Arti Rububiyah: Allah Sebagai Penguasa Tunggal Alam Semesta

Arti Rububiyah: Allah Sebagai Penguasa Tunggal Alam Semesta

Memahami arti rububiyah merupakan langkah awal bagi setiap Muslim untuk memperkuat pondasi keimanannya. Tauhid rububiyah adalah bentuk pengakuan tulus bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Zat yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan memberikan rezeki kepada seluruh makhluk. Tanpa pemahaman yang benar mengenai konsep ini, seseorang akan sulit meraih ketenangan batin karena ia akan selalu merasa cemas terhadap jaminan hidup dan masa depannya.

Lantas, apa saja cakupan utama dari tauhid ini dalam kehidupan kita? Berikut adalah penjelasan rincinya.

Tiga Pilar Utama dalam Makna Rububiyah

Para ulama menjelaskan bahwa makna rububiyah mencakup tiga keyakinan mendasar yang tidak boleh terbagi kepada selain Allah:

  1. Al-Khalq (Menciptakan): Kita meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Tidak ada satu pun atom di alam semesta ini yang muncul tanpa kehendak-Nya.

  2. Al-Mulk (Memiliki): Seluruh apa yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah secara mutlak. Manusia hanya mendapatkan titipan sementara yang kelak akan kembali kepada Sang Pemilik.

  3. At-Tadbir (Mengatur): Allah mengatur peredaran tata surya, pergantian siang dan malam, hingga rincian rezeki setiap makhluk hidup. Tak ada satu pun daun yang gugur tanpa seizin dan pengetahuan-Nya.

gambar pria Muslim sujud shalat ilustrasi arti rububiyah
Ilustrasi pemaknaan arti rububiyah dalam shalat (sumber: pinterest)

Dalil Al-Qur’an Mengenai Rububiyah

Al-Qur’an berulang kali menegaskan arti rububiyah agar manusia senantiasa sadar akan kebesaran Tuhan-Nya. Salah satu dalil yang paling masyhur terdapat dalam surat Al-A’raf:

اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raf: 54)

Ayat ini mempertegas bahwa hak untuk menciptakan (Al-Khalq) dan hak untuk mengatur urusan makhluk (Al-Amr) sepenuhnya berada di tangan Allah. Selain itu, pembukaan surat Al-Fatihah dengan kalimat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin juga menjadi pengingat harian kita bahwa Allah adalah Rabb (Tuhan, Pemilik, Pengatur) semesta alam.

Baca juga: Tafsir Al-An’am 162: Hakikat Penyerahan Diri Total kepada Allah

Pengaruh Memahami Rububiyah terhadap Mental Manusia

Mengapa kita perlu mendalami makna rububiyah? Karena keyakinan ini memberikan dampak psikologis yang sangat besar:

  • Mengurangi Khawatir: Saat kita yakin Allah adalah pemberi rezeki tunggal, kita tidak akan merasa takut akan kemiskinan atau persaingan hidup yang tidak sehat.

  • Menumbuhkan Sifat Tawakal: Mengetahui bahwa Allah mengatur segala urusan membuat kita lebih tenang setelah berusaha maksimal. Kita percaya bahwa hasil akhirnya adalah yang terbaik menurut ilmu-Nya.

  • Menjauhkan Sifat Sombong: Sadar bahwa semua fasilitas hidup hanyalah milik Allah membuat manusia tidak memiliki celah untuk merasa bangga diri atau sombong atas pencapaiannya.

Secara keseluruhan, arti rububiyah mengajak kita untuk mengembalikan segala urusan kepada Allah SWT. Pengakuan terhadap kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam semesta adalah kunci untuk meraih kemerdekaan jiwa. Dengan memurnikan tauhid rububiyah, kita tidak lagi menjadi budak dunia, melainkan menjadi hamba yang merdeka karena hanya bersandar pada Sang Khalik yang Maha Kuasa.

Sejarah Keilmuan Imam Syafi’i dan Madzhab Mayoritas Indonesia

Sejarah Keilmuan Imam Syafi’i dan Madzhab Mayoritas Indonesia

Sejarah keilmuan Imam Syafi’i bermula dari keteguhan seorang yatim di kota Mekkah yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Pemilik nama asli Muhammad bin Idris asy-Syafi’i ini tumbuh besar dalam keterbatasan ekonomi. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun. Perjalanan intelektual beliau kemudian membentuk pondasi hukum Islam yang kita kenal sebagai Madzhab Syafi’i, rujukan utama mayoritas umat Muslim di Indonesia hingga hari ini.

Bagaimana seorang ulama dari tanah Hijaz bisa mempengaruhi tatanan syariat di nusantara? Berikut adalah rekam jejak perjalanan keilmuan beliau.

Sang Jembatan Antara Logika dan Hadits

Sebelum kemunculan Imam Syafi’i, dunia Islam terbelah menjadi dua arus besar dalam menetapkan hukum: Ahlu Hadits di Madinah yang sangat tekstual, dan Ahlu Ra’yi di Irak yang banyak menggunakan logika.

Baca juga: Sejarah Baghdad Kota Seribu Ilmu yang Mengubah Wajah Dunia

Imam Syafi’i hadir sebagai penengah yang jenius. Beliau menimba ilmu langsung dari Imam Malik, guru besar hadits di Madinah. Kemudian merantau ke Irak untuk membedah pemikiran murid-murid Imam Abu Hanifah. Melalui kitab monumentalnya, Ar-Risalah, beliau merumuskan ilmu Ushul Fiqih untuk pertama kalinya. Langkah ini memberikan panduan sistematis bagi umat Islam dalam mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah secara seimbang.

ga,bar kitab fiqh berjudul ar risalah karya Imam Syafi'i
Kitab Ar Risalah, peninggalan keilmuan Imam Syfai’i (sumber: nadirhosen.net)

Pengaruh Madzhab Syafi’i Menembus Nusantara

Penyebaran Madzhab Syafi’i hingga menjadi arus utama di Indonesia bukan terjadi secara kebetulan. Para pedagang dan ulama dari wilayah Hadramaut (Yaman) serta para sarjana muslim yang belajar di Makkah membawa pemikiran ini ke tanah air.

Karakter Madzhab Syafi’i yang moderat (tawasuth) dan sangat menghargai tradisi selama tidak bertentangan dengan syariat, sangat cocok dengan budaya masyarakat Indonesia. Itulah mengapa, kurikulum pendidikan di berbagai pesantren, termasuk pondok pesantren di Jombang, hampir seluruhnya menggunakan kitab-kitab bermadzhab Syafi’i sebagai standar dasar dalam beribadah.

Melestarikan Warisan Imam Syafi’i di Jombang

Hingga detik ini, pesantren-pesantren di Jombang tetap menjadi benteng pertahanan keilmuan Imam Syafi’i. Para santri mengkaji kitab-kitab seperti Safinatun Najah, Fathul Qarib, hingga Minhajut Thalibin untuk memahami detail syariat.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Meneladani sejarah keilmuan Imam Syafi’i berarti mengajarkan santri untuk memiliki pemikiran yang luas namun tetap patuh pada dalil yang shahih. Di kota santri ini, tradisi menghafal teks (tahfidz) dan memahami konteks (fiqih) berjalan beriringan, sebagaimana Imam Syafi’i muda yang menguasai Al-Qur’an sebelum membedah hukum-hukum agama.

Imam Syafi’i bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan arsitek hukum yang menyatukan hati umat melalui ilmu. Memahami sejarah beliau membantu kita menghargai betapa dalamnya pondasi ibadah yang kita jalankan sehari-hari di Indonesia.

Larangan Mubazir untuk Mencegah Krisis Air dalam Islam

Larangan Mubazir untuk Mencegah Krisis Air dalam Islam

Memasuki tahun 2026, isu krisis air bersih menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak wilayah di Indonesia, terutama di daerah terdampak bencana banjir Sumatera. Perubahan iklim yang ekstrem menyebabkan sumber mata air menyusut, sementara kebutuhan domestik terus meningkat. Di tengah ancaman kekeringan ini, Islam sebenarnya telah memberikan panduan hidup yang sangat relevan melalui konsep larangan mubazir.

Bagaimana kaitan antara iman kita dengan cara kita memperlakukan setiap tetes air? Mari kita bedah perspektif Islam dalam menghadapi krisis lingkungan ini.

Laporan lingkungan terbaru menunjukkan bahwa ketersediaan air per kapita terus menurun. Jika pola konsumsi kita tidak berubah, air bersih bisa menjadi barang mewah di masa depan. Islam memandang alam, termasuk air, sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, bukan sekadar komoditas untuk dihabiskan.

Larangan Mubazir: Bukan Sekadar Soal Makanan

Banyak dari kita memahami larangan mubazir hanya terbatas pada sisa makanan. Padahal, Allah SWT berfirman secara tegas dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan…” (QS. Al-Isra: 26-27).

Dalam konteks saat ini, membiarkan keran mengalir sia-sia atau menggunakan air secara berlebihan saat mandi adalah bentuk nyata dari perilaku tabzir (pemborosan) yang sangat dibenci agama.

