Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain Ke-20: Keutamaan Sifat Malu dalam Islam

Hadits Arbain ke-20 membahas salah satu akhlak mulia dalam Islam, yaitu sifat malu. Hadis ini menjelaskan bahwa rasa malu bukan sekadar sifat bawaan manusia. Sifat tersebut juga menjadi bagian dari ajaran para nabi terdahulu dan memiliki hubungan erat dengan keimanan.

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa rasa malu dapat menjadi penghalang seseorang dari perbuatan buruk.

Hadits Arbain Ke-20 dan Artinya

Berikut hadits Arbain ke-20 secara lengkap dilansir dari rumaysho.com.

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ”

Artinya: “Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari, no. 3484 dan 6120)

pria menutupi wajahnya ilustrasi malu dalam kandungan hadits arbain ke-20
Ilustrasi malu (foto: freepik.com)

Kandungan Hadits

1. Malu Merupakan Warisan Para Nabi

Salah satu pesan penting dalam hadits Arbain ke-20 adalah kedudukan sifat malu sebagai ajaran yang telah dikenal sejak masa para nabi terdahulu. Ungkapan an-nubuwwah al-ula merujuk pada ajaran kenabian terdahulu. Artinya, pesan tentang pentingnya rasa malu telah dikenal manusia sejak generasi umat sebelumnya.

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa pesan tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini menunjukkan bahwa sifat malu memiliki nilai yang penting dalam kehidupan manusia.

2. Malu Merupakan Bagian dari Keimanan

Islam tidak memandang malu sebagai kelemahan. Rasulullah SAW justru menghubungkan sifat tersebut dengan keimanan. Beliau bersabda:

الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Artinya: “Malu merupakan bagian dari keimanan.” (HR. Muslim, no. 161)

Rasa malu membuat seseorang mempertimbangkan perkataan dan perbuatannya. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah selalu melihat dirinya, ia akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena itu, sifat malu dapat menjadi benteng dari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-19: Sebab Datangnya Pertolongan Allah

3. Dua Bentuk Sifat Malu

Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu memiliki beberapa bentuk. Salah satunya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan merasa bahwa Allah selalu mengetahui perbuatannya. Kesadaran tersebut mendorongnya untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan.

Bentuk lainnya berkaitan dengan hubungan antarmanusia. Rasa malu membuat seseorang menjaga ucapan, perilaku, dan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain. Dengan demikian, malu bukan berarti seseorang harus selalu diam atau takut berkomunikasi. Islam justru mengajarkan agar rasa malu tetap berjalan bersama keberanian dalam melakukan kebaikan.

3. Berbuatlah Sesukamu Bukan Berarti Bebas Bermaksiat

Bagian akhir hadits Arbain ke-20 sering menimbulkan kesalahpahaman:

“Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!”

Kalimat tersebut bukan ajakan untuk melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Para ulama menjelaskan beberapa pemaknaan terhadap kalimat tersebut. Salah satunya memahaminya sebagai bentuk ancaman. Artinya, seseorang yang sudah kehilangan rasa malu akan lebih mudah melakukan berbagai perbuatan buruk dan pada akhirnya menerima akibat dari perbuatannya.

Makna lainnya menunjukkan bahwa rasa malu berfungsi sebagai penghalang dari keburukan. Jika seseorang sudah tidak memiliki rasa malu, ia dapat melakukan perbuatan tercela tanpa merasa bersalah. Karena itu, hadis ini justru menjadi peringatan agar seorang muslim menjaga rasa malunya.

Baca juga: Kisah Sedekah Utsman bin Affan Ketika Masa Paceklik

4. Malu Tidak Boleh Menghalangi Kebaikan

Meskipun Islam memuji rasa malu, seorang muslim tidak boleh menggunakan rasa malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya, seseorang tidak seharusnya diam ketika melihat kemungkaran yang memang wajib ia cegah hanya karena takut dianggap ikut campur. Begitu pula seseorang tidak boleh merasa malu untuk bertanya tentang ilmu agama yang belum ia pahami.

Dengan kata lain, malu yang terpuji adalah malu yang mendorong seseorang menjaga kehormatan dan meninggalkan keburukan. Sebaliknya, malu yang membuat seseorang meninggalkan kewajiban atau menolak kebaikan justru perlu diperbaiki.

Cara Menumbuhkan Sifat Malu

Seseorang dapat melatih rasa malu dengan meningkatkan kesadaran terhadap pengawasan Allah SWT. Ketika seseorang memahami kebesaran Allah dan menyadari banyaknya nikmat yang ia terima, ia akan semakin terdorong untuk memperbaiki perilakunya.

Lingkungan juga berpengaruh. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga adab dapat membantu seseorang membangun kebiasaan yang baik. Selain itu, seseorang perlu membiasakan diri mengevaluasi perkataan dan perbuatannya. Apakah tindakannya sesuai dengan ajaran Islam? Apakah perkataannya menyakiti orang lain? Pertanyaan semacam ini dapat membantu menjaga akhlak.

Kesimpulan

Hadits Arbain ke-20 mengajarkan bahwa malu merupakan akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sifat tersebut telah terkenal dalam ajaran para nabi terdahulu dan menjadi bagian dari keimanan.

Rasa malu dapat menjaga seseorang dari kemaksiatan dan perilaku yang tidak pantas. Namun, seorang muslim tetap harus berani melakukan kebaikan dan tidak menjadikan malu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Karena itu, mari menjaga rasa malu sebagai bagian dari akhlak. Semoga kita dapat memiliki rasa malu kepada Allah, menjaga adab kepada sesama, serta menjadikan sifat tersebut sebagai penghalang dari perbuatan yang tidak Allah ridhai.

