Membaca Al-Qur’an sambil tiduran sering menjadi pertanyaan bagi umat Islam. Sebagian orang mungkin menganggap bahwa membaca kitab suci harus selalu dalam posisi duduk dan menghadap kiblat. Padahal, Islam memberikan kelonggaran dalam berdzikir, termasuk membaca Al-Qur’an dalam berbagai posisi.
Bahkan, Rasulullah ﷺ pernah membaca Al-Qur’an ketika berbaring. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim tetap dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an meskipun sedang beristirahat. Namun, ada beberapa adab yang perlu diperhatikan agar aktivitas tersebut tetap mencerminkan penghormatan terhadap Kalamullah.
Hukum Membaca Al-Qur’an Sambil Tiduran
Pada dasarnya, membaca Al-Qur’an sambil tiduran hukumnya boleh. Seorang muslim dapat membaca Al-Qur’an dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring. Hal ini sejalan dengan keterangan Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman memuji orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai keadaan:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim dapat berdzikir dalam berbagai posisi. Oleh karena itu, posisi tubuh tidak menjadi penghalang untuk mengingat Allah. Membaca Al-Qur’an juga termasuk bentuk dzikir kepada-Nya.
Selain itu, Allah memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berdzikir dalam berbagai keadaan:
فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ
“Apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisa’: 103).
Kedua ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa dzikir tidak terbatas pada posisi tertentu. Bahkan, Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa dzikir mencakup bacaan Al-Qur’an serta tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir.
Beliau menjelaskan:
فالأمر في هذا واضح، وذكر الله يشمل القرآن ويشمل أنواع الذكر من التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير، فالله -جل وعلا- وسَّع الأمر
Artinya: “Perintahnya dalam ayat ini sangat jelas. Dzikrullah mencakup Al-Qur’an dan mencakup semua bentuk dzikir, baik tasbih, tahlil, tahmid, maupun takbir. Allah Ta’ala memberi kelonggaran dalam masalah dzikir.” (Fatawa Ibnu Baz).
Dengan demikian, seorang muslim boleh membaca Al-Qur’an sambil tiduran selama tetap menjaga adabnya. Kelonggaran ini juga membantu seseorang mempertahankan kebiasaan membaca Al-Qur’an ketika sedang beristirahat atau kurang leluasa untuk duduk.
Rasulullah ﷺ Pernah Membaca Al-Qur’an Sambil Berbaring
Kebolehan membaca Al-Qur’an sambil berbaring juga memiliki contoh langsung dari Rasulullah ﷺ. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan kebiasaan beliau ketika berada di rumah.
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَتَّكِئُ فِى حَجْرِى وَأَنَا حَائِضٌ ، ثُمَّ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
Artinya: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersandar di pangkuanku ketika aku sedang haid, lalu beliau membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari 297 dan Muslim 719).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an dalam posisi bersandar atau berbaring. Beliau juga tetap berinteraksi dengan Al-Qur’an ketika berada dekat dengan istrinya yang sedang haid.
Dengan demikian, membaca Al-Qur’an tidak harus menunggu seseorang berada dalam posisi duduk. Seorang muslim dapat melakukannya ketika beristirahat, selama mampu menjaga bacaan dan sikap hormat terhadap Al-Qur’an.
5 Adab Membaca Al-Qur’an Sambil Tiduran
Meskipun boleh, membaca Al-Qur’an sambil tiduran tetap membutuhkan perhatian terhadap adab. Tujuannya agar seseorang tidak kehilangan kekhusyukan dan tetap menghormati kalam Allah. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
1. Menjaga Kebersihan dan Kesucian
Sebelum membaca Al-Qur’an, sebaiknya seseorang memperhatikan kebersihan tubuh dan tempatnya. Berwudhu juga merupakan amalan yang dianjurkan sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an. Namun, membaca Al-Qur’an dari hafalan tidak mensyaratkan wudhu menurut pendapat yang membolehkan hal tersebut.
Jika membaca melalui mushaf fisik, perhatikan ketentuan bersuci sebelum menyentuhnya. Dengan begitu, seseorang dapat menjaga adab sekaligus mengikuti tuntunan fikih.
Baca juga: Hukum Wanita Haid Menghafal Al-Qur’an
2. Memperhatikan Posisi dan Tempat Berbaring
Pilih posisi berbaring yang nyaman dan tetap memungkinkan untuk membaca dengan baik. Hindari posisi yang membuat tubuh terlalu malas hingga sulit berkonsentrasi. Selain itu, pastikan tempat berbaring bersih dan tidak berada di area yang kurang pantas untuk membaca Al-Qur’an.
3. Membaca dengan Tartil
Posisi berbaring bukan alasan untuk membaca secara tergesa-gesa. Allah memerintahkan umat Islam membaca Al-Qur’an dengan tartil sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4. Karena itu, perhatikan makhraj huruf, tajwid, serta panjang pendek bacaan.
Membaca dengan tartil membantu seseorang menjaga ketepatan pelafalan. Selain itu, bacaan yang tenang memberi kesempatan untuk memahami makna ayat. Dengan demikian, kualitas tilawah tetap terjaga meskipun dilakukan sambil beristirahat.
4. Menjaga Konsentrasi dan Tidak Meremehkan Bacaan
Membaca Al-Qur’an sambil tiduran tetap membutuhkan perhatian. Jika posisi tersebut membuat seseorang mengantuk atau sulit berkonsentrasi, sebaiknya ia mengubah posisi. Jangan sampai bacaan hanya keluar dari lisan tanpa memperhatikan ayat yang dibaca.
Selain itu, hindari membaca Al-Qur’an sambil melakukan aktivitas yang mengganggu fokus. Luangkan waktu khusus agar tilawah menjadi kegiatan yang bermakna. Dengan cara ini, seseorang dapat menjaga hubungan dengan Al-Qur’an secara lebih baik.
5. Menghentikan Bacaan Ketika Sudah Mengantuk Berat
Jika rasa kantuk semakin kuat, sebaiknya seseorang menghentikan bacaan terlebih dahulu. Istirahatlah secukupnya, kemudian lanjutkan tilawah ketika tubuh kembali segar. Langkah ini membantu menjaga ketepatan bacaan dan menghindari kesalahan akibat hilangnya konsentrasi.
Membiasakan Membaca Al-Qur’an dalam Berbagai Keadaan
Membaca Al-Qur’an sambil tiduran menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan bagi umatnya untuk terus mengingat Allah. Seseorang tidak harus selalu berada dalam posisi duduk untuk membaca Kalamullah. Namun, kemudahan tersebut tetap perlu disertai adab, ketelitian, dan penghormatan terhadap Al-Qur’an.
Kebiasaan membaca Al-Qur’an sebaiknya tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat mengisi waktu luang dengan tilawah, membaca hafalan sebelum tidur, atau mengulang ayat ketika beristirahat. Dengan konsistensi, interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya berlangsung ketika mengikuti kegiatan belajar formal.
PPTQ Al-Muanawiyah Jombang menghadirkan lingkungan pendidikan tahfidz khusus putri melalui jenjang SMP Qur’an, MA Qur’an, dan Tahfidz Murni. Santri belajar membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui kegiatan menghafal dan menjaga hafalan. Mari tumbuhkan generasi muslimah yang mencintai Kalamullah sejak dini. Daftar PPTQ Al-Muanawiyah dan mulai perjalanan menghafal Al-Qur’an dalam lingkungan yang mendukung.



