Cara Sa’i yang Benar, Urutan, Bacaan Doa, dan Tahallul

Cara Sa’i yang Benar, Urutan, Bacaan Doa, dan Tahallul

Cara sa’i perlu dipahami setiap calon jamaah haji dan umrah sebelum berangkat ke Tanah Suci. Sa’i merupakan ibadah berjalan dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh perjalanan. Ibadah ini mengenang perjuangan Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.

Allah SWT menjelaskan kedudukan Shafa dan Marwah sebagai syiar-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 158:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah.”

Ayat tersebut menegaskan kedudukan kedua bukit dalam ibadah haji dan umrah. Menurut mazhab Syafi’i, sa’i termasuk rukun haji dan umrah. Karena itu, jamaah perlu memahami tata caranya agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan.

1. Selesaikan Tawaf Sebelum Memulai Sa’i

Jamaah memulai sa’i setelah menyelesaikan tawaf yang menjadi bagian dari rangkaian ibadahnya. Dalam ibadah umrah, jamaah menyelesaikan tawaf terlebih dahulu sebelum menuju Shafa. Begitu pula dalam ibadah haji, jamaah mengikuti urutan manasik sesuai jenis haji dan ketentuan fikih.

Jika merasa lelah setelah tawaf, jamaah dapat beristirahat sejenak. Jamaah juga perlu memperhatikan kondisi fisik sebelum berjalan bolak-balik antara Shafa dan Marwah. Bagi jamaah lansia atau yang memiliki keterbatasan gerak, kursi roda dan skuter dapat membantu perjalanan sesuai ketentuan layanan Masjidil Haram.

2. Mulai Sa’i dari Bukit Shafa

Cara sa’i dimulai dari Bukit Shafa. Jamaah menuju Shafa, kemudian membaca zikir dan doa sambil menghadap ke arah Ka’bah jika memungkinkan. Jamaah juga dapat mengangkat tangan ketika memohon kebaikan kepada Allah.

Saat berada di Shafa, jamaah dapat membaca ayat berikut:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Ayat tersebut mengingatkan jamaah bahwa Shafa dan Marwah termasuk syiar Allah. Setelah itu, jamaah memperbanyak takbir, tahlil, dan doa. Jamaah tidak harus menghafal satu doa khusus karena mereka juga boleh memohon dengan bahasa yang dipahami. Namun, boleh juga melafalkan doa sa’i yang biasanya khusus dilafalkan.

gambar bukit shafa dalam artikel cara sa'i
Bukit Shafa adalah tempat melakukan sa’i (foto: shutterstock/HAFIZULLAHYATIM)

3. Berjalan dari Shafa Menuju Marwah

Setelah berdoa di Shafa, jamaah mulai berjalan menuju Marwah. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung sebagai perjalanan pertama. Ketika tiba di Marwah, jamaah melanjutkan perjalanan kembali ke Shafa sebagai perjalanan kedua.

Jamaah mengulangi perjalanan tersebut hingga mencapai tujuh kali. Dengan hitungan ini, perjalanan ketujuh berakhir di Bukit Marwah. Agar tidak keliru, jamaah sebaiknya menghitung setiap perjalanan sejak awal.

4. Berlari Kecil di Area Lampu Hijau

Jamaah laki-laki disunnahkan berlari kecil ketika melewati area yang ditandai lampu hijau. Sementara itu, jamaah perempuan cukup berjalan seperti biasa. Ketentuan ini menjadi bagian dari tata cara sa’i yang perlu jamaah pahami sebelum berangkat.

Namun, jamaah tidak perlu memaksakan diri berlari jika kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Jamaah lansia, orang sakit, dan mereka yang memiliki keterbatasan gerak dapat menyesuaikan cara berjalan. Utamakan keselamatan diri dan hindari tindakan yang mengganggu jamaah lain.

Baca juga: Cara Melakukan Tawaf Ifadah sebagai Rukun Haji

5. Perbanyak Zikir dan Doa Selama Sa’i

Jamaah dapat memperbanyak zikir dan doa sepanjang perjalanan antara Shafa dan Marwah. Mereka juga boleh membaca Al-Qur’an atau memohon ampunan kepada Allah. Amalan tersebut membantu jamaah menjaga kekhusyukan selama menjalankan ibadah.

Jamaah tidak harus menghafal doa panjang untuk setiap perjalanan. Sebaliknya, mereka dapat memanjatkan doa dengan kalimat yang dipahami dan memohon kebaikan dunia maupun akhirat. Yang terpenting, jamaah menjaga adab serta tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah.

6. Akhiri Sa’i di Bukit Marwah

Jamaah menyelesaikan sa’i setelah menuntaskan tujuh perjalanan dan tiba di Bukit Marwah. Di tempat ini, jamaah dapat kembali membaca zikir dan memanjatkan doa. Setelah itu, mereka melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya sesuai jenis manasik yang dijalankan.

Jamaah tidak perlu menambahkan salat sunnah khusus setelah sa’i. Berbeda dengan tawaf yang memiliki anjuran salat dua rakaat setelahnya, sa’i tidak memiliki salat sunnah khusus sebagai rangkaian tetap. Karena itu, jamaah dapat melanjutkan tahapan ibadah berikutnya.

7. Lakukan Tahallul Setelah Sa’i Umrah

Dalam ibadah umrah, jamaah melaksanakan tahallul setelah menyelesaikan sa’i. Tahallul menandai berakhirnya rangkaian umrah dan mengakhiri larangan ihram sesuai ketentuannya. Jamaah laki-laki dapat mencukur seluruh rambut kepala atau memendekkannya, meskipun mencukur seluruh rambut lebih utama.

Sementara itu, jamaah perempuan memotong sebagian ujung rambut. Setelah menyelesaikan tahallul sesuai ketentuan, jamaah kembali boleh melakukan hal-hal yang sebelumnya terlarang selama ihram. Dalam ibadah haji, jamaah mengikuti tahapan tahallul sesuai rangkaian manasik yang mereka jalankan.

Baca juga: Sunnah dalam Melempar Jumrah yang Perlu Diketahui Jamaah Haji

Hal yang Perlu Diingat Saat Sa’i

Ada beberapa hal penting yang perlu jamaah ingat selama menjalankan sa’i. Pertama, mulai perjalanan dari Shafa dan akhiri perjalanan ketujuh di Marwah. Kedua, hitung setiap perjalanan dengan cermat agar jumlahnya tidak keliru.

Selain itu, jamaah sebaiknya menjaga wudu meskipun para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang status wudu sebagai syarat sa’i. Jamaah juga perlu menjaga ketertiban, menghindari dorongan, dan mengikuti arahan petugas ketika area sedang padat. Persiapan yang baik membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih tenang.

Memahami Cara Sa’i agar Ibadah Lebih Khusyuk

Memahami cara sa’i membantu jamaah mengingat urutan perjalanan sekaligus memahami hikmah di baliknya. Kisah Siti Hajar mengajarkan keteguhan, ikhtiar, dan tawakal ketika menghadapi kesulitan. Melalui sa’i, jamaah dapat merenungkan pentingnya terus berusaha sembari menggantungkan harapan kepada Allah.

Karena itu, calon jamaah haji dan umrah sebaiknya mempelajari manasik sebelum berangkat. Bekal ilmu membantu jamaah menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan tertib dan penuh penghayatan. Semoga Allah menerima ibadah haji dan umrah setiap Muslim serta memberikan kemudahan dalam menjalankan seluruh tuntunannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *