Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Kegiatan asesmen lapangan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) berlangsung pada 4–5 Desember 2025 di gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya. Proses asesmen berjalan dengan tanya jawab antara asesor dan para alumni yang berkecimpung di bidang pendidikan, edupreneur, dan penelitian. Dalam kesempatan itu, hadir Pendiri PPTQ Al Muanawiyah, Ustadz A. Muammar Sholahuddin, sebagai alumni yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam dunia edupreneur.

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung PBI UINSA

Asesmen kali ini dipimpin oleh dua asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan. Keduanya ialah Prof. Dr. Anam Sutopo dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Prof. Iskandar dari Universitas Negeri Makassar. Mereka menggali berbagai pengalaman alumni, khususnya yang bergerak di sektor pendidikan. Penilaian meliputi tujuh aspek penting. Di antaranya ialah kemampuan bahasa Inggris, penggunaan teknologi, komunikasi, kerja sama, pengembangan diri, keahlian sesuai bidang, dan etika profesional.

Ustadz Muammar menjelaskan bahwa beliau siap mendukung pengembangan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bahkan, beliau menawarkan lembaganya sebagai tempat magang bagi mahasiswa. Tawaran ini menegaskan bahwa alumni yang aktif di masyarakat dapat membantu penguatan mutu akademik kampus. Selain itu, mahasiswa juga berpeluang melihat praktik pendidikan berbasis Al-Qur’an yang terkelola secara profesional.

beberapa orang foto bersama di depan tulisan UIN Sunan Ampel Surabaya termasuk pendiri PPTQ Al Muanawiyah
Potret pendiri PPTQ Al Muanawiyah (nomer 7 dari kanan) pasca kegiatan asesmen akreditasi Prodi PBI UINSA

Akreditasi memiliki fungsi penting bagi masyarakat luas. Akreditasi membantu calon mahasiswa menentukan pilihan pendidikan. Proses ini juga menjaga kualitas pembelajaran agar tetap sesuai standar nasional. Hasilnya amat terasa bagi lulusan karena akreditasi mempermudah proses kerja maupun studi lanjutan. Karena itu, keterlibatan alumni seperti Ustadz Muammar dalam akreditas PBI UIN Sunan Ampel Surabaya memberi nilai tambah bagi asesmen kali ini.

Al Muanawiyah dengan Program Unggulan Tahfidz

PPTQ Al Muanawiyah memiliki misi pendidikan yang terarah. Misinya mencakup empat nilai utama. Nilai itu meliputi Qur’an in mouth, Qur’an in hand, Qur’an in heart and soul, serta Qur’an in doings. Nilai tersebut membantu santri membiasakan interaksi harian dengan Al-Qur’an. Program tahfidz juga memadukan pendekatan psikologi dan pendidikan. Program unggulan tahfidz mendorong santri menyelesaikan hafalan dengan mutqin. Selain tahfidz, santri juga belajar akhlak dan fiqh melalui kitab kuning.

Santri terbiasa dengan pembiasaan ibadah yang teratur. Kebiasaan ini membentuk karakter yang siap terjun ke masyarakat. Dengan pola pendidikan tersebut, Pendiri PPTQ Al Muanawiyah hadir sebagai sosok alumni yang berkontribusi pada penguatan akreditasi kampus. Kehadiran beliau menunjukkan hubungan erat antara pesantren dan perguruan tinggi dalam membangun kualitas pendidikan Islam masa kini.

Ingin anak tumbuh dengan karakter kuat dan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an? PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan bagi calon santri yang ingin menempuh pendidikan tahfidz yang terarah, berakhlak, dan berbasis ilmu.

Daftarkan putra-putri Anda sekarang dan rasakan lingkungan pendidikan yang memadukan metode Qur’ani, psikologi belajar, serta pembinaan karakter harian. Klik untuk website resmi Al Muanawiyah dan jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya masa depan mereka.

Hangatnya Perayaan Hari Guru Nasional 2025 di Al Muanawiyah

Hangatnya Perayaan Hari Guru Nasional 2025 di Al Muanawiyah

Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah pada Selasa, 25 November 2025 lalu berlangsung dengan penuh khidmat dan kehangatan. Seluruh rangkaian acara dirancang untuk menegaskan kembali peran strategis para guru dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan akhlak para santri. Nuansa penghormatan terlihat sejak pagi, saat seluruh civitas pesantren berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara resmi.

