Hadits ke-3 Arbain Nawawi: Rukun Islam

Hadits ke-3 Arbain Nawawi: Rukun Islam

Al MuanawiyahHadits ke-3 Arbain Nawawi adalah salah satu hadits paling mendasar dalam ajaran Islam. Hadits ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima pilar utama, yang menjadi fondasi dalam ibadah sekaligus panduan menjalani kehidupan. Bunyi dari hadits tersebut adalah:

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Kelima pilar ini bukan hanya ritual ibadah, tetapi ajaran yang membentuk karakter, moral, dan kepribadian seorang muslim, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Makna Inti Hadits ke-3 Arbain Nawawi

1. Syahadat: Fondasi Tauhid

Syahadat merupakan pernyataan iman yang mengikat hati, lisan, dan perbuatan. Maknanya bukan hanya mengenal Allah, tetapi hidup dengan penuh kesadaran bahwa semua keputusan, tujuan, dan nilai berasal dari tuntunan-Nya.

2. Shalat: Penghubung Hamba dengan Allah

Shalat adalah tiang agama yang menjaga hati tetap hidup. Dengan shalat lima waktu, seorang muslim belajar disiplin, kesabaran, dan kontrol diri. Shalat juga menjadi penjaga dari perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45.

3. Zakat: Membersihkan Harta dan Hati

Zakat mengajarkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi. Ia menjadi solusi ketimpangan sosial dan sarana untuk saling membantu. Spirit zakat membentuk pribadi yang tidak kikir, jujur dalam mengelola harta, dan peka terhadap kebutuhan sesama.

4. Puasa: Melatih Kesabaran dan Kendali Diri

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang melatih ketahanan mental, pengendalian hawa nafsu, dan empati terhadap orang yang kurang mampu. Ibadah ini menjaga kemurnian hati serta menumbuhkan ketenangan batin. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, puasa mengajarkan mindfulness dan kesadaran penuh atas setiap tindakan.

5. Haji: Simbol Persatuan dan Ketundukan Total

Haji merupakan ibadah puncak yang menggambarkan kesetaraan umat manusia. Semua jamaah memakai pakaian yang sama, melakukan ritual yang sama, dan memiliki tujuan yang sama: mendekat kepada Allah. Haji menumbuhkan ketawaduan, rasa syukur, dan komitmen untuk kembali kepada kehidupan yang lebih baik.

gambar haji di kakbah ilustrasi hadits ke-3 arbain nawawi rukun islam
Haji, contoh pelaksanaan hadits ke-3 arbain nawawi (foto; BAZNAS)

Rukun Islam dalam Kehidupan Modern

Menguatkan Identitas Muslim di Era Digital

Di tengah derasnya arus teknologi, hiburan, dan distraksi, rukun Islam menjadi fondasi moral agar seorang muslim tetap berada pada jalur yang benar. Rukun Islam menanamkan nilai:

  • kedisiplinan (shalat),

  • kepedulian sosial (zakat),

  • kesehatan spiritual (puasa),

  • tekad dan ketangguhan (haji),

  • serta komitmen iman (syahadat).

Dengan menghidupkan nilai-nilai ini, seorang muslim mampu menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan arah dan prinsip.

Hikmah Hadits ke-3 Arbain Nawawi

Hadits ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Nilai rukun Islam menyentuh semua aspek: ibadah, sosial, ekonomi, hingga moral. Ketika kelima pilar dijalankan, seseorang akan memiliki karakter yang kokoh, mental yang stabil, dan akhlak yang baik.

Memahami hadits ke-3 Arbain Nawawi merupakan langkah awal. Namun, yang lebih penting adalah menjadikannya panduan dalam keseharian. Mari menjaga shalat, memperbaiki ibadah, menguatkan iman, dan menebar kebaikan melalui zakat, puasa, serta semangat menunaikan haji bila telah mampu.

Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Nikmat waktu adalah anugerah Allah yang sangat besar. Banyak orang tidak menyadari nilainya sampai waktu itu hilang. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu sering disia-siakan tanpa kesadaran. Dengan waktu, seorang muslim mampu belajar, beribadah, bekerja, dan berbuat baik. Setiap detik adalah peluang yang tidak bisa diganti.

Waktu menjadi amanah yang harus dijaga. Ketika seseorang memanfaatkannya dengan baik, hidupnya terasa lebih teratur dan penuh makna. Karena itu, menjaga nikmat waktu sama pentingnya dengan menjaga nikmat iman dan kesehatan.

Mengapa Manusia Sering Lalai Mengelola Waktu?

