Hadits Arbain ke-5 merupakan salah satu hadits penting dalam Islam yang menegaskan prinsip dasar beragama. Hadits ini menjadi pedoman agar seorang Muslim berhati-hati dalam beramal dan beribadah. Melalui hadits ini, Rasulullah mengingatkan bahaya menambahkan sesuatu dalam agama tanpa dasar yang benar.
Bunyi Hadits Arbain Ke-5 dan Maknanya
Hadits Arbain ke-5 diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini termasuk hadits yang disepakati keshahihannya. Oleh karena itu, kedudukannya sangat kuat sebagai landasan dalam memahami ajaran Islam.
Hadits Arbain ke-5 menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna. Segala bentuk ibadah dan amalan harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan sunnah. Jika suatu amalan dibuat tanpa landasan syariat, maka amalan tersebut tidak diterima. Prinsip ini menjaga kemurnian ajaran Islam dari penambahan yang menyesatkan.

Dalam hadits ini, Rasulullah menggunakan kata “urusan kami” yang merujuk pada agama Islam. Artinya, yang dimaksud adalah perkara ibadah dan keyakinan. Adapun urusan duniawi tetap terbuka untuk ijtihad dan inovasi selama tidak melanggar syariat.
Baca juga: Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial
Pentingnya Menghindari Bid’ah dalam Agama
Hadits Arbain ke-5 sering dijadikan dasar pembahasan tentang bid’ah. Bid’ah dalam agama adalah perkara baru yang tidak memiliki dalil. Rasulullah mengingatkan bahwa niat baik saja tidak cukup. Amalan harus benar dari sisi tuntunan. Dengan demikian, seorang Muslim perlu belajar dan memahami dalil sebelum beramal.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hadits ini mengajarkan kehati-hatian. Setiap ibadah perlu ditimbang berdasarkan contoh Nabi. Jika tidak ada tuntunan, maka sebaiknya ditinggalkan. Sikap ini justru menjaga keikhlasan dan ketulusan dalam beribadah.
Di tengah maraknya tren ibadah dan amalan populer, hadits ini menjadi pengingat penting. Seorang Muslim diajak untuk kembali kepada sumber ajaran yang sahih. Dengan demikian, agama tidak bercampur dengan kebiasaan yang menyesatkan.
Baca juga: Mengapa Waktu Menjadi Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan?
Selain itu, hadits ini juga mengajarkan sikap tawadhu. Seorang hamba tidak merasa paling benar dengan amalnya. Ia justru memastikan bahwa amal tersebut sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Inilah bentuk kecintaan sejati kepada Nabi.
Hadits Arbain ke-5 menegaskan prinsip dasar dalam beragama, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah secara benar. Setiap amalan harus memiliki dasar syariat agar diterima oleh Allah. Dengan memahami hadits ini, umat Islam dapat menjaga kemurnian ibadah dan menghindari kesalahan dalam beragama. Prinsip ini menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan Islam yang lurus dan bertanggung jawab.



