Upacara tersebut memiliki keunikan tersendiri, karena sebagian besar petugasnya adalah para guru. Hal ini menjadi simbol dedikasi dan kekompakan para pendidik dalam menuntun para santri menuju masa depan yang lebih baik. Setelah pengibaran bendera dan penyampaian amanat, acara dilanjutkan dengan persembahan dari para murid sebagai bentuk penghargaan dan rasa terima kasih kepada guru-guru tercinta.

gambar upacara prngibaran bendera hari guru nasional 2025
Upacara Hari Guru Nasional 2025 PPTQ Al Muanawiyah

Persembahan Santri untuk Guru: Puisi, Musik, dan Tari

Rangkaian persembahan dimulai dengan pembacaan puisi oleh Ananda Zahro, yang tampil penuh penghayatan. Puisi tersebut diiringi lantunan piano yang dimainkan oleh Ananda Syafaah dan Ananda Imah, menciptakan suasana teduh yang menyentuh hati para hadirin. Pesan-pesan tentang perjuangan guru, keteguhan hati, serta keikhlasan mereka dalam mengajar terasa kuat dalam setiap bait.

Persembahan berikutnya menampilkan lagu “Bertaut”, dibawakan oleh Ananda Nana sebagai vokalis dan diiringi petikan gitar lembut dari Ananda Lintang. Kolaborasi ini menghadirkan momen haru yang memadukan apresiasi dan kedekatan emosional antara santri dan guru. Banyak hadirin yang terlihat tersenyum bangga, sekaligus terharu dengan bakat dan ketulusan para santri.

Baca juga: Santri Melek Teknologi Bukti Adaptasi Pesantren di Era Modern

Sebagai penutup, para murid menampilkan sebuah tari persembahan. Gerakan yang anggun dan teratur mencerminkan rasa hormat sekaligus kegembiraan dalam merayakan Hari Guru Nasional 2025. Tarian ini menjadi simbol bahwa ilmu, adab, dan seni adalah bagian dari satu kesatuan pendidikan di Al Muanawiyah.

beberapa santri putri menari tradisional dalam perayaan hari guru nasional 2025
Persembahan tari dari santri PPTQ Al Muanawiyah

Makna dan Pesan Semangat di Hari Guru Nasional 2025

Perayaan tahun ini bukan sekadar rangkaian acara, tetapi juga momen refleksi bagi seluruh warga pesantren. Para guru menerima penghargaan ini dengan rendah hati, sembari mengingat kembali bahwa tugas mendidik adalah amanah yang tidak pernah berhenti.

Baca juga: Puncak HSN 2025 Al Muanawiyah, Persembahan Semangat Santri

Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Al Muanawiyah menggambarkan sinergi antara guru dan santri dalam lingkungan pendidikan yang penuh nilai. Melalui seni, musik, dan rasa hormat, para santri belajar untuk menghargai perjuangan guru. Sementara itu, para guru pun mendapatkan energi baru untuk terus berkarya, mendidik, dan membimbing.

Acara ini menjadi bukti bahwa penghormatan bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang kesadaran kolektif untuk terus menjaga hubungan yang saling menguatkan antara pendidik dan peserta didik.

15 Siswa SMPQ Al Muanawiyah Ikuti Munaqosah Jombang 2025

15 Siswa SMPQ Al Muanawiyah Ikuti Munaqosah Jombang 2025

Pada 14 November 2025 lalu, siswi SMP Qur’an Al Muanawiyah telah mengikuti kegiatan munaqosah tingkat SMP se- Kabupaten Jombang. Sebanyak 15 orang siswa kelas mengikuti dengan capaian hafalan masing-masing. Dari jumlah tersebut, 12 siswa mengujikan 5 juz, sedangkan 3 siswa mengujikan 1 juz (juz 30) dan beberapa surat pilihan.

Munaqosah Jombang 2025 Menjadi Program Khas

Munaqosah merupakan ujian hafalan Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan rutin tahunan ini diinisiasi oleh Ibu Mundjidah Wahab, mantan bupati Jombang tahun 2018-2023, kemudian dilanjutkan pada pemerintahan Hj. Warsubi. Sebagai wilayah dengan gelar kota santri, terobosan ini menjadi ciri khas yang menjadi momen meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an bagi seluruh siswa di Jombang.

