Keutamaan Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Keutamaan Membaca Surat Al Mulk Sebelum Tidur

Membaca Al-Qur’an sebelum tidur adalah amalan yang ringan namun penuh keberkahan. Di antara surat yang dianjurkan untuk dibaca setiap malam adalah Surat Al Mulk. Banyak hadits menjelaskan keutamaan membaca Surat Al Mulk, khususnya dalam melindungi seseorang dari siksa kubur dan mendatangkan ketenangan hati sebelum beristirahat.

Keutamaan Membaca Surat Al Mulk

Pelindung dari Siksa Kubur

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa fadhilah Surat Al Mulk akan menjadi penolong bagi orang yang membacanya hingga diampuni dosanya. Maknanya, surat ini memiliki keutamaan besar sebagai pelindung dari siksa kubur. Bagi seorang muslim, amalan ini sederhana namun memberikan manfaat spiritual yang luar biasa. Membacanya setiap malam sebelum tidur bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menjadi bentuk persiapan menuju akhirat.

gambar pria tidur
Ilustrasi tidur (sumber: freepik)

Menjadi Pengingat Kebesaran Allah

Surat Al Mulk berisi pesan-pesan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah atas seluruh ciptaan-Nya. Ketika seorang hamba membaca ayat-ayat ini, hatinya akan lebih mudah tunduk dan bersyukur atas nikmat hidup. Keutamaan membaca Surat Al Mulk juga terlihat dari dampaknya terhadap kesadaran diri. Bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang sepenuhnya bergantung kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Doa Bangun Tidur: Dalil, Manfaat, dan Keutamaannya

Surat Al Qur’an yang Dianjurkan Untuk Dibaca

Selain Al Mulk, umat Islam juga dianjurkan membaca Surat Al Waqi’ah dan Ar Rahman secara rutin. Surat Al Waqi’ah dikenal sebagai surat pembuka rezeki. Sementara Ar Rahman sering disebut sebagai “surat kasih sayang” karena menggambarkan limpahan rahmat Allah kepada seluruh makhluk. Ketiganya saling melengkapi: Al Mulk melindungi dari siksa kubur, Al Waqi’ah memperluas rezeki, dan Ar Rahman menumbuhkan rasa syukur dan cinta kepada Allah.

Pentingnya Membangun Rutinitas Doa Sebelum Tidur

Membaca doa sebelum tidur dan Surat Al Mulk merupakan kebiasaan yang menguatkan spiritualitas. Dalam pandangan Islam, tidur bukan sekadar istirahat fisik, tetapi juga waktu untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Karena itu, menutup hari dengan bacaan Al-Qur’an adalah cara terbaik untuk menjaga hati tetap bersih dan tenang.

Pada akhirnya, keutamaan membaca Surat Al Mulk tidak hanya terkait dengan keselamatan dari siksa kubur, tetapi juga membentuk karakter seorang muslim yang sadar akan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat. Dengan membiasakan membaca Al Mulk setiap malam, bersama surat-surat lain seperti Al Waqi’ah dan Ar Rahman, seorang muslim menanamkan kebiasaan yang menenangkan jiwa serta mendekatkan diri kepada Allah.

Di Pondok Tahfidz Jombang Al Muanawiyah, kebiasaan membaca Surat Al Mulk telah menjadi bagian dari rutinitas harian santri putri. Setelah shalat Isya berjamaah, para santri bersama-sama melantunkan ayat-ayatnya dengan penuh kekhusyukan. Tradisi ini bukan hanya melatih hafalan dan ketertiban ibadah, tetapi juga menanamkan nilai spiritual yang mendalam. Bahwa setiap malam adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon perlindungan dari-Nya. Melalui pembiasaan sederhana ini, Al Muanawiyah berupaya menumbuhkan generasi Qurani yang berakhlak, berdisiplin, dan berjiwa tenang dalam naungan rahmat Allah.

Sunan Ampel Sang Guru Para Wali

Sunan Ampel Sang Guru Para Wali

Dalam rangkaian Walisongo, nama Sunan Ampel menempati posisi penting sebagai penerus perjuangan dakwah Sunan Gresik. Beliau dikenal sebagai sosok guru para wali, karena banyak muridnya kelak menjadi tokoh besar penyebar Islam di Nusantara. Dengan kebijaksanaan dan ilmu yang luas, beliau berhasil mengembangkan ajaran Islam melalui pendidikan dan keteladanan.

