Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Hadits Arbain ke-17: Perintah Berbuat Baik dan Adab Menyembelih

Agama Islam merupakan syariat yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk menampilkan akhlak yang mulia dalam setiap sendi kehidupannya sehari-hari. Salah satu pilar akhlak yang sangat agung dalam Islam adalah prinsip ihsan atau berbuat baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan yang sangat jelas mengenai batasan dan penerapan sikap ihsan ini. Memahami kandungan hadits arbain ke-17 akan membuka mata kita tentang betapa luasnya cakupan kasih sayang dalam syariat Islam.

Berikut adalah redaksi lengkap dari hadits ketujuh belas yang dihimpun oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Arbain.

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Syarah Hadits dan Penjelasan Adab Menyembelih Menurut Para Ulama

Berdasarkan referensi terpercaya dari Rumaysho, para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai makna membunuh dan menyembelih dengan baik. Maksud dari perintah tersebut adalah melihat dari sisi cara pengerjaan serta keadaan saat eksekusi berlangsung. Contoh nyata berbuat baik ketika membunuh adalah saat aparat menegakkan hukum qishash atau hukuman mati bagi pembunuh. Penjelasan terperinci mengenai hal ini terdapat dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim jilid 13 halaman 98.

Imam Nawawi rahimahullah juga mencontohkan beberapa cara dalam menyenangkan hewan yang akan disembelih.

  • Penyembelih wajib menajamkan pisau agar proses pemotongan urat leher hewan berlangsung dengan sangat cepat.

  • Kaum muslimin mendapatkan anjuran untuk tidak mengasah pisau tepat di hadapan hewan yang akan disembelih.

  • Siapa pun tidak boleh menyembelih seekor hewan lantas sedangkan hewan-hewan lainnya dapat melihatnya.

  • Seseorang tidak boleh melewatkan atau menyeret hewan yang akan disembelih di tempat penjagalan atau penyembelihannya.

gambar sapi hendak disembelih sesuai kandungan hadits arbain ke-17
Proses persiapan penyembelihan hewan (foto: www.ayojakarta.com)

Kandungan Hadits yang Menguatkan Keimanan Seorang Muslim

Melalui penjelasan materi di atas, kita dapat merangkum sembilan faedah penting yang terkandung di dalam hadits mulia ini.

Pertama, hadits ini menjelaskan bahwa Allah sangat menyayangi hamba-Nya dengan menetapkan kewajiban berbuat baik pada sesama makhluk. Contoh nyatanya adalah memberi petunjuk jalan pada orang tersesat serta memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Kedua, teks ini menunjukkan dorongan kuat untuk senantiasa menerapkan sikap ihsan pada segala sesuatu tanpa terkecuali. Ketiga, syariat memerintahkan manusia untuk mengikuti tuntunan Islam saat terpaksa membunuh atau menyembelih hewan.

Baca juga: Proses Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah Kedua

Keempat, Nabi menggunakan kata kataba yang berarti menetapkan, di mana para ulama membaginya menjadi kitabah qadariyyah dan kitabah syar’iyyah. Kitabah qadariyyah merupakan ketetapan yang pasti terjadi, sedangkan kitabah syar’iyyah adalah aturan yang kadang manusia kerjakan atau abaikan. Kelima, wajib hukumnya berbuat ihsan dalam hal yang wajib seperti menjalankan perintah agama dan meninggalkan perkara haram. Kita juga harus sabar terhadap takdir yang tidak menyenangkan tanpa menggerutu, serta berbuat baik dalam bermuamalah.

Keenam, Rasulullah biasa memberikan contoh konkret yang mudah dipahami saat menjelaskan suatu perkara kepada para sahabat. Ketujuh, cara terbaik dalam menyembelih adalah dengan patuh mengikuti seluruh regulasi syariat Islam. Kedelapan, setiap orang wajib menajamkan pisau atau alat pemotong sebelum menyentuh leher hewan. Kesembilan, kita wajib menyenangkan hewan sembelihan dengan cara mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa lama.

Kesimpulannya, hadits arbain ke-17 memberikan pondasi moral yang sangat kokoh mengenai pentingnya berbuat baik dalam setiap keadaan. Islam mengatur segala hal secara detail, bahkan sampai pada urusan menyembelih hewan. Penerapan prinsip ihsan ini membuktikan keindahan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Semoga ulasan mengenai hadits ini dapat memacu kita untuk menjadi pribadi yang lebih berbenah dan penuh kasih sayang.

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

Menjaga stabilitas emosi merupakan salah satu tantangan terbesar bagi setiap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tekanan sosial dan masalah pribadi sering kali memicu munculnya rasa kesal di dalam dada. Jika tidak terkendali, luapan emosi negatif ini dapat merusak hubungan baik antar-sesama makhluk. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kontrol perilaku ini. Tuntunan mengenai pentingnya menjaga ketenangan jiwa ini terangkum indah dalam sebuah hadits legendaris.

Memahami esensi hadits arbain ke-16 akan membantu Anda menjaga kedamaian hati dari letupan amarah yang merusak.