Baca juga: Makna Surat Al Maidah Ayat 6 dalam Fiqh Thaharah

gambar tangan mengambil air ilustrasi tata cara wudhu saat krisis air dan larangan mubadzir
Ilustrasi wudhu dan larangan mubadzir (sumber: freepik)

Belajar dari Sunnah Nabi: Wudhu Hanya dengan Satu Mud

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam pelestarian lingkungan (Eco-Islam). Beliau sangat menekankan tata cara wudhu yang efisiensi air, bahkan untuk keperluan ibadah sekalipun.

Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mandi hanya dengan satu sha’ air (sekitar 2,5-3 liter) dan berwudhu hanya dengan satu mud air (sekitar 0,6 liter atau setara dua cakupan tangan).

Tips Wudhu Hemat Air di Masa Krisis:

  1. Jangan Membuka Keran Terlalu Deras: Kecilkan aliran air hingga hanya cukup untuk membasahi anggota wudhu.

  2. Gunakan Wadah: Menggunakan gayung atau gelas untuk wudhu jauh lebih hemat daripada air yang mengalir terus-menerus.

  3. Matikan Saat Membasuh: Jangan biarkan air mengalir saat Anda sedang menggosok anggota tubuh atau menyela jari-jari.

Fikih Ekologi: Menjaga Air Sebagai Ibadah

Menjaga kelestarian air kini bukan sekadar urusan aktivis lingkungan, melainkan bagian dari Fikih Ekologi (Fiqh al-Bi’ah). Hemat air adalah bentuk syukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, menyia-nyiakannya saat krisis melanda bisa dikategorikan sebagai tindakan zalim terhadap sesama makhluk hidup yang membutuhkan.

Krisis air  adalah pengingat bagi kita untuk kembali ke gaya hidup yang bersahaja. Dengan menerapkan larangan mubazir dan mengikuti sunnah Nabi dalam menggunakan air, kita tidak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga menjalankan perintah agama secara kaffah.

Mari mulai berhemat dari sekarang. Setiap tetes air adalah kehidupan. Bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman Anda untuk menyebarkan kesadaran ini!

Jabal Thariq, Gerbang Awal Islam di Eropa

Jabal Thariq, Gerbang Awal Islam di Eropa

Jabal Thariq adalah sebuah tanjung batu kapur yang terletak di ujung selatan Semenanjung Iberia. Lokasinya berada di selat sempit yang memisahkan Afrika Utara dan Eropa. Dalam bahasa Arab, wilayah ini dikenal sebagai Jabal Thariq, yang berarti Gunung Thariq.

Nama tersebut merujuk pada Thariq bin Ziyad, seorang panglima Muslim dari Dinasti Umayyah. Fakta ini dicatat dalam berbagai sumber sejarah Islam klasik. Di antaranya karya Ibnu Katsir dan Ath-Thabari.

Letak Geografis Jabal Thariq

Secara geografis, Jabal Thariq berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Gibraltar. Wilayah ini menghadap langsung ke Maroko di Afrika Utara. Jarak terdekat antara dua benua hanya sekitar 14 kilometer.

gunung jabal thariq di gibraltar
Jabal Thariq (sumber: asmadiyussuf.blogspot.com)

Karena letaknya strategis, kawasan ini sejak lama menjadi jalur pelayaran penting. Bangsa Fenisia, Romawi, dan Bizantium pernah memanfaatkan kawasan tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat lebih dahulu mengenal wilayah ini sebelum kedatangan Islam.

Peristiwa Penting di Jabal Thariq

Peristiwa paling penting terjadi pada tahun 92 Hijriah atau 711 Masehi. Pada tahun tersebut, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat dari Afrika Utara. Ia memimpin sekitar 7.000 pasukan Muslim. Pasukan ini mendarat di kaki Gunung Thariq. Peristiwa ini menjadi awal ekspedisi militer Islam ke Andalusia. Catatan sejarah menyebutkan bahwa wilayah tersebut saat itu berada di bawah kekuasaan Visigoth.

Beberapa bulan setelah pendaratan, pasukan Thariq menghadapi Raja Roderic. Pertempuran besar terjadi di dekat Sungai Guadalete. Hasilnya, pasukan Visigoth mengalami kekalahan signifikan.

Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah Islam

Tokoh utama yang terkait langsung adalah Thariq bin Ziyad. Ia merupakan panglima di bawah komando Musa bin Nushair. Musa bin Nushair sendiri adalah gubernur wilayah Afrika Utara saat itu.

Setelah kemenangan awal, Musa bin Nushair menyusul ke Andalusia. Kemudian, kedua tokoh ini melanjutkan ekspansi ke berbagai kota penting. Di antaranya Cordoba, Toledo, dan Sevilla.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa penaklukan ini berlangsung bertahap. Prosesnya memakan waktu beberapa tahun. Tidak semua wilayah ditaklukkan dengan peperangan.

