Fadhilah haji dan umroh menunjukkan betapa istimewanya dua ibadah tersebut dalam Islam. Keduanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah sekaligus kesempatan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Selain itu, haji dan umroh mengajarkan kesabaran, pengorbanan, serta kepedulian terhadap sesama.
Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh muslim yang mampu. Sementara itu, umroh menjadi ibadah yang memiliki keutamaan besar dan dapat dilaksanakan di luar waktu haji. Keduanya mengharuskan jamaah mempersiapkan fisik, mental, finansial, serta pemahaman tentang tata cara ibadah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sejumlah keutamaan haji dan umroh melalui hadis. Berikut beberapa fadhilah haji dan umroh yang dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan ketakwaan.
1. Haji Termasuk Amalan yang Paling Afdal
Salah satu fadhilah haji adalah kedudukannya sebagai amalan yang sangat utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut haji mabrur setelah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya ketika menjelaskan amalan terbaik.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Amalan apa yang paling afdal?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Ada yang bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’ Ada yang bertanya kembali, ‘Kemudian apa lagi?’ ‘Haji mabrur,’ jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)
Hadis tersebut menunjukkan tingginya kedudukan haji mabrur. Namun, jamaah tidak cukup hanya menyelesaikan rangkaian manasik. Mereka juga perlu menjaga niat, mengikuti tuntunan Rasulullah, dan menjauhi larangan Allah.
Dengan demikian, haji menjadi kesempatan untuk membuktikan keimanan melalui ketaatan dan pengorbanan. Seorang muslim rela meninggalkan kenyamanan rumah demi memenuhi panggilan Allah.
2. Haji Mabrur Mendapat Balasan Surga
Fadhilah haji berikutnya adalah balasan surga bagi orang yang memperoleh haji mabrur. Haji mabrur merupakan ibadah yang Allah terima karena pelakunya menjalankan tuntunan syariat dan menjaga diri dari berbagai dosa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadis tersebut dalam Syarh Shahih Muslim (9/119). Menurut beliau, haji mabrur tidak sekadar menghapus sebagian kesalahan pelakunya. Bahkan, pelakunya berhak mendapatkan balasan surga.
Keutamaan ini menunjukkan besarnya kemuliaan haji mabrur. Oleh karena itu, calon jamaah perlu memperhatikan kualitas ibadah, bukan hanya penyelesaian rangkaian manasik.
Mereka perlu meluruskan niat karena Allah, mengikuti tuntunan Rasulullah, dan menjaga hubungan dengan sesama manusia. Dengan begitu, ibadah haji tidak sekadar menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan memperbaiki diri.

3. Haji Termasuk Jihad di Jalan Allah
Jihad memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa haji mabrur menjadi bentuk jihad yang utama bagi kaum muslimah.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ummul Mukminin, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdal. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1520)
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan haji bagi perempuan. Mereka dapat meraih pahala yang besar melalui pelaksanaan haji sesuai tuntunan agama.
Ibadah haji memang membutuhkan perjuangan. Jamaah mengerahkan tenaga, waktu, pikiran, dan harta untuk menyelesaikan rangkaian manasik. Mereka juga perlu bersabar menghadapi kepadatan, cuaca, serta berbagai keterbatasan selama perjalanan.
Karena itu, haji mengajarkan kesungguhan dalam beribadah. Jamaah belajar mengendalikan diri, mendahulukan kepentingan bersama, dan tetap taat dalam berbagai keadaan.
Baca juga: Kumpulan Doa Selama Haji, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
4. Haji Menghapus Kesalahan dan Dosa
Setiap manusia tentu pernah melakukan kesalahan. Islam membuka kesempatan bagi hamba-Nya untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Salah satu fadhilah haji adalah kesempatan memperoleh ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa dirinya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).
Hadis tersebut menjelaskan pentingnya menjaga perilaku selama berhaji. Jamaah perlu menjauhi perkataan kotor, pertengkaran, dan perbuatan maksiat. Mereka juga harus menjaga kesabaran ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.
Keutamaan ini menjadi pengingat bahwa haji harus berjalan bersama kesungguhan bertaubat. Seseorang perlu menyesali dosa, meninggalkan kebiasaan buruk, dan bertekad menjalani kehidupan yang lebih baik.