Biografi Singkat Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat, putra dari Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Ia lahir di Champa, dari ibu yang berasal dari kerajaan setempat. Sejak muda, Raden Rahmat dikenal tekun belajar agama dan memiliki pandangan luas terhadap kehidupan sosial. Setelah menempuh pendidikan di berbagai tempat, ia datang ke Jawa dan menetap di Surabaya pada sekitar abad ke-15.

Di kawasan Ampel Denta, beliau mendirikan pesantren yang kemudian dikenal sebagai Pesantren Ampel Denta, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Dari tempat inilah muncul generasi cemerlang seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat, yang kelak melanjutkan estafet dakwah Islam di berbagai daerah.

gambar masjid dengan banyak pengunjung dan penjual makanan di lingkungan pesantren ampel denta surabaya
Gambar ramainya pusat penyebaran Islam Ampel Denta di Surabaya (sumber: Radar Surabaya)

Jejak Perjuangan Dakwah

Perjuangan Sunan Ampel tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga pembinaan akhlak masyarakat. Ia menekankan pentingnya “iman, Islam, dan ihsan” dalam kehidupan sehari-hari. Dakwahnya menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal, antara keimanan dan tanggung jawab sosial.

Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan konsep “Moh Limo”, yaitu ajaran untuk menjauhi lima hal: tidak mabuk, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berjudi, dan tidak makan barang haram. Nilai-nilai ini menjadi dasar moral yang relevan hingga kini, terutama dalam menghadapi tantangan moral di era modern.

Dalam sejarah, Sunan Ampel berperan besar dalam mendukung berdirinya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Ia menjadi penasihat spiritual bagi para pemimpin muda kala itu, sehingga dakwah Islam dapat berkembang tanpa pertumpahan darah.

Baca juga: Makna Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam Semangat Persatuan

Teladan dari Sunan Ampel

Ketegasan dalam prinsip, kelembutan dalam sikap, dan kebijaksanaan dalam berdakwah menjadi ciri khas Sunan Ampel. Ia mengajarkan bahwa kekuatan Islam tidak terletak pada kekuasaan, tetapi pada akhlak dan ilmu yang diamalkan dengan ikhlas.

Dari ajaran beliau, umat Islam masa kini dapat belajar pentingnya menanamkan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Setiap tindakan, sekecil apa pun, harus didasari niat tulus untuk kemaslahatan umat.

Sejarah Walisongo menyimpan banyak pelajaran berharga. Kisah Sunan Ampel mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari pendidikan, keikhlasan, dan semangat menebar kebaikan tanpa pamrih.

Walisongo dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Walisongo dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Al MuanawiyahWalisongo dikenal sebagai sembilan ulama besar yang berperan penting dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 hingga 16 Masehi. Mereka bukan sekadar penyebar agama, tetapi juga pembaharu sosial dan budaya yang membawa Islam dengan pendekatan damai, penuh kearifan, dan selaras dengan tradisi masyarakat lokal.

Melalui dakwah yang santun dan kreatif, Walisongo berhasil menjadikan Islam diterima luas oleh masyarakat tanpa paksaan. Mereka mendirikan pesantren, masjid, serta lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal peradaban Islam di Nusantara.

Siapa Saja Walisongo Itu?

1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Sunan Gresik dikenal sebagai wali pertama yang menyebarkan Islam di Jawa. Ia berasal dari Samarkand (Asia Tengah) dan datang ke Gresik sekitar abad ke-14. Dakwahnya dilakukan dengan cara memperkenalkan nilai-nilai Islam lewat pendidikan dan pelayanan sosial. Ia wafat pada tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel adalah menantu Sunan Gresik dan pendiri Pondok Pesantren Ampel Denta di Surabaya. Ia dikenal sebagai guru dari banyak wali lain, termasuk Sunan Bonang dan Sunan Giri. Ajarannya menekankan pentingnya akhlak dan tauhid, serta penguatan lembaga pendidikan Islam.

