakaf Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang.

Hari Terakhir MATSABA, Santri Baru Unjuk Karya di Pentas Seni

Hari Terakhir MATSABA, Santri Baru Unjuk Karya di Pentas Seni

Rabu, 17 Juli 2025 – Hari ketiga sekaligus hari terakhir Masa Ta’aruf Santri Baru (MATSABA) Pondok Pesantren Tahfidz Putri Al-Muanawiyah Jombang ditutup dengan semarak acara pentas seni, menampilkan potensi dan kreativitas para santri.

Sejak pagi, para santri disibukkan dengan outbond dan latihan pentas seni. Mereka tampak antusias dan kompak menyiapkan berbagai penampilan seperti tarian tradisional, Arabic songfashion show, dan drama dalam rangkaian “Al Muanawiyah Got Talent”. Latihan ini bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari pembentukan karakter percaya diri dan semangat kebersamaan.

Outbond kegiatan luar kelas masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pedsantren tahfidz quran la muanawiyah jombang
Keseruan outbond santri baru Al Muanawiyah Jombang

Pada siang hari, santri mengikuti materi adab dan tata krama di pesantren, yang menjadi salah satu bekal penting dalam kehidupan mondok. Materi ini mengajarkan bagaimana adab kepada guru, adab berteman, dan adab terhadap lingkungan. Poin pentingnya adalah bahwa adab adalah kunci utama dalam menuntut ilmu yang bermanfaat dan berkah.

Baca juga: Santri Menjalani Tes Baca Kitab di Hari Kedua MATSABA

Malam harinya, seluruh santri berkumpul untuk menyaksikan puncak acara: Pentas Seni dan Penutupan Masa Ta’aruf Santri Baru. Tawa, haru, dan semangat berpadu saat santri menampilkan karya terbaik mereka di panggung sederhana, namun penuh makna. Para ustadzah turut memberi apresiasi dan semangat, menjadikan acara ini sebagai kenangan indah yang membekas bagi para santri baru.

Tampilan Pentas Seni Santri dalam MATSABA 2025

Tampilan Arabic Song

Menyanyi arabic song masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pesantren tahfidz quran al muanawiyah jombang
Persembahan Arabic Song santri baru Al Muanawiyah Jombang

Penampilan Arabic Song dan Fashion Show

Arabic song masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pesantren tahfidz quran al muanawiyah jombang
Asyiknya tarian Arabic Song dan fashion show santri baru Al Muanawiyah Jombang

Tarian Tradisional

Tarian tradisional masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pesantren tahfidz quran al muanawiyah jombang
Tarian tradisional yang kreatif dari santri baru Al Muanawiyah Jombang

Persembahan Puisi

Puisi masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pesantren tahfidz quran al muanawiyah jombang
Puisi persembahan yang menyentuh dari santri baru Al Muanawiyah Jombang

Drama

Drama masa orientasi ta'aruf santri baru pondok pesantren tahfidz quran al muanawiyah jombang
Santri baru Al Muanawiyah Jombang dengan percaya diri menampilkan drama

Kegiatan pentas seni bukan hanya bentuk ekspresi, tapi juga cara pondok membina santri agar mampu menyampaikan nilai-nilai kebaikan lewat media yang kreatif dan mendidik. Dengan berakhirnya rangkaian orientasi ini, para santri baru siap menjalani hari-hari pembelajaran dengan semangat tinggi dan bekal adab yang kuat. Semoga menjadi awal yang baik untuk menjadi penghafal Al-Qur’an yang shalihah dan berakhlak mulia.

6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

Dalam Islam, adab menuntut ilmu merupakan syarat utama agar ilmu menjadi berkah. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi sia-sia. Oleh karena itu, santri dan pelajar muslim perlu mempelajari tata krama saat belajar, bukan hanya materi pelajaran. Salah satu kitab rujukan utama yang membahas hal ini adalah Ta’limul Muta’allim, karya Imam Az-Zarnuji. Kitab ini sudah menjadi pedoman di berbagai pesantren dan madrasah Islam.

Imam Az-Zarnuji menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu bergantung pada enam hal penting. Inilah kiat sukses belajar dalam Islam yang patut dipegang oleh setiap penuntut ilmu.

1. Dzaka’ (Kecerdasan)

Cerdas bukan berarti harus jenius. Yang dimaksud adalah kecerdikan memahami pelajaran dan cepat menangkap penjelasan guru. Pelajar yang beretika saat belajar juga akan lebih mudah menerima ilmu.

Baca juga: Adab Menuntut Ilmu dalam Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

2. Hirsh (Semangat dan Niat Kuat)

Tanpa semangat, belajar hanya akan terasa berat. Santri yang punya tekad kuat akan tetap belajar meski dalam keadaan lelah. Ini adalah sikap mental yang mendukung adab saat belajar.

3. Ijtihad (Kesungguhan dan Usaha Serius)

Belajar butuh perjuangan. Keseriusan akan membentuk konsistensi. Santri yang sungguh-sungguh tidak menunda hafalan dan tidak lalai dalam murojaah. Etika belajar dalam Islam mengajarkan disiplin dan kerja keras. Begitu juga dengan menghafal Al-Qur’an. Kita juga hendaknya menerapkan tips menghafal Al-Qur’an yang baik agar hafalan tidak cepat hilang.

Para siswa putri sedang melaksanakan ANBK di SMPQ Al Muanawiyah Jombang, menggambarkan semangat dan adab menuntut ilmu dalam lingkungan pendidikan Islam.
Adab menuntut ilmu yang diterapkan siswa SMPQ Al Muanawiyah Jombang

4. Bulghah (Bekal yang Cukup)

Bekal yang cukup membuat santri bisa belajar dengan tenang. Makanan, alat tulis, dan tempat tinggal yang layak adalah bagian dari penunjang keberhasilan. Orang tua juga berperan dalam memberikan dukungan.