Kondisi Gibraltar Saat Ini

Saat ini, masyarakat bisa menyebut Jabal Thariq sebagai Gibraltar. Wilayah tersebut berada di bawah administrasi Inggris, setelah pemerintah menetapkan sejak awal abad ke-18.

Namun demikian, kita masih dapat mengenang jejak sejarah Islam melalui nama dan literatur sejarah. Thariq bin Ziyad pernah melalui sebuah selat, yang kini terkenal  sebagai Selat Gibraltar. Nama ini merupakan adaptasi dari Jabal Thariq.

Secara keseluruhan, wilayah ini memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Wilayah ini menjadi titik awal masuknya Islam ke Eropa Barat. Fakta-fakta sejarah tersebut tercatat dalam berbagai sumber klasik dan modern.

Doa Keluar Rumah dan Hikmahnya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Doa Keluar Rumah dan Hikmahnya dalam Kehidupan Sehari-Hari

Al Muanawiyah – Keluar rumah sering dianggap rutinitas biasa. Namun, umat Muslim diajarkan untuk menjadikannya momen penuh keberkahan. Doa keluar rumah menjadi pengingat agar setiap langkah berada dalam lindungan Allah. Intinya, aktivitas sederhana dapat berubah menjadi ibadah bila dilakukan dengan niat yang tepat. Selain itu, doa ini membantu seseorang menjaga sikap selama berinteraksi dengan banyak orang.

Biasanya seseorang terburu-buru saat akan pergi. Namun, Islam mengajarkan ketenangan melalui adab dan doa. Bahkan, setiap adab mencerminkan keyakinan kepada Allah. Karena itu, membaca doa memberikan ketenteraman hati. Selain itu, doa ini menguatkan prinsip tawakal. Ringkasnya, seseorang menyerahkan hasil setiap usaha kepada Allah. Di samping itu, doa ini mengingatkan bahwa manusia hanya berencana, sedangkan Allah menentukan.

Baca juga: Doa Masuk Rumah, Keutamaan, dan Adabnya

Lafaz Doa yang Dianjurkan

Berikut doa yang dicontohkan Rasulullah SAW:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ الا بالله

Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh

Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”


Doa ini mudah dihafal. Selain itu, lafaznya singkat. Karena itu, anak-anak dan remaja pun bisa mengamalkannya sejak dini. Bahkan, banyak orang tua yang mengajarkannya sebagai bagian dari pendidikan akhlak. Dengan begitu, nilai spiritual terbentuk secara alami.

pintu terbuka ilustrasi doa keluar rumah
Ilustrasi doa keluar rumah (foto: freepik)

Hikmah Mengamalkan Doa Keluar Rumah

Adakalanya seseorang menghadapi situasi sulit di luar rumah. Bahkan, kejadian tak terduga sering muncul tanpa disangka. Namun, doa keluar rumah memberikan kekuatan mental. Biasanya seseorang merasa lebih tenang setelah membacanya. Selain itu, doa ini mengajarkan kesadaran diri bahwa Allah selalu mengawasi. Maka dari itu, seseorang terdorong untuk menjaga akhlak selama beraktivitas. Hasilnya, interaksi sosial menjadi lebih baik.

Baca juga: Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?

Dalam keluarga Muslim, pendidikan spiritual sangat penting. Oleh karena itu, orang tua perlu membiasakan anak membaca doa sejak kecil. Bahkan, kebiasaan ini menjadi pondasi karakter Islami. Selain itu, anak lebih siap menghadapi tantangan di luar rumah. Dengan begitu, nilai kebaikan tertanam sejak usia dini.

Doa keluar rumah bukan sekadar bacaan pendek. Melainkan bekal spiritual yang menjaga langkah seseorang sepanjang hari. Karena itu, umat Muslim dianjurkan mengamalkannya secara konsisten. Alhasil, keberkahan hadir dalam setiap aktivitas.

Hadits ke-3 Arbain Nawawi: Rukun Islam

Hadits ke-3 Arbain Nawawi: Rukun Islam

Al MuanawiyahHadits ke-3 Arbain Nawawi adalah salah satu hadits paling mendasar dalam ajaran Islam. Hadits ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas lima pilar utama, yang menjadi fondasi dalam ibadah sekaligus panduan menjalani kehidupan. Bunyi dari hadits tersebut adalah:

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitullah bagi yang mampu.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Kelima pilar ini bukan hanya ritual ibadah, tetapi ajaran yang membentuk karakter, moral, dan kepribadian seorang muslim, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Makna Inti Hadits ke-3 Arbain Nawawi

1. Syahadat: Fondasi Tauhid

Syahadat merupakan pernyataan iman yang mengikat hati, lisan, dan perbuatan. Maknanya bukan hanya mengenal Allah, tetapi hidup dengan penuh kesadaran bahwa semua keputusan, tujuan, dan nilai berasal dari tuntunan-Nya.