Manusia sering mengira bahwa umurnya masih panjang. Anggapan ini membuat banyak orang menunda ibadah dan kebaikan. Selain itu, distraksi digital membuat waktu habis tanpa manfaat. Media sosial, tontonan, dan informasi cepat menurunkan fokus dan menambah rasa malas.

gambar anak laki laki sedang main gadget malam hari sambil tidur contoh perilaku menyia-nyiakan nikmat waktu
Contoh perilaku menya-nyiakan nikmat waktu: bermain gadget sampai larut malam (sumber: freepik)

Kesibukan juga tidak selalu berarti produktif. Banyak aktivitas yang menghabiskan tenaga, tetapi tidak membawa nilai ibadah. Islam menekankan kualitas, bukan kuantitas. Waktu yang sedikit namun berkah lebih baik daripada aktivitas panjang yang tidak jelas arah.

Bahaya Menunda Kebaikan bagi Keimanan

Menunda dapat melemahkan semangat ibadah. Allah telah mengingatkan dalam Surat Al Asr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Ayat ini menunjukkan bahwa waktu adalah ujian yang menuntut ketegasan.

Terlambat berbuat baik berarti kehilangan kesempatan. Banyak orang yang ingin kembali ke masa lalu hanya untuk memperbaiki satu kebaikan kecil. Namun, waktu tidak bisa diputar ulang.

Baca juga: Keutamaan Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Cara Memanfaatkan Nikmat Waktu agar Lebih Berkah

Ada langkah sederhana untuk memanfaatkan nikmat waktu. Pertama, luruskan niat sebelum memulai kegiatan. Kedua, buat jadwal harian dengan target realistis. Ketiga, batasi distraksi digital dan gunakan gawai untuk hal bermanfaat.

Biasakan muhasabah setiap malam. Muhasabah membantu seseorang melihat apakah waktunya dipakai untuk kebaikan atau justru terbuang. Kebiasaan refleksi ini membuat hidup lebih terarah dan disiplin.

Baca juga: Adab Membaca Al-Qur’an yang Sering Diabaikan Padahal Penting

Waktu Adalah Investasi Seumur Hidup

Waktu adalah modal terbesar seorang muslim. Setiap detik adalah peluang mendekat kepada Allah. Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, waktu luang sebelum sibuk, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin.”
(HR. Hakim, shahih)

Hadits ini menegaskan bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Karena itu, gunakanlah setiap kesempatan untuk berbuat baik. Mulailah dari hal kecil agar waktu yang Anda miliki menjadi lebih berkah dan bermakna.

Biografi Imam Bukhari dan Fakta Penting Perjalanan Hidupnya

Biografi Imam Bukhari dan Fakta Penting Perjalanan Hidupnya

Al MuanwiyahSejarah Islam mencatat banyak ulama besar dengan kontribusi luar biasa. Biografi Imam Bukhari selalu menempati posisi penting dalam kajian hadis. Beliau lahir pada 13 Syawal 194 H di Bukhara, wilayah yang kini termasuk Uzbekistan. Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim, seorang ahli hadis yang dikenal jujur. Bahkan, beberapa riwayat menyebut ayahnya pernah berguru kepada Imam Malik.

Masa Kecil yang Penuh Ujian namun Berbuah Keistimewaan

Pada masa kecil, Imam Bukhari mengalami kebutaan. Namun, penglihatan beliau pulih setelah ibunya berdoa setiap malam. Fakta ini tercatat dalam beberapa karya sejarah seperti Tarikh Baghdad. Setelah penglihatan kembali, bakat hafalan beliau berkembang sangat cepat. Bahkan, pada usia sepuluh tahun, beliau telah menghafal banyak hadis bersama sanadnya.

Selain itu, beliau dikenal tekun sejak kecil. Ayahnya wafat saat beliau masih muda. Namun, warisan yang halal membuat tumbuhnya karakter ilmiah yang kuat. Keadaan itu memungkinkan beliau fokus pada ilmu tanpa beban ekonomi.

gambar baghdad ibu kota irak di zaman lalu
Potret kota Baghdad (sumber: www.britannica.com)

Perjalanan Menuntut Ilmu yang Sangat Luas

Setelah mencapai usia remaja, Imam Bukhari melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai kota besar. Contohnya, Baghdad, Basrah, Mekah, Madinah, Mesir, dan Damaskus. Bahkan, beliau belajar kepada lebih dari seribu guru hadis. Fakta ini tercatat dalam karya beliau Al-Tarikh al-Kabir.

Dalam perjalanan itu, beliau bertemu banyak ahli hadis terkemuka. Beberapa di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal dan Ali ibn al-Madini. Kedua tokoh tersebut memuji kejeniusan Imam Bukhari. Ali ibn al-Madini bahkan mengatakan bahwa dunia belum melihat orang seperti beliau.

