Persiapan Memilih Pondok untuk Anak Perempuan

Persiapan Memilih Pondok untuk Anak Perempuan

Setelah memahami pertimbangan dasar terkait administrasi pada bagian pertama, kini kita melanjutkan beberapa hal penting lain yang sering diabaikan. Dalam proses persiapan memilih pondok, orangtua perlu menilai aspek yang lebih dalam agar anak benar-benar berada di lingkungan yang mendukung hafalannya. Artikel lanjutan dari chekclist wajib persiapan daftar pondok ini membantu kita melihat hal-hal teknis yang sering menentukan kenyamanan belajar.

Persiapan Memilih Pondok untuk Anak Putri

1. Evaluasi Kedisiplinan dan Pola Kegiatan Harian

Setiap pondok memiliki jadwal yang ketat. Biasanya, jadwal ini mencakup setoran hafalan, murajaah, ibadah wajib, hingga kegiatan kebersihan. Sebagai orangtua, kita perlu memastikan jadwal tersebut wajar dan tidak membebani anak. Adakalanya, pondok yang terlalu padat membuat anak mudah lelah. Dengan mengecek jadwal sejak awal, kita bisa menilai apakah ritme kegiatan cocok dengan stamina anak.

gambar santri putri setoran hafalan kepada musyrifah ilustrasi persiapan memilih pondok
Contoh jadwal harian yang perlu ditanyakan saat persiapan memilih pondok: setoran hafalan

2. Kualitas Musyrifah dan Pendampingan Asrama

Dalam persiapan memilih pondok, kita perlu memperhatikan siapa yang mendampingi anak sehari-hari. Musyrifah berperan penting dalam pembinaan ibadah, karakter, hingga pemantauan kesehatan. Kita bisa menanyakan jumlah musyrifah per kamar, latar belakang pendidikan, serta pola interaksi mereka dengan santri. Semakin baik pendampingannya, semakin mudah anak beradaptasi.

3. Fasilitas Pendukung Kesehatan dan Kebersihan

Kesehatan anak sangat berharga. Oleh karena itu, orangtua perlu memastikan fasilitas sanitasi memadai. Misalnya, ketersediaan kamar mandi, kebersihan dapur, dan tempat cuci. Dalam banyak kasus, fasilitas yang buruk meningkatkan risiko sakit sehingga anak sering kehilangan produktivitas belajarnya. Fasilitas yang bersih membantu menjaga imunitas anak selama mondok.

Baca juga: Suasana Pondok Tahfidz Putri: Dzikir dan Tilawah Rutinitas Santri

4. Ketersediaan Layanan Kesehatan dan SOP Darurat

Kadang, anak bisa sakit mendadak. Maka, penting menilai bagaimana SOP darurat pondok menangani kasus tersebut. Kita perlu tahu apakah ada petugas kesehatan, akses ke klinik, hingga prosedur izin kontrol ke luar pondok. Ketika sistemnya jelas, orangtua lebih tenang melepas anak belajar jauh dari rumah.

5. Kebijakan Komunikasi antara Santri dan Orangtua

Dalam proses adaptasi, komunikasi sangat penting. Oleh karena itu, kita perlu memahami aturan penggunaan gadget dan jadwal telepon. Biasanya, pondok memiliki jadwal tertentu agar fokus hafalan tidak terganggu. Dengan memahami aturan tersebut, kita bisa memberi penjelasan pada anak agar tidak kaget.

6. Kesesuaian Lingkungan Sosial Anak

Lingkungan sosial memengaruhi perkembangan emosinya. Kita bisa mengamati budaya interaksi antar santri, cara musyrifah membimbing, hingga nilai-nilai yang dijunjung pondok. Semua ini membantu memastikan persiapan memilih pondok berjalan matang karena kita tidak hanya memilih fasilitas, tetapi juga suasana yang membentuk karakter anak.

Artikel ini membantu melengkapi pertimbangan orangtua sebelum menentukan pondok terbaik. Dengan memahami disiplin, pendampingan, fasilitas kesehatan, SOP darurat, dan lingkungan sosial, orangtua bisa memilih tempat yang benar-benar terukur. Intinya, persiapan memilih pondok perlu dilakukan dengan teliti karena masa depan hafalan anak dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung.

Jika Ayah dan Bunda ingin anak belajar di lingkungan yang terarah, bersih, dan dipimpin pengajar berpengalaman, Pondok Pesantren Tahfidz Putri Al Muanawiyah bisa menjadi pilihan tepat. Selain berfokus pada hafalan, pondok ini juga mengutamakan pembinaan akhlak serta kesehatan santri. Kunjungi website resminya dan daftarkan sekarang karena kuota terbatas!

