Takziran dalam Pesantren: Pengertian, Tujuan, dan Bentuknya

Takziran dalam Pesantren: Pengertian, Tujuan, dan Bentuknya

Takziran dalam pesantren merupakan salah satu bentuk pembinaan yang bertujuan membantu santri memahami kedisiplinan dan tanggung jawab. Dalam kehidupan pesantren, santri tidak hanya belajar ilmu agama dan Al-Qur’an, tetapi juga menjalani berbagai aturan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketika terjadi pelanggaran, pesantren dapat memberikan takziran sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter.

Istilah takziran berkaitan dengan konsep ta’zir dalam hukum Islam, yaitu pemberian sanksi terhadap pelanggaran tertentu yang bentuk dan pelaksanaannya memiliki ketentuan sesuai kewenangan yang berlaku. Dalam lingkungan pesantren, penerapannya dapat menyesuaikan tata tertib dan sistem pendidikan masing-masing lembaga. Dengan demikian, bentuk takziran antara satu pesantren dengan pesantren lainnya tidak selalu sama.

Apa Itu Takziran dalam Pesantren?

Secara sederhana, takziran dalam pesantren adalah tindakan pembinaan atau sanksi yang diberikan kepada santri ketika melanggar tata tertib pondok. Tujuannya bukan semata-mata membuat santri merasa takut terhadap hukuman, melainkan membantu mereka memahami kesalahan dan konsekuensinya. Oleh sebab itu, pemberian takziran idealnya tetap berada dalam koridor pendidikan dan tidak merendahkan martabat santri.

Dalam praktiknya, pesantren biasanya memiliki aturan yang mengatur berbagai aspek kehidupan santri. Aturan tersebut dapat mencakup kedisiplinan mengikuti kegiatan, kebersihan, ibadah, penggunaan fasilitas, hingga hubungan antarsantri. Ketika santri melanggar salah satu aturan, pengurus dapat memberikan pembinaan sesuai dengan tingkat pelanggaran dan ketentuan yang berlaku.

santri berdiri takziran dalam pesantren
Takziran (foto: Instagram/santrisarungan_official)

Mengapa Takziran Diterapkan di Pesantren?

Kehidupan pesantren memiliki jadwal dan tata tertib yang membantu santri membangun kebiasaan disiplin. Santri perlu belajar bangun tepat waktu, mengikuti kegiatan, menjaga kebersihan, serta menjalankan berbagai kewajiban secara mandiri. Karena itu, aturan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter selama berada di pondok.

Namun, proses belajar tersebut tidak selalu berjalan tanpa kesalahan. Santri tetap dapat terlambat, lupa menjalankan tugas, atau melakukan pelanggaran terhadap tata tertib. Dalam kondisi seperti ini, takziran dapat menjadi sarana untuk mengingatkan santri sekaligus membantu mereka memperbaiki perilaku.

Takziran Bukan Sekadar Hukuman

Hal yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa takziran dalam pesantren seharusnya memiliki tujuan pendidikan. Sanksi yang diberikan perlu membantu santri mengetahui apa kesalahannya dan bagaimana cara memperbaikinya. Dengan pendekatan seperti ini, santri tidak hanya takut terhadap konsekuensi, tetapi juga belajar memahami alasan di balik sebuah aturan.

Misalnya, santri yang melanggar jadwal kebersihan dapat memperoleh tugas pembinaan yang berkaitan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Dari proses tersebut, santri dapat memahami bahwa kebersihan pondok merupakan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, sanksi dapat menjadi pengalaman belajar yang membantu membentuk kebiasaan positif.

Baca juga: Bagaimana Sekolah Memengaruhi Karakter Anak di Masa Depan?

Contoh Takziran dalam Pesantren

Bentuk takziran dapat berbeda sesuai dengan kebijakan masing-masing pesantren. Beberapa bentuk pembinaan dapat berupa teguran, pemberian tugas edukatif, kegiatan kebersihan, atau pembinaan khusus sesuai dengan jenis pelanggaran. Sementara itu, pelanggaran yang lebih serius dapat memperoleh penanganan sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh pihak pesantren.