Lebih dari 800 siswa tercatat mengikuti munaqosah tahun ini. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya komitmen sekolah-sekolah di Jombang dalam membina hafalan Al-Qur’an bagi para pelajar SMP. Setiap peserta ditempatkan dalam majelis yang berisi sekitar 25 siswa dari berbagai sekolah, sehingga proses penilaian berlangsung adil dan merata. Para penguji berhak memberikan nilai berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Hasil akhir dari kegiatan ini berupa sertifikat, yang dapat menjadi nilai tambah bukti prestasi, terutama bagi siswa yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

Baca juga: Santri Al Muanawiyah Bersinar di Lomba Keagamaan Islam 2025

Performa SMPQ Al Muanawiyah dalam Persiapan dan Munaqosah

Persiapan menuju munaqosah telah dilakukan selama kurang lebih satu bulan penuh. Seluruh siswa melakukan muraja’ah intensif, simulasi penyetoran, hingga pembinaan mental sebelum hari pelaksanaan. Mereka juga dibimbing untuk menjaga konsistensi hafalan agar tampil optimal meskipun sedang diuji bersama banyak peserta lain.

Ustadzah Norma Yunita, S.Pd., selaku Waka Kesiswaan SMP Qur’an Al-Muanawiyah, menjelaskan bahwa proses persiapan tidak hanya fokus pada ketepatan hafalan saja, tetapi juga pada ketenangan dan keyakinan diri.

“Anak-anak kami latih agar siap. Mereka berlatih setiap hari, dan kami melihat tumbuhnya kepercayaan diri yang baik menjelang hari munaqosah. Alhamdulillah hasilnya memuaskan” tuturnya..

Hasil munaqosah tahun ini menunjukkan performa yang memuaskan. Seluruh siswa SMP Qur’an Al-Muanawiyah lulus, dengan rincian nilai maqbul sebanyak 1 orang, jayyid sebanyak 5 orang, nilai jayyid jiddan sebanyak 5 orang, dan nilai mumtaz sebanyak 4 orang. Capaian ini mencerminkan kerja keras siswa dan pendampingan intensif para ustadz dan ustadzah. Pihak sekolah pun bersyukur karena seluruh siswa dapat mengikuti ujian dengan lancar tanpa kendala berarti.

Gambar tabel nilai munaqosah tahfidz SMP Jombang
Capaian siswi SMP Qur’an Al Muanawiyah dalam Munaqosah Jombang 2025

Keikutsertaan dalam munaqosah tidak hanya menambah pengalaman berharga bagi siswa, tetapi juga menguatkan tradisi tahfiz sebagai identitas Al Muanawiyah. Semangat para siswa SMP Qur’an Al-Muanawiyah menjadi inspirasi bagi adik kelas dan orang tua yang ingin melihat pendidikan Qurani yangd apat menjadi contoh. Jika Anda ingin mengetahui mengetahui lebih lanjut program kami, silahkan mengunjunngi website resmi PPTQ Al Muanawiyah dan SMP Qur’an Al Muanawiyah.

Pesantren Tahfidz dan Keunggulannya bagi Penghafal Al-Qur’an

Pesantren Tahfidz dan Keunggulannya bagi Penghafal Al-Qur’an

Menghafal Al-Qur’an adalah amal mulia yang dijanjikan banyak keutamaan, salah satunya syafaat pada hari kiamat dan peninggian derajat bagi penghafalnya. Di Indonesia, pesantren tahfidz menjadi lembaga yang semakin diminati orang tua karena menawarkan lingkungan yang mendukung keberhasilan dalam menghafal sekaligus pembentukan karakter. Dalam suasana yang terarah, santri dapat fokus menjaga hafalan, memperbaiki bacaan, dan mempelajari adab membaca Al-Qur’an.

Dengan sistem yang sudah teruji, pesantren tahfidz tidak hanya menekankan capaian hafalan, tetapi juga kedisiplinan, ketekunan, dan pembelajaran agama yang lebih luas. Hal ini membuat proses menghafal menjadi lebih stabil, terjaga kualitasnya, dan tidak terlepas dari bimbingan ulama.

Lingkungan Terarah yang Mendukung Hafalan

Salah satu keunggulan utama belajar di pesantren tahfidz adalah lingkungan yang kondusif dan disiplin. Santri mengikuti jadwal yang teratur mulai dari tahsin, setoran hafalan, muraja’ah harian, hingga pembinaan ibadah. Rutinitas ini sangat membantu mereka yang ingin konsisten, karena faktor lingkungan sering kali menentukan kekuatan hafalan.