2. Shalat: Penghubung Hamba dengan Allah

Shalat adalah tiang agama yang menjaga hati tetap hidup. Dengan shalat lima waktu, seorang muslim belajar disiplin, kesabaran, dan kontrol diri. Shalat juga menjadi penjaga dari perbuatan buruk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45.

3. Zakat: Membersihkan Harta dan Hati

Zakat mengajarkan kepedulian sosial dan keadilan ekonomi. Ia menjadi solusi ketimpangan sosial dan sarana untuk saling membantu. Spirit zakat membentuk pribadi yang tidak kikir, jujur dalam mengelola harta, dan peka terhadap kebutuhan sesama.

4. Puasa: Melatih Kesabaran dan Kendali Diri

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang melatih ketahanan mental, pengendalian hawa nafsu, dan empati terhadap orang yang kurang mampu. Ibadah ini menjaga kemurnian hati serta menumbuhkan ketenangan batin. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, puasa mengajarkan mindfulness dan kesadaran penuh atas setiap tindakan.

5. Haji: Simbol Persatuan dan Ketundukan Total

Haji merupakan ibadah puncak yang menggambarkan kesetaraan umat manusia. Semua jamaah memakai pakaian yang sama, melakukan ritual yang sama, dan memiliki tujuan yang sama: mendekat kepada Allah. Haji menumbuhkan ketawaduan, rasa syukur, dan komitmen untuk kembali kepada kehidupan yang lebih baik.

gambar haji di kakbah ilustrasi hadits ke-3 arbain nawawi rukun islam
Haji, contoh pelaksanaan hadits ke-3 arbain nawawi (foto; BAZNAS)

Rukun Islam dalam Kehidupan Modern

Menguatkan Identitas Muslim di Era Digital

Di tengah derasnya arus teknologi, hiburan, dan distraksi, rukun Islam menjadi fondasi moral agar seorang muslim tetap berada pada jalur yang benar. Rukun Islam menanamkan nilai:

  • kedisiplinan (shalat),

  • kepedulian sosial (zakat),

  • kesehatan spiritual (puasa),

  • tekad dan ketangguhan (haji),

  • serta komitmen iman (syahadat).

Dengan menghidupkan nilai-nilai ini, seorang muslim mampu menjalani kehidupan modern tanpa kehilangan arah dan prinsip.

Hikmah Hadits ke-3 Arbain Nawawi

Hadits ini mengajarkan bahwa agama tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Nilai rukun Islam menyentuh semua aspek: ibadah, sosial, ekonomi, hingga moral. Ketika kelima pilar dijalankan, seseorang akan memiliki karakter yang kokoh, mental yang stabil, dan akhlak yang baik.

Memahami hadits ke-3 Arbain Nawawi merupakan langkah awal. Namun, yang lebih penting adalah menjadikannya panduan dalam keseharian. Mari menjaga shalat, memperbaiki ibadah, menguatkan iman, dan menebar kebaikan melalui zakat, puasa, serta semangat menunaikan haji bila telah mampu.

Shalawat Nariyah: Sejarah, Keutamaan, dan Anjuran Membacanya

Shalawat Nariyah: Sejarah, Keutamaan, dan Anjuran Membacanya

Umat Islam sejak lama mengenal shalawat nariyah sebagai salah satu amalan yang membawa ketenangan batin. Lafadznya berbunyi:

ٱللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٱلَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ ٱلْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ ٱلْكُرَبُ وَتُقْضَىٰ بِهِ ٱلْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ ٱلرَّغَائِبُ وَحُسْنُ ٱلْخَوَاتِيمِ، وَيُسْتَسْقَىٰ ٱلْغَمَامُ بِوَجْهِهِ ٱلْكَرِيمِ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau,”. (jabar.nu.or.id)

Maknanya menunjukkan harapan seorang hamba agar keberkahan Nabi Muhammad ﷺ menjadi sebab hilangnya kesulitan, tercapainya hajat, serta datangnya rahmat. Intinya, bacaan ini menghubungkan hati dengan ketenangan ilahi.

lafadz shalawat nariyah
Lafadz Shalawat Nariyah

Sejarah Perkembangan Shalawat Nariyah di Nusantara

Walau tidak tercatat dalam kitab hadis sebagai teks khusus yang memiliki dalil spesifik, shalawat nariyah dikenal luas di dunia tasawuf. Ulama seperti Imam al-Qurthubi disebut-sebut pernah meriwayatkan penyebutan jenis shalawat yang maknanya serupa. Selain itu, nama “Nariyah” diyakini berasal dari kata “al-nār”, yang diibaratkan sebagai “api semangat” dalam menghadapi kesulitan.