5. Haji dan Umroh Menghilangkan Kefakiran serta Dosa
Salah satu fadhilah haji dan umroh yang disebutkan secara langsung dalam hadis adalah menghilangkan kefakiran dan dosa. Keduanya merupakan ibadah yang membutuhkan pengorbanan harta sekaligus menunjukkan ketundukan kepada Allah.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An-Nasa’i no. 2631, Tirmidzi no. 810, dan Ahmad 1/387. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini hasan sahih).
Perumpamaan dalam hadis tersebut menggambarkan bagaimana haji dan umroh dapat menjadi sebab penghapusan dosa. Sebagaimana api membersihkan kotoran pada logam, kedua ibadah tersebut membawa keutamaan besar dengan izin Allah.
Adapun keutamaan menghilangkan kefakiran tidak berarti seseorang pasti langsung memperoleh kekayaan setelah berhaji atau umroh. Hadis ini menjelaskan keutamaan kedua ibadah tersebut sebagai sebab datangnya keberkahan.
Oleh sebab itu, seorang muslim perlu menjaga niat ketika mengeluarkan harta untuk berhaji dan umroh. Pengorbanan tersebut bukan sekadar biaya perjalanan, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah.
6. Umroh Menjadi Kesempatan Menghapus Dosa di Antara Dua Pelaksanaannya
Umroh memiliki keutamaan tersendiri sebagai ibadah yang dapat menghapus dosa di antara dua pelaksanaannya. Keutamaan ini memberikan motivasi bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Dalam hadis tentang haji dan umroh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa. Hadis tersebut juga menggambarkan keutamaan haji mabrur yang balasannya adalah surga.
Karena itu, seorang muslim dapat menjadikan umroh sebagai kesempatan untuk memperbarui semangat beribadah. Ia dapat memperbanyak doa, istigfar, membaca Al-Qur’an, dan melakukan berbagai amal kebaikan selama berada di Tanah Suci.
Namun, jamaah tetap perlu memahami bahwa penghapusan dosa merupakan keutamaan yang Allah berikan. Mereka harus menjaga keikhlasan dan tidak menjadikan umroh sebagai alasan untuk meremehkan kewajiban atau melakukan maksiat.
Baca juga: Olahraga Persiapan Sebelum Haji: Jenis Latihan dan Durasi yang Dianjurkan
7. Haji dan Umroh Melatih Kesabaran serta Persaudaraan
Selain keutamaan yang berkaitan dengan pahala dan pengampunan dosa, haji dan umroh juga memberikan pelajaran penting dalam kehidupan. Kedua ibadah tersebut mempertemukan umat Islam dari berbagai negara, bahasa, budaya, dan latar belakang sosial.
Jamaah perlu saling menghormati dan membantu selama menjalankan ibadah. Mereka harus bersabar menghadapi antrean, menjaga ketertiban, serta tidak memaksakan kepentingan pribadi. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga akhlak selama berada di Tanah Suci.
Pakaian ihram juga mengajarkan kesederhanaan dan persamaan derajat. Jamaah laki-laki mengenakan dua helai kain ihram, sedangkan jamaah perempuan memakai pakaian yang menutup aurat sesuai ketentuan syariat. Penampilan tersebut mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak bergantung pada kekayaan atau jabatan.
Pelajaran dari haji dan umroh seharusnya tetap hadir setelah jamaah kembali ke tanah air. Mereka dapat menjaga nilai kesabaran, kepedulian, dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Fadhilah Haji dan Umroh dalam Kehidupan Sehari-hari
Berbagai fadhilah haji dan umroh menunjukkan besarnya keutamaan dua ibadah tersebut. Haji mabrur mendapat balasan surga, sedangkan haji dan umroh menjadi sebab penghapusan dosa serta datangnya keberkahan. Selain itu, keduanya mengajarkan kesabaran, pengorbanan, dan persaudaraan.
Namun, seorang muslim tidak boleh berhenti memperbaiki diri setelah menyelesaikan ibadah. Ia perlu menjaga salat, memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, dan menjauhi perbuatan maksiat. Hubungan baik dengan keluarga serta masyarakat juga perlu terus dijaga. Dengan demikian, nilai haji dan umroh tidak hanya terasa selama berada di Tanah Suci. Keduanya seharusnya membawa peruba