Baca juga: Qiroat Sab’ah dan Ragam Tradisi Bacaan Al-Qur’an

Metode Ilmiah yang Sangat Ketat

Imam Bukhari dikenal memiliki metode verifikasi hadis yang sangat teliti. Intinya, beliau mensyaratkan pertemuan langsung antara perawi. Selain itu, beliau meneliti karakter setiap perawi melalui riwayat hidupnya. Fakta ini menjadi dasar kekuatan kitab Shahih Bukhari.

Beliau juga menulis beberapa karya lain. Contohnya, Adab al-Mufrad, Al-Tarikh al-Awsath, dan Al-Tarikh al-Saghir. Meskipun demikian, karya terbesar beliau tetap kitab hadis sahih yang terkenal sampai kini.

Baca juga: Kisah Ibnu Hajar al Asqalani Penulis Bulughul Maram

Akhir Perjalanan Hidup Imam Bukhari

Imam Bukhari wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. Beliau dimakamkan di tanah Khartank, dekat Samarkand. Hingga sekarang, makam beliau dikunjungi banyak peneliti dan peziarah. Bahkan, banyak lembaga pendidikan menjadikan biografi Imam Bukhari sebagai materi awal kajian hadits.

Warisan keilmuan beliau sangat berpengaruh pada dunia Islam. Banyak pesantren menjadikan karya beliau sebagai rujukan utama. Bahkan, beberapa lembaga internasional menempatkan metode beliau sebagai dasar penelitian hadis. Kesimpulannya, biografi Imam Bukhari memberikan gambaran tentang ketekunan, disiplin, dan kejujuran seorang ulama besar.

Kitab Shahih Bukhari dan Keistimewaan Riwayatnya

Kitab Shahih Bukhari dan Keistimewaan Riwayatnya

Dalam sejarah Islam, terdapat banyak karya penting yang menjadi rujukan umat. Kitab shahih bukhari termasuk karya yang paling banyak diteliti para ulama. Bahkan, banyak akademisi menjadikannya sumber paling otoritatif setelah Al-Qur’an. Hal ini muncul karena metode penyusunannya sangat ketat. Bahkan lebih jauh, proses verifikasi matan dan sanad dilakukan dengan standar ilmiah yang jarang ditemukan pada masa itu.

Fakta Penyusunan yang Sangat Selektif

Imam Bukhari melakukan perjalanan selama enam belas tahun untuk mengumpulkan hadis. Ia menyeleksi lebih dari enam ratus ribu hadis dari berbagai kota. Selain itu, setiap hadis diuji melalui pertemuan rawi yang benar. Ia juga memastikan tidak ada cacat tersembunyi dalam sanad. Metode ini kemudian menjadi standar emas dalam ilmu hadis.

Diantaranya, Imam Bukhari menggunakan syarat ittisal al-sanad yang sangat ketat. Syarat ini memastikan rawi benar-benar bertemu dengan gurunya. Para ahli menilai syarat tersebut sebagai metode paling kuat pada zamannya. Bahkan hingga kini, sistem verifikasi hadisnya masih dipelajari di berbagai lembaga.

kitab shahih bukhari
Kitab shahih bukhari (sumber: muslim.or.id)

Struktur dan Kandungan Kitab

Karya besar ini berisi tujuh ribu lebih hadis dengan pengulangan. Intinya, setiap hadis ditempatkan berdasarkan tema fikih dan akhlak. Sementara itu, penyusunan bab dilakukan dengan gaya yang padat dan sistematis. Banyak sarjana menyebut gaya penataan ini sebagai gaya ringkas namun tajam.

Beberapa bab membahas iman, ilmu, ibadah, muamalah, hingga adab sehari-hari. Faktanya, setiap bab diawali judul yang mengandung isyarat hukum. Metode itu membuat para peneliti dapat memahami maksud Imam Bukhari secara lebih mendalam.

Pengaruh Besar bagi Dunia Islam

Kitab ini memengaruhi perkembangan madrasah hadis di berbagai wilayah. Bahkan hingga kini, banyak pesantren menjadikan kitab shahih bukhari sebagai rujukan utama. Hal itu terjadi karena otoritasnya sudah diakui secara luas. Kesimpulannya, karya monumental ini terus dijadikan standar dalam menilai kesahihan hadis. Pembahasan lengkap (syarah) kitab tersebut telah dibukukan menjadi Kitab Fathul Bari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani

Relevansinya bagi Pembelajar Masa Kini

Pada saat ini, banyak lembaga tahfidz dan perguruan tinggi membuka kajian khusus hadis. Bahkan, beberapa kajian tematik memakai kitab shahih bukhari sebagai referensi dasar. Selain itu, generasi muda juga mulai mengenal metode kritis yang diperkenalkan Imam Bukhari. Dengan demikian, tradisi keilmuan Islam tetap terjaga secara konsisten.