Baca juga: Tips Murojaah Hafalan Al-Qur’an Ala Pesantren Tahfidz

Selain itu, keberadaan teman sebaya dengan tujuan yang sama membuat santri lebih termotivasi. Mereka saling mengingatkan, saling menyimak hafalan, bahkan sering menjadikan aktivitas muraja’ah sebagai budaya harian. Keteraturan seperti ini sulit dibangun jika belajar secara mandiri di rumah.

gambar santri putri setoran hafalan Al Qur'an di pesantren tahfidz
Lingkungan kondusif membuat santri lebih fokus menghafal Al Quran di Pesantren Tahfidz Jombang Al Muanawiyah

Bimbingan Guru Bersanad dan Kurikulum Terstruktur

Keunggulan lain dari pesantren tahfidz adalah bimbingan langsung dari para ustadz yang memiliki sanad bacaan. Dengan demikian, santri tidak hanya menghafal, tetapi juga memperbaiki makhraj, panjang pendek, serta kaidah tajwid secara benar. Kurikulum tahfidz biasanya mencakup:

  • Tahsin dan penguatan makhraj

  • Setoran harian sesuai target

  • Muraja’ah terjadwal

  • Penilaian berkala

  • Penguatan adab dan akhlak penghafal Qur’an

Lembaga ini memadukan antara kualitas hafalan, kekuatan karakter, dan ketepatan bacaan. Inilah yang membuat para alumni pesantren tahfidz banyak diterima sebagai guru Al-Qur’an, qari, maupun penggerak rumah tahfidz di berbagai daerah.

Lingkungan Terbaik untuk Para Calon Hafidzah dan Hafidz

Di tengah semangat para penghafal Al-Qur’an dalam menjaga kemurnian ayat-ayat-Nya, kehadiran lembaga khusus menghafal Al Qur’an menjadi rumah terbaik untuk membentuk karakter Qur’ani secara menyeluruh. Lingkungan yang disiplin, suasana yang tenang, dan pendampingan ustadz-ustadzah yang sabar menjadi bekal berharga bagi para santri menuju hafalan yang kokoh. Bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang dapat menjadi pilihan tepat karena memadukan kualitas tahfidz, pembinaan akhlak, dan program belajar yang terarah.

Pendidikan Pondok Pesantren Pembentuk Karakter Santri

Pendidikan Pondok Pesantren Pembentuk Karakter Santri

Pendidikan pondok pesantren memiliki cara tersendiri dalam membentuk karakter para santri. Sistem yang sudah mengakar sejak berabad-abad ini menjaga kesinambungan ilmu, adab, dan spiritualitas. Bahkan, dalam suasana belajar yang berjalan selama 24 jam, santri ditempa bukan hanya melalui materi kitab kuning, tetapi juga lewat pembiasaan akhlak yang diterapkan dalam berbagai aktivitas harian.

Lingkungan yang Menguatkan Kemandirian

Sejak awal, santri dibiasakan hidup mandiri. Mereka mengatur jadwal, menjaga kebersihan, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari secara bertanggung jawab. Intinya, pola hidup komunal melatih ketangguhan mental. Biasanya, mereka juga terlibat dalam kepengurusan kamar dan kegiatan asrama, sehingga kemampuan sosial berkembang secara alami.

Baca juga: 7 Manfaat Mondok untuk Menciptakan Generasi Islami dan Mandiri

Keteladanan Guru yang Membangun Adab

Dalam pendidikan pondok pesantren, sosok kiai dan ustadz menjadi teladan yang sangat memengaruhi karakter santri. Nyatanya, santri belajar bukan hanya dari materi yang dibacakan dalam kitab, tetapi juga dari sikap dan akhlak gurunya. Contohnya, kesederhanaan, kesabaran, serta ketulusan diamalkan setiap hari dan akhirnya membentuk kepribadian para santri.

gambar santri putri sedang setoran hafalan Al Qur'an ke ustadz
Potret penerapan adab dalam pendidikan pondok peesantren Al Muanawiyah Jombang

Tradisi Ilmu yang Mengikat Komitmen Moral

Tradisi kajian kitab kuning menjadi pusat kegiatan pesantren. Santri diajak memahami dalil, sekaligus menghubungkannya dengan akhlak dan kehidupan nyata. Karenanya, ilmu agama tidak berhenti pada hafalan. Mereka dibimbing untuk mengamalkan nilai agama dengan konsisten. Sementara itu, kegiatan seperti zikir dan mujahadah menumbuhkan kedalaman spiritual.

Baca juga: Santri Melek Teknologi Bukti Adaptasi Pesantren di Era Modern

Kehidupan Komunitas yang Menumbuhkan Sikap Moderat

Kehidupan sehari-hari di pesantren membuat santri terbiasa menghadapi perbedaan latar belakang, bahasa, hingga budaya. Mulanya terasa menantang, tetapi lambat laun mereka memahami pentingnya toleransi. Akhirnya, kebersamaan tumbuh kuat dan membentuk santri yang berjiwa moderat.