Di Nusantara, shalawat nariyah berkembang melalui majelis-majelis tarekat dan forum pengajian. Banyak pesantren, terutama yang mengikuti tradisi Aswaja, menjadikannya wirid rutin. Bahkan, beberapa majelis besar membaca 11, 100, atau 444 kali sebagai simbol ikhtiar spiritual ketika menghadapi masalah berat. Meski jumlah tersebut bukan kewajiban, praktik ini menunjukkan kuatnya budaya dzikir di masyarakat.

Baca juga: Pondok Jombang dan Dakwah Moderat Aswaja

Anjuran Membaca dan Waktu yang Dianjurkan

Para ulama sepakat bahwa memperbanyak shalawat—termasuk shalawat nariyah—merupakan amalan mulia. Hal ini merujuk pada sabda Nabi ﷺ:

“Siapa yang membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)

Karena itu, membacanya kapan saja tetap berpahala. Namun, ada beberapa waktu yang dirasa lebih tenang dan mudah menghadirkan kekhusyukan, seperti setelah salat, malam Jumat, menjelang subuh, atau saat hati dilanda kegelisahan. Selain itu, shalawat ini banyak diamalkan ketika seseorang berharap jalan keluar dari masalah ekonomi, keluarga, atau pekerjaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menghadapi tekanan batin dan mental. Dengan membaca shalawat nariyah, hati menjadi lebih stabil, pikiran lebih jernih, dan semangat hidup tumbuh kembali. Selain itu, lantunan shalawat juga memperkuat hubungan spiritual dan menghadirkan rasa hangat dalam ibadah.

Hadits Arbain ke-2: Makna Islam, Iman, dan Ihsan

Hadits Arbain ke-2: Makna Islam, Iman, dan Ihsan

Al MuanawiyahHadits Arbain ke-2 merupakan salah satu riwayat penting dari kumpulan Arba’in An-Nawawiyah karya Imam Nawawi. Hadits ini dikenal sebagai Hadits Jibril, karena malaikat Jibril datang dalam rupa manusia untuk bertanya kepada Rasulullah SAW tentang Islam, iman, dan ihsan. Banyak ulama menyebut hadits ini sebagai “Ummus Sunnah”, sebab kandungan ilmunya mencakup fondasi ajaran Islam secara lengkap.

Lafadz Hadits Arbain ke-2

Berikut adalah lafadz lengkap hadits arbain ke-2

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

: اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?”
Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!”
Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]

Kandungan Pokok Hadits

Dalam hadits ini, Jibril mengajukan tiga pertanyaan pokok. Pertama adalah tentang Islam yang terdiri dari lima rukun, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu. Pertanyaan kedua mengenai iman yang mencakup enam keyakinan, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, serta takdir baik dan buruk. Pertanyaan ketiga tentang ihsan yang dijelaskan sebagai ibadah yang dilakukan seakan-akan melihat Allah. Ketiga bagian ini menjadi dasar utama dalam memahami pokok keislaman seorang Muslim.

Hadits Arbain ke-2 juga menjelaskan tanda-tanda kiamat yang menjadi bagian dari dialog tersebut. Rasulullah SAW menyebutkan beberapa ciri seperti hamba sahaya melahirkan tuannya dan para penggembala miskin berlomba membangun gedung tinggi. Para ulama menafsirkan tanda-tanda tersebut dengan berbagai pendekatan, termasuk perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat dari masa ke masa. Kandungannya tidak dimaksudkan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan agar umat lebih dekat dengan Allah.

Pentingnya Memahami Hadits Iman Islam dan Ihsan

Riwayat hadits Arbain ke-2 ini bersumber dari Umar bin Khattab RA dan tercatat dalam Shahih Muslim. Keotentikan riwayat ini membuatnya menjadi rujukan utama bagi para ulama fikih, akidah, hingga tasawuf. Banyak madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam menjadikan hadits ini sebagai materi wajib karena mencakup prinsip dasar yang harus diketahui setiap Muslim. Pemahaman terhadap hadits ini membantu pelajar mengenali struktur keimanan yang benar dan aplikasinya dalam kehidupan.

Baca juga: Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi

Hadits Arbain ke-2 memberikan gambaran utuh tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menjalani agama. Islam mengatur amal lahir. Iman mengatur keyakinan batin. Ihsan menyempurnakan hubungan hamba dengan Allah melalui kualitas ibadah. Ketiga unsur tersebut tidak bisa dipisahkan karena saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang kokoh dan bertakwa. Ketika seseorang memahami ketiganya, ia akan mampu menata hidup secara lebih terarah dan bermanfaat.