Baca juga: Biografi KH Abdul Wahab Hasbullah Ulama yang Visioner

3. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

Putra Sunan Ampel ini dikenal dengan metode dakwah melalui kesenian, terutama gamelan dan tembang Jawa. Ia memperkenalkan nilai-nilai Islam melalui budaya lokal tanpa menghilangkan identitas masyarakat. Dakwahnya banyak berpusat di wilayah Tuban dan sekitarnya.

4. Sunan Drajat (Raden Qasim)

Sunan Drajat juga putra Sunan Ampel. Ia dikenal dengan kepeduliannya terhadap kaum fakir miskin dan ajaran sosialnya yang menekankan keseimbangan antara ibadah dan kemanusiaan. Salah satu ajarannya berbunyi, “Mikul dhuwur mendhem jero”, yang berarti menghormati jasa orang lain dengan sepenuh hati.

5. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)

Sunan Giri mendirikan pesantren di Giri Kedaton, Gresik. Ia dikenal sebagai ulama dan pemimpin yang bijaksana. Murid-muridnya banyak menjadi penyebar Islam di daerah lain. Dakwahnya kuat di bidang pendidikan dan pembentukan karakter santri.

gambar sunan giri
Gambar salah satu walisongo, Sunan Giri (sumber: kompas)

6. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus dikenal sebagai sosok toleran dan bijaksana. Ia menghormati tradisi Hindu-Buddha dengan tidak menyembelih sapi saat berkurban agar dakwahnya diterima masyarakat. Selain itu, ia mendirikan Masjid Menara Kudus yang menjadi simbol perpaduan budaya Islam dan Jawa.

7. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said)

Sunan Kalijaga dikenal dengan pendekatan dakwah budaya. Ia memanfaatkan seni wayang, tembang, dan pakaian adat untuk memperkenalkan ajaran Islam. Sosoknya menjadi simbol Islam yang moderat, adaptif, dan berpihak pada masyarakat bawah.

Baca juga: Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama dan Perjuangan Santri

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ia lebih banyak berdakwah di pedesaan dengan mendekati masyarakat kecil. Metodenya sederhana dan mudah diterima, menekankan pentingnya kerja keras dan kesetiaan kepada agama.

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati berperan besar dalam penyebaran Islam di Cirebon dan Banten. Ia juga dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon. Dakwahnya menyatukan kekuatan politik dan spiritual untuk memperkuat Islam di tanah Jawa bagian barat.

Ajaran Walisongo menjadi pondasi penting dalam perkembangan Islam di Indonesia. Mereka tidak hanya menanamkan akidah, tetapi juga menumbuhkan karakter sosial dan budaya yang selaras dengan nilai Islam. Hingga kini, semangat dakwah damai ala Walisongo menjadi teladan bagi para santri dan generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa.

Makna Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam Semangat Persatuan

Makna Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam Semangat Persatuan

Ahlussunnah wal jamaah adalah istilah yang telah mengakar kuat dalam sejarah peradaban Islam. Secara etimologis, “Ahlussunnah” berarti para pengikut sunnah Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan “wal Jamaah” berarti golongan yang berpegang pada kesatuan umat. Dengan demikian, Istilah ini merujuk pada ajaran Islam yang mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta menjaga prinsip persatuan dan keseimbangan dalam kehidupan beragama.

Baca juga: Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Sejarah Istilah Ahlussunnah wal Jamaah

Istilah ini mulai dikenal luas pada abad ke-2 Hijriah, ketika muncul berbagai aliran pemikiran dan tafsir dalam Islam. Para ulama pada masa itu berusaha meluruskan pemahaman umat agar tidak terpecah akibat perbedaan pandangan politik dan teologis. Salah satu tokoh penting dalam penguatan istilah ini adalah Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, yang menegaskan pentingnya berpegang pada ajaran Rasul dan ijma’ ulama sebagai jalan tengah antara ekstrem rasionalisme dan literalisme.