Larangan Debat Kusir dan Anjuran Menjauhi Perdebatan Sia-Sia

Larangan Debat Kusir dan Anjuran Menjauhi Perdebatan Sia-Sia

Aktivitas bertukar pikiran sering kali keluar dari jalur yang sehat dan berubah menjadi perdebatan tanpa arah. Banyak orang terjebak dalam perdebatan hanya untuk memuaskan ego dan memenangkan argumen semata. Islam memberikan perhatian serius terhadap fenomena ini karena dapat merusak persaudaraan dan mengotori hati. Oleh karena itu, kita wajib memahami larangan debat kusir agar terhindar dari perbuatan yang sia-sia di ruang publik maupun media sosial.

Baca juga: Sejarah dan Ciri Quran Utsmani yang Beredar di Masyarakat

Debat kusir adalah istilah untuk menggambarkan perdebatan yang berjalan tanpa arah, tidak berlandaskan argumentasi ilmiah maupun data yang valid, serta tidak bertujuan untuk mencari kebenaran. Dalam perdebatan jenis ini, masing-masing pihak umumnya hanya berfokus pada emosi, kehendak untuk memenangkan silat lidah, dan memuaskan ego pribadi tanpa memedulikan bobot substansi yang dibicarakan. Alhasil, diskusi semacam ini tidak pernah melahirkan solusi atau kesepahaman, melainkan hanya membuang energi, memicu permusuhan, dan merusak keharmonisan hubungan antar sesama. Sehingga, memahami larangan debat kusir akan membantu kita menjaga lisan serta mengarahkan energi pada hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.

gambar orang berdiskusi rapat dalam artikel larangan debat kusir
Debat kusir atau perdebatan sia-sia memicu ketegangan emosi dan terlarang menurut Islam (foto: freepik.com)

Etika Berdiskusi dan Larangan Debat Kusir

Pertama, Al-Qur’an menggarisbawahi bahwa pertukaran pikiran harus selalu bermuara pada kebaikan dan kelembutan. Allah SWT melarang umat-Nya menyampaikan argumen dengan cara yang emosional atau menggunakan kata-kata yang kasar. Perintah untuk berdiskusi secara santun dan bijaksana tertuang secara jelas dalam surah An-Nahl ayat 125 berikut:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهو اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Ud‘u ilâ sabîli rabbika bil-ḫikmati wal-mau‘idhatil-ḫasanati wa jâdil-hum billatî hiya aḫsan, inna rabbaka huwa a‘lamu biman dlalla ‘an sabîlihî wa huwa a‘lamu bil-muhtadîn.

Artinya:“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”

Melalui ayat ini, para mufasir menegaskan bahwa perdebatan yang diperbolehkan hanyalah perdebatan yang bersenjataan ilmu dan kesantunan. Jika suatu diskusi berpotensi berubah menjadi perdebatan emosional tanpa ilmu, kita diperintahkan untuk segera menghentikannya.

Selanjutnya, Rasulullah SAW memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi orang yang memilih untuk mengalah dan berdiam diri. Beliau menjanjikan kedudukan yang mulia di surga bagi siapa saja yang sanggup menahan egonya dari perdebatan. Janji Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan dalam hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili RA berikut:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Anā za‘īmun bibaitin fī rabaḍil-jannati liman tarakal-mirā’a wa in kāna muḥiqqā.

Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan (al-mira’), meskipun dia berada dalam pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud no. 4800)

Hadits ini menjadi bukti nyata betapa tingginya keutamaan menghindari pertengkaran mulut. Menjaga kedamaian hati dan ukhuwah jauh lebih berharga daripada memenangkan argumen yang sia-sia.

Bahaya Memperpanjang Perdebatan

Tidak berhenti di situ, para sahabat dan ulama juga mengingatkan bahaya buruk dari kebiasaan gemar berdebat. Perdebatan yang berlarut-larut dapat menghilangkan keberkahan ilmu serta menimbulkan rasa permusuhan di dalam dada. Rasulullah SAW memberikan peringatan tegas mengenai dampak buruk dari sifat suka berdebat ini melalui hadits berikut:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوتُوا الْجَدَلَ

Mā ḍalla qawmun ba‘da hudan kānū ‘alaihi illā ūtul-jadala.

Artinya: “Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka berada di atas petunjuk, melainkan karena mereka diberi kebiasaan berdebat.” (HR. Tirmidzi no. 3253)

Berdebat dapat membuat ornag tersesat adalah jika tanpa berdasarkan keinginan untuk menemukan solusi bersama. Dalam laman NU Online, contohnya adalah perdebatan kaum Quraisy tentang Tuhan mana yang lebih baik, tuhan mereka atau Nabi Isa. Perdebatan mereka tidak berlandaskan pada keinginan untuk memperoleh petunjuk karena ketidaktahuan, namun untuk menjatuhkan argumen lawannya. Oleh sebab itu, kita harus membentengi diri dari sifat suka memperpanjang silat lidah yang tidak mendatangkan kebaikan.

Kesimpulannya, penegakan larangan debat kusir merupakan langkah krusial dalam menjaga kesucian akhlak seorang muslim. Kita perlu membiasakan diri untuk berbicara berdasarkan data, mengemukakan pendapat secara santun, dan tahu kapan harus berhenti. Mari kita latih keikhlasan hati dengan cara memilih diam saat perdebatan mulai tidak produktif. Semoga Allah senantiasa menjaga lisan kita dari ucapan yang tidak berguna dan menganugerahkan kedamaian dalam hidup kita.