Baca juga: Hikmah Al Ahzab Ayat 59 Tentang Aturan Jilbab

Dua Makna Utama di Balik Larangan Marah Menurut Penjelasan Ulama

Situs Rumaysho memaparkan bahwa maksud dari kalimat “jangan marah” dalam hadits ini memiliki dua makna mendasar. Makna pertama adalah perintah untuk menahan diri ketika ada sebab yang bisa memicu emosi kita. Kita harus berusaha sekuat tenaga meredam gejolak tersebut sampai rasa kesal itu hilang.

Makna kedua adalah larangan untuk melakukan tindakan lanjutan yang buruk akibat dari luapan amarah. Sebagai contoh, seseorang tidak boleh menuruti egonya hingga tega mentalak istrinya saat sedang emosi. Jika kondisi kritis ini terjadi, maka kita harus menasihatinya untuk bersabar dan menahan diri terlebih dahulu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja mengulangi wasiat ini berkali-kali untuk menunjukkan betapa pentingnya pesan tersebut.

gambar orang marah ilustrasi kandungan hadits arbain ke-16
Larangan marah disebutkan dalam hadits arbain ke-16 (foto: freepik.com)

Berbagai Faedah Penting yang Terkandung di Dalam Hadits Larangan Marah

Teks hadits mulia ini juga menyimpan banyak pelajaran berharga bagi kehidupan moral seorang muslim.

Berikut adalah beberapa faedah besar yang bisa kita petik dari riwayat wasiat Nabi tersebut sebagaimana dilansir dari laman Rumaysho.

  • Menunjukkan semangat tinggi para sahabat Nabi dalam mencari ilmu agama untuk segera mereka amalkan.

  • Memberikan pelajaran bahwa pemberian nasihat harus menyesuaikan dengan kondisi psikologis orang yang kita nasihati.

  • Menegaskan bahwa marah memiliki mafsadat atau dampak kerusakan yang sangat besar bagi kehidupan manusia.

  • Membuktikan secara nyata bahwa syariat Islam melarang keras segala bentuk akhlak yang jelek.

  • Menjelaskan bahwa Islam melarang hal-hal yang dapat memicu pertikaian serta dampak buruknya.

Dampak buruk emosi yang tidak terkontrol bisa membuat seseorang menyesali keputusannya seumur hidup.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Tips Praktis Cara Mengelola Emosi Agar Hati Tetap Tenang

Mengendalikan luapan amarah tentu membutuhkan latihan fisik dan mental yang konsisten setiap hari.

Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk meredam emosi sesuai dengan petunjuk sunnah.

  • Membaca Ta’awudz: Segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan saat dada mulai terasa panas.

  • Mengubah Posisi Tubuh: Duduklah jika Anda sedang berdiri, atau berbaringlah jika Anda sedang dalam posisi duduk.

  • Diam dan Menjaga Lisan: Hindari mengeluarkan kata-kata saat emosi agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

  • Mengambil Air Wudhu: Basuhlah wajah dan anggota tubuh dengan air dingin untuk menurunkan tempo ketegangan saraf.

Menerapkan langkah-langkah ini secara sadar akan menyelamatkan Anda dari kesalahan mengambil keputusan.

Kesimpulannya, menjaga diri dari sifat pemarah merupakan cerminan dari tingkat keimanan seseorang yang matang. Rasulullah memberikan panduan ini agar umatnya terhindar dari kehancuran rumah tangga dan hubungan sosial. Oleh karena itu, mari kita jadikan zikir dan kesabaran sebagai tameng utama menghadapi ujian ego harian. Semoga ulasan mengenai hadits arbain ke-16 ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas akhlak mulia kita semua.

Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Hadits Arbain Ke-15: Adab Muslim Kepada Tetangga dan Tamu

Kitab Arbain An-Nawawiyyah merupakan rujukan penting yang menghimpun intisari ajaran islam mengenai hukum dan sosial. Salah satu bagian yang memuat panduan etika bermasyarakat secara spesifik adalah teks riwayat kelima belas dalam kitab tersebut. Jika hadis kedua belas mengajarkan etika umum tentang meninggalkan hal tidak berguna, maka riwayat ini membawa pesan khusus. Rasulullah mengaitkan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir dengan tiga bentuk perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tiga aspek tersebut meliputi kontrol ucapan, kepedulian terhadap lingkungan terdekat, serta tata cara menyambut kedatangan seseorang.

Oleh sebab itu, mempelajari hadits arbain ke-15 akan membantu kita memahami konsep kesalehan sosial secara utuh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

gambar orang memberikan makanan ke tetangga contoh penerapan hadits arbain ke-15
Berbagi makanan ke tetangga merupakan contoh penerapan kandungan hadits arbain ke-15 (foto: freepik.com)

Pembagian Dua Macam Kewajiban Menjaga Hak Pencipta dan Hak Makhluk

Hadits ini menegaskan bahwa keimanan seseorang menuntut pemenuhan tanggung jawab yang berdimensi vertikal sekaligus horizontal. Kewajiban pertama yang berkaitan dengan hak Allah adalah keharusan setiap individu untuk selalu mengontrol ucapan mereka. Manusia diperintahkan untuk hanya memproduksi perkataan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar mereka sendiri.