Sebutan ini kemudian menjadi identitas utama mayoritas umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Nusantara. Para ulama seperti Walisongo dan tokoh-tokoh pesantren di Indonesia membawa ajaran ini sebagai dasar dalam menyebarkan Islam yang ramah, santun, dan berimbang antara akal dan dalil.

gambar walisongo
Gambar walisongo (sumber: gramedia)

Makna dan Nilai Ahlussunnah wal Jamaah

Ahlussunnah wal Jamaah mengajarkan tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan tawasuth (jalan tengah). Dalam praktiknya, ajaran ini menghindari sikap fanatik berlebihan serta menolak kekerasan atas nama agama. Umat diajak untuk menjaga akidah yang lurus tanpa meninggalkan akhlak mulia dan kasih sayang terhadap sesama.

Di Indonesia, nilai-nilai ini menjadi ruh dari berbagai lembaga keagamaan, termasuk pondok pesantren. Di sanalah, santri belajar bukan hanya ilmu agama, tetapi juga makna kebersamaan dan tanggung jawab sosial.

Semangat Persatuan Umat Islam

Pada era modern, tantangan umat Islam semakin kompleks. Perbedaan pandangan kerap dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan. Padahal, prinsip ini justru mengajarkan untuk menguatkan ukhuwah (persaudaraan) di tengah keberagaman. Dengan semangat jamaah, umat diharapkan bisa saling menghargai dan bekerja sama membangun peradaban Islam yang maju dan damai.

Sebagaimana pesan para ulama terdahulu, menjaga kesatuan lebih utama daripada memperdebatkan perbedaan kecil. Persatuan inilah yang menjadi kekuatan umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman.

Mari bersama memperdalam nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah melalui pendidikan dan dakwah yang menyejukkan. Kunjungi PPTQ Al Muanawiyah Jombang dan temukan bagaimana semangat ini terus hidup dalam jiwa para santri yang berjuang untuk ilmu dan persatuan umat.

Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa yang Harus Diketahui

Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa yang Harus Diketahui

Puasa adalah salah satu ibadah utama dalam Islam yang memiliki banyak hikmah. Namun agar ibadah ini diterima, seorang Muslim perlu memahami syarat wajib dan syarat sah puasa dengan benar. Kedua hal ini sering dianggap sama, padahal maknanya berbeda. Mengetahuinya dapat membantu setiap Muslim memastikan bahwa puasanya tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sah secara syariat.

Baca juga: Pengertian dan Rukun Puasa dalam Islam

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa adalah ketentuan yang membuat seseorang dikenai kewajiban untuk berpuasa. Jika belum memenuhi syarat ini, maka puasa belum diwajibkan atasnya. Para ulama menjelaskan beberapa syarat wajib, di antaranya:

1. Islam

Puasa hanya diwajibkan bagi orang Islam. Bagi non-Muslim, ibadah ini tidak memiliki nilai syariat hingga ia memeluk Islam.

2. Baligh

Puasa menjadi kewajiban bagi yang sudah mencapai usia baligh. Anak-anak dianjurkan berpuasa sejak dini untuk membiasakan diri, tetapi belum berdosa jika meninggalkannya.

3. Berakal Sehat

Orang yang kehilangan akal atau sedang tidak sadar tidak diwajibkan berpuasa, karena tidak memiliki kemampuan untuk berniat dan menahan diri.

4. Mampu dan Tidak dalam Uzur Syar’i

Seseorang yang sedang sakit berat, lanjut usia, atau dalam perjalanan jauh boleh tidak berpuasa, namun wajib menggantinya sesuai ketentuan syariat.

gambar pria membawa tas besar memandang sawah ilustrasi perjalanan jauh
Ilustrasi perjalanan jauh (sumber: freepik.com)

Syarat Sah Puasa

Berbeda dari syarat wajib, syarat sah puasa berkaitan dengan diterima atau tidaknya ibadah di sisi Allah. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka puasanya tidak sah. Berikut syarat-syaratnya:

1. Islam dan Berakal

Sebagaimana syarat wajib, orang yang tidak beriman atau tidak sadar tidak sah puasanya, karena puasa merupakan ibadah yang membutuhkan niat dan kesadaran.

2. Suci dari Hadats Besar

Bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, tidak sah berpuasa. Ia wajib menggantinya di hari lain setelah suci.

3. Mengetahui Waktu Puasa

Seseorang harus mengetahui kapan waktu puasa dimulai dan berakhir, yaitu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika keliru dalam waktu, misalnya makan setelah fajar karena tidak tahu, maka puasanya batal.