Adab Berdiskusi di Media Sosial dalam Surat An Nahl Ayat 125

Adab Berdiskusi di Media Sosial dalam Surat An Nahl Ayat 125

Ruang digital saat ini telah menjadi sarana utama bagi masyarakat untuk bertukar pemikiran dan argumen. Namun, perbedaan pendapat di platform online sering memicu perselisihan serta ujaran kebencian. Islam membolehkan pertukaran gagasan selama kita mengedepankan cara yang baik, santun, dan berbasis kebenaran. Oleh karena itu, kita perlu menerapkan adab berdiskusi di media sosial demi menjaga persaudaraan antar sesama pengguna internet. Memahami adab berdiskusi di media sosial akan membantu kita menyampaikan pesan kebenaran secara lebih efektif dan bijak. Landasan utama etika ini tertuang dalam tafsir surat An-Nahl ayat 125 berikut:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Ud‘u ilâ sabîli rabbika bil-ḫikmati wal-mau‘idhatil-ḫasanati wa jâdil-hum billatî hiya aḫsan, inna rabbaka huwa a‘lamu biman dlalla ‘an sabîlihî wa huwa a‘lamu bil-muhtadîn.

Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.”

Pertama, kata jadilhum dalam ayat di atas berasal dari kata jidal yang bermakna diskusi atau debat. Profesor Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa jidal memiliki tiga kategori. Kategori pertama adalah jidal buruk yang disampaikan dengan kasar dan mengundang kemarahan. Kemudian selanjutnya adalah jidal baik yang disampaikan dengan sopan menggunakan dalil yang diakui lawan. Terakhir jidal terbaik yang disampaikan dengan sopan berlandaskan argumen benar. Dengan demikian, kita wajib memilih tutur kata yang berbobot namun tetap santun saat berdialog di ruang publik.

gambar adab bermedia sosial
Ilustrasi media sosial (foto: freepik)

Ada dua batasan dalam berdiskusi di dunia maya menurut tafsir tersebut:

1. Memperhatikan Karakter Mitra Bicara dalam Berdiskusi

Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labib (Jilid I, hal. 512) menekankan pentingnya memperhatikan watak mitra diskusi. Beliau memperjelas pembagian kelompok manusia melalui keterangan berikut:

وَجادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ أي بدليل مركب من مقدمات مقبولة فالناس على ثلاثة أقسام: الأول: أصحاب العقول الصحيحة الذين يطلبون معرفة الأشياء على حقائقها. والثاني: أصحاب النظر السليم الذين لم يبلغوا حدّ الكمال ولم ينزلوا إلى حضيض النقصان. والثالث: الذين تغلب على طباعهم المخاصمة لا طلب العلوم اليقينية

Artinya: “Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik,” yaitu dengan dalil yang terdiri dari premis-premis yang dapat diterima. Manusia terbagi menjadi tiga kelompok: Pertama, kelompok orang-orang yang memiliki akal sehat yang mencari pengetahuan tentang sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Kedua, kelompok orang-orang yang memiliki pandangan yang sehat yang belum mencapai tingkat kesempurnaan, tetapi juga tidak jatuh ke dalam jurang kekurangan. Sedangkan, kelompok ketiga adalah orang-orang yang sifatnya cenderung suka berdebat, bukan mencari ilmu yang pasti.

Harapannya, penyesuaian gaya bahasa dengan karakter audiens ini akan meminimalkan konflik destruktif saat berdiskusi di dunia maya.

Baca juga: Shalat Witir Sebelum Tidur: Kapan dan Bagaimana Pelaksanaannya?

2. Menjaga Ketenangan dan Kelembutan Bahasa Berdasarkan Tafsir Klasik

Selanjutnya, Ibnu Asyur dalam Tafsir at-Tahrir wa At-Tanwir (Jilid XIV, hal. 329) mengingatkan bahwa perdebatan bertujuan untuk meluruskan pemahaman. Beliau menegaskan larangan bersikap kasar melalui penjelasan berikut:

وَالْمُجَادَلَةُ: الِاحْتِجَاجُ لِتَصْوِيبِ رَأْيٍ وَإِبْطَالِ مَا يُخَالِفُهُ أَوْ عَمَلٍ كَذَلِكَ. وَلَمَّا كَانَ مَا لَقِيَهُ النَّبِيءُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَذَى الْمُشْرِكِينَ قَدْ يَبْعَثُهُ على الغلظة عَلَيْهِم فِي الْمُجَادَلَةِ أَمَرَهُ اللَّهُ بِأَنْ يُجَادِلَهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: “Perdebatan adalah upaya untuk membenarkan suatu pendapat dan membatalkan pendapat yang bertentangan dengannya, atau tindakan yang demikian. Oleh karena apa yang dialami Nabi Muhammad saw dari gangguan orang-orang musyrik dapat mendorongnya untuk bersikap kasar kepada mereka dalam perdebatan, maka Allah memerintahkannya untuk berdebat dengan mereka dengan cara yang terbaik.”

Sejalan dengan hal tersebut, Syekh Al-Wahidi dalam Tafsir al-Wajiz (hal. 624) juga menegaskan pentingnya kelembutan bahasa:

ادع إلى سبيل ربك دين ربِّك (بالحكمة) بالنُّبوَّة {والموعظة الحسنة} يعني: مواعظ القرآن {وجادلهم} افتلهم عمَّا هم عليه {بالتي هي أحسن} بالكلمة اللَّيِّنة

Artinya: “[Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu] agama Tuhan-Mu [dengan hikmah] dengan wahyu kenabian [pelajaran yang baik], maksudnya pelajaran-pelajaran dari Al-Qur’an dan [Dan berdebatlah dengan mereka], berbantahlah dengan mereka untuk memindahkan mereka dari keyakinan yang mereka anut. [Dengan cara yang terbaik], yaitu dengan perkataan yang lembut dan santun.”

Oleh sebab itu, kesabaran dalam mempertahankan tutur kata yang halus menjadi kunci utama kedamaian di media sosial.