Ciri Pondok Tahfidz Putri Berkualitas

Ciri Pondok Tahfidz Putri Berkualitas

Setiap orang tua tentu ingin putrinya tumbuh dengan akhlak yang lembut. Selain itu, mereka berharap pendidikan yang ia terima tetap dekat dengan Al-Qur’an. Di tengah banyaknya pilihan lembaga, orang tua sering bingung menentukan yang tepat. Karena itu, memahami ciri pondok tahfidz putri berkualitas menjadi langkah awal yang sangat penting.

Orang tua biasanya mencari tempat yang aman. Mereka ingin lingkungan yang tenang, jauh dari hal negatif. Selain itu, mereka juga menginginkan pembimbing yang sabar dan berakhlak baik. Pembimbing seperti itu mampu menjadi teladan. Maka, pondok yang perhatian pada akhlak sering menjadi pilihan utama. Jika Anda adalah orang tua yang sedang mencari tempat yang membantu putri mereka berkembang dengan baik, artikel ini tepat untuk dibaca.

Bagaimana Ciri Pondok Tahfidz Putri Berkualitas?

Beberapa ciri penting perlu diperhatikan. Pertama, pondok harus memiliki kurikulum yang jelas. Kurikulum tersebut perlu menggabungkan hafalan, adab, dan kajian dasar. Kedua, pengajar harus kompeten. Mereka harus mampu membimbing hafalan dengan lembut. Ketiga, lingkungan pondok harus bersih dan aman. Suasana yang rapi membantu putri Anda belajar dengan nyaman.

gambar beberapa santri putri sedang belajar Al Quran bersama di ciri pondok tahfidz putri berkualitas
Contoh ciri pondok tahfidz putri berkualitas: menyediakan waktu cukup untuk santri belajar

Keempat, disiplin diterapkan dengan penuh kasih. Disiplin yang baik membentuk karakter kuat. Kelima, pondok harus memperhatikan kesehatan santri. Layanan kesehatan sederhana akan sangat membantu. Keenam, komunikasi dengan orang tua harus berjalan lancar. Laporan rutin membuat orang tua lebih tenang. Ketujuh, pondok harus menanamkan akhlak sejak dini. Inilah ciri kuat dari ciri pondok tahfidz putri berkualitas yang benar-benar diperhatikan.

Baca juga: Santri Putri Pondok Tahfidz yang Disiplin dari Fajr ke Malam

Manfaat Penting bagi Masa Depan Putri Anda

Saat pondok memenuhi ciri tersebut, putri Anda belajar dalam suasana yang menenangkan. Selain itu, ia tumbuh dengan karakter terbaik. Hafalannya semakin mudah berkembang. Di tengah banyaknya tantangan zaman, pondok yang baik memberi perlindungan. Putri Anda akan merasa dicintai, dihargai, dan diarahkan pada jalan yang benar. Masa depan yang cerah akan lebih dekat.

Pada titik ini, banyak orang tua mulai mencari pondok yang sesuai dengan harapan tersebut. Karena itu, pilihan yang tepat sangat berarti bagi perkembangan putri Anda.

Baca juga: Penyebab Santri Malas dalam Menghafal Al-Qur’an

Pilihan Terbaik Ada di Tangan Anda

Jika Anda sedang mempertimbangkan pondok yang aman, terarah, dan fokus pada akhlak, maka Pondok Tahfidz Putri Al Muanawiyah bisa menjadi pilihan yang tepat. Pondok ini memiliki kurikulum jelas. Selain itu, para pembimbing dikenal sabar dan perhatian. Lingkungannya tertata rapi. Setiap santri dibimbing untuk mencintai Al-Qur’an dengan hati yang tenang.

Anda dapat menghubungi Whatsapp yang tertera di website untuk melihat program lengkapnya. Anda bahkan bisa menjadwalkan kunjungan langsung. Dengan begitu, Anda dapat memastikan sendiri bahwa pondoknya sesuai kebutuhan putri Anda.

Keputusan kecil hari ini dapat membawa perubahan besar bagi masa depan putri Anda.

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Kegiatan asesmen lapangan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) berlangsung pada 4–5 Desember 2025 di gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya. Proses asesmen berjalan dengan tanya jawab antara asesor dan para alumni yang berkecimpung di bidang pendidikan, edupreneur, dan penelitian. Dalam kesempatan itu, hadir Pendiri PPTQ Al Muanawiyah, Ustadz A. Muammar Sholahuddin, sebagai alumni yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam dunia edupreneur.

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung PBI UINSA

Asesmen kali ini dipimpin oleh dua asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan. Keduanya ialah Prof. Dr. Anam Sutopo dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Prof. Iskandar dari Universitas Negeri Makassar. Mereka menggali berbagai pengalaman alumni, khususnya yang bergerak di sektor pendidikan. Penilaian meliputi tujuh aspek penting. Di antaranya ialah kemampuan bahasa Inggris, penggunaan teknologi, komunikasi, kerja sama, pengembangan diri, keahlian sesuai bidang, dan etika profesional.