Meski demikian, setiap bentuk sanksi perlu mempertimbangkan usia dan kondisi santri. Pihak pesantren juga perlu memastikan bahwa tindakan tersebut tidak mengarah pada kekerasan fisik, penghinaan, atau tindakan yang dapat merusak harga diri santri. Dengan cara tersebut, kedisiplinan tetap berjalan tanpa menghilangkan fungsi utama pesantren sebagai lingkungan pendidikan.

Pentingnya Keadilan dalam Pemberian Takziran

Pemberian takziran juga perlu memperhatikan prinsip keadilan. Pengurus sebaiknya memberikan sanksi berdasarkan jenis pelanggaran, bukan berdasarkan kedekatan pribadi atau rasa suka dan tidak suka kepada santri. Selain itu, aturan perlu diterapkan secara konsisten agar santri memahami bahwa tata tertib berlaku bagi seluruh penghuni pondok.

Selanjutnya, tingkat pelanggaran juga perlu menjadi pertimbangan. Kesalahan ringan tidak semestinya mendapatkan perlakuan yang sama dengan pelanggaran yang lebih berat. Dengan penerapan yang proporsional, santri dapat melihat bahwa takziran merupakan bagian dari sistem pembinaan, bukan sekadar hukuman yang diberikan secara sembarangan.

Takziran Melatih Santri Bertanggung Jawab

Salah satu nilai penting dari takziran dalam pesantren adalah kesempatan bagi santri untuk belajar bertanggung jawab. Ketika seseorang melakukan kesalahan, ia perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Pengalaman tersebut dapat membantu santri belajar mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Selain itu, kehidupan pesantren memang memberikan banyak kesempatan bagi santri untuk berlatih mandiri. Mereka belajar mengatur waktu, menyelesaikan tugas, menjaga barang pribadi, serta menjalankan kewajiban tanpa selalu bergantung kepada orang tua. Oleh karena itu, pembinaan kedisiplinan dapat menjadi bekal penting bagi santri ketika kelak kembali hidup di tengah masyarakat.

Bagaimana Takziran yang Bersifat Mendidik?

Takziran yang mendidik tidak berhenti pada pemberian sanksi. Pengurus juga perlu menjelaskan kesalahan yang dilakukan santri serta alasan aturan tersebut dibuat. Setelah itu, santri perlu mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki perilakunya agar proses pembinaan menghasilkan perubahan yang nyata.

Pendekatan tersebut membuat santri memahami bahwa aturan bukan sekadar batasan. Aturan hadir untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan seluruh warga pesantren. Dengan demikian, keberhasilan takziran tidak hanya terlihat dari kepatuhan sesaat, tetapi juga dari perubahan sikap santri dalam jangka panjang.

Takziran sebagai Bagian dari Pendidikan Karakter

Pesantren memiliki peran penting dalam membentuk santri yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga berakhlak dan bertanggung jawab. Kedisiplinan menjadi salah satu kebiasaan yang perlu dibangun melalui aktivitas sehari-hari. Karena itu, sistem pembinaan seperti takziran dapat menjadi salah satu bagian dari pendidikan karakter apabila diterapkan secara tepat.

Pada akhirnya, tujuan utama takziran dalam pesantren bukanlah memberikan hukuman seberat-beratnya. Tujuan yang lebih penting adalah membantu santri mengenali kesalahan, memahami konsekuensi, dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi santri untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab.

Belajar Disiplin dan Bertumbuh di Al Muanawiyah

PPTQ Al Muanawiyah Jombang merupakan pondok tahfidz khusus putri yang memadukan pendidikan Al-Qur’an dengan pembinaan karakter dan kemandirian santri. Kehidupan di pondok memberikan kesempatan bagi santriwati untuk belajar mengatur waktu, menjalankan tanggung jawab, serta membangun kebiasaan baik dalam lingkungan yang terarah. Selain program tahfidz, Al Muanawiyah juga menyediakan jenjang SMP Qur’an, MA Qur’an, dan jalur tahfidz murni.