Baca juga: Larangan Debat Kusir dan Anjuran Menjauhi Perdebatan Sia-Sia

Kesimpulannya, penerapan adab berdiskusi di media sosial merupakan cerminan dari akhlak islami yang sangat mulia. Kita wajib memadukan kebenaran argumen dengan kelembutan cara penyampaian saat bertukar pikiran secara online. Mari kita jadikan ruang digital sebagai media syiar yang menyejukkan dan saling menghormati. Semoga Allah senantiasa membimbing lisan dan jemari kita menuju jalan ketaatan.

Hikmah Asy Syams: Sumpah Allah dan Konsep Penyucian Jiwa

Hikmah Asy Syams: Sumpah Allah dan Konsep Penyucian Jiwa

Surah Asy-Syams memuat pesan moral dan spiritual yang sangat mendalam mengenai keteraturan alam serta hakikat jiwa manusia. Ulasan dari laman TafsirAlquran.id menjelaskan bahwa surah ini membuka pembahasannya melalui deretan sumpah Allah atas fenomena alam. Rangkaian ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan petunjuk Allah dan mengelola waktu secara bijak. Oleh karena itu, kita perlu menggali kandungan pesan dan pelajaran penting di balik ayat-ayat tersebut. Memahami hikmah Asy Syams akan membantu kita menyadari pentingnya menjaga kesucian jiwa dalam menjalani aktivitas harian.

Baca juga: Cara Menghapus Amal Buruk dengan Amal Baik Menurut Hadits

Berikut adalah tiga hikmah Asy Syams yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, didasarkan pada tafsir.

1. Makna Sumpah Allah Atas Matahari, Bulan, Siang, dan Malam

Pertama, Allah SWT membuka surah ini dengan bersumpah atas matahari, bulan, serta pergantian siang dan malam. Sumpah atas matahari dan bulan ini menggambarkan pentingnya cahaya bagi kehidupan manusia. Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa cahaya matahari menjadi perumpamaan bagi ajaran Islam yang mengusir kegelapan hati. Selanjutnya, sumpah atas siang dan malam menegaskan pentingnya memanfaatkan waktu untuk bekerja dan beristirahat secara seimbang. Dengan demikian, pergantian waktu dan cahaya ini mendorong manusia untuk terus mencari petunjuk hidup dari Sang Pencipta.

gambar matahari di atas laut ilustrasi hikmah Asy Syams
Sumpah Allah di dalam Surat Asy Syams dengan matahari (foto: freepik.com)

2. Kebesaran Ciptaan Langit dan Bumi Sebagai Sarana Hidup Manusia

Selain fenomena waktu dan cahaya, Allah juga bersumpah atas keagungan bangunan langit serta bentangan bumi. Tafsir Asy-Sya’rawi menyebutkan bahwa Allah merancang langit bagaikan atap kubah yang menyimpan banyak rahasia ilmu pengetahuan. Di samping itu, Allah membentangkan bumi dan menyiapkan seluruh fasilitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Oleh sebab itu, keindahan serta keteraturan alam semesta ini membuktikan kasih sayang Allah agar manusia selalu bersyukur.

Baca juga: Cara Ikhlas dalam Kehidupan Menurut Al-Qur’an dan Hadits

3. Hakikat Jiwa Manusia dan Pilihan Penyucian Diri (Tazkiyatun Nafs)

Selanjutnya, seluruh sumpah atas alam semesta tersebut bermuara pada pembahasan jiwa manusia sebagai puncak ciptaan Allah. Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa Allah memberi manusia kemampuan untuk mengelola alam semesta demi kemajuan hidup. Allah menyempurnakan jiwa tersebut dengan memberi potensi kedurhakaan dan ketaqwaan secara bersamaan. Sayyid Quthb menambahkan bahwa fitrah manusia mampu membedakan hal baik dan buruk, sehingga manusia bertanggung jawab atas pilihannya. Pada akhirnya, Allah memberikan jaminan keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwanya, serta kerugian bagi orang yang mengotori jiwanya.

Kesimpulannya, kandungan pesan dan hikmah Asy Syams mengajarkan kita untuk menyelaraskan jiwa dengan alam semesta yang selalu bertasbih. Keberadaan potensi baik dan buruk dalam diri menuntut kita untuk selalu memilih jalan ketaatan secara konsisten. Mari kita manfaatkan waktu dan potensi jiwa kita untuk meraih keridhaan Allah SWT setiap hari. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati kita dari godaan keburukan dan kemaksiatan.

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Hadits Arbain Ke-18 Mengiringi Keburukan dengan Kebaikan

Setiap muslim membutuhkan pedoman yang jelas dalam menjalani hubungan dengan Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Imam Nawawi merangkum petunjuk hidup tersebut secara ringkas dalam kitab Hadits Arbain yang sangat monumental. Salah satu hadits yang memuat prinsip mendasar akhlak dan ketaqwaan adalah hadits urutan kedelapan belas. Oleh karena itu, mempelajari hadits arbain ke-18 akan memberikan kita gambaran menyeluruh mengenai cara menjaga kualitas iman dan interaksi sosial.

Hadits shahih ini diriwayatkan oleh Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ جُنْدُبِ بْنِ جُنَادَةَ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ)

Artinya: Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).

Hadits arbain ke-18 mengandung tiga bahasan pokok, yaitu perintah takwa, mengiringi kejelekan dengan kebaikan, dan berakhlak mulia. Berikut adalah penjelasannya yang didasarkan pada referensi Rumaysho.com.

gambar pria duduk sendiri menghadap laut ilustrasi pengamalan hadits arbain ke-18
Takwa kepada Allah baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain (foto: freepik.com)

1. Perintah Bertakwa Kepada Allah di Mana Saja Berada

Wasiat pertama dalam hadits ini menekankan kewajiban bertaqwa kepada Allah tanpa terikat oleh waktu dan tempat. Taqwa berarti menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya atas dasar iman dan mengharap pahala. Seseorang harus konsisten menjaga ketaqwaan, baik saat berada di tengah keramaian maupun ketika sendirian di tempat tersembunyi. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap gerak-gerik hamba menjadi kunci utama dalam memelihara konsistensi taqwa tersebut.