Namun, jika tidak mampu memunculkan kalimat yang baik, maka pilihan terbaik yang tersisa adalah diam.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-14: Hukum Membunuh Sesama Muslim

Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 114 yang mengkritik obrolan tanpa faedah. Ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan manusia kecuali dalam urusan sosial dan perdamaian.

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍ ۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali (pada pembicaraan rahasia) orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.” (QS. An Nisa’ ayat 14)

Selanjutnya, kontrol terhadap lisan ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan jaminan keselamatan di akhirat. Rasulullah dalam riwayat Imam Bukhari menjanjikan surga bagi siapa saja yang mampu mengendalikan mulut dan kemaluannya. Sebagian besar maksiat manusia bersumber dari ketidakmampuan mereka dalam menjaga dua bagian tubuh yang rawan ini.

Oleh karena itu, keselamatan yang besar akan terwujud jika seseorang mampu membentengi diri dari keburukan keduanya.

Penghormatan Kepada Tetangga dan Tamu

Etika sosial berikutnya yang tertuang dalam riwayat ini adalah perintah untuk memuliakan orang lain dengan sebaik-baiknya. Istilah ikram di dalam teks memiliki makna memberikan penghormatan secara total tanpa adanya rasa terpaksa.

Berikut adalah sepuluh panduan konkret dari Imam Al-Ghazali dalam menunaikan hak masyarakat sekitar secara nyata. Beberapa di antaranya dikutip dari laman Rumaysho.com.

  • Mengawali interaksi harian dengan menyampaikan ucapan salam yang ramah.

  • Meluangkan waktu untuk menjenguk saat ada warga yang jatuh sakit.

  • Menghadiri rumah duka dan menghibur keluarga yang sedang tertimpa musibah.

  • Memberikan ucapan selamat ketika mereka memperoleh kebahagiaan atau rezeki baru.

  • Ikut merasakan kegembiraan atas segala nikmat yang mereka dapatkan.

  • Bersegera menyampaikan permohonan maaf apabila telanjur melakukan kesalahan fatal.

  • Menahan pandangan mata dari melihat anggota keluarga mereka yang bukan mahram.

  • Ikut menjaga keamanan area rumah saat pemiliknya sedang pergi keluar kota.

  • Menampilkan sikap yang lembut dan menyayangi anak-anak mereka.

  • Bersedia membagikan ilmu agama maupun urusan dunia yang belum mereka ketahui.

Selain panduan di atas, Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36 juga memerintahkan umat untuk berbuat baik kepada tetangga. Larangan berbuat syirik berdampingan langsung dengan kewajiban memuliakan orang tua, anak yatim, hingga tetangga dekat dan jauh.

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Baca juga: Menghafal Al-Qur’an Terasa Berat, Bagaimana Solusinya?

Kesimpulannya, hadits arbain ke-15 menyajikan standar moral yang sangat tinggi bagi setiap individu yang mengaku beriman. Menjaga tutur kata serta memberikan penghormatan kepada sesama adalah bukti nyata dari kesempurnaan tauhid seseorang. Semua panduan praktis dari para ulama terdahulu harus menjadi cermin bagi perilaku sosial kita hari ini. Oleh karena itu, mari kita praktikkan nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan bermasyarakat setiap harinya. Semoga ulasan ini dapat memperbanyak amal kebajikan kita dan mempererat tali persaudaraan antar sesama muslim.

Hadits Arbain ke-13: Kunci Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

Hadits Arbain ke-13: Kunci Kesempurnaan Iman Seorang Muslim

Membangun hubungan sosial yang harmonis merupakan salah satu inti ajaran dalam syariat Islam. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan urusan ibadah ritual melainkan juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan hati sesama manusia. Salah satu panduan utama mengenai etika persaudaraan ini tertuang dalam kitab Arbain Nawawi. Oleh karena itu, memahami hadits arbain ke-13 akan membantu Anda mengevaluasi kualitas ketulusan iman dalam keseharian.

Pesan singkat di dalam riwayat ini memuat fondasi moral yang sangat mendalam bagi kehidupan bermasyarakat. Imam Nawawi menghimpun riwayat ini dari jalur sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُw لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Kalimat yang lugas ini menjadi standar utama dalam menilai ketulusan sikap seorang muslim terhadap orang lain.

Syarah dan Kandungan Hadits Arbain Ke-13

Para ulama memberikan ulasan mendalam mengenai rincian faedah hadits arbain ke-13. Berikut adalah poin-poin penting yang wajib menjadi perhatian dalam menjaga hubungan sosial dengan sesama Muslim.

1. Batasan Makna Kesempurnaan Iman

Ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits adalah tidak sempurnanya iman seseorang. Kita wajib mencintai saudara kita sebagaimana mencintai diri sendiri. Di sini dikatakan wajib karena ada kalimat penafian umum di dalam sabda Nabi tersebut. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata mengenai hadits di atas.

“Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.”

gamabr dua wanita berhijab saling berbicara contoh kandungan haditrs arbain ke-13
Berbicara yang baik kepada sesama Muslim adalah salah satu contoh mencintai saudara sesama (foto: freepik.com)

2. Kewajiban Menyingkirkan Sifat Hasad dan Iri Hati

Faktanya, kita wajib meninggalkan hasad karena orang yang hasad pada saudaranya berarti tidak mencintai saudaranya. Bahkan orang yang hasad itu selalu berangan-angan nikmat orang lain itu hilang dari permukaan bumi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah merumuskan pengertian hasad dalam kitab Majmu’ah Al-Fatawa

الْحَسَدَ هُوَ الْبُغْضُ وَالْكَرَاهَةُ لِمَا يَرَاهُ مِنْ حُسْنِ حَالِ الْمَحْسُودِ

“Hasad adalah membenci dan tidak suka terhadap keadaan baik yang ada pada orang yang dihasad.”

Baca juga: Hadits tentang Meninggalkan Keraguan: Hadits Arbain ke-11

3. Sikap Menasihati Saat Melihat Kesalahan Saudara

Sikap seorang muslim ketika melihat saudaranya yang melakukan kesalahan adalah menasihatinya. Ibnu Rajab Al-Hambali mempertegas peran penting ini dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.

“Jika seseorang melihat pada saudaranya kekurangan dalam agama, maka ia berusaha untuk menasihatinya (membuat saudaranya jadi baik).”

4. Standar Cinta dan Benci untuk Pelaku Maksiat

Adapun jika muslim tersebut pelaku dosa besar seperti pemakan riba atau rentenir dan suka mengghibah atau menggunjing. Maka orang tersebut dicintai sekadar dengan ketaatan yang ada padanya dan dibenci karena maksiat yang ia terus lakukan. Ibnu Taimiyah rahimahullah menjabarkan keadilan hukum ini secara lebih lengkap.

“Jika ada dalam diri seseorang kebaikan dan kejelekan, dosa dan ketaatan, maksiat, sunnah and bid’ah, maka kecintaan padanya tergantung pada kebaikan yang ia miliki. Ia pantas untuk dibenci karena kejelekan yang ada padanya. Bisa jadi ada dalam diri seseorang kemuliaan dan kehinaan, bersatu di dalamnya seperti itu. Contohnya, ada pencuri yang miskin. Ia berhak dihukumi potong tangan. Di samping itu ia juga berhak mendapat harta dari Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhannya.”

Menerapkan formula keimanan ini membutuhkan perjuangan melawan ego pribadi secara konsisten dalam kehidupan nyata.

Baca juga: Sejarah Masa Keemasan Islam yang Mengubah Peradaban Dunia

Mengamalkan isi hadits arbain ke-13 merupakan indikator nyata dari kematangan spiritual seorang mukmin. Islam menginginkan setiap pemeluknya memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan saling mendukung dalam kebaikan. Oleh sebab itu, mari kita bersihkan hati dari segala bentuk kebencian dan keegoisan mulai hari ini. Semoga Allah senantiasa menguatkan iman kita agar mampu mencintai sesama muslim dengan tulus ikhlas.

Hadits Arbain Ke-12: Panduan Islam dalam Produktivitas

Hadits Arbain Ke-12: Panduan Islam dalam Produktivitas

Kitab Arbain An-Nawawi susunan Imam An-Nawawi memuat kumpulan hadits-hadits pendek yang menjadi fondasi pokok ajaran Islam. Salah satu pembahasan yang sangat krusial bagi pembentukan karakter dan produktivitas harian seorang muslim adalah hadits arbain ke-12. Oleh karena itu, Anda perlu mempelajari kandungan riwayat ini secara mendalam agar bisa mengelola waktu harian dengan lebih efektif.

Memahami esensi hadits ini akan membantu kita menyaring aktivitas harian yang benar-benar mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhirat.

Pondasi adab ini bersumber dari hadits Rasulullah SAW melalui penuturan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Berikut adalah teks dan makna dari riwayat tersebut:

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, hadits ini berstatus hasan)

Para ulama mengategorikan hadits arbain ke-12 ini sebagai seperempat dari keseluruhan ajaran agama Islam. Faktanya, kalimat yang ringkas ini memuat kaidah penting dalam manajemen waktu dan produktivitas sebagai seorang Muslim.

gambar tulisan jadwal harian contoh penerapan hadits arbain ke-12
Membuat jadwal agenda harian adalah salah satu cara untuk memaksimalkan kegiatan (foto: freepik.com)

Faedah dan Pengamalan Kandungan Hadits dalam Kehidupan

Untuk menerapkan petunjuk Rasulullah SAW ini secara nyata, para ulama fikih membagi tolok ukur “manfaat” ke dalam beberapa aspek penting berdasarkan pembahasan dalam rumaysho.com.

  • Mengevaluasi Manfaat secara Syar’i dan Duniawi

Sesuatu dinilai bermanfaat jika perkara tersebut mendekatkan diri kepada Allah atau mendukung kelancaran urusan dunia yang halal. Jika suatu aktivitas justru mendatangkan dosa atau merugikan kesehatan, maka muslim wajib meninggikannya.