Jika Ayah dan Bunda sedang mencari lingkungan pendidikan yang membantu putri belajar Al-Qur’an sekaligus membangun kemandirian dan kedisiplinan, PPTQ Al Muanawiyah dapat menjadi salah satu pilihan. Informasi dan pendaftaran santri baru Al Muanawiyah dapat Ayah dan Bunda pertimbangkan untuk memberikan pengalaman pendidikan pesantren bagi putri tercinta. Klik poster untuk pendaftaran!

poster pendaftaran santri baru pondok tahfidz putri jombang Al Muanawiyah

 

Nasihat Abu Bakar ash-Shiddiq yang Menjadi Teladan

Nasihat Abu Bakar ash-Shiddiq yang Menjadi Teladan

Nasihat Abu Bakar ash-Shiddiq menyimpan banyak pelajaran tentang keimanan, kepemimpinan, akhlak, dan kehidupan seorang Muslim. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat dekat Rasulullah ﷺ sekaligus khalifah pertama setelah beliau wafat. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat kuat keimanannya, lembut kepada kaum Muslimin, tetapi tegas ketika menghadapi perkara yang menyangkut agama.

Sebagai sahabat yang selalu mendampingi Rasulullah ﷺ, Abu Bakar memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Setelah Rasulullah wafat, beliau menghadapi berbagai persoalan besar yang membutuhkan keteguhan hati dan kebijaksanaan. Karena itu, nasihat Abu Bakar juga banyak berbicara tentang bagaimana seorang Muslim menjaga hubungan dengan Allah, memperbaiki diri, dan menghadapi kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Berikut beberapa mutiara nasihat Abu Bakar ash-Shiddiq yang dapat menjadi bahan renungan bagi kehidupan sehari-hari.

1. Mengingat Allah dalam Setiap Keadaan

Salah satu pesan penting yang dapat kita ambil dari Abu Bakar adalah pentingnya menjaga hubungan dengan Allah. Kehidupan seorang Muslim tidak hanya berkaitan dengan urusan dunia, tetapi juga dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Manusia dapat memperoleh kesenangan, kekayaan, jabatan, dan berbagai keberhasilan. Namun, semua itu tidak akan bertahan selamanya. Karena itu, seorang Muslim perlu mengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat.

Mengingat Allah juga membantu seseorang menghadapi perubahan keadaan. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah.

2. Jangan Terlalu Terikat dengan Dunia

Abu Bakar dikenal memiliki sifat zuhud meskipun pernah memiliki harta yang cukup. Ia tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama kehidupannya. Sikap tersebut memberikan pelajaran penting bagi umat Islam. Memiliki harta bukan sesuatu yang tercela, tetapi seseorang perlu memastikan bahwa harta tidak menguasai hatinya.

Nasihat Abu Bakar dalam hal ini mengajarkan kita untuk menempatkan dunia secara proporsional. Gunakan harta untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan kebaikan, tetapi jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita melupakan ibadah. Dengan sikap tersebut, seseorang dapat menikmati nikmat dunia tanpa kehilangan orientasi terhadap akhirat.

3. Jadikan Ketakwaan sebagai Bekal

Kehidupan manusia penuh dengan pilihan. Setiap hari kita harus menentukan apa yang akan dilakukan, perkataan yang akan disampaikan, dan keputusan yang akan diambil. Dalam kondisi seperti itu, ketakwaan menjadi salah satu bekal terpenting. Orang yang bertakwa akan berusaha mempertimbangkan apakah tindakannya mendapat ridha Allah atau justru mendatangkan dosa.

Oleh sebab itu, ketakwaan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di masjid. Sikap tersebut juga tercermin dalam kejujuran ketika bekerja, amanah ketika memegang tanggung jawab, serta kemampuan menahan diri ketika memiliki kesempatan melakukan kesalahan.

gambar siluet pria berdoa taubat mohon ketaqwaan dalam nasihat Abu Bakar
Ilustrasi taqwa sebagai standar hidup (sumber: freepik)

4. Jangan Merasa Aman dari Ujian

Abu Bakar merupakan salah satu sahabat yang mengalami berbagai ujian besar. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, umat Islam menghadapi situasi yang tidak mudah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak selalu berjalan sesuai harapan. Bahkan orang-orang saleh pun dapat menghadapi kesulitan dan ujian.

Karena itu, nasihat Abu Bakar dapat kita jadikan pengingat agar tidak mudah berputus asa ketika menghadapi masalah. Ujian bukan selalu tanda bahwa Allah meninggalkan seseorang. Sebaliknya, ujian dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesabaran dan ketergantungan kepada Allah.