Dalam banyak tradisi pesantren, kajian hadis menjadi pijakan kuat pembentukan karakter santri. Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang, pembelajaran berlangsung dengan pendekatan yang terarah dan penuh ketelatenan. Jika Anda ingin putra-putri memahami ilmu agama secara lebih mendalam, maka memulai perjalanan mereka melalui lingkungan yang kondusif akan sangat membantu. Silakan jelajahi informasi pendaftaran Al Muanawiyah dan temukan ruang tumbuh yang sesuai untuk generasi pembelajar Qur’ani.

Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi

Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi

Al MuanawiyahDalam setiap amal yang dilakukan oleh seorang Muslim, niat memiliki peran yang sangat penting. Niat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan tekad dan tujuan dalam hati yang menentukan nilai suatu amal di sisi Allah. Salah satu hadits paling terkenal tentang hal ini adalah hadits niat, yang menjadi pembuka dalam kumpulan Hadits Arbain An-Nawawi.

Hadits Arbain Pertama: “Sesungguhnya Segala Amal Bergantung pada Niat”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Innamal a‘mālu binniyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā.”
“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ra., dan menjadi hadits pertama dalam kumpulan Hadits Arbain karya Imam Nawawi. Para ulama menilai hadits ini sebagai salah satu pokok ajaran Islam, karena keikhlasan niat menjadi penentu diterima atau tidaknya amal seseorang.

 

Makna Hadits Niat

Hadits niat mengandung pesan mendalam bahwa niat adalah pembeda antara ibadah dan kebiasaan biasa. Misalnya, seseorang yang bangun pagi bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk shalat Subuh atau mencari rezeki halal. Namun, jika tanpa niat ibadah, maka perbuatan itu hanya rutinitas duniawi.

Imam Syafi’i rahimahullah bahkan berkata bahwa hadits niat mencakup sepertiga ilmu Islam, karena amal dalam Islam bergantung pada tiga hal: hati (niat), lisan, dan perbuatan. Maka, tanpa niat yang benar, amal tidak memiliki nilai di sisi Allah.

gambar matahari terbit waktu subuh dengan siluet menara masjid
Ilustrasi Subuh, waktu manusia memulai kesibukan dengan niat yang sesuai (sumber: freepik)

Pentingnya Menjaga Niat dalam Kehidupan

Menjaga niat bukan hanya saat memulai ibadah, tetapi juga selama melakukannya. Kadang seseorang memulai dengan niat yang ikhlas, namun di tengah jalan muncul keinginan dipuji atau dikenal.
Oleh karena itu, para ulama menekankan agar seorang Muslim senantiasa memperbarui niatnya. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa syirik kecil, yaitu riya’ (pamer amal), bisa menghapus nilai kebaikan seseorang tanpa disadari.

Tips menjaga niat:

  1. Luruskan tujuan setiap amal hanya untuk mengharap ridha Allah.

  2. Perbanyak doa, agar hati dijauhkan dari riya’ dan ujub.

  3. Renungkan keutamaan ikhlas, karena Allah hanya menerima amal dari hati yang bersih.

  4. Perbaharui niat setiap kali merasa tergoda oleh pujian atau ambisi duniawi.

Baca juga: 5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Relevansi Hadits Niat di Dunia Modern

Dalam kehidupan modern, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas dakwah, belajar, atau bahkan berbagi di media sosial bisa menjadi ladang pahala, namun juga bisa kehilangan nilai jika tujuannya berubah menjadi pencitraan.

Hadits ke-1 Arbain Nawawi ini mengingatkan bahwa keberkahan amal tidak diukur dari besarnya pengaruh, tetapi dari keikhlasan di baliknya. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengingat kembali pesan Rasulullah ﷺ bahwa segala amal harus dimulai dengan niat yang benar.

Hadits niat mengajarkan bahwa kunci utama amal adalah keikhlasan. Tanpa niat yang benar, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilai di sisi Allah. Maka, marilah kita menjaga niat dalam setiap langkah — baik dalam ibadah, belajar, maupun bekerja.

Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam hadits pertama Arbain Nawawi, “Segala amal tergantung pada niatnya.” Semoga setiap amal kita menjadi sarana meraih ridha-Nya.