Ustadz Muammar menjelaskan bahwa beliau siap mendukung pengembangan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bahkan, beliau menawarkan lembaganya sebagai tempat magang bagi mahasiswa. Tawaran ini menegaskan bahwa alumni yang aktif di masyarakat dapat membantu penguatan mutu akademik kampus. Selain itu, mahasiswa juga berpeluang melihat praktik pendidikan berbasis Al-Qur’an yang terkelola secara profesional.

beberapa orang foto bersama di depan tulisan UIN Sunan Ampel Surabaya termasuk pendiri PPTQ Al Muanawiyah
Potret pendiri PPTQ Al Muanawiyah (nomer 7 dari kanan) pasca kegiatan asesmen akreditasi Prodi PBI UINSA

Akreditasi memiliki fungsi penting bagi masyarakat luas. Akreditasi membantu calon mahasiswa menentukan pilihan pendidikan. Proses ini juga menjaga kualitas pembelajaran agar tetap sesuai standar nasional. Hasilnya amat terasa bagi lulusan karena akreditasi mempermudah proses kerja maupun studi lanjutan. Karena itu, keterlibatan alumni seperti Ustadz Muammar dalam akreditas PBI UIN Sunan Ampel Surabaya memberi nilai tambah bagi asesmen kali ini.

Al Muanawiyah dengan Program Unggulan Tahfidz

PPTQ Al Muanawiyah memiliki misi pendidikan yang terarah. Misinya mencakup empat nilai utama. Nilai itu meliputi Qur’an in mouth, Qur’an in hand, Qur’an in heart and soul, serta Qur’an in doings. Nilai tersebut membantu santri membiasakan interaksi harian dengan Al-Qur’an. Program tahfidz juga memadukan pendekatan psikologi dan pendidikan. Program unggulan tahfidz mendorong santri menyelesaikan hafalan dengan mutqin. Selain tahfidz, santri juga belajar akhlak dan fiqh melalui kitab kuning.

Santri terbiasa dengan pembiasaan ibadah yang teratur. Kebiasaan ini membentuk karakter yang siap terjun ke masyarakat. Dengan pola pendidikan tersebut, Pendiri PPTQ Al Muanawiyah hadir sebagai sosok alumni yang berkontribusi pada penguatan akreditasi kampus. Kehadiran beliau menunjukkan hubungan erat antara pesantren dan perguruan tinggi dalam membangun kualitas pendidikan Islam masa kini.

Ingin anak tumbuh dengan karakter kuat dan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an? PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan bagi calon santri yang ingin menempuh pendidikan tahfidz yang terarah, berakhlak, dan berbasis ilmu.

Daftarkan putra-putri Anda sekarang dan rasakan lingkungan pendidikan yang memadukan metode Qur’ani, psikologi belajar, serta pembinaan karakter harian. Klik untuk website resmi Al Muanawiyah dan jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya masa depan mereka.

Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia dan Perkembangannya

Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia dan Perkembangannya

Al MuanawiyahPondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan tradisi keilmuan umat Muslim. Sejarah pondok pesantren di Indonesia telah dimulai sejak abad ke-14, jauh sebelum berdirinya sekolah-sekolah formal. Lembaga ini menjadi wadah bagi para santri untuk menuntut ilmu agama sekaligus belajar hidup mandiri di bawah bimbingan seorang kiai.

Asal Usul dan Makna Pondok Pesantren

Secara etimologis, kata “pesantren” berasal dari kata santri yang diberi imbuhan “pe-” dan “-an”, sehingga berarti tempat tinggal atau pusat kegiatan para santri. Sejak masa awal Islam di Nusantara, sistem pendidikan ini sudah dikenal, terutama pada masa dakwah Sunan Ampel di Surabaya pada abad ke-14. Ia dianggap sebagai pelopor sistem asrama santri di lingkungan masjid, yang kemudian dikenal sebagai pondok pesantren.

Pesantren memiliki ciri khas yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain. Ciri utamanya meliputi adanya kiai sebagai pusat pengajaran, santri yang tinggal di asrama, masjid sebagai tempat kegiatan utama, serta pengajaran kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Tradisi ini berlanjut dari generasi ke generasi, menjadikan pesantren sebagai benteng ilmu agama dan moralitas masyarakat Indonesia.

Baca juga: Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Pesantren Tertua dan Jejak Penyebaran Islam

Salah satu pesantren tertua di Indonesia adalah Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh Sayyid Sulaiman dan Kiai Aminullah pada sekitar tahun 1745, meski sebagian sumber menyebutkan tahun 1718. Sidogiri menjadi contoh kuat bahwa pesantren telah lama menjadi pusat pendidikan Islam dan dakwah di tanah air.

gambar beberapa laki-laki mengenakan kopiah dan bju putih sedang belajar bersama di madrasah miftahul ulum sidogiri
Pembelajaran madrasah di Pondok Pesantren Sidogiri (sumber: sidogiri.net)

Selain Sidogiri, pesantren-pesantren lain seperti Tebuireng (didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1899), Gontor (didirikan KH Ahmad Sahal pada 1926), dan Lirboyo (didirikan KH Abdul Karim pada 1910) juga berperan besar dalam melahirkan banyak tokoh ulama, pemimpin bangsa, dan pendidik Islam. Dari sinilah penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai melalui jalur pendidikan dan sosial.