Pendidikan pondok pesantren terus menjadi model pembinaan karakter yang terbukti efektif di Indonesia. Dengan kombinasi antara adab, ilmu, dan pembiasaan spiritual, santri tumbuh menjadi generasi yang matang secara moral dan sosial. Jika Anda ingin merasakan langsung bagaimana pembinaan karakter itu diterapkan pada santri putri masa kini, Anda bisa mengenal lebih dekat sistem pendidikan berakhlak Qurani di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang.

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Al Muanawiyah

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Al Muanawiyah

Al MuanawiyahDi era digital yang semakin maju, kemampuan memahami teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Menyadari hal itu, SMP-SMA Qur’an Al Muanawiyah menghadirkan kegiatan ekstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial bagi para santri. Kegiatan ini menjadi jembatan agar mereka bisa memanfaatkan teknologi secara kreatif, produktif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

Belajar Koding dan AI dengan Cara yang Menyenangkan

Program ini dibina oleh M. Muhlas Saifuddin Nur, S.Kom. yang berpengalaman di bidang pemrograman dan edukasi digital. Dalam setiap pertemuan, santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui proyek-proyek sederhana yang membuat pembelajaran terasa nyata dan menarik.

Salah satu kegiatan yang disukai adalah membuat permainan interaktif sederhana menggunakan sistem blok visual. Melalui metode ini, santri belajar berpikir logis, mengatur urutan perintah, hingga memahami bagaimana komputer merespons instruksi mereka. Hasilnya, mereka mampu membuat game kecil yang bisa dimainkan sendiri maupun bersama teman-teman.

gambar siswa berpakaian baju pramuka sedang belajar koding
Potret suasana ekstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial di SMP-SMA Qur’an Al Muanawiyah

Antusiasme Tinggi dan Semangat Inovasi

Menurut pembina, para santri menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Materi yang modern dan menantang membuat mereka semakin penasaran. Mereka aktif bertanya dan mencoba instruksi yang merupakan hal baru bagi mereka.

EKstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial ini juga menjadi sarana melatih kesabaran, kerja sama, dan rasa percaya diri. Santri tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga belajar bagaimana menyelesaikan masalah dan berpikir kreatif dalam setiap langkah.

Baca juga: Program IT Pesantren Al Muanawiyah Didik Santri Terampil Digital

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Mempersiapkan Santri

Tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi, tetapi juga menumbuhkan pola pikir komputasional dan keterampilan abad ke-21. Di masa depan, kemampuan memahami dasar koding dan kecerdasan buatan akan sangat berguna, baik untuk studi lanjutan maupun karier profesional.

Alhasil, santri Al Muanawiyah tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga siap menjadi bagian dari generasi cerdas digital yang berakhlak mulia.

Baca juga: HSN 2025 Al Muanawiyah Rayakan Semangat Kaum Sarungan

Ingin tahu bagaimana pondok modern menggabungkan pendidikan agama dan teknologi? SMP Qur’an Al Muanawiyah dan SMA Qur’an Al Muanawiyah membuka peluang bagi putra-putri terbaik bangsa untuk bergabung dalam lingkungan belajar yang seimbang antara spiritualitas dan inovasi.

Kunjungi Al Muanawiyah dan temukan bagaimana semangat pendidikan modern membawa santri menuju masa depan yang lebih cemerlang.

Kitab Bulughul Maram dan Pentingnya dalam Kajian Islam

Kitab Bulughul Maram dan Pentingnya dalam Kajian Islam

Dalam khazanah keilmuan Islam, kitab Bulughul Maram menjadi salah satu rujukan utama bagi para penuntut ilmu, khususnya di pondok pesantren. Kitab ini memuat kumpulan hadis-hadis hukum yang menjadi dasar dalam memahami syariat Islam secara komprehensif.

Identitas Kitab

Kitab Bulughul Maram disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ulama besar yang hidup pada masa abad ke-9 Hijriah (773–852 H / 1372–1449 M). Ibnu Hajar dikenal sebagai pakar hadis dan penulis kitab monumental Fathul Bari, syarah dari Shahih Bukhari.