Contoh penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika seseorang mengalami sakit. Ia harus meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang menyembuhkan Ia kemudian berusaha mencari pengobatan, baik dengan obat, istirahat, maupun konsultasi medis, sebagai bentuk ikhtiar yang diajarkan agama. Setelah itu, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah, karena hanya Allah yang menentukan sembuh atau tidaknya seseorang. Sikap seperti ini menunjukkan perpaduan antara iman, usaha, dan tawakal.

gambar pria Asia memegangi dadanya yang terhubung dengan infus iilustrasi penerapan hadits arbain ke-2 tentang iman saat sakit
Ilustrasi penerapan hadits arbain ke-2 dalam kondisi sakit (sumber: freepik)

Dengan memahami hadits Arbain ke-2, umat Islam diharapkan mampu menjalani agama secara lebih seimbang. Pelajaran tentang Islam, iman, dan ihsan menjadi bekal utama dalam menghadapi berbagai permasalahan modern. Hadits ini tetap relevan sepanjang masa karena menyentuh inti ajaran yang tidak berubah. Setiap Muslim dapat menjadikannya sebagai rujukan untuk memperbaiki kualitas hidup dan semakin dekat dengan Allah.

Manfaat Sujud Bagi Kesehatan Fisik dan Psikologis

Manfaat Sujud Bagi Kesehatan Fisik dan Psikologis

Gerakan sujud dalam ibadah shalat bukan sekadar rutinitas ritual. Gerakan ini mengandung hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan memahami manfaat sujud, seorang muslim bisa semakin menyadari bahwa ibadah bukan hanya menghubungkan diri dengan Allah, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Manfaat Sujud Secara Fisik

  1. Melancarkan aliran darah ke otak
    Dalam posisi sujud, kepala dan dahi berada lebih rendah dibanding jantung, sehingga aliran darah yang mengandung oksigen dan nutrisi dapat mengalir dengan lebih optimal ke otak. Hal ini bisa meningkatkan fungsi kognitif seperti konsentrasi dan memperbaiki suasana hati.

  2. Melatih otot dan persendian
    Saat melakukan sujud, otot-otot punggung, leher, bahu, dan pinggul ikut terlibat dalam gerakan. Hal ini membantu menjaga kelenturan tubuh, mengurangi kekakuan sendi, dan mendukung postur yang sehat.

  3. Mendukung sistem pernapasan dan limfatik
    Posisi tubuh saat sujud juga memberi kesempatan bagi paru-paru melakukan pengaturan napas secara teratur. Selain itu, sistem getah bening (limfatik) dalam tubuh bisa lebih aktif dalam membantu membersihkan racun dan limbah melalui aliran yang baik.

gambar orang sujud dalam shalat
Ilustrasi sujud dalam shalat (sumber: pinterest)

Manfaat Sujud Secara Psikologis

  1. Momen dekat dengan Allah
    Dari sisi spiritual, sujud disebutkan sebagai keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya. Hal ini menjadikan sujud sebagai momen penting untuk doa, introspeksi, dan penghambaan diri.

  2. Menenangkan pikiran dan mengurangi stres
    Dengan posisi yang rendah dan tenang, sujud menjadi waktu untuk melepas beban dunia dan menghadirkan ketenangan batin. Riset menunjukkan bahwa gerakan sujud bisa membantu menurunkan hormon stres dan menstabilkan emosi.

  3. Menguatkan akhlak tawadhu’ (rendah hati)
    Sujud secara simbolis menegaskan sikap tunduk di hadapan Allah, yang mendorong seseorang untuk rendah hati, tidak sombong, dan terus memperbaiki diri. Sikap ini penting untuk keseimbangan spiritual dan sosial.

Baca juga: Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Mengapa Sujud Penting untuk Kita?

Mengetahui manfaat sujud membawa kita pada dua hal utama. Pertama, ia memotivasi kita agar melaksanakan ibadah shalat dengan penuh kesadaran dan bukan sekadar rutinitas. Kedua, kesadaran akan manfaat fisik dan batin ini menuntun kita menjadi lebih konsisten, karena kita memahami dampak nyata bagi tubuh dan jiwa.
Sebagai umat yang hidup di era modern dengan tekanan tinggi, sujud menjadi salah satu obat alami. Manfaat sujud bisa menjadi detoks fisik lewat gerakan dan detoks batin lewat penghambaan kepada Allah.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tepat Waktu dan Dampaknya pada Kehidupan

Dengan memahami dan mengamalkan gerakan sujud dengan khusyu’, kita tidak hanya menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga merawat tubuh dan jiwa kita. Jangan anggap sujud hanya sekadar salah satu rukun shalat—ia adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan menyehatkan hidup. Semoga kita termasuk orang-yang konsisten dalam berdiri, rukuk, sujud, dan mengakhiri shalat dengan kesadaran penuh, sehingga tubuh sehat dan hati tenang.