Dinamika Pesantren di Masa Kolonial dan Modern

Pada masa penjajahan Belanda, pondok pesantren sering dianggap sebagai pusat perlawanan karena aktivitas sosial dan dakwahnya yang membangkitkan semangat kebangsaan. Meski diawasi ketat oleh pemerintah kolonial, banyak pesantren tetap bertahan berkat sistem wakaf tanah dan dukungan masyarakat setempat. Para santri saat itu tidak hanya belajar agama, tetapi juga dilatih untuk mandiri dan berjuang melawan ketidakadilan.

Setelah Indonesia merdeka, sistem pendidikan pesantren mengalami transformasi besar. Sebagian pesantren tetap mempertahankan model tradisional (salafiyah), sementara yang lain beradaptasi dengan memasukkan pelajaran umum dan kurikulum formal (khalafiyah). Langkah ini membuat pesantren tetap relevan dan berperan penting dalam pembangunan nasional hingga saat ini.

Peran dan Relevansi Pesantren di Era Modern

Kini, pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat pengembangan karakter, kewirausahaan, dan literasi digital bagi generasi muda. Pemerintah pun secara resmi mengakui pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya posisi pesantren dalam sejarah pendidikan Indonesia dan kontribusinya terhadap pembangunan umat.

Sejarah pondok pesantren di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang pendidikan Islam yang berakar kuat dalam budaya bangsa. Dari masa Sunan Ampel hingga era modern, pesantren tetap menjadi lembaga yang menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan pengabdian sosial. Nilai-nilai yang diwariskan pesantren, seperti keikhlasan, kedisiplinan, dan cinta tanah air, menjadi fondasi moral yang relevan bagi generasi muda Indonesia masa kini.

Sejarah panjang pondok pesantren menunjukkan betapa pentingnya peran lembaga ini dalam menjaga ilmu dan moral bangsa. Hingga kini, pesantren terus beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi Islam yang kuat.

Bagi kamu yang ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah membuka kesempatan untuk mendidik anak menjadi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia. Kunjungi website resminya untuk informasi lebih lanjut.

Metode Belajar Pondok Pesantren yang Kini Masih Eksis

Metode Belajar Pondok Pesantren yang Kini Masih Eksis

Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Dalam perkembangannya, metode belajar pondok pesantren memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari sistem pendidikan formal. Metode ini tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian santri.

1. Sorogan: Belajar Langsung dengan Guru

Metode belajar pondok pesantren yang paling klasik adalah sorogan. Dalam sistem ini, seorang santri membaca kitab di hadapan ustadz atau kiai, kemudian guru memperbaiki bacaan dan menjelaskan makna kata per kata.
Biasanya, metode ini digunakan untuk mempelajari kitab kuning, seperti Tafsir Jalalain atau Fathul Qarib. Meskipun terkesan tradisional, sorogan membuat santri lebih aktif dan teliti dalam memahami isi kitab. Bahkan, cara ini dianggap efektif untuk melatih kesabaran dan ketekunan belajar.

2. Bandongan: Mendengarkan dan Mencatat Penjelasan Guru

Selain sorogan, ada juga bandongan, atau disebut juga wetonan di beberapa daerah. Dalam metode ini, kiai membaca kitab dan menjelaskan isinya di hadapan banyak santri, sedangkan para santri mendengarkan sambil mencatat makna di sela teks kitab.
Metode bandongan cocok digunakan untuk pengajian kitab besar seperti Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Umumnya, pengajian bandongan dilakukan secara rutin setiap hari atau pada bulan Ramadan.
Dengan cara ini, santri terbiasa menyimak dengan penuh perhatian dan menghafal istilah Arab klasik yang sulit dipahami tanpa bimbingan guru.

Baca juga: 3 Kebiasaan yang Dibenci Allah Menurut Kitab Nashaihul Ibad

3. Halaqah dan Musyawarah Kitab

Selanjutnya, ada halaqah, yakni sistem belajar berbentuk kelompok diskusi kecil. Dalam metode ini, santri saling bertukar pendapat untuk memahami isi kitab tertentu. Tak jarang, mereka mengadakan musyawarah kitab, yaitu forum untuk membahas perbedaan pendapat ulama dari teks yang sama.
Metode ini melatih santri berpikir kritis, mampu menyampaikan argumen, dan menghargai perbedaan pandangan. Halaqah juga menjadi jembatan antara cara belajar klasik dan kebutuhan berpikir analitis modern.

gambar santri sedang belajar bersama dalam halaqah
Contoh penerapan halaqah belajar di PPTQ Al Muanawiyah

4. Hafalan dan Muhafazhah

Metode belajar pondok pesantren juga tak lepas dari hafalan (muhafazhah). Santri biasanya diminta untuk menghafal matan kitab, ayat Al-Qur’an, atau bait nadham. Misalnya, hafalan Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu atau Taqrib dalam fikih.
Kegiatan ini tidak sekadar menguji daya ingat, melainkan juga menguatkan pemahaman mendalam terhadap ilmu yang dipelajari. Biasanya, hafalan dilanjutkan dengan ujian lisan di depan ustadz.