5. Berani Mempertahankan Kebenaran

Abu Bakar terkenal dengan keteguhannya dalam mempertahankan ajaran Islam. Salah satu contohnya terlihat setelah Rasulullah ﷺ wafat ketika muncul kelompok yang menolak membayar zakat. Abu Bakar mengambil sikap tegas terhadap persoalan tersebut. Ketegasan itu menunjukkan bahwa kelembutan tidak berarti seseorang harus mengorbankan prinsip kebenaran.

Dengan demikian, seorang Muslim perlu belajar membedakan antara sikap lembut dan sikap lemah. Kita dapat berbicara dengan baik kepada orang lain, tetapi tetap memiliki pendirian ketika berhadapan dengan perkara yang jelas. Pelajaran tersebut juga relevan bagi pelajar. Mereka perlu memiliki keberanian untuk mengatakan tidak ketika teman mengajak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama.

Baca juga: Nasihat Ali bin Abi Thalib yang Penuh Hikmah

6. Pemimpin Harus Memikirkan Rakyatnya

Abu Bakar tidak memandang kepemimpinan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sebaliknya, ia melihat jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Ketika seseorang memperoleh tanggung jawab, ia harus menggunakannya untuk memberikan manfaat. Prinsip ini berlaku bukan hanya bagi pemimpin negara, tetapi juga bagi orang tua, guru, ketua organisasi, hingga ketua kelas. Artinya, siapa pun yang memiliki tanggung jawab atas orang lain harus berusaha menjalankannya dengan amanah. Jangan menggunakan posisi untuk merendahkan orang lain atau memenuhi kepentingan pribadi.

7. Jangan Menganggap Diri Lebih Baik daripada Orang Lain

Abu Bakar memiliki kedudukan yang sangat tinggi di antara para sahabat. Namun, kedudukan tersebut tidak membuatnya merasa paling hebat. Sikap rendah hati justru menjadi salah satu karakter yang patut diteladani. Seseorang boleh memiliki ilmu, prestasi, kekayaan, atau jabatan, tetapi semua itu merupakan nikmat dari Allah.

Karena itu, ketika mendapatkan keberhasilan, seorang Muslim sebaiknya memperbanyak syukur daripada kesombongan. Ia juga perlu menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari dan diperbaiki. Sikap rendah hati membuat seseorang lebih mudah menerima nasihat. Sebaliknya, kesombongan dapat membuat seseorang menolak kebenaran hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah.

8. Introspeksi Sebelum Menilai Orang Lain

Manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kesalahan dirinya sendiri. Padahal, memperbaiki diri merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai. Teladan Abu Bakar mengajarkan pentingnya rasa takut kepada Allah dan kesadaran bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri melakukan muhasabah.

Kita dapat memulainya dengan pertanyaan sederhana. Apa kesalahan yang dilakukan hari ini? Apakah ada orang yang terluka karena ucapan kita? Apakah ibadah kita sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya? Pertanyaan tersebut membantu seseorang memperbaiki diri tanpa harus menunggu orang lain menunjukkan kesalahannya.

Baca juga: Siapa Khulafaur Rasyidin? Empat Pemimpin Setelah Rasulullah

9. Gunakan Waktu untuk Perkara yang Bermanfaat

Waktu merupakan salah satu nikmat yang sering manusia abaikan. Banyak waktu berlalu tanpa memberikan manfaat karena seseorang terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak penting. Kehidupan Abu Bakar menunjukkan kesungguhan dalam menggunakan kesempatan untuk Islam. Ia mendampingi Rasulullah ﷺ, mengorbankan harta, serta menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah setelah Rasulullah wafat.

Maka dari itu, seorang Muslim perlu belajar mengatur waktunya. Pelajar dapat menggunakan waktu untuk belajar, menghafal Al-Qur’an, beribadah, membantu orang tua, dan beristirahat secukupnya. Tidak semua waktu harus digunakan untuk kegiatan besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten juga dapat memberikan perubahan besar dalam kehidupan.