  • Menjaga Lisan dari Ucapan yang Tidak Perlu

Amalan paling berat dalam hadits ini adalah menahan lidah dari membicarakan urusan orang lain (ghibah) atau bergosip. Mengurangi ucapan yang tidak penting merupakan tanda nyata dari kesempurnaan iman seorang hamba. Sebagaimana hadits dari Al Husain bin ‘Ali bawha Rasulullah SAW.

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ

Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat.”(HR. Ahmad, 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).

  • Menyaring Aktivitas di Media Sosial

Di era digital, penerapan hadits ini sangat relevan dengan cara kita menggunakan gawai harian. Menghindari perdebatan kusir di kolom komentar dan berhenti menonton konten yang tidak mendidik adalah bentuk pengamalan langsung dari ayat ini.

Baca juga: Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

  • Fokus pada Pengembangan Potensi Diri

Seorang muslim yang cerdas akan menyibukkan dirinya dengan target-target pribadi yang positif. Mereka tidak akan membuang waktu luang untuk mencampuri urusan domestik atau privasi orang lain.

Meskipun demikian, meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan berarti Anda tidak boleh beristirahat atau melakukan rekreasi. Selanjutnya, Islam tetap mengizinkan hiburan yang proporsional asalkan tidak melanggar batas syariat dan tidak melalaikan kewajiban salat lima waktu.

Relevansi Hadits dalam Membangun Mentalitas Produktif

Mengkaji hadits arbain ke-12 memberikan kita kesimpulan harian bahwa Islam sangat menghargai efisiensi waktu dan energi manusia. Dengan memangkas segala aktivitas yang sia-sia, seorang muslim dapat mengalihkan fokusnya untuk beribadah dan berkarya secara maksimal. Ketaatan terhadap sunnah Nabi ini secara konsisten akan melahirkan ketenangan batin serta menjauhkan diri dari konflik sosial yang tidak perlu. Mari kita jadikan hadits mulia ini sebagai filter utama dalam memilih kegiatan dan pergaulan harian kita.

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan, Hadits Arbain ke-10

Penyebab Doa Tidak Dikabulkan, Hadits Arbain ke-10

Banyak orang merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon, namun merasa doanya seolah tertahan di langit. Dalam tradisi Islam, memahami penyebab doa tidak dikabulkan bukan sekadar soal teknis kata-kata, melainkan soal kesucian dan gaya hidup. Salah satu rujukan paling utama yang menjelaskan penghalang doa ini adalah Hadits Arbain ke-10 karya Imam Nawawi.

Berikut adalah ulasan mengenai faktor utama yang menyebabkan doa seseorang sulit mendapatkan jawaban dari Allah SWT.

1. Prinsip Bahwa Allah Hanya Menerima yang Baik

Hadits Arbain ke-10 menegaskan sebuah konsep fundamental tentang kesucian. Allah SWT adalah Zat Yang Maha Baik, sehingga Dia tidak akan menerima sesuatu kecuali yang bersumber dari kebaikan pula. Hal ini berlaku dalam perbuatan, sedekah, maupun doa.

Rasulullah SAW bersabda dalam potongan awal hadits tersebut:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul.” (HR. Muslim – Hadits Arbain ke-10).

Ketentuan ini mengharuskan setiap Muslim untuk memastikan bahwa niat dan cara mereka dalam beribadah selalu berada di atas landasan yang halal. Jika seseorang mencampurkan ibadahnya dengan unsur-unsur yang buruk, maka hal itu berisiko menjadi penghalang utama terkabulnya doa.

Baca juga: Waktu Mustajab untuk Berdoa Agar Lebih Mudah Dikabulkan

2. Mengonsumsi Makanan dan Minuman yang Haram

Poin paling kritis dalam Hadits Arbain ke-10 adalah keterkaitan langsung antara apa yang masuk ke dalam perut dengan efektivitas doa. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat kuat tentang seorang musafir yang berada dalam kondisi sangat terjepit, namun doanya tetap tertolak karena faktor harta haram.

Perhatikan gambaran Rasulullah SAW berikut ini:

“Kemudian beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan (musafir), rambutnya kusut dan berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dengan yang haram, maka bagaimanakah doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim).

Poin ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang sudah memenuhi syarat lahiriah berdoa—seperti sedang dalam perjalanan (safar) dan mengangkat tangan—doa tersebut tetap tertahan karena faktor makanan haram. Mengonsumsi hasil dari cara yang tidak benar merupakan penyebab doa tidak dikabulkan yang paling fatal.

foto orang bersulang minuman beralkohol contoh penyebab doa tidak dikabulkan
Mengonsumsi minuman beralkohol dapat menjadi penyebab doa tidak dikabulkan (foto: freepik.com)

3. Pakaian dan Fasilitas Hidup dari Harta yang Tidak Halal

Selain makanan, hadits ini juga menyoroti pakaian yang menempel pada tubuh. Jika pakaian yang seseorang kenakan berasal dari transaksi riba, penipuan, atau pencurian, maka pakaian tersebut menjadi penghalang dengan rahmat Allah.

