Hadits Arbain ke-20 membahas salah satu akhlak mulia dalam Islam, yaitu sifat malu. Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu bukan sekadar sifat bawaan manusia. Sifat tersebut juga menjadi bagian dari ajaran para nabi terdahulu dan memiliki hubungan erat dengan keimanan.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rasa malu dapat menjadi penghalang seseorang dari perbuatan buruk.
Hadits Arbain Ke-20 dan Artinya
Berikut hadits Arbain ke-20 secara lengkap dilansir dari rumaysho.com.
عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ”
Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari, no. 3484 dan 6120)

Kandungan Hadits
1. Malu Merupakan Warisan Para Nabi
Salah satu pesan penting dalam hadits Arbain ke-20 adalah kedudukan sifat malu sebagai ajaran yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu. Ungkapan an-nubuwwah al-ula merujuk pada ajaran kenabian terdahulu. Artinya, pesan tentang pentingnya rasa malu telah dikenal manusia sejak generasi umat sebelumnya.
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa pesan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat malu memiliki nilai yang penting dalam kehidupan manusia.
2. Malu Merupakan Bagian dari Keimanan
Islam tidak memandang malu sebagai kelemahan. Rasulullah SAW justru menghubungkan sifat tersebut dengan keimanan. Beliau bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Artinya: “Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)
Rasa malu membuat seseorang mempertimbangkan perkataan dan perbuatannya. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihat dirinya, ia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena itu, sifat malu dapat menjadi benteng dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Baca juga: Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah
3. Dua Bentuk Sifat Malu
Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu memiliki beberapa bentuk. Salah satunya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan merasa bahwa Allah selalu mengetahui perbuatannya. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.
Bentuk lainnya berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Rasa malu membuat seseorang menjaga ucapan, perilaku, dan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, malu bukan berarti seseorang harus selalu diam atau takut berkomunikasi. Islam justru mengajarkan agar rasa malu tetap berjalan bersama keberanian dalam melakukan kebaikan.
3. Berbuatlah Sesukamu Bukan Berarti Bebas Bermaksiat
Bagian akhir hadits Arbain ke-20 sering menimbulkan kesalahpahaman:
“Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!”
Kalimat tersebut bukan ajakan untuk melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan halal dan haram.
Para ulama menjelaskan beberapa pemaknaan terhadap kalimat tersebut. Salah satunya memahaminya sebagai bentuk ancaman. Artinya, seseorang yang sudah kehilangan rasa malu akan lebih mudah melakukan berbagai perbuatan buruk dan pada akhirnya menerima akibat dari perbuatannya.
Makna lainnya menunjukkan bahwa rasa malu berfungsi sebagai penghalang dari keburukan. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, ia dapat melakukan perbuatan tercela tanpa merasa bersalah. Karena itu, hadis ini justru menjadi peringatan agar seorang muslim menjaga rasa malunya.
Baca juga: Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik
4. Malu Tidak Boleh Menghalangi Kebaikan
Meskipun Islam memuji rasa malu, seorang muslim tidak boleh menggunakan rasa malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya, seseorang tidak seharusnya diam ketika melihat kemungkaran yang memang wajib ia cegah hanya karena takut dianggap ikut campur. Begitu pula seseorang tidak boleh merasa malu untuk bertanya tentang ilmu agama yang belum ia pahami.
Dengan kata lain, malu yang terpuji adalah malu yang mendorong seseorang menjaga kehormatan dan meninggalkan keburukan. Sebaliknya, malu yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban atau menolak kebaikan justru perlu diperbaiki.
Cara Menumbuhkan Sifat Malu
Seseorang dapat melatih rasa malu dengan meningkatkan kesadaran terhadap pengawasan Allah SWT. Ketika seseorang memahami kebesaran Allah dan menyadari banyaknya nikmat yang ia terima, ia akan semakin terdorong untuk memperbaiki perilakunya.
Lingkungan juga berpengaruh. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga adab dapat membantu seseorang membangun kebiasaan yang baik. Selain itu, seseorang perlu membiasakan diri mengevaluasi perkataan dan perbuatannya. Apakah tindakannya sesuai dengan ajaran Islam? Apakah perkataannya menyakiti orang lain? Pertanyaan semacam ini dapat membantu menjaga akhlak.
Kesimpulan
Hadits Arbain ke-20 mengajarkan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sifat tersebut telah terkenal dalam ajaran para nabi terdahulu dan menjadi bagian dari keimanan.
Rasa malu dapat menjaga seseorang dari kemaksiatan dan perilaku yang tidak pantas. Namun, seorang muslim tetap harus berani melakukan kebaikan dan tidak menjadikan malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Karena itu, mari menjaga rasa malu sebagai bagian dari akhlak. Semoga kita dapat memiliki rasa malu kepada Allah, menjaga adab kepada sesama, serta menjadikan sifat tersebut sebagai penghalang dari perbuatan yang tidak Allah ridhai.