Baca juga: Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

5. Metode Modern: Integrasi Teknologi dan Literasi

Dalam perkembangan zaman, beberapa pesantren kini mulai mengombinasikan metode tradisional dengan pendekatan modern. Contohnya, pembelajaran kitab menggunakan presentasi digital, forum diskusi daring, hingga program literasi pesantren yang mendorong santri menulis karya ilmiah.
Dengan demikian, metode belajar pondok pesantren tetap relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan ruh keilmuan dan keikhlasan belajar yang menjadi cirinya sejak dahulu.

Pada dasarnya, setiap metode belajar pondok pesantren memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan ilmu sekaligus membentuk karakter santri yang berakhlak dan mandiri. Sorogan mengajarkan kesungguhan, bandongan menumbuhkan kesabaran, halaqah melatih berpikir kritis, sementara hafalan menumbuhkan ketekunan.
Dengan berbagai pendekatan ini, pondok pesantren terus menjadi benteng pendidikan Islam yang kuat, menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan suasana belajar yang menggabungkan tradisi pesantren dan pendekatan modern, PPTQ Al Muanawiyah Jombang bisa menjadi pilihan tepat. Di pondok ini, santri tidak hanya memperdalam Al-Qur’an dan kitab kuning, tetapi juga belajar berpikir logis, kreatif, dan berdaya saing di era digital. Kunjungi website resmi untuk informasi lebih lanjut

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, ilmu menjadi fondasi utama bagi amal dan akhlak. Banyak sekali dalil yang menegaskan betapa tinggi kedudukan orang berilmu di sisi Allah. Rasulullah ﷺ pun dalam banyak hadits menegaskan pentingnya menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Berikut ini lima hadits menuntut ilmu paling shahih beserta maknanya yang bisa menjadi pengingat dan motivasi bagi setiap muslim.

5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih Beserta Penjelasannya

1. Hadits tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hadits menuntut ilmu shahih yang pertama adalah sabda Rasulullah yang menjadi dasar utama kewajiban menuntut ilmu bagi seluruh umat Islam. Ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga mencakup pengetahuan yang membantu seseorang melaksanakan kewajiban agamanya. Misalnya, ilmu membaca Al-Qur’an, fikih ibadah, hingga pengetahuan dunia yang bermanfaat seperti sains atau teknologi, selama digunakan untuk kemaslahatan umat.

Kata “setiap muslim” dalam hadits ini menunjukkan sifat umum, tanpa membedakan usia, jenis kelamin, atau status sosial. Islam mendorong semua orang untuk terus belajar sepanjang hayat, karena semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin mudah pula seseorang mengenal Allah dan menjalankan ajaran-Nya dengan benar.

Baca juga: 4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

2. Hadits tentang Jalan Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim No. 2699)

Hadits menuntut ilmu yang shahih selanjutnya mengandung makna yang dalam. Jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu tidak selalu mudah. Sering kali penuh pengorbanan, waktu, tenaga, bahkan biaya. Namun, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap langkah menuju ilmu adalah bagian dari jalan menuju surga.

Makna “memudahkan jalan ke surga” bukan berarti orang berilmu otomatis masuk surga, tetapi bahwa ilmu yang ia pelajari akan membimbingnya untuk melakukan amal yang benar. Ilmu menuntun seseorang untuk membedakan yang halal dan haram, yang benar dan yang batil. Karena itu, semakin dalam ilmunya, semakin besar peluang seseorang untuk istiqamah di jalan kebenaran.

gambar beberap aorang berhijab sedang belajar Al Quran
Iliustrasi keutamaan menuntut ilmu (sumber: freepik)

3. Hadits tentang Keutamaan Orang Berilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”
(HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud  no. 3641)

Perumpamaan yang digunakan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini menunjukkan betapa agung kedudukan orang berilmu. Bulan memberikan cahaya yang menenangkan dan menerangi kegelapan malam, sementara bintang hanya berkilau kecil. Begitulah peran orang berilmu — mereka tidak hanya beribadah untuk diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat dan petunjuk bagi orang lain.

Ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu mungkin tekun beribadah, tetapi bisa saja tersesat karena tidak memahami tuntunan yang benar. Sebaliknya, orang berilmu tahu cara beribadah dengan benar dan dapat mengajarkan ilmunya, sehingga manfaatnya jauh lebih luas.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

4. Hadits tentang Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim No. 1631)

Hadits ini menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Ilmu yang disebarkan dan diamalkan orang lain akan terus mengalir pahalanya, meskipun sang pengajar telah meninggal dunia.

Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya berbagi ilmu. Setiap guru, pendakwah, atau siapa pun yang mengajarkan kebaikan, sejatinya sedang menanam pahala jangka panjang. Bahkan, mengajarkan hal kecil seperti doa harian atau cara shalat yang benar pun termasuk bagian dari ilmu bermanfaat.

5. Hadits Menunjuki kepada Kebaikan

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
(HR. Muslim no. 1893)

Hadits ini menekankan pentingnya dakwah dan mengarahkan orang lain ke jalan kebaikan. Tidak hanya amal yang dilakukan sendiri yang bernilai pahala, tetapi juga memberi petunjuk kepada orang lain untuk berbuat baik akan mendapat pahala serupa.

Maknanya luas, bisa mencakup:

  • Memberi nasihat yang benar, misalnya tentang ibadah atau akhlak.

  • Mengajarkan ilmu bermanfaat agar orang lain bisa mengamalkannya.

  • Membimbing orang agar menjauhi perbuatan dosa.

Dengan kata lain, hadits ini menunjukkan bahwa menyebarkan kebaikan atau ilmu yang bermanfaat memiliki nilai pahala yang berkelanjutan. Orang yang memberi petunjuk tidak kehilangan pahala meskipun orang yang dibimbing melakukan amalnya sendiri, karena niat dan usaha memberi petunjuk itu sendiri dihitung sebagai amal saleh di sisi Allah.

Dari kelima hadits menuntut ilmu shahih tersebut, jelas bahwa menuntut ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan menuju keberkahan hidup. Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia dari kebodohan menuju petunjuk Allah. Oleh karena itu, semangat menuntut ilmu harus terus dijaga sepanjang hayat, agar kehidupan dunia dan akhirat menjadi lebih bermakna.

Bangunan Hasil Wakaf di Indonesia yang Terkenal

Bangunan Hasil Wakaf di Indonesia yang Terkenal

Wakaf sejak dulu dikenal sebagai salah satu instrumen ibadah sosial dalam Islam. Jika pada masa awal wakaf lebih sering berupa tanah untuk masjid atau pemakaman, kini wakaf berkembang menjadi sarana produktif yang lebih luas. Salah satunya adalah pembangunan lembaga pendidikan. Tidak sedikit sekolah dan kampus besar di Indonesia berdiri di atas bangunan hasil wakaf, yang terus memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi Muslim.

Sejarah Wakaf untuk Pendidikan

Dalam sejarah Islam, wakaf pendidikan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Banyak madrasah, perpustakaan, hingga universitas Islam klasik di Baghdad, Mesir, hingga Andalusia, berdiri dari dana dan aset wakaf. Model inilah yang kemudian diikuti di Indonesia. Wakaf untuk pendidikan menjadi salah satu amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, karena ilmunya diwariskan dari generasi ke generasi.

Contoh Bangunan Hasil Wakaf di Indonesia

Salah satu contoh nyata adalah Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kampus ini awalnya berdiri dari tanah wakaf yang diberikan para tokoh umat Islam. Hingga kini, UII berkembang menjadi salah satu universitas Islam modern dan berpengaruh di Indonesia. Ribuan mahasiswa setiap tahun belajar di atas tanah wakaf tersebut, membuktikan bahwa wakaf bukan sekadar ibadah, tapi juga investasi peradaban.

gambar kompleks bangunan Universitas Islam Indonesia sebagai bangunan hasil wakaf
Contoh bangunan hasil wakaf, Universitas Islam Indonesia (foto: www.uii.ac.id)

Selain UII, banyak pesantren modern di Jawa, Sumatra, hingga Kalimantan juga berdiri di atas lahan wakaf. Contohnya Pondok Modern Darussalam Gontor, yang sejak awal dideklarasikan sebagai lembaga wakaf milik umat, bukan milik pribadi pendirinya. Dengan status wakaf, pesantren ini bisa terus berkembang tanpa terikat kepentingan keluarga atau golongan tertentu.

Baca juga: Sejarah Wakaf Pertama dalam Islam di Masjid Quba

Hikmah Wakaf Pendidikan

Pendidikan merupakan kunci kemajuan bangsa. Ketika wakaf digunakan untuk membangun sekolah dan kampus, maka manfaatnya meluas:

  1. Mencetak generasi berilmu – ribuan santri dan mahasiswa bisa belajar tanpa khawatir biaya tinggi.

  2. Amal jariyah abadi – setiap ilmu yang diajarkan dan diamalkan menjadi pahala yang mengalir bagi pewakaf.

  3. Kemandirian umat – dengan bangunan hasil wakaf, umat Islam tidak harus bergantung pada pihak luar dalam mendirikan lembaga pendidikan.