Kesucian lahiriah dari pakaian yang suci dari najis memang penting untuk sahnya shalat, namun kesucian batiniah dari harta halal menjadi syarat bagi terkabulnya doa. Anda harus meneliti kembali asal-usul harta yang Anda gunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari agar tidak menjadi sumber penghasilan haram yang dapat menghalangi doa Anda.

4. Hilangnya Keberkahan dalam Kondisi Sulit

Hadits ini menggambarkan seorang musafir yang rambutnya kusut dan berdebu. Dalam kondisi normal, doa seorang musafir sangat mustajab (mudah terkabul). Namun, dosa dari kemaksiatan mengonsumsi yang haram ternyata jauh lebih kuat kekuatannya daripada kemustajaban waktu atau kondisi tersebut.

Baca juga: Doa Nabi Ibrahim sebagai Contoh Doa Terbaik

Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa maksiat dapat menghapuskan keberkahan waktu-waktu istimewa. Oleh karena itu, memperbaiki kualitas konsumsi dan sumber penghasilan merupakan langkah paling awal jika Anda ingin doa-doa Anda menembus langit.

Hadits Arbain ke-10 memberikan peringatan keras bahwa penyebab doa tidak dikabulkan sering kali berakar pada apa yang kita makan dan pakai. Allah SWT memerintahkan kita untuk mengikuti jejak para rasul dalam mengonsumsi yang thayyib (baik dan halal). Mari kita bersihkan sumber penghidupan kita agar setiap kali kita mengangkat tangan, Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya.

Hadits Arbain ke-9: Kerjakan Perintah Semampunya

Hadits Arbain ke-9: Kerjakan Perintah Semampunya

Dalam memahami syariat Islam, kita perlu merujuk pada prinsip-prinsip dasar yang memudahkan pengamalan agama. Salah satu rujukan penting bagi umat Muslim adalah kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Nawawi. Hadits Arbain ke-9 memberikan pelajaran berharga mengenai batasan dalam beragama serta pentingnya ketaatan terhadap perintah Rasulullah SAW.

Hadits ini bersumber dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr RA yang mendengar Rasulullah SAW memberikan arahan tegas mengenai bagaimana menyikapi perintah dan larangan agama.

Isi Hadits Arbain ke-9

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah kutipan yang sangat masyhur:

“Apa saja yang aku larang kalian membelakanginya, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian mengerjakannya, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyak bertanya dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337).

1. Menjauhi Larangan Secara Mutlak

Poin pertama dalam Hadits Arbain ke-9 menekankan bahwa menjauhi larangan bersifat mutlak. Ketika Rasulullah SAW menetapkan sesuatu sebagai hal yang haram, maka kita harus segera meninggalkannya tanpa alasan. Berbeda dengan perintah yang memiliki batasan kemampuan, larangan tidak memerlukan tenaga fisik untuk meninggalkannya. Oleh karena itu, menjauhi maksiat menjadi indikator utama ketakwaan seorang hamba.

Baca juga: Hadits Arbain ke-8 tentang Menjaga Kehormatan Sesama

2. Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan

Selanjutnya, Islam menunjukkan sifatnya yang memudahkan melalui poin kedua dalam hadits ini. Rasulullah SAW menyadari bahwa setiap individu memiliki kapasitas fisik dan kondisi yang berbeda-beda. Akibatnya, pelaksanaan perintah agama selalu beriringan dengan prinsip kemudahan. Sebagai contoh, jika seseorang tidak mampu melakukan shalat dengan berdiri, maka ia boleh melakukannya dengan duduk. Kaidah ini adalah salah satu hikmah dalam Hadits Arbain ke-9 untuk menjalankan perintah semampunya.

3. Batasan Bertanya Tentang Syariat

Hal yang paling krusial dalam hadits ini adalah peringatan mengenai perilaku orang-orang terdahulu. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kebinasaan umat sebelum Islam terjadi karena mereka terlalu banyak mengajukan pertanyaan yang bersifat mempersulit diri sendiri.

Baca juga: Lupa Jumlah Rakaat Shalat? Ini Solusinya Menurut Fiqh!

Pertanyaan yang dilarang adalah pertanyaan yang lahir dari keraguan, ketidakpuasan, atau sekadar ingin mencari celah hukum. Oleh karena itu, kita harus mengedepankan sikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) daripada terus-menerus memperdebatkan sesuatu yang sudah jelas hukumnya.

gambar ilustrasi pria bertanya contoh isi hadits arbain ke-9
Banya bertanya terkait syariat adalah perbuatan yang harus dihindari (foto: freepik.com)

4. Pentingnya Menjaga Persatuan

Terakhir, hadits ini mengingatkan kita untuk menghindari perselisihan terhadap ajaran nabi. Perselisihan dan pembangkangan terhadap sunnah hanya akan melemahkan umat dan menjauhkan kita dari keberkahan. Dengan mengikuti tuntunan dalam Hadits Arbain ke-9, kita dapat membangun fondasi keberagaman yang kokoh, sederhana, dan penuh ketaatan.