Oleh sebab itu, ketaqwaan sejati bukan sekadar tampilan luar, melainkan sikap hati yang senantiasa patuh kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Hadits Arbain Ke-16: Larangan Marah dan Cara Mengendalikannya

2. Mengiringi Kejelekan dengan Kebaikan Sebagai Penghapus Dosa

Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi nyata ketika seorang hamba terlanjur melakukan kesalahan. Manusia memang tempatnya lupa dan tidak pernah luput dari perbuatan dosa. Namun, Islam mengajarkan agar kita segera menutupi dan mengiringi perbuatan buruk tersebut dengan amalan-amalan kebaikan. Bentuk kebaikan ini dapat berupa bertaubat, memohon ampunan (istighfar), serta menambah amalan shalat dan sedekah.

Dengan demikian, kebaikan yang kita lakukan secara sungguh-sungguh akan menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu.

3. Berakhlak Mulia dalam Berinteraksi dengan Sesama Manusia

Poin terakhir dalam hadits ini mengatur tata cara berhubungan dengan sesama manusia melalui akhlak terpuji. Hubungan yang baik kepada Allah harus berjalan seimbang dengan sikap yang santun kepada sesama makhluk. Berakhlak mulia mencakup sikap dermawan, menahan diri dari menyakiti orang lain, serta menunjukkan wajah yang berseri-seri. Selain itu, menyebarkan kedamaian dan menyambung tali silaturahmi juga menjadi bagian penting dari pengamalan akhlakul karimah.

Hasilnya, orang yang menerapkan akhlak mulia akan dicintai oleh Allah sekaligus mendapatkan tempat yang terhormat di tengah masyarakat.

Baca juga: Pentingnya Tabayyun Sebelum Menyebarkan Informasi

Kesimpulannya, pengajaran dalam hadits arbain ke-18 merangkum tiga pilar utama kehidupan seorang muslim, yaitu taqwa, taubat, dan akhlak mulia. Menerapkan ketiga prinsip ini secara konsisten akan mendatangkan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. Mari kita berusaha mengamalkan petunjuk Nabi ini dalam aktivitas harian kita. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi pribadi yang bertaqwa dan berakhlak terpuji.

Adab Shalat di Masjid Agar Ibadah Menjadi Lebih Khusyuk

Adab Shalat di Masjid Agar Ibadah Menjadi Lebih Khusyuk

Masjid merupakan rumah Allah yang memiliki kedudukan paling mulia di muka bumi. Ketika seorang muslim melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, ia sedang memenuhi panggilan Sang Pencipta. Oleh karena itu, kita tidak boleh memasuki dan beraktivitas di dalam masjid secara sembarangan. Islam telah mengatur tata krama khusus agar ibadah berjamaah berjalan dengan tertib, khusyuk, dan penuh keberkahan.

Memperhatikan adab shalat di masjid secara benar akan menyempurnakan kualitas ibadah serta menjaga kenyamanan jamaah lainnya.

Persiapan Diri Sebelum ke Masjid

Adab saat hendak beribadah ke masjid sebenarnya sudah dimulai sejak kita masih berada di rumah. Allah SWT memerintahkan setiap hamba-Nya untuk mengenakan pakaian yang indah dan bersih ketika mendatangi masjid. Sebagaimana dilansir dari laman muslim.or.id, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Artinya: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf: 31).

Selain mengenakan pakaian yang rapi, terdapat beberapa hal penting yang harus kita perhatikan sebelum berangkat:

  • Menjauhi Makanan Berbau Tajam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jamaah mendatangi masjid setelah memakan makanan berbau menyengat agar tidak mengganggu malaikat dan manusia. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang memakan bawang putih, bawang merah, dan daun bawang, maka janganlah ia mendekati masjid kami…” (HR. Muslim).

  • Berjalan dengan Tenang dan Anggun: Meskipun ikamah sudah berkumandang, kita wajib berjalan dengan tenang (sakinah) dan berwibawa (waqar). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar ikamah, maka berjalanlah menuju shalat dengan tenang dan berwibawa, dan janganlah tergesa-gesa…” (HR. Bukhari dan Muslim).

gambar bawang putih contoh penyebab kesalahan umum sebelum shalat bagian kedua
Bawang putih merupakan penyebab bau mulut yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat (foto: freepik.com)

Adab Memasuki Masjid

Ketika tiba di area masjid, seorang muslim wajib menunjukkan rasa hormat melalui tata cara masuk yang sesuai dengan tuntunan sunnah. Kita disunnahkan untuk mendahulukan kaki kanan saat melangkah masuk sambil membaca doa masuk masjid.

Selanjutnya, setelah berada di dalam area masjid, kita tidak boleh langsung duduk sebelum menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Hal ini berdasarkan perintah langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka hendaknya ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Adab Ketika Membaca Ayat Sajdah agar Tilawah Bermakna

Menjaga Ketertiban dan Kekhusyukan Selama Shalat Berjamaah

Penataan shaf dan pemeliharaan ketenangan menjadi poin krusial dalam penerapan adab shalat di masjid. Berdasarkan rujukan dari Muslim.or.id, berikut adalah dalil dan aturan utama saat shalat berlangsung:

1. Merapatkan dan Meluruskan Barisan (Shaf)

Lurus dan rapatnya barisan merupakan syarat utama kesempurnaan shalat berjamaah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ

Artinya: “Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Larangan Melintas di Depan Orang yang Sedang Shalat

Kita dilarang keras berjalan atau melintas di depan jamaah yang sedang mendirikan shalat (sutrah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ancaman keras dalam haditsnya:

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Artinya: “Seandainya orang yang melintas di depan orang yang sedang shalat mengetahui dosa yang harus ia pikul, niscaya berdiri (menunggu) selama 40 (tahun) lebih baik baginya daripada melintas di depannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga: Mengapa Harus Qiyamul Lail? Keutamaannya Bagi Muslim

3. Mengikuti Gerakan Imam Tanpa Mendahuluinya

Makmum wajib mengikuti setiap gerakan imam secara tertib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya, menerapkan adab shalat di masjid sesuai dengan dalil-dalil di atas merupakan cerminan dari akhlak dan ketaqwaan seorang muslim. Dengan menjaga kebersihan pakaian, menenangkan langkah, serta merapatkan shaf, kita dapat menciptakan suasana ibadah yang sangat khusyuk bagi seluruh jamaah. Mari kita biasakan untuk mempraktikkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah ini setiap kali mendatangi rumah Allah. Semoga Allah menerima seluruh amalan shalat berjamaah yang kita kerjakan.

Adab Makan Rasulullah, Rahasia Sehat Sesuai Sunnah

Adab Makan Rasulullah, Rahasia Sehat Sesuai Sunnah

Menjaga kesehatan tubuh merupakan bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Salah satu cara terbaik untuk meraih kebugaran fisik sekaligus pahala adalah dengan mengikuti adab makan Rasulullah. Beliau tidak hanya memberikan teladan dalam urusan ibadah, tetapi juga mengajarkan manajemen nutrisi yang sangat relevan dengan ilmu kesehatan modern.

Dengan menerapkan kebiasaan makan nabi, Anda dapat menjaga keseimbangan metabolisme tubuh dan terhindar dari berbagai penyakit kronis.

1. Berhenti Makan Sebelum Kenyang

Prinsip utama dalam adab makan Rasulullah adalah mengendalikan porsi makan agar tidak berlebihan. Rasulullah SAW sangat menghindari perilaku makan hingga kekenyangan karena dapat membuat tubuh terasa berat dan malas. Beliau memberikan panduan pembagian ruang dalam lambung melalui sabdanya:

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus melebihkannya, maka hendaknya sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380).

pria makan snack berlebihan sambil tidur ilustrasi kesalahan adab makan Rasulullah
Makan berlebihan merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan adab makan Rasulullah (foto: freepik.com)

2. Mengonsumsi Makanan Halal dan Thayyib

Selanjutnya, Rasulullah SAW selalu memilih makanan yang tidak hanya halal secara hukum, tetapi juga thayyib (baik dan bergizi). Beliau sangat menyukai makanan alami seperti kurma, madu, zaitun, dan gandum. Allah SWT menegaskan prinsip ini dalam Al-Qur’an:

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…” (QS. Al-Baqarah: 168).

Dengan memilih asupan yang berkualitas, tubuh akan mendapatkan energi yang optimal untuk beraktivitas dan beribadah.

Baca juga: Doa Sebelum Makan: Bacaan, Arti, dan Adabnya

3. Memulai dengan Air Putih atau Madu

Dalam rutinitas paginya, Rasulullah SAW sering mengawali hari dengan segelas air yang dicampur madu. Manfaat minum madu dapat membersihkan saluran pencernaan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Di sisi lain, madu memiliki kandungan antioksidan tinggi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit dan jantung. Mengikuti adab makan Rasulullah ini membantu proses detoksifikasi alami di dalam tubuh setiap pagi.

4. Mengunyah Makanan Secara Perlahan

Cara mengunyah juga menjadi perhatian penting dalam sunnah nabi. Rasulullah SAW membiasakan diri untuk mengunyah makanan dengan tenang dan tidak terburu-buru. Secara medis, proses mengunyah yang lama membantu enzim pencernaan bekerja lebih sempurna dalam memecah partikel makanan. Akibatnya, nutrisi terserap lebih maksimal dan beban kerja lambung menjadi lebih ringan.

Baca juga: Adab Tidur Ala Rasulullah untuk Tidur Lebih Berkualitas

5. Hindari Makan dan Minum Sambil Berdiri

Selain jenis makanannya, Rasulullah SAW juga mengatur adab saat makan. Beliau melarang umatnya untuk minum sambil berdiri karena dapat mengganggu fungsi katup pada saluran pencernaan. Beliau bersabda:

“Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.” (HR. Muslim no. 2026).

Menerapkan adab makan Rasulullah beserta adabnya secara konsisten akan menciptakan harmoni antara kesehatan fisik dan ketenangan jiwa. Kebiasaan-kebiasaan sederhana ini membuktikan bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan manusia secara menyeluruh.

Mari kita mulai memperbaiki gaya hidup dengan mengikuti tuntunan nabi agar setiap suapan yang kita makan menjadi sumber tenaga untuk kebaikan.

Adab Tidur Ala Rasulullah untuk Tidur Lebih Berkualitas

Adab Tidur Ala Rasulullah untuk Tidur Lebih Berkualitas

Tidur bukan sekadar aktivitas melepas lelah bagi seorang Muslim. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap kegiatan manusia, termasuk istirahat, dapat bernilai ibadah jika kita melakukannya dengan niat yang benar. Oleh karena itu, menerapkan adab tidur ala Rasulullah tidak hanya menyehatkan tubuh secara fisik, tetapi juga memberikan ketenangan batin yang luar biasa.

Berikut adalah beberapa kebiasaan nabi sebelum beristirahat yang dapat Anda praktikkan berdasarkan dalil-dalil yang shahih.

1. Berwudhu Sebelum Berbaring

Menjaga kesucian diri merupakan langkah awal dalam memulai istirahat. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berwudhu sebagaimana tata cara wudhu untuk shalat. Beliau bersabda:

“Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

Tindakan ini membantu seseorang merasa lebih rileks secara spiritual. Sehingga, pikiran yang penat setelah beraktivitas seharian akan terasa lebih ringan saat Anda memasuki fase tidur.