Meneladani Nasihat Abu Bakar dalam Kehidupan

Berbagai nasihat Abu Bakar menunjukkan bahwa kehidupan seorang Muslim membutuhkan keseimbangan. Kita perlu mengejar ilmu, bekerja, dan menjalankan tanggung jawab duniawi. Namun, semua itu tetap harus berada dalam kerangka ketakwaan kepada Allah.

Abu Bakar juga memberikan contoh bahwa kelembutan harus berjalan bersama ketegasan. Kerendahan hati perlu berjalan bersama keberanian. Sementara itu, kecintaan kepada dunia tidak boleh mengalahkan perhatian terhadap akhirat.

Pada akhirnya, meneladani Abu Bakar bukan hanya dengan mengingat sejarah hidupnya. Kita dapat mengikuti keteladanannya dengan memperbaiki keimanan, menjaga amanah, berani mempertahankan kebenaran, serta membiasakan diri melakukan muhasabah. Dengan demikian, mutiara nasihat dari Abu Bakar ash-Shiddiq tetap dapat menjadi bekal bagi umat Islam hingga hari ini. Semakin kita mengenal kehidupan para sahabat, semakin banyak pula teladan yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nasihat Ali bin Abi Thalib yang Penuh Hikmah

Nasihat Ali bin Abi Thalib yang Penuh Hikmah

Nasihat Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu warisan berharga dalam khazanah Islam. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ dan termasuk Khulafaur Rasyidin. Selain dikenal sebagai sosok pemberani dan berilmu, Ali juga memiliki banyak nasihat tentang ilmu, akhlak, persahabatan, serta cara menjalani kehidupan.

Nasihat tersebut tetap relevan hingga sekarang. Terlebih bagi seorang Muslim yang ingin memperbaiki diri, perkataan penuh hikmah dapat menjadi bahan renungan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

1. Ilmu Lebih Utama daripada Harta

Salah satu nasihat Ali bin Abi Thalib yang populer berkaitan dengan kedudukan ilmu. Ilmu memiliki nilai yang berbeda dari harta karena ilmu dapat menjaga pemiliknya, sedangkan harta membutuhkan penjagaan.

Ilmu juga dapat terus berkembang ketika seseorang membagikannya kepada orang lain. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya tidak berhenti mengejar kekayaan dunia, tetapi juga berusaha memperkaya diri dengan ilmu yang bermanfaat.

Bagi pelajar, pesan ini menjadi pengingat agar tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar. Kesungguhan menuntut ilmu dapat menjadi bekal untuk kehidupan sekaligus mendatangkan manfaat bagi orang lain.

gambar santri sedang belajar bersama dalam halaqah ilustrasi sekolah memengaruhi karakter anak
Ilmu memiliki derajat lebih tinggi daripada harta

2. Jangan Menilai Seseorang dari Penampilannya

Manusia sering kali memberikan penilaian berdasarkan apa yang terlihat. Padahal, penampilan tidak selalu menggambarkan kualitas akhlak dan hati seseorang.

Ali bin Abi Thalib mengajarkan pentingnya melihat seseorang dengan lebih bijaksana. Oleh karena itu, jangan terburu-buru merendahkan orang lain hanya karena melihat kekurangan yang tampak dari luar.

Sikap tersebut juga membantu kita menjaga diri dari kesombongan. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak selalu diketahui oleh orang lain.

3. Jaga Lisan dalam Berbicara

Perkataan dapat membawa kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan masalah. Karena itu, menjaga ucapan menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Nasihat Ali bin Abi Thalib tentang lisan dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak berbicara secara sembarangan. Sebelum menyampaikan sesuatu, kita perlu mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.

Apalagi pada era media sosial, seseorang dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Karena itu, kehati-hatian dalam berbicara juga perlu diterapkan ketika menulis komentar, mengunggah konten, atau membagikan informasi.

Baca juga: Asal Peringatan Maulid Nabi dan Sejarah Perkembangannya

4. Pilih Teman dengan Bijak

Lingkungan pertemanan dapat memengaruhi kebiasaan dan karakter seseorang. Teman yang baik dapat mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan dan mendorong kita untuk melakukan kebaikan.

Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat membuat seseorang terbiasa melakukan hal yang tidak baik. Maka dari itu, memilih teman bukan hanya persoalan menemukan orang yang menyenangkan, tetapi juga mencari lingkungan yang membantu kita menjadi pribadi lebih baik.