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, ilmu menjadi fondasi utama bagi amal dan akhlak. Banyak sekali dalil yang menegaskan betapa tinggi kedudukan orang berilmu di sisi Allah. Rasulullah ﷺ pun dalam banyak hadits menegaskan pentingnya menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Berikut ini lima hadits menuntut ilmu paling shahih beserta maknanya yang bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi setiap muslim.

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih Beserta Penjelasannya

1. Hadits tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadits menuntut ilmu shahih yang pertama adalah sabda Rasulullah yang menjadi dasar utama kewajiban menuntut ilmu bagi seluruh umat Islam. Ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga mencakup pengetahuan yang membantu seseorang melaksanakan kewajiban agamanya. Misalnya, ilmu membaca Al-Qur’an, fikih ibadah, hingga pengetahuan dunia yang bermanfaat seperti sains atau teknologi, selama digunakan untuk kemaslahatan umat.

Kata “setiap muslim” dalam hadits ini menunjukkan sifat umum, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, atau status sosial. Islam mendorong semua orang untuk terus belajar sepanjang hayat, karena semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin mudah pula seseorang mengenal Allah dan menjalankan ajaran-Nya dengan benar.

Baca juga: 4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

2. Hadits tentang Jalan Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim No. 2699)

Hadits menuntut ilmu yang shahih selanjutnya mengandung makna yang dalam. Jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu tidak selalu mudah. Sering kali penuh pengorbanan, waktu, tenaga, bahkan biaya. Namun, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap langkah menuju ilmu adalah bagian dari jalan menuju surga.

Makna “memudahkan jalan ke surga” bukan berarti orang berilmu otomatis masuk surga, tetapi bahwa ilmu yang ia pelajari akan membimbingnya untuk melakukan amal yang benar. Ilmu menuntun seseorang untuk membedakan yang halal dan haram, yang benar dan yang batil. Karena itu, semakin dalam ilmunya, semakin besar peluang seseorang untuk istiqamah di jalan kebenaran.

gambar beberap aorang berhijab sedang belajar Al Quran
Iliustrasi keutamaan menuntut ilmu (sumber: freepik)

3. Hadits tentang Keutamaan Orang Berilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”
(HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  no. 3641)

Perumpamaan yang digunakan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini menunjukkan betapa agung kedudukan orang berilmu. Bulan memberikan cahaya yang menenangkan dan menerangi kegelapan malam, sementara bintang hanya berkilau kecil. Begitulah peran orang berilmu — mereka tidak hanya beribadah untuk diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat dan petunjuk bagi orang lain.

Ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu mungkin tekun beribadah, tetapi bisa saja tersesat karena tidak memahami tuntunan yang benar. Sebaliknya, orang berilmu tahu cara beribadah dengan benar dan dapat mengajarkan ilmunya, sehingga manfaatnya jauh lebih luas.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

4. Hadits tentang Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadits ini menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Ilmu yang disebarkan dan diamalkan orang lain akan terus mengalir pahalanya, meskipun sang pengajar telah meninggal dunia.

Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya berbagi ilmu. Setiap guru, pendakwah, atau siapa pun yang mengajarkan kebaikan, sejatinya sedang menanam pahala jangka panjang. Bahkan, mengajarkan hal kecil seperti doa harian atau cara shalat yang benar pun termasuk bagian dari ilmu bermanfaat.

5. Hadits Menunjuki kepada Kebaikan

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

Hadits ini menekankan pentingnya dakwah dan mengarahkan orang lain ke jalan kebaikan. Tidak hanya amal yang dilakukan sendiri yang bernilai pahala, tetapi juga memberi petunjuk kepada orang lain untuk berbuat baik akan mendapat pahala serupa.

Maknanya luas, bisa mencakup:

  • Memberi nasihat yang benar, misalnya tentang ibadah atau akhlak.

  • Mengajarkan ilmu bermanfaat agar orang lain bisa mengamalkannya.

  • Membimbing orang agar menjauhi perbuatan dosa.

Dengan kata lain, hadits ini menunjukkan bahwa menyebarkan kebaikan atau ilmu yang bermanfaat memiliki nilai pahala yang berkelanjutan. Orang yang memberi petunjuk tidak kehilangan pahala meskipun orang yang dibimbing melakukan amalnya sendiri, karena niat dan usaha memberi petunjuk itu sendiri dihitung sebagai amal saleh di sisi Allah.

Dari kelima hadits menuntut ilmu shahih tersebut, jelas bahwa menuntut ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup. Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia dari kebodohan menuju petunjuk Allah. Oleh karena itu, semangat menuntut ilmu harus terus dijaga sepanjang hayat, agar kehidupan dunia dan akhirat menjadi lebih bermakna.