Kitab ini mulai dikenal luas di kalangan ulama sejak masa klasik hingga kini, karena sistematikanya yang jelas dan bahasanya yang ringkas. Di dalamnya, Ibnu Hajar menghimpun lebih dari 1.300 hadis, sebagian besar bersumber dari kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Kitab Bulughul Maram
Kitab Bulughul Maram (sumber: daimuda.org)

Isi Kitab Bulughul Maram

Isi dari kitab Bulughul Maram terbagi dalam beberapa bab besar yang mengikuti struktur fikih Islam. Di antaranya:

  1. Kitab Thaharah (Bersuci)
    Membahas hukum wudhu, tayamum, mandi, dan hal-hal yang membatalkannya.

  2. Kitab Shalat
    Menjelaskan syarat, rukun, dan tata cara pelaksanaan shalat, baik wajib maupun sunnah.

  3. Kitab Zakat, Puasa, dan Haji
    Menguraikan kewajiban ibadah sosial dan fisik yang menjadi pilar Islam.

  4. Kitab Nikah dan Jual Beli
    Mengulas aturan muamalah dan hukum keluarga dalam Islam.

  5. Kitab Hudud dan Jihad
    Menguraikan hukum pidana Islam dan etika perjuangan dalam menegakkan agama.

Setiap hadis dalam kitab ini disertai sumbernya, sehingga santri atau pembelajar dapat melacak keotentikan hadis dengan mudah.

Baca juga: Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal yang Perlu Diketahui

Pentingnya Mempelajari Kitab

Penting untuk dipahami bahwa kitab ini tidak hanya berisi hukum, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang akhlak, ibadah, dan muamalah berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, kitab ini menjadi jembatan antara teori fikih dan praktik keseharian umat Muslim.

Selain itu, kitab Bulughul Maram juga sering dijadikan materi wajib di berbagai lembaga pendidikan Islam. Para santri diajak untuk memahami hadis secara kontekstual, agar dapat menerapkannya dalam kehidupan modern tanpa kehilangan nilai-nilai syar’i.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

Pembelajaran Kitab di Pondok Pesantren Jombang

Di berbagai pondok pesantren di Jombang, termasuk Pondok Tahfidz Jombang Al Muanawiyah, kitab ini digunakan sebagai salah satu rujukan penting dalam kajian fikih dan hadis. Santri belajar tidak hanya menghafal matan hadis, tetapi juga memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Melalui pembelajaran kitab Bulughul Maram, para santri diarahkan untuk menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah di masyarakat. Sejalan dengan visi Al Muanawiyah yang menanamkan semangat tafakkuh fiddin, mempelajari kitab ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Siapa KH Bisri Syamsuri dan Apa Perannya dalam Berdirinya NU?

Siapa KH Bisri Syamsuri dan Apa Perannya dalam Berdirinya NU?

Dalam sejarah panjang Islam di Indonesia, nama KH Bisri Syamsuri menempati posisi penting. Sebagai salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan perintis kebangkitan pesantren di Nusantara. Membahasnya berarti menelusuri jejak seorang ulama yang berjuang tak hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan keteladanan dan pengabdian untuk umat.

Asal-usul dan Pendidikan KH Bisri Syamsuri

KH Bisri Syamsuri lahir di Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tahun 1886. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam mempelajari ilmu agama. Setelah menimba ilmu di pesantren daerahnya, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah bimbingan langsung KH Hasyim Asy’ari.
Dari sinilah hubungan guru dan murid itu tumbuh menjadi ikatan spiritual dan intelektual yang kuat. Beliau dikenal sebagai murid yang tekun dan cepat memahami persoalan fiqih serta ilmu alat.

foto KH Bisri Syamsuri pendiri Nahdlatul Ulama
Foto KH Bisri Syamsuri (Sumber: Laduni)

Perjuangan Sebelum Berdirinya NU

Sebelum NU resmi berdiri, beliau telah aktif berdakwah dan mendirikan majelis ilmu di berbagai daerah. Beliau memadukan metode tradisional pesantren dengan semangat pembaruan dalam dakwah.
Dalam masa-masa sulit penjajahan, beliau turut memperkuat kesadaran umat untuk mempertahankan akidah dan martabat bangsa melalui pendidikan Islam. Semangat keulamaan ini kelak menjadi fondasi kuat bagi berdirinya organisasi ulama terbesar di Indonesia.

Peran KH Bisri Syamsuri dalam Berdirinya NU

Ketika Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 di Surabaya, beliau menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam penyusunan dasar-dasar organisasi. Bersama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan ulama lainnya, perannya tidak hanya administratif, tetapi juga ideologis. Beliau turut menanamkan nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (keadilan) sebagai dasar sikap keagamaan NU. KH Bisri juga dikenal sebagai ulama yang sangat hati-hati dalam berfatwa, menjaga agar setiap keputusan berlandaskan pada Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad ulama salaf.