Mempelajari hadits ini membimbing kita untuk lebih fokus pada amal nyata daripada terjebak dalam perdebatan lisan. Mari kita terapkan prinsip kemudahan dalam menjalankan perintah dan ketegasan dalam meninggalkan larangan agar hidup menjadi lebih berkah sesuai sunnah.

Hadits Arbain ke-8 tentang Menjaga Kehormatan Sesama

Hadits Arbain ke-8 tentang Menjaga Kehormatan Sesama

Dalam kumpulan hadits Imam Nawawi, setiap urutan hadits membangun fondasi keberagamaan kita secara kokoh. Hadits arbain ke-8 menjadi salah satu pilar penting karena menjelaskan batasan hubungan antarmanusia serta kewajiban menjalankan syariat Islam. Melalui hadits ini, Rasulullah SAW memberikan gambaran jelas mengenai hal yang membuat darah dan harta seorang muslim terjaga.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai makna dan hikmah yang terkandung dalam hadits tersebut, termasuk penjelasan penting agar kita tidak salah dalam memahaminya.

Isi Hadits Arbain ke-8

Hadits ini bersumber dari Abdullah bin Umar RA, yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku, kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

gambar orang sedekah contoh hikmah hadits arbain ke-8
Saling membantu merupakan contoh pengamalan hadits arbain ke-8 (foto: freepik.com)

Penjelasan Hadits Arbain ke-8 (Fawaid Hadits)

Mengutip penjelasan dari laman rumaysho.com, ada beberapa poin krusial yang perlu kita pahami agar tidak keliru dalam menafsirkan kalimat hadits ini:

1. Siapa yang Memerintah Nabi?

Kalimat “Aku diperintahkan” bermakna bahwa Allahlah yang memberikan perintah tersebut kepada Rasulullah SAW. Beliau tidak menyebutkan subjeknya secara langsung karena hal itu sudah menjadi pemahaman umum. Dalam konteks kenabian, hanya Allah Sang Maha Pencipta yang berhak memberi perintah dan larangan mutlak kepada beliau.

2. Makna “Memerangi” Bukan Berarti Membunuh

Kalimat “Memerangi manusia hingga mereka bersaksi” sering kali disalahpahami oleh sebagian orang. Maksud dari hadits ini bukanlah perintah untuk membunuh non-muslim secara membabi buta. Islam justru memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada ahli dzimmah (non-muslim yang hidup damai dalam perlindungan negara Islam) dan memberikan jaminan keamanan kepada mereka. Memerangi di sini memiliki konteks hukum dan pertahanan yang sangat spesifik, bukan tindakan kriminalitas.

3. Persaksian Lisan dan Urusan Hati

Mengenai kalimat “Hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah”, hal ini cukup dengan mengakui dan mengenalnya secara lisan. Islam adalah agama yang menghukumi sesuatu berdasarkan apa yang tampak secara lahiriah. Urusan apakah hati seseorang benar-benar tulus atau tidak, itu sepenuhnya menjadi otoritas Allah SWT. Kita tidak memiliki hak untuk membedah hati manusia.

Baca juga: Ketaatan Prajurit Ali bin Abi Thalib di Perang Khaibar

Menjaga Darah dan Harta Sesama Muslim

Salah satu hikmah terbesar dari hadits arbain ke-8 adalah perlindungan terhadap nyawa dan harta. Islam melarang keras segala bentuk kekerasan, penjarahan, maupun fitnah terhadap mereka yang sudah bersyahadat, mendirikan shalat, dan membayar zakat.

Hadits ini menegaskan bahwa setiap muslim memiliki kehormatan yang tidak boleh dilanggar tanpa alasan yang benar menurut syariat (seperti hukum qishash). Kesadaran ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjaga lisan dan tangan agar tidak menyakiti sesama.

Baca juga: Hadits Arbain ke-7, Nasihat Agama sebagai Pondasi

Mempelajari hadits arbain ke-8 membantu kita menyadari bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai ketertiban dan keselamatan jiwa manusia. Dengan menjalankan rukun Islam secara konsisten, kita tidak hanya memenuhi kewajiban kepada Allah, tetapi juga menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.

Hadits Arbain ke-32: Prinsip Tidak Menyakiti dalam Islam

Hadits Arbain ke-32: Prinsip Tidak Menyakiti dalam Islam

Al MuanawiyahIslam hadir sebagai agama rahmat yang menjaga kemaslahatan manusia. Salah satu kaidah besarnya terangkum dalam hadits Arbain ke-32. Hadits ini menjadi fondasi penting dalam muamalah, sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Melalui hadits tersebut, Rasulullah Saw. menegaskan larangan menimbulkan bahaya. Karena itu, memahami hadits Arbain ke-32 menjadi kebutuhan setiap Muslim.

Lafadz Hadits Arbain ke-32 dan Artinya

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: «لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ فِي المُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺفَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا.