4. Niat Sebelum Fajar

Niat merupakan unsur penting dalam sahnya puasa. Rasulullah ﷺ bersabda,


“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud).

Niat dapat diucapkan dengan lisan atau cukup dalam hati, yang terpenting adalah kesungguhan untuk menunaikan ibadah karena Allah.

Agar Puasa Diterima dengan Sempurna

Memahami syarat wajib dan sah puasa bukan sekadar pengetahuan fikih, tetapi bentuk kehati-hatian dalam beribadah. Dengan mengetahui hal ini, seorang Muslim akan lebih teliti dan tidak mudah lalai.

Puasa yang sah akan membuka jalan menuju keberkahan dan ampunan Allah. Karena itu, penting bagi kita untuk terus memperdalam ilmu, agar ibadah yang dilakukan benar-benar diterima.

Tingkatkan pemahaman Anda tentang puasa dan adabnya bersama para guru di majelis ilmu terdekat. Semakin paham ilmunya, semakin besar peluang ibadah Anda diterima dengan sempurna.

5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

Cara shalat khusyuk merupakan dambaan setiap muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketenangan hati. Apalagi shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam. Ia adalah tiang agama, penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Namun, seringkali kita merasa pikiran melayang saat melaksanakan shalat, sehingga sulit meraih kekhusyukan. Padahal, Allah memuji orang-orang yang shalat khusyuk dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2).

Lalu, bagaimana cara shalat khusyuk agar ibadah ini benar-benar menghadirkan ketenangan jiwa?

cara shalat khusyuk dan hati tenang. pria sedang sujud shalat di masjid, moslem pray in mosque
Cara shalat khusyuk dan hati tenang

1. Membersihkan Hati dan Niat yang Tulus

Khusyuk dimulai dari hati. Seorang muslim harus menata niat, bahwa shalat dilakukan hanya untuk Allah, bukan karena rutinitas semata. Dengan niat yang tulus, hati akan lebih mudah merasakan kedekatan kepada Allah.

2. Memahami Bacaan Shalat

Salah satu penyebab sulitnya khusyuk adalah karena tidak memahami makna bacaan shalat. Jika kita tahu arti takbir, doa iftitah, dan ayat Al-Qur’an yang dibaca, maka hati akan lebih terikat dengan setiap gerakan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa memahami bacaan adalah kunci utama kekhusyukan.

Baca juga: Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat dan Hikmahnya

3. Menjaga Wudhu dengan Sempurna

Wudhu yang dilakukan dengan khusyuk akan mengantar pada shalat yang khusyuk. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, maka dosa-dosanya keluar dari tubuhnya…” (HR. Muslim). Bersih lahir dan batin akan menenangkan hati dalam ibadah.

4. Shalat di Tempat yang Tenang

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan. Shalat di tempat yang tenang, jauh dari keramaian, akan memudahkan kita untuk fokus. Pahlawan santri dan ulama terdahulu sering mencari masjid yang hening atau ruang khusus agar hatinya tidak terganggu.

5. Mengingat Kematian dan Kehadiran Allah

Khusyuk hadir ketika kita merasa seakan-akan sedang melihat Allah, atau minimal menyadari bahwa Allah melihat kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Dengan kesadaran ini, hati akan tunduk dan penuh rasa takut kepada-Nya.

Cara shalat khusyuk memang tidak mudah, namun bisa dilatih dengan menjaga niat, memahami bacaan, menyempurnakan wudhu, memilih tempat yang tenang, serta menghadirkan rasa muraqabah kepada Allah. Dengan menerapkan cara shalat khusyuk, ibadah tersebut bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sumber ketenangan dan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

6 Syarat Sah Shalat yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

6 Syarat Sah Shalat yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Al – MuanawiyahShalat adalah kewajiban utama seorang muslim yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Namun, shalat baru dianggap sah jika memenuhi syarat-syarat tertentu. Memahami syarat sah shalat sangat penting agar ibadah yang dilakukan benar-benar diterima oleh Allah ﷻ dan tidak sia-sia. Berikut penjelasan detail mengenai syarat-syarat tersebut beserta dalilnya.

gambar pria Muslim sedang melakukan sujud shalat ilustrasi syarat sah shalat
Syarat sah shalat

 

1. Suci dari Hadas Besar dan Kecil

Seorang muslim wajib dalam keadaan suci sebelum shalat, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Suci dari hadas kecil dilakukan dengan wudhu, sementara dari hadas besar dengan mandi junub. Hadas besar di sini termasuk haid, istihadzoh, dan nifas. Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah ayat 6).