2. Mengibaskan Tempat Tidur

Selanjutnya, kebersihan tempat tidur menjadi perhatian utama dalam adab Islami sebelum tidur ala Rasulullah. Beliau membiasakan diri untuk membersihkan alas tidur terlebih dahulu sebagaimana sabdanya:

“Jika salah seorang di antara kalian hendak tidur, maka hendaknya ia mengambil potongan kain lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya…” (HR. Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714).

Langkah sederhana ini bertujuan untuk memastikan tidak ada kotoran atau gangguan kecil yang menempel di atas kasur. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan ini menunjukkan kepedulian Islam terhadap keamanan diri saat beristirahat.

3. Posisi Tidur Miring ke Kanan

Posisi tubuh saat tidur juga memiliki aturan spesifik dalam sunnah. Rasulullah SAW terbiasa tidur dengan posisi miring ke arah kanan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi. Hal ini tercantum dalam lanjutan hadits sebelumnya:

“…kemudian berbaringlah di atas pinggang sebelah kananmu.” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).

Secara medis, posisi ini terbukti baik untuk menjaga kesehatan jantung dan mempermudah kerja lambung. Dengan mengikuti adab tidur ala Rasulullah ini, Anda membantu organ tubuh bekerja dengan lebih optimal selama Anda terlelap.

gambar pria tidur menghadap kanan contoh adab tidur ala Rasulullah
Posisi tidur menghadap kanan adalah salah satu adab tidur ala Rasulullah (foto: freepik.com)

4. Membaca Doa dan Surah Pilihan

Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan waktu sebelum tidur tanpa berzikir. Beliau biasanya membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh. Selain itu, beliau mengajarkan doa yang sangat masyhur:

“Bismika Allahumma ahya wa amuut (Dengan nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan aku mati).” (HR. Bukhari no. 6324).

Kebiasaan ini menciptakan suasana mental yang positif dan menjauhkan rasa cemas. Zikir sebelum tidur menjadi benteng perlindungan yang kokoh dari gangguan setan selama kita terlelap.

Baca juga: Doa Sebelum Tidur sebagai Perlindungan Saat Kematian Kecil

5. Mematikan Lampu dan Sumber Api

Terakhir, nabi juga memerintahkan umatnya untuk mematikan lampu atau sumber api sebelum tidur demi keselamatan. Beliau bersabda:

“Padamkanlah lampu-lampu di malam hari ketika kalian akan tidur…” (HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012).

Perintah ini mengandung hikmah keamanan yang sangat besar agar terhindar dari bahaya kebakaran. Selain itu, tidur dalam kondisi gelap membantu tubuh memproduksi hormon melatonin dengan lebih baik. Maka dari itu, mengikuti adab tidur ala Rasulullah memberikan manfaat ganda bagi keselamatan dan kesehatan biologis.

Dengan menjalankan rutinitas ini, tidur Anda akan menjadi lebih bermakna dan berpahala. Mari kita mulai memperbaiki pola istirahat kita dengan meniru kebiasaan mulia sang teladan umat agar hari esok terasa lebih bugar.

Cara Mencegah Sombong di Internet Agar Terhindar dari Riya’

Cara Mencegah Sombong di Internet Agar Terhindar dari Riya’

Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat angkuh, termasuk dalam interaksi di dunia digital. Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 18: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa setiap perilaku yang menunjukkan superioritas, baik di dunia nyata maupun di media sosial, sangat dibenci oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, memahami cara mencegah sombong di internet merupakan kebutuhan spiritual bagi setiap muslim agar terhindar dari riya’ dan penyakit hati lain yang merusak pahala.

Berikut adalah beberapa langkah praktis secara Islami untuk menjaga kerendahan hati di dunia maya.

Meluruskan Niat sebagai Bentuk Mujahadah An-Nafs

Langkah paling utama sebagai cara mencegah sombong di internet adalah dengan melakukan mujahadah atau perjuangan sungguh-sungguh dalam menata niat. Sebelum Anda membagikan foto atau status, tanyakanlah kepada diri sendiri apakah unggahan tersebut bertujuan mencari rida Allah atau sekadar mengharap pujian manusia. Jika Anda merasa ada setitik keinginan untuk pamer, sebaiknya urungkan niat tersebut. Ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui setiap getaran hati, dan keikhlasan adalah kunci utama agar amal kita tidak sia-sia di hadapan-Nya.

gambar postingan media sosial ilustrasi cara mencegah sombong di internet
Menata niat sebelum posting adalah langkah penting untuk mencegah sombong di internet (foto: freepik)

Mengingat Bahwa Segala Nikmat Adalah Ujian dari Allah

Sifat sombong biasanya muncul saat seseorang merasa bahwa keberhasilan yang ia raih merupakan hasil kehebatannya semata. Untuk menangkal hal ini, Anda harus selalu menyadari bahwa kecerdasan, harta, maupun rupa yang menawan adalah titipan Allah yang bersifat sementara. Saat Anda ingin mengunggah pencapaian, sertakanlah perasaan syukur dan kalimat tayyibah seperti masya Allah atau alhamdulillah. Menyadari posisi diri sebagai hamba yang fakir di hadapan Sang Pencipta merupakan cara mencegah sombong di internet yang sangat efektif untuk meredam ego.

Mempraktikkan Sifat Tawadhu dalam Setiap Komentar dan Unggahan

Islam mengajarkan kita untuk selalu bersikap tawadhu atau rendah hati kepada sesama manusia. Di ruang digital, hal ini bisa Anda praktikkan dengan cara tidak merendahkan orang lain saat berdiskusi atau membalas komentar. Hindarilah menunjukkan gaya hidup mewah secara berlebihan yang dapat menyakiti hati orang-orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dengan menjaga lisan dan jempol dari kalimat yang bernada angkuh, Anda sebenarnya sedang melindungi diri dari sifat takabur yang sangat Allah benci.