Bangunan hasil wakaf berupa sekolah, pesantren, dan universitas adalah bukti nyata bagaimana ajaran Islam mampu membangun peradaban. Wakaf bukan hanya ibadah sosial, tetapi juga strategi mencetak generasi unggul. Maka, sudah saatnya kita ikut mendukung program wakaf produktif, agar semakin banyak sekolah dan kampus berdiri di atas tanah wakaf dan memberi manfaat luas bagi umat.

Bagi Anda yang ingin berinvestasi akhirat, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang membuka kesempatan wakaf pendidikan. Dengan wakaf, Anda turut berperan mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia, berilmu, dan siap membangun bangsa. Mari bersama menanam amal jariyah yang pahalanya tidak akan terputus dengan mendukung program wakaf Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah.

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Al-MuanawiyahIsu kesejahteraan guru di Indonesia kembali menjadi sorotan. Pernyataan pejabat yang menyebut guru sebagai “beban negara” hingga isu tambahan tugas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat banyak guru merasa posisi mereka kurang dihargai. Di satu sisi, guru dituntut untuk ikhlas mengajar karena profesi ini dianggap sebagai pengabdian. Namun, sering kali kata ikhlas dipelintir menjadi sikap pasrah terhadap ketidakadilan.

Baca juga: Bahaya Banyak Bicara Bagi Hati dan Kekhusyukan Ibadah

Ikhlas Adalah Menjaga Niat, Bukan Menerima Ketidakadilan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa ikhlas adalah tentang niat, bukan tentang menerima ketidakadilan. Seorang guru yang ikhlas mengajar karena Allah akan tetap memandang tugasnya sebagai ibadah, terlepas dari tantangan yang dihadapi. Namun, ikhlas tidak berarti diam ketika hak mereka diabaikan. Justru demi menjaga niat tetap murni, guru berhak menyuarakan keadilan agar pengabdiannya tidak diperlakukan semena-mena.

kesejahteraan guru Indonesia, guru honorer gaji tidak layak, guru beban negara, guru sedang mengajar murid SD di kelas
Polemik kesejahteraan guru di Indonesia

Upah Layak adalah Hak Guru

Dalam Islam, upah pekerja adalah hak yang harus ditunaikan tanpa ditunda. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah)

Ini menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian besar pada kelayakan upah, termasuk bagi mereka yang mendidik generasi. Pada masa Rasulullah ﷺ, guru dan pengajar tetap mendapatkan imbalan yang layak dari baitul mal, meskipun profesinya dianggap mulia dan penuh pengabdian. Hal ini membuktikan bahwa penghargaan material tidak menafikan keikhlasan, justru melengkapi semangat pengabdian.

Baca juga: Asbabun Nuzul Al-Qadr yang Menggugah Semangat Beribadah

Guru, Antara Ikhlas dan Kelayakan Hidup

Realitas hari ini sering membuat guru berada pada posisi dilematis: dituntut mengajar dengan ikhlas, tapi kesejahteraan mereka jauh dari layak. Banyak guru honorer yang gajinya bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini seharusnya menjadi renungan bersama. Ikhlas tidak boleh dipahami sebagai pasrah menerima gaji rendah, melainkan tetap menjaga niat karena Allah sambil memperjuangkan hak-haknya dengan cara yang benar.

Ikhlas adalah fondasi pengabdian seorang guru, namun ikhlas bukan berarti menerima ketidakadilan dengan pasrah. Islam sendiri menekankan pentingnya kesejahteraan dan kelayakan upah bagi setiap pekerja. Apalagi guru, yang merupakan garda terdepan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, guru wajar menuntut penghargaan yang lebih baik dari negara, tanpa kehilangan ruh pengabdian. Dengan kesejahteraan yang layak, guru bisa semakin fokus mendidik dan menjaga keikhlasan, demi lahirnya generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas.

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Kurikulum pondok pesantren sejak dahulu identik dengan tradisi keilmuan Islam yang mendalam. Kajian kitab kuning, metode sorogan, serta bandongan menjadi ciri khas yang melahirkan generasi ulama dan penjaga tradisi keilmuan. Sistem ini terbukti mampu menjaga warisan intelektual Islam dan membentuk karakter santri yang kuat dalam pemahaman agama.

Mengenal kurikulum tempat anak kita bersekolah sangatlah penting. Karena dari sinilah kita bisa memahami arah pendidikan yang diberikan kepada para santri. Kurikulum tidak hanya menentukan metode belajar, tetapi juga membentuk pola pikir, adab, serta keterampilan yang akan dibawa santri dalam kehidupan nyata. Dengan memahami ini, orang tua maupun masyarakat dapat menilai kemampuan pondok pesantren dalam menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keluruhan tradisi Islam.

santri putri pondok pesantren tahfidz putri Jombang sedang tilawah bersama
Santri tilawah bersama sebagai bentuk penerapan kurikulum pondok pesantren Al Muanawiyah

Seiring berkembangnya zaman, silabus pondok pesantren menghadapi tuntutan modernisasi. Santri tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga harus mampu bersaing dalam bidang akademik dan sosial di era digital. Modernisasi ini tidak berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkaya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masa kini. Penggunaan teknologi, metode pembelajaran interaktif, serta tambahan kurikulum nasional menjadi langkah penting agar pesantren tetap relevan.