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, ilmu menjadi fondasi utama bagi amal dan akhlak. Banyak sekali dalil yang menegaskan betapa tinggi kedudukan orang berilmu di sisi Allah. Rasulullah ﷺ pun dalam banyak hadits menegaskan pentingnya menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Berikut ini lima hadits menuntut ilmu paling shahih beserta maknanya yang bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi setiap muslim.

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih Beserta Penjelasannya

1. Hadits tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadits menuntut ilmu shahih yang pertama adalah sabda Rasulullah yang menjadi dasar utama kewajiban menuntut ilmu bagi seluruh umat Islam. Ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga mencakup pengetahuan yang membantu seseorang melaksanakan kewajiban agamanya. Misalnya, ilmu membaca Al-Qur’an, fikih ibadah, hingga pengetahuan dunia yang bermanfaat seperti sains atau teknologi, selama digunakan untuk kemaslahatan umat.

Kata “setiap muslim” dalam hadits ini menunjukkan sifat umum, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, atau status sosial. Islam mendorong semua orang untuk terus belajar sepanjang hayat, karena semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin mudah pula seseorang mengenal Allah dan menjalankan ajaran-Nya dengan benar.

Baca juga: 4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

2. Hadits tentang Jalan Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim No. 2699)

Hadits menuntut ilmu yang shahih selanjutnya mengandung makna yang dalam. Jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu tidak selalu mudah. Sering kali penuh pengorbanan, waktu, tenaga, bahkan biaya. Namun, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap langkah menuju ilmu adalah bagian dari jalan menuju surga.

Makna “memudahkan jalan ke surga” bukan berarti orang berilmu otomatis masuk surga, tetapi bahwa ilmu yang ia pelajari akan membimbingnya untuk melakukan amal yang benar. Ilmu menuntun seseorang untuk membedakan yang halal dan haram, yang benar dan yang batil. Karena itu, semakin dalam ilmunya, semakin besar peluang seseorang untuk istiqamah di jalan kebenaran.

gambar beberap aorang berhijab sedang belajar Al Quran
Iliustrasi keutamaan menuntut ilmu (sumber: freepik)

3. Hadits tentang Keutamaan Orang Berilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”
(HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  no. 3641)

Perumpamaan yang digunakan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini menunjukkan betapa agung kedudukan orang berilmu. Bulan memberikan cahaya yang menenangkan dan menerangi kegelapan malam, sementara bintang hanya berkilau kecil. Begitulah peran orang berilmu — mereka tidak hanya beribadah untuk diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat dan petunjuk bagi orang lain.

Ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu mungkin tekun beribadah, tetapi bisa saja tersesat karena tidak memahami tuntunan yang benar. Sebaliknya, orang berilmu tahu cara beribadah dengan benar dan dapat mengajarkan ilmunya, sehingga manfaatnya jauh lebih luas.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

4. Hadits tentang Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadits ini menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Ilmu yang disebarkan dan diamalkan orang lain akan terus mengalir pahalanya, meskipun sang pengajar telah meninggal dunia.

Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya berbagi ilmu. Setiap guru, pendakwah, atau siapa pun yang mengajarkan kebaikan, sejatinya sedang menanam pahala jangka panjang. Bahkan, mengajarkan hal kecil seperti doa harian atau cara shalat yang benar pun termasuk bagian dari ilmu bermanfaat.

5. Hadits Menunjuki kepada Kebaikan

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

Hadits ini menekankan pentingnya dakwah dan mengarahkan orang lain ke jalan kebaikan. Tidak hanya amal yang dilakukan sendiri yang bernilai pahala, tetapi juga memberi petunjuk kepada orang lain untuk berbuat baik akan mendapat pahala serupa.

Maknanya luas, bisa mencakup:

  • Memberi nasihat yang benar, misalnya tentang ibadah atau akhlak.

  • Mengajarkan ilmu bermanfaat agar orang lain bisa mengamalkannya.

  • Membimbing orang agar menjauhi perbuatan dosa.

Dengan kata lain, hadits ini menunjukkan bahwa menyebarkan kebaikan atau ilmu yang bermanfaat memiliki nilai pahala yang berkelanjutan. Orang yang memberi petunjuk tidak kehilangan pahala meskipun orang yang dibimbing melakukan amalnya sendiri, karena niat dan usaha memberi petunjuk itu sendiri dihitung sebagai amal saleh di sisi Allah.

Dari kelima hadits menuntut ilmu shahih tersebut, jelas bahwa menuntut ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup. Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia dari kebodohan menuju petunjuk Allah. Oleh karena itu, semangat menuntut ilmu harus terus dijaga sepanjang hayat, agar kehidupan dunia dan akhirat menjadi lebih bermakna.