2. Suci dari Najis pada Badan, Pakaian, dan Tempat

Shalat tidak sah jika terdapat najis pada pakaian, tubuh, atau tempat shalat. Hal ini sesuai dengan firman Allah ﷻ:

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatsir: 4).

3. Menutup Aurat

Menutup aurat merupakan syarat utama shalat. Bagi laki-laki, auratnya adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan perempuan seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah tidak menerima shalat perempuan yang sudah haid (baligh) kecuali dengan memakai khimar (penutup aurat).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Baca juga: Surat Al Adiyat: Penjelasan, Asbabun Nuzul dan Tafsirnya

4. Masuk Waktu Shalat

Setiap shalat memiliki waktu tertentu, dan shalat tidak sah jika dilakukan sebelum waktunya. Dalilnya terdapat dalam firman Allah ﷻ:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

5. Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat, yaitu Ka’bah di Makkah, merupakan syarat sah yang tidak boleh ditinggalkan. Allah ﷻ berfirman:

“Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144).

6. Beragama Islam, Berakal, dan Baligh

Shalat hanya diwajibkan bagi muslim yang berakal sehat dan sudah baligh. Anak kecil diajarkan shalat sebagai pendidikan, namun kewajiban sebenarnya berlaku ketika sudah baligh. Nabi ﷺ bersabda:

“Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Mengetahui dan memenuhi syarat sah shalat adalah hal penting agar ibadah seorang muslim diterima. Mulai dari menjaga kesucian, menutup aurat, memastikan waktu shalat, hingga menghadap kiblat, semua itu menjadi pondasi sahnya shalat. Dengan memahami syarat-syarat ini, kita bisa melaksanakan shalat dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Asbabun Nuzul Surat Al-Bayyinah dan Pesan Pentingnya

Asbabun Nuzul Surat Al-Bayyinah dan Pesan Pentingnya

Asbabun nuzul surat Al-Bayyinah berkaitan dengan hakikat bukti nyata yang dibawa Rasulullah ﷺ dan sikap yang seharusnya diambil manusia terhadapnya. Al-Bayyinah adalah surah ke-98 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari delapan ayat. Surah ini turun di Madinah, pada masa umat Islam mulai berinteraksi lebih intens dengan kaum Yahudi, Nasrani, dan juga penduduk asli Arab yang masih memegang kemusyrikan. Saat itu, kondisi sosial dipenuhi perbedaan keyakinan dan ketegangan politik. Sebagian Ahlul Kitab sudah mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad ﷺ dari kitab mereka, namun penolakan tetap terjadi.

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُۙ ۝١ رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةًۙ ۝٢ فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌۗ ۝٣

“Orang-orang yang kufur dari golongan Ahlulkitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (kekufuran mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Nabi Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran suci (Al-Qur’an), yang di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar).” (QS. Al Bayyinah ayat 1-3)

Baca juga: Asbabun Nuzul Surat Al-Insyirah: Saat Hidup Terasa Berat

Asbababun Nuzul Surat Al-Bayyinah

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, turunnya surat ini berkaitan dengan perbedaan sikap Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta kaum musyrikin Arab terhadap ajaran Islam. Sebagian dari mereka telah mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad ﷺ dari kitab suci mereka. Namun, ketika bukti nyata datang, banyak yang menolak karena fanatisme golongan dan kepentingan duniawi.

Riwayat lain dari Al-Baihaqi menyebutkan, surah ini turun untuk menjawab kebingungan. Orang-orang yang mengira bahwa kaum Yahudi dan Nasrani pasti akan beriman ketika Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagaimana yang tercantum dalam makna syahadat. Ternyata kenyataannya berlawanan. Sehingga Allah menurunkan penjelasan bahwa mereka tidak akan berpisah dari keyakinan lama hingga bukti yang jelas datang, yaitu risalah Islam.