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya, serta diriwayatkan pula oleh Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 31 secara mursal dari Amr bin Yahya dari ayahnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menyebutkan Abu Sa’id, tetapi ia memiliki banyak jalan periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain) [Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 250] rumaysho.com

Makna Hadits Arbain ke-32

Hadits ini menegaskan dua larangan utama. Pertama, tidak boleh berbuat yang merugikan orang lain. Kedua, tidak boleh membalas mudarat dengan mudarat. Dengan kata lain, Islam menutup segala pintu kezaliman. Bahkan, kemudaratan kecil tetap harus dihindari.

Para ulama menjadikan hadits Arbain ke-32 sebagai kaidah fikih besar. Kaidah ini digunakan dalam ibadah, muamalah, dan kebijakan sosial. Oleh sebab itu, banyak hukum Islam lahir untuk mencegah kerusakan. Prinsip ini juga menjadi dasar larangan praktik yang merugikan.

gambar bullying karena umpatan dan pencela ilustrasi hadits arbain ke-32
Ilustrasi menyakiti manusia lain dalam bullying (sumber: freepik)

Contoh Penerapan Hadits dalam Kehidupan

Dalam muamalah, riba dilarang karena merugikan pihak lemah. Dalam lingkungan, merusak alam termasuk perbuatan mudarat. Bahkan, dalam rumah tangga, ucapan yang melukai hati juga tercakup larangan ini. Dengan demikian, hadits Arbain ke-32 sangat aplikatif.

Baca juga: Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Saat ini, bentuk mudarat semakin beragam. Hoaks, perundungan digital, dan eksploitasi ekonomi sering terjadi. Hadits Arbain ke-32 mengingatkan agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Islam tidak menolak kemajuan, tetapi menolak kerusakan.

Hadits Arbain ke-32 mengajarkan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Seorang Muslim dituntut menjaga diri sekaligus orang lain. Intinya, Islam tidak membenarkan manfaat yang dibangun di atas kerugian pihak lain. Dengan memahami hadits ini, kehidupan akan lebih adil dan harmonis.

Hadits Arbain Ke-5 dan Prinsip Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Hadits Arbain Ke-5 dan Prinsip Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Hadits Arbain ke-5 merupakan salah satu hadits penting dalam Islam yang menegaskan prinsip dasar beragama. Hadits ini menjadi pedoman agar seorang Muslim berhati-hati dalam beramal dan beribadah. Melalui hadits ini, Rasulullah mengingatkan bahaya menambahkan sesuatu dalam agama tanpa dasar yang benar.

Bunyi Hadits Arbain Ke-5 dan Maknanya


Hadits Arbain ke-5 diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini termasuk hadits yang disepakati keshahihannya. Oleh karena itu, kedudukannya sangat kuat sebagai landasan dalam memahami ajaran Islam.


Hadits Arbain ke-5 menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna. Segala bentuk ibadah dan amalan harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah. Jika suatu amalan dibuat tanpa landasan syariat, maka amalan tersebut tidak diterima. Prinsip ini menjaga kemurnian ajaran Islam dari penambahan yang menyesatkan.

gambar al quran
Al Qur’an sebagai sumber utama ibadah seorang Muslim

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan kata “urusan kami” yang merujuk pada agama Islam. Artinya, yang dimaksud adalah perkara ibadah dan keyakinan. Adapun urusan duniawi tetap terbuka untuk ijtihad dan inovasi selama tidak melanggar syariat.

Baca juga: Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial

Pentingnya Menghindari Bid’ah dalam Agama


Hadits Arbain ke-5 sering dijadikan dasar pembahasan tentang bid’ah. Bid’ah dalam agama adalah perkara baru yang tidak memiliki dalil. Rasulullah mengingatkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Amalan harus benar dari sisi tuntunan. Dengan demikian, seorang Muslim perlu belajar dan memahami dalil sebelum beramal.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hadits ini mengajarkan kehati-hatian. Setiap ibadah perlu ditimbang berdasarkan contoh Nabi. Jika tidak ada tuntunan, maka sebaiknya ditinggalkan. Sikap ini justru menjaga keikhlasan dan ketulusan dalam beribadah.

Di tengah maraknya tren ibadah dan amalan populer, hadits ini menjadi pengingat penting. Seorang Muslim diajak untuk kembali kepada sumber ajaran yang sahih. Dengan demikian, agama tidak bercampur dengan kebiasaan yang menyesatkan.

Baca juga: Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Selain itu, hadits ini juga mengajarkan sikap tawadhu. Seorang hamba tidak merasa paling benar dengan amalnya. Ia justru memastikan bahwa amal tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Inilah bentuk kecintaan sejati kepada Nabi.

Hadits Arbain ke-5 menegaskan prinsip dasar dalam beragama, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah secara benar. Setiap amalan harus memiliki dasar syariat agar diterima oleh Allah. Dengan memahami hadits ini, umat Islam dapat menjaga kemurnian ibadah dan menghindari kesalahan dalam beragama. Prinsip ini menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan Islam yang lurus dan bertanggung jawab.