Kiprah Pasca Berdirinya NU

Setelah berdirinya NU, beliau mendirikan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Pesantren ini menjadi wadah pendidikan bagi generasi muda Islam yang ingin memperdalam ilmu agama sekaligus mengamalkan nilai-nilai ke-NU-an.
Beliau juga aktif mendampingi KH Hasyim Asy’ari dalam berbagai keputusan penting organisasi dan dakwah kebangsaan, termasuk dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Warisan dan Teladan KH Bisri Syamsuri

Warisan terbesar beliau adalah keteguhan menjaga kemurnian ajaran Islam dengan tetap berpijak pada akhlak. Dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama, terlihat bagaimana beliau menyeimbangkan ilmu dan amal, kepemimpinan dan keteladanan.
Nilai-nilai inilah yang terus menjadi inspirasi pesantren-pesantren modern saat ini, termasuk PPTQ Al Muanawiyah Jombang, yang berupaya mencetak generasi santri berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah di berbagai bidang.

Bagi para orang tua dan calon santri yang ingin meneladani semangat keilmuan dan keikhlasan KH Bisri Syamsuri, PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan pendaftaran santri baru. Mari bersama melanjutkan perjuangan para ulama dengan menjadi bagian dari generasi penghafal Al-Qur’an dan penerus dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

Peran Pondok NU dalam Pendidikan Islam di Nusantara

Peran Pondok NU dalam Pendidikan Islam di Nusantara

Pondok pesantren telah menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Di antara berbagai pesantren yang tumbuh dan berkembang, pondok NU memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam yang moderat dan berakar kuat pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sejak berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, pesantren menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan pengkaderan ulama yang berakhlak dan berwawasan kebangsaan.

Sejarah Singkat Pondok NU Pertama Kali

Cikal bakal pondok NU dapat ditelusuri jauh sebelum berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama. Sejak abad ke-18, telah muncul berbagai pesantren tradisional di Jawa Timur yang kelak menjadi basis NU. Salah satu yang tertua adalah Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, yang berdiri sekitar tahun 1745. Pesantren ini menjadi pusat kajian keilmuan Islam dengan sistem pengajaran klasik berbasis kitab kuning.

Kemudian, pada awal abad ke-20, lahirlah Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899. Dari sinilah embrio pesantren NU mulai terbentuk dengan kuat. Tebuireng tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan semangat perjuangan. Setelah NU berdiri, banyak pondok lain yang bergabung dan menjadi bagian dari jaringan pendidikan Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

pondok pesantren Tebuireng
Pondok pesantren Tebuireng yang menjadi cikal bakal pendidikan Nahdlatul Ulama (sumber: detikJatim)

Kontribusi Pondok NU dalam Dunia Pendidikan

Dalam perkembangannya, pesantren Nahdlatul Ulama berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mampu memadukan keilmuan agama dan pengetahuan umum. Santri tidak hanya dibekali dengan ilmu syariah, tafsir, dan hadits, tetapi juga diberi wawasan teknologi, bahasa, dan keterampilan hidup yang relevan dengan zaman.

Nilai-nilai seperti keikhlasan, tawadhu’, dan kemandirian menjadi ciri khas pendidikan di pesantren NU. Dengan karakter tersebut, banyak alumni pesantren yang kemudian menjadi tokoh masyarakat, pendidik, dan pemimpin yang berpengaruh di berbagai bidang.

Kini, pondok pesantren NU terus berinovasi menghadapi tantangan era digital. Banyak pesantren yang telah mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, membentuk santri melek IT, bahkan membuka ekstrakurikuler di bidang sains dan kewirausahaan. Namun demikian, nilai-nilai klasik seperti adab terhadap guru, cinta ilmu, dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi dasar utama pendidikan pesantren.

Dengan cara ini, pondok NU tetap menjadi benteng moral dan intelektual di tengah derasnya arus modernisasi.

Al Muanawiyah Mewarisi Semangat Ilmu dan Akhlak

Salah satu pesantren yang mewarisi semangat pendidikan pondok NU adalah Pondok Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah di Jombang. Pondok ini memadukan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendidikan karakter dan disiplin khas pesantren NU. Melalui program tahfidz, pendidikan formal, dan kegiatan spiritual, Al Muanawiyah berupaya membentuk generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlak.