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kita Harus Menghafal Al-Qur’an

5. Irsyad Ustadz (Bimbingan Guru)

Seorang murid tidak akan berhasil tanpa guru. Dalam Islam, adab kepada guru adalah bagian dari adab menuntut ilmu. Menjaga perkataan, mendengarkan dengan saksama, dan meminta nasihat adalah kunci keberkahan ilmu. Begitu pula para pengajar di sekolah tempat anak menuntut ilmu, harus dipastikan profesional dan berkompeten.

6. Thuluz Zaman (Waktu yang Panjang)

Belajar bukan proses instan. Hafalan dan pemahaman butuh waktu. Santri perlu sabar dan tekun. Seorang pelajar yang memiliki etika belajar yang baik akan menghargai proses ini.

Kitab Ta’lim Muta’allim mengajarkan bahwa adab menuntut ilmu dalam Islam lebih utama dari sekadar ilmu itu sendiri. Dengan cerdas, semangat, sungguh-sungguh, cukup bekal, bimbingan guru, dan waktu yang konsisten, pelajar muslim bisa meraih keberhasilan. Santri yang berakhlak mulia akan mendapat ilmu yang bermanfaat, serta mengangkat derajat dirinya dan keluarganya.

Anak Shalihah Dimulai Dari Ilmu yang Bermanfaat

Anak Shalihah Dimulai Dari Ilmu yang Bermanfaat

Al-Muanawiyah – Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki ilmu yang bermanfaat Dalam Islam, itu semua terangkum dalam satu cita-cita besar: menjadikan anak sebagai anak shalih atau shalihah. Namun, cita-cita ini tidak bisa terwujud hanya dengan niat. Diperlukan langkah nyata—terutama dalam memilih tempat menuntut ilmu terbaik dan terus mengiringi anak dengan doa serta dukungan yang tulus.

 

Pentingnya Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ilmu bermanfaat bukan hanya bermanfaat bagi anak, tetapi juga bagi orang tuanya. Ketika seorang anak belajar dengan ikhlas, memahami ilmu agama, dan mengamalkannya—maka pahala itu juga akan terus mengalir kepada orang tua.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya mengejar pendidikan yang bergengsi, tetapi juga memilih pendidikan yang mendidik hati dan jiwa anak agar ilmunya menjadi berkah dan bernilai ibadah.

Para santri sedang mengaji kitab kuning di pesantren, menggambarkan pentingnya ilmu agama sebagai dasar membentuk anak shalihah
Peran orangtua agar anak shalih shalihah dan ilmu bermanfaat

 

Peran Orang Tua dalam Keberkahan Ilmu Anak

Berikut beberapa peran orangtua yang bisa dilakukan agar ilmu anak menjadi berkah, kuat, dan bermanfaat sepanjang hidupnya:

1. Memilih Sekolah atau Pesantren yang Mendidik Akhlak dan Adab
Ilmu tanpa akhlak bisa menjadi bumerang. Pilihlah tempat belajar yang tidak hanya mengajarkan hafalan, tapi juga membentuk karakter. Pondok tahfidz yang berfokus pada adab, disiplin, dan cinta Al-Qur’an adalah investasi terbaik untuk masa depan anak.

2. Mendoakan Anak Secara Rutin
Salah satu bentuk dukungan terbaik orang tua adalah doa yang tak putus. Doa orangtua memiliki kekuatan luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tiga doa yang mustajab, tanpa keraguan padanya: doa orang tua untuk anak…”
(HR. Tirmidzi)

Setiap kali anak belajar, murojaah, atau menghadapi ujian, iringilah dengan doa. Mohonkan kepada Allah agar anak diberikan ilmu yang bermanfaat, hati yang lapang, dan niat yang lurus.

3. Memberi Teladan dan Dukungan Emosional
Anak akan lebih mudah menerima ilmu jika didukung oleh suasana rumah yang tenang dan penuh kasih sayang. Jauhkan anak dari tekanan dan perbandingan yang tidak sehat. Jadilah orang tua yang hadir secara utuh, baik secara materi, emosional, maupun spiritual. Tanamkan juga adab menuntut ilmu yang baik di manapun mereka berada.

Ilmu yang Berkah Melahirkan Anak Shalih dan Shalihah

Ketika anak belajar di tempat yang benar, dengan niat yang benar, dan mendapat dukungan penuh dari orang tua, maka besar kemungkinan ia tumbuh menjadi anak shalih atau shalihah. Inilah anak yang tidak hanya berhasil secara akademik, tetapi juga membawa cahaya bagi keluarga di dunia dan akhirat.

Ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan akan menumbuhkan kesadaran untuk selalu mendekat kepada Allah, menolong sesama, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dan semua itu dimulai dari doa dan pilihan orang tua yang penuh cinta dan tanggung jawab.

Tidak ada amal yang sia-sia ketika orang tua menyekolahkan anak di tempat yang baik dan terus mendoakan agar ilmunya membawa manfaat. Di balik setiap santri yang istiqamah, ada orang tua yang tidak pernah berhenti bersujud. Di balik anak yang hafal Al-Qur’an, ada orang tua yang memilih jalan hidup yang penuh keberkahan.

Mari kita jadikan anak-anak kita sebagai penyambung amal jariyah, dengan ilmu yang bermanfaat dan hati yang bersih. Karena dari santri yang shalih dan shalihah, lahirlah generasi yang menyejukkan mata dan membanggakan di hadapan Allah.