Asbabun nuzul surat Al-Bayyinah, penolakan, rejection, rejected, laki-laki yang menolak, penolakan kafir Quriaisy
Ilustrasi penolakan kafir Quraisy sebagai asbabun nuzul surat Al-Bayyinah

Pesan Penting dari Surat Al-Bayyinah

Ayat-ayat dalam surah ini menegaskan bahwa petunjuk sejati datang melalui Al-Qur’an yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Surah Al-Bayyinah juga memerintahkan manusia untuk menyembah Allah dengan tulus, shalat, dan menunaikan zakat sebagai wujud ketaatan.

Asbabun nuzul surat Al-Bayyinah ini mengingatkan kita bahwa penolakan terhadap kebenaran seringkali bukan karena kurangnya bukti.  Melainkan karena hati yang tertutup. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu terus membuka diri terhadap ilmu, menjaga kemurnian tauhid, dan menjadikan ibadah sebagai pusat kehidupan.

Keutamaan Hari Jumat Bagi Umat Muslim

Keutamaan Hari Jumat Bagi Umat Muslim

Hari Jumat adalah salah satu anugerah besar bagi umat Islam. Ia tidak hanya disebut sebagai Sayyidul Ayyam (penghulu hari-hari), tetapi juga penuh dengan keutamaan spiritual yang sayang jika dilewatkan. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, kaum Muslimin diajarkan untuk memuliakan hari Jumat sebagai hari ibadah, doa, dan amalan istimewa.

Berikut adalah beberapa keutamaan hari Jumat yang perlu kita renungi bersama:

1. Hari Terbaik Sepanjang Pekan

Pertama-tama, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat…”

(HR. Muslim)

Hari Jumat memiliki nilai ibadah yang lebih tinggi dibanding hari-hari lainnya. Pada hari ini, Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan diturunkan ke bumi. Maka, hari Jumat menjadi momentum besar dalam sejarah manusia. Banyak ulama menyebutkan bahwa hari ini adalah waktu terbaik untuk memperbarui komitmen keimanan dan meningkatkan amal saleh.

gambar jamaah shalat jumat ilustrasi keutamaan hari jumat
Keutamaan hari Jumat bagi Muslim

2. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Selanjutnya, pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa doa pada waktu ini pasti dikabulkan oleh Allah, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Mayoritas ulama menyebut waktu tersebut adalah antara Ashar hingga Maghrib. Oleh karena itu, sebaiknya kita manfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Ini menjadi peluang emas bagi siapa pun yang sedang memiliki hajat, ingin memohon pertolongan, atau berharap ampunan dari Allah.

3. Pahala Amal Dilipatgandakan

Selain itu, hari Jumat juga memiliki keutamaan lipat ganda pahala amal. Sedekah di hari Jumat disebut lebih utama dibanding hari lainnya. Membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, dan menghadiri khutbah Jumat termasuk amalan yang sangat dianjurkan.

Bahkan menurut Imam Ibn Qayyim dalam Zadul Ma’ad, hari Jumat bagi sedekah bagaikan bulan Ramadhan bagi hari-hari lainnya. Maka, manfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya untuk menanam pahala jangka panjang.

Baca juga: Orasi Ilmiah Al-Qur’an DR. Hazin dalam Wisuda II Al Muanawiyah

4. Hari yang Menghapus Dosa Mingguan

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Jumat ke Jumat adalah penghapus dosa di antara keduanya, jika dijauhi dosa-dosa besar.”
(HR. Muslim)

Jelaslah bahwa keutamaan hari Jumat juga membawa keberkahan dalam bentuk pengampunan dosa. Artinya, seseorang yang menjaga shalat Jumat secara rutin dan melakukan kebaikan di antara dua Jumat akan mendapatkan pengampunan dari Allah untuk dosa-dosa kecilnya.

Dengan memahami berbagai keutamaan hari Jumat, kita diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu berharga ini. Jadikan hari Jumat sebagai hari refleksi diri, memperbanyak amal, serta sarana untuk mendekatkan diri pada Allah. Mulailah dari hal kecil—berdoa, bersedekah, atau membaca Al-Qur’an. Bahkan, membiasakan diri bershalawat pada hari Jumat bisa menjadi sebab terkabulnya doa dan dekatnya pertolongan Allah.