Dengan pendekatan tersebut, kurikulum pendidikan  santri mampu menjaga keseimbangan. Santri tetap mendapatkan kekuatan dari tradisi keilmuan salaf, namun juga memiliki keterampilan yang bermanfaat di kehidupan modern. Inilah yang kemudian melahirkan konsep integrasi: tradisi sebagai pondasi, modernisasi sebagai penguat, dan keduanya bersatu demi melahirkan generasi muslim yang berdaya saing.

Perpaduan Kurikulum Pondok Pesantren di Al Muanawiyah

Lalu bagaimana dengan Al Muanawiyah? Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang telah mengintegrasikan kurikulum tradisional dan modern secara harmonis. Tradisional di sini diwujudkan dalam pengajaran kitab kuning ala salafiyah. Sementara aspek modern hadir melalui program tahfidz dan pemanfaatan alat multimedia yang dioperasikan langsung oleh santri. Lebih jauh, PPTQ Al Muanawiyah Jombang memadukan kurikulum nasional, tahfidz, pesantren, dan IT. Sehingga santri bebas memilih fokus pengembangan sesuai minat serta potensi mereka.

Untuk memahami lebih dalam tentang konsep integrasi kurikulum pondok tradisional dan modern ini, Anda dapat menyimak Podcast Al Muanawiyah yang membahas tema “Kurikulum Pesantren antara Tradisi dan Modernisasi.” Podcast ini memberikan gambaran bagaimana pesantren hari ini mampu menjaga akar tradisinya sekaligus menjawab tantangan zaman modern.

Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

Al-Muanawiyah – Perintah membaca yang menjadi inti dari wahyu pertama dalam Islam bukan hanya perintah spiritual atau intelektual semata, tetapi juga memiliki makna sosial yang sangat dalam. Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 bukan sekadar seruan untuk membuka lembaran ilmu, namun juga menjadi titik awal revolusi peradaban. Hikmah surat Al Alaq dari sisi sosiologis menunjukkan betapa Islam sejak awal telah menempatkan literasi sebagai dasar transformasi masyarakat.

1. Masyarakat Jahiliyah Menuju Masyarakat Ilmiah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab berada dalam masa jahiliyah. Nilai-nilai yang berlaku saat itu lebih mengutamakan garis keturunan, kekuasaan, dan kekuatan fisik. Dengan turunnya wahyu “Iqra’ bismi rabbika” (Bacalah dengan nama Tuhanmu), terjadi perubahan orientasi sosial. Nilai-nilai materialistik dan hierarki sosial mulai digantikan oleh nilai keilmuan dan takwa. Hikmah perintah membaca dalam konteks ini menjelaskan bahwa kekuatan sejati suatu masyarakat bukan pada kekayaan atau status, tetapi pada ilmu.

hikmah perintah membaca dalam surat al Alaq secara sosiologis. Gambar anak-anak antusias membaca buku
Anak-anak yang antusias membaca sebagai ilustrasi hikmah perintah membaca dari surat Al Alaq

2. Membentuk Budaya Literasi Umat

Secara sosiologis, membaca adalah gerbang perubahan sosial. Masyarakat yang terbiasa membaca akan lebih kritis, sadar akan hak dan kewajiban, serta lebih terbuka terhadap kemajuan. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ, meskipun ummi, diutus dengan misi membangun budaya ilmu. Para sahabat pun didorong untuk belajar menulis dan membaca. Dalam waktu singkat, lahirlah komunitas Muslim yang mencintai ilmu dan menjadikan literasi sebagai ciri khas peradaban Islam.

Baca juga: 6 Adab Menuntut Ilmu Menurut Kitab Ta’lim Muta’allim

3. Mengikis Ketimpangan Sosial

Salah satu hikmah perintah membaca adalah membuka akses keadilan sosial. Melalui literasi, Islam menghapuskan batas-batas kelas yang menindas. Siapa pun yang berilmu diberi kedudukan tinggi dalam masyarakat. Tidak lagi orang kaya atau bangsawan yang dihormati, tetapi mereka yang membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Inilah langkah awal menciptakan masyarakat yang egaliter.

Perintah “Iqra’” bukanlah sekadar ajakan individual untuk membaca, tetapi menjadi gerakan sosial yang mengakar dalam sejarah Islam. Hikmah perintah membaca sangat terasa dalam upaya membangun masyarakat Muslim yang berilmu, adil, dan penuh kesadaran sosial. Inilah warisan sosiologis yang harus terus dilestarikan dalam kehidupan umat Islam hari ini, khususnya di era digital yang penuh tantangan informasi.