Pelajar khususnya perlu memperhatikan hal ini. Masa sekolah dan masa remaja merupakan periode ketika pengaruh teman sangat kuat dalam membentuk kebiasaan.

5. Jangan Berhenti Melakukan Introspeksi

Manusia tidak luput dari kesalahan. Karena itu, seseorang perlu memiliki kebiasaan mengevaluasi dirinya sendiri.

Muhasabah membantu kita mengenali kekurangan dan memperbaikinya secara bertahap. Daripada sibuk mencari kesalahan orang lain, seseorang sebaiknya terlebih dahulu melihat apa yang masih perlu diperbaiki dalam dirinya.

Dengan demikian, nasihat Ali bin Abi Thalib dapat kita jadikan bahan untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih baik. Ilmu, ucapan, pertemanan, dan sikap terhadap diri sendiri perlu mendapat perhatian.

Mengamalkan Nasihat Ali bin Abi Thalib

Mempelajari nasihat Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan menghafalkan kata-kata bijaknya. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang pelajar dapat memulainya dengan bersungguh-sungguh mencari ilmu, menjaga perkataan, memilih teman yang baik, serta berani mengakui kesalahan. Sementara itu, orang dewasa dapat menerapkannya dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, nasihat yang baik akan memberikan manfaat ketika seseorang mau mengamalkannya. Semakin sering kita melakukan introspeksi, semakin besar pula kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjadi Muslim yang lebih baik.

Perayaan Maulid Nabi di Al Muanawiyah 1448 H, Santri Teladani Rasulullah

Perayaan Maulid Nabi di Al Muanawiyah 1448 H, Santri Teladani Rasulullah

Maulid Nabi di Al Muanawiyah menjadi momentum bagi santri untuk mengenal kembali perjalanan hidup dan akhlak Rasulullah ﷺ. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H berlangsung pada Selasa, 25 Agustus 2026, di halaman PPTQ Al Muanawiyah.

Kegiatan berlangsung meriah dengan berbagai penampilan dan aktivitas santri. Selain pembacaan Maulid Diba’, santri dari berbagai jenjang juga menampilkan banjari. Suasana semakin semarak dengan pengumuman pemenang lomba kreasi tumpeng kreatif antar kamar.

Pembacaan Maulid Diba’ dan Penampilan Banjari

Salah satu rangkaian Maulid Nabi di Al Muanawiyah yaitu pembacaan Maulid Diba’. Bacaan tersebut mengajak santri mengenal kisah dan perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan penampilan banjari dari santri. Menariknya, seluruh jenjang pendidikan ikut ambil bagian, mulai dari SMP, MA, hingga program tahfidz murni Al Muanawiyah.

Biasanya, kegiatan pondok hanya menampilkan satu grup banjari gabungan. Namun, khusus dalam peringatan Maulid kali ini, setiap jenjang membentuk grupnya sendiri dan menampilkan kreasi rebana masing-masing. Antusiasme tersebut menunjukkan semangat santri untuk ikut memeriahkan peringatan kelahiran Rasulullah ﷺ.

 

Kreasi Tumpeng Antar Kamar

Selain penampilan banjari, santri juga mengikuti lomba kreasi tumpeng. Setiap kamar mendapatkan kesempatan untuk membuat tumpeng dengan kreativitas masing-masing.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan suasana kompetitif. Para santri juga belajar bekerja sama, membagi tugas, dan menghasilkan karya bersama. Setelah seluruh kreasi selesai, panitia mengumumkan pemenang lomba tumpeng kreatif antar kamar.

Dengan berbagai kegiatan tersebut, peringatan Maulid Nabi berlangsung dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Santri dapat memperingati Maulid sekaligus mengembangkan kreativitas dan kekompakan.

foto bersama santri dalam lomba tumpeng kreatif Maulid Nabi di PPTQ Al Muanawiyah
Lomba tumpeng kreatif karya salah satu kamar santri

Pesan Ayah Amar: Jadikan Rasulullah sebagai Teladan

Dalam kesempatan tersebut, Ayah Amar selaku pengasuh PPTQ Al Muanawiyah mengingatkan santri untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama. Menurut beliau, perkembangan media sosial membuat banyak orang menjadikan artis, influencer, atau content creator sebagai panutan.