Mari sempurnakan amalan Jumat kita dengan sedekah terbaik. Wakaf pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk generasi penghafal Al-Qur’an dan calon pemimpin umat. Di hari penuh berkah ini, salurkan wakaf terbaikmu untuk mendukung pendidikan santri di pesantren tahfidz.

Motivasi Hidup Keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Motivasi Hidup Keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Di zaman yang serba cepat ini, hidup seolah tak memberi jeda. Orang tua dituntut untuk kuat secara ekonomi, emosi, dan spiritual, sementara di waktu yang sama mereka juga harus membesarkan anak-anak dengan baik. Tak jarang, kelelahan datang tanpa diminta. Lelah batin, lelah hati, bahkan perasaan tak cukup baik sebagai orang tua. Di tengah kelelahan ini, motivasi hidup Islami sangat dibutuhkan agar hati tidak runtuh—dan di sinilah Surat Al-Insyirah hadir sebagai penenang.

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? … Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 1 & 6)

Surat pendek ini sering dibaca, tapi jarang direnungi dalam-dalam. Padahal isinya adalah pelajaran besar tentang hidup: bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan, tapi bukan akhir dari segalanya. Justru bersamanya, ada jalan keluar yang Allah siapkan.

Gambar keluarga bahagia dengan seorang ayah, seorang ibu yang berpelukan dengan anak perempuannya
Motivasi hidup keluarga Islami dari Surat Al Insyirah

Mendidik Anak Adalah Perjalanan Jiwa

Tak ada orangtua yang sempurna. Tapi mereka yang terus belajar dan mendampingi anaknya dengan niat karena Allah, sejatinya sedang menjalani ibadah yang besar. Salah satu bentuk ikhtiar mendidik anak adalah dengan memperkenalkan mereka pada Al-Qur’an sejak dini. Ada banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke pondok pesantren. Sebagian mungkin ragu: “Apakah anak saya kuat? Apakah saya tega berpisah? Apakah ini akan berguna?”

Jawabannya bisa ditemukan lewat nilai-nilai dalam surat Al-Insyirah.
Menghafal Al-Qur’an memang bukan hal ringan. Namun, saat anak diajari untuk sabar, disiplin, dan ikhlas dalam menghafal, sebenarnya mereka sedang menempa jiwanya. Banyak santri yang bertumbuh bukan hanya dalam hafalan, tapi juga dalam karakter—lebih sabar, lebih kuat menghadapi cobaan, dan lebih tahu cara memaknai kesulitan.

Dan yang terpenting, dalam proses itu orang tua pun ikut ditempa. Doa mereka semakin dalam. Harapan mereka tumbuh dari sujud. Bahkan ketika anak sempat ingin menyerah, orang tualah yang menjadi semangat utama untuk mereka bangkit lagi.

Motivasi Hidup Islami: Bersama Al-Qur’an Ada Ketenangan

Ketika orang tua mulai letih dalam mendampingi anak—baik dalam hal hafalan, sekolah, atau bahkan hanya menjaga akhlaknya di rumah—ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang melebihi kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286). Allah tahu apa yang sedang kita perjuangkan.

Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tapi penyejuk jiwa. Ia mampu menguatkan hati anak-anak, sekaligus menenangkan jiwa orang tua yang sedang dilanda kekhawatiran. Saat kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat hidup keluarga, maka rumah tak hanya hangat secara fisik, tapi juga secara spiritual.

Baca juga: Pengertian dan Syarat Nazar dalam Islam

Hidup Tak Akan Selalu Mudah, Tapi Allah Selalu Bersama Kita

Setiap kesulitan, sekecil apapun, adalah bagian dari proses mendewasakan hati. Sebagai orang tua, jangan pernah merasa sendiri. Jadikan motivasi hidup Islami dari surat-surat pendek seperti Al-Insyirah sebagai pelita di saat gelap, agar kita bisa terus melangkah, walau perlahan.

Dan kepada anak-anak kita, tanamkan keyakinan: bahwa menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan jiwa yang akan membawa banyak kemudahan—baik di dunia maupun akhirat.