Baca juga: Hukum Pamer di Media Sosial: Beda Menginspirasi dan Takabur

Waspada Terhadap Bahaya Riya dan Penyakit Ain

Cara mencegah sombong di internet juga berkaitan erat dengan kewaspadaan terhadap penyakit ain. Terlalu sering memamerkan kebahagiaan keluarga atau harta benda dapat mengundang rasa iri dan dengki dari orang lain yang melihatnya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa pandangan mata yang jahat itu nyata adanya. Oleh karena itu, menyembunyikan sebagian nikmat dan hanya menonjolkan hal-hal yang bermanfaat bagi umat merupakan tindakan yang lebih selamat bagi hati serta fisik Anda.

Menggunakan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah dan Kebaikan

Alih-alih menjadikan profil pribadi sebagai ajang pencitraan diri, ubahlah fungsi media sosial Anda sebagai sarana menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Fokuslah pada konten yang mengajak orang lain untuk lebih dekat kepada Allah dan rasul-Nya. Saat pikiran Anda terfokus pada kepentingan umat, maka keinginan untuk menonjolkan kehebatan pribadi akan terkikis dengan sendirinya. Menjadikan internet sebagai ladang jariyah merupakan cara mencegah sombong di internet yang paling mulia dan mendatangkan keberkahan.

Baca juga: Kurikulum Pondok Tahfidz Putri Ideal di Era Digital

Menerapkan cara mencegah sombong di internet memerlukan kedisiplinan diri yang kuat serta ketergantungan penuh kepada hidayah Allah SWT. Dunia digital hanyalah sebuah alat, namun cara kita menggunakannya mencerminkan kualitas iman yang ada di dalam dada. Dengan tetap menjaga kerendahan hati, kita berharap setiap aktivitas digital kita tidak hanya meninggalkan jejak di layar ponsel, tetapi juga tercatat sebagai timbangan amal kebaikan di akhirat kelak.

Karakter Bani Israil yang Tidak Boleh Ditiru (Cerita Anak Islami)

Karakter Bani Israil yang Tidak Boleh Ditiru (Cerita Anak Islami)

Halo, Adik-adik manis! Pernahkah kalian mendengar nama sebuah kaum bernama Bani Israil dalam cerita-cerita Al-Qur’an?

Hari ini, kita akan berkenalan dengan mereka. Kita akan belajar siapa mereka sebenarnya dan apa saja karakter Bani Israil yang diceritakan Allah agar kita tidak meniru sifat buruk mereka. Yuk, kita simak ceritanya!

Siapa Itu Bani Israil?

Bani Israil artinya “Anak-cucu Israil”. Nah, Israil sendiri adalah sebutan untuk Nabi Yakub AS. Jadi, Bani Israil adalah keturunan atau keluarga besar dari Nabi Yakub.

Awalnya, mereka adalah orang-orang yang mulia karena kakek buyut mereka adalah para nabi hebat, seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq. Allah bahkan memberikan banyak sekali keistimewaan kepada mereka, seperti menurunkan banyak nabi dari kalangan mereka dan memberikan makanan lezat langsung dari langit yang namanya Manna dan Salwa.

gamabr burung puyuh dan telur puyuh yang mirip salwa dalam kisah karakter Bani Israil
Salwa adalah burung yang menyerupai burung puyuh (foto: link UMKM dalam rri.co.id)

Karakter Bani Israil yang Suka Mengeluh

Meskipun sudah disayang Allah dan dibantu oleh Nabi Musa, ternyata banyak dari mereka yang memiliki sifat kurang baik. Inilah beberapa karakter Bani Israil yang harus kita hindari:

1. Suka Membantah dan Banyak Alasan

Suatu ketika, Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina. Alih-alih langsung patuh, mereka malah banyak tanya dan memberikan alasan yang aneh-aneh supaya tidak jadi menyembelihnya.

Sifat ini Allah ceritakan dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 67:

“Mereka berkata: ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami bahan ejekan?’ Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.’”

Adik-adik, jangan menirunya ya! Kalau Ayah atau Ibu meminta tolong hal baik, kita harus langsung laksanakan dengan semangat, bukan malah banyak alasan.

Baca juga: Pengajaran Adab Makan Anak Muslim yang Mudah Dipraktikkan

2. Kurang Bersyukur dan Cepat Mengeluh

Bayangkan, Allah sudah memberikan makanan dari surga, tapi mereka malah mengeluh ingin makan bawang dan kacang-kacangan saja karena bosan. Mereka sering lupa pada pertolongan Allah yang sudah menyelamatkan mereka dari Firaun yang jahat.

3. Hatinya Sangat Keras

Inilah yang paling sedih. Karena sering membangkang, hati mereka menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi! Mereka sulit sekali dinasehati untuk berbuat baik.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 74:

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…”

Baca juga: Hikmah Surat Al Quraisy Tentang Rasa Syukur dan Keamanan

Mengapa Kita Tidak Boleh Meniru Karakter Bani Israil yang Buruk?

Allah menceritakan karakter Bani Israil ini supaya kita menjadi anak yang lebih baik. Coba bayangkan kalau kita punya teman yang suka membantah, pelit, dan tidak tahu terima kasih, pasti tidak seru, kan?

Agar kita mendapatkan sayang dari Allah dan punya banyak teman, yuk kita miliki sifat yang berkebalikan dengan mereka:

  • Jadilah anak yang patuh: Kalau ada perintah kebaikan, langsung bilang “Siap!”.

  • Jadilah anak yang bersyukur: Ucapkan Alhamdulillah atas makanan dan mainan yang kita punya.

  • Jadilah anak yang lembut hati: Mau mendengarkan nasehat guru dan orang tua.