Karena itu, santri perlu berhati-hati dalam memilih sosok yang mereka ikuti. Popularitas seseorang di media sosial tidak otomatis menjadikannya teladan terbaik bagi seorang Muslim.

Ayah Amar menyampaikan pesan kepada para santri:

“Nabi Muhammad tidak punya media sosial, tapi followers nya terbanyak sedunia. Maka kita follow Rasulullah, dengan cara kita ikuti sifat dan karakter beliau, ibadahnya, senyumnya, baiknya terhadap orang dan masih banyak lainnya.”

Pesan tersebut mengajak santri memahami bahwa mengikuti Rasulullah bukan sekadar mengagumi kisah kehidupannya. Santri perlu berusaha meniru akhlak, ibadah, dan cara beliau memperlakukan orang lain.

Baca juga: Makna Maulid Nabi bagi Siswa dalam Kehidupan Sehari-hari

Maulid Nabi Menjadi Momentum Pendidikan Santri

Peringatan Maulid Nabi di Al Muanawiyah bukan hanya menjadi kegiatan tahunan. Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari pendidikan santri untuk mengenal sosok Rasulullah ﷺ dan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan.

Terlebih lagi, santri hidup di tengah perkembangan teknologi dan media sosial yang begitu cepat. Mereka dapat menemukan berbagai figur yang mudah mereka kagumi setiap hari. Karena itu, pendidikan tentang keteladanan Rasulullah menjadi semakin penting agar santri memiliki panutan yang tepat.

Melalui pembacaan Maulid Diba’, penampilan banjari, hingga kegiatan kebersamaan, santri diajak mengenal Rasulullah dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka. Harapannya, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya muncul ketika peringatan Maulid, tetapi juga tumbuh dalam kebiasaan sehari-hari.

Yuk, Belajar dan Bertumbuh Bersama Al Muanawiyah

PPTQ Al Muanawiyah Jombang berkomitmen mendampingi santri putri melalui pendidikan Al-Qur’an, tahfidz, pembinaan akhlak, dan pendidikan keislaman. Jika Ayah dan Bunda ingin memberikan lingkungan pendidikan yang membantu putri mengenal Al-Qur’an sekaligus meneladani Rasulullah ﷺ, pendaftaran santri baru PPTQ Al Muanawiyah dapat menjadi salah satu pilihan untuk dipertimbangkan. Segera daftarkan putri Anda di sini!

Asal Peringatan Maulid Nabi dan Sejarah Perkembangannya

Asal Peringatan Maulid Nabi dan Sejarah Perkembangannya

Asal peringatan Maulid Nabi menarik untuk diketahui karena tradisi ini tidak muncul pada masa Nabi Muhammad ﷺ. Peringatan Maulid berkembang beberapa abad setelah Rasulullah wafat dan kemudian menjadi tradisi yang dilakukan oleh banyak masyarakat Muslim di berbagai wilayah. Dalam perkembangannya, bentuk perayaan Maulid juga berbeda-beda sesuai dengan budaya masyarakat setempat.

Maulid berasal dari kata Arab mawlid atau milad yang berarti kelahiran. Dalam konteks Islam, Maulid Nabi merujuk pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian besar masyarakat Sunni memperingatinya pada 12 Rabiulawal, sedangkan kalangan Syiah memperingatinya pada 17 Rabiulawal.

Kapan Peringatan Maulid Nabi Mulai Dilakukan?

Pembahasan mengenai asal peringatan Maulid Nabi berkaitan dengan sejarah perkembangan tradisi Islam setelah masa Rasulullah ﷺ. Wikipedia mencatat bahwa menurut al-Maqrizi dalam Al-Khathat, perayaan Maulid mulai berkembang pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir sekitar abad ke-4 Hijriah.

Pada masa tersebut, pemerintah Fatimiyah mengadakan berbagai perayaan kelahiran tokoh tertentu. Perayaan itu tidak hanya mencakup Maulid Nabi, tetapi juga peringatan kelahiran Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, dan Husain.

Namun, terdapat pendapat sejarah lain mengenai awal perayaan Maulid. Sejumlah sejarawan menyebut Sultan Al-Muzhaffaruddin Al-Kukburi, penguasa Irbil, sebagai salah