Bagi orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dalam lingkungan Islami yang seimbang antara ilmu, amal, dan adab, Pondok Tahfidz Al Muanawiyah menjadi pilihan tepat untuk masa depan yang berkah dan penuh nilai.

Sejarah Pondok Tahfidz di Indonesia

Sejarah Pondok Tahfidz di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dan tradisi menghafal Al-Qur’an telah mengakar kuat sejak masa para ulama terdahulu. Berdasarkan penelitian Puslitbang Lektur Keagamaan (2003–2005), ditemukan sekitar 250 naskah Al-Qur’an tulisan tangan di berbagai daerah di Nusantara. Naskah-naskah tersebut merupakan karya para ulama Indonesia yang diyakini juga hafal Al-Qur’an 30 juz. Tradisi ini menunjukkan betapa mulianya peran hafidz di masa itu—mereka bukan hanya penghafal, tapi juga penjaga orisinalitas mushaf suci.

Pada masa awal, kegiatan Hifzul Qur’an biasanya dilakukan secara pribadi melalui bimbingan seorang guru. Jika pun berlangsung di lembaga, biasanya itu di pesantren umum yang kebetulan memiliki kiai hafidz. Namun, seiring waktu, beberapa ulama mulai merintis lembaga khusus tahfidzul Qur’an, yang kelak dikenal sebagai pondok tahfidz.

Perintis Pondok Tahfidz di Indonesia

Salah satu tokoh penting dalam sejarah pondok tahfidz di Indonesia adalah KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau belajar di Makkah dan Madinah selama enam belas tahun, mendalami ilmu qira’at sab’ah serta tafsir. Setelah kembali ke tanah air, pada tahun 1909 M KH. Munawwir merintis pesantren yang khusus mengajarkan hafalan Al-Qur’an, dan pada 1910 M mulai membuka pengajaran tahfidz untuk para santri.

Metode pengajaran yang beliau terapkan memiliki ciri khas tersendiri:

  1. Tahapan pembelajaran bertingkat — dimulai dari bin-nazar (membaca fasih), bil-ghaib (menghafal), hingga Qira’ah Sab’ah (variasi bacaan Al-Qur’an).

  2. Penekanan pada fasahah dan murattal — setiap santri dilatih membaca secara tartil dan benar makhraj hurufnya sebelum menghafal secara penuh.

Model pembelajaran ini kemudian menjadi acuan hampir seluruh pesantren Al-Qur’an di Jawa, dan bahkan hingga kini masih digunakan di berbagai pondok tahfidz di Indonesia.

foto KH Ahmad Munawwir pendiri Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta
Foto KH. M. Munawwir (sumber: www.mahadalyjakarta.com)

Perkembangan Pondok Tahfidz di Era Modern

Perkembangan pondok tahfidz semakin pesat setelah tahun 1981, ketika cabang tahfidzul Qur’an resmi dimasukkan ke dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) nasional. Sejak saat itu, banyak pesantren yang menambah kurikulum tahfidz, baik di pesantren salafiyah maupun lembaga takhasus yang berdiri mandiri. Selain menghafal, para santri kini juga mempelajari ulumul Qur’an dan tafsir sebagai bekal memahami makna ayat-ayat suci.

Di berbagai daerah, termasuk Jombang, semangat ini terus hidup. Banyak lembaga pendidikan Islam yang mendirikan pondok tahfidz modern, menggabungkan metode tradisional khas pesantren dengan sistem pendidikan formal.

Baca juga: Santri Al Muanawiyah Bersinar di Lomba Keagamaan Islam 2025

Dakwah dan Tahfidz di Jombang

Kabupaten Jombang dikenal sebagai “kota santri”, tempat lahir dan tumbuhnya banyak pondok pesantren besar. Salah satu lembaga yang turut melanjutkan tradisi tersebut adalah PPTQ Al Muanawiyah, yang berfokus pada pendidikan tahfidz sekaligus pengembangan karakter dan ilmu agama. Melalui program terarah, para santri tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga siap berdakwah dengan akhlak dan ilmu yang mendalam.

Sejarah pondok tahfidz di Indonesia merupakan bukti nyata betapa bangsa ini telah lama berperan dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an. Dari ulama perintis seperti KH. Munawwir hingga pondok-pondok modern di Jombang, semangat mencetak generasi hafidz Qur’an terus diwariskan dari masa ke masa.

Ingin anak Anda tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an yang berilmu dan berakhlak?
Mari bergabung bersama PPTQ Al Muanawiyah Jombang, pondok tahfidz yang memadukan tradisi, ilmu, dan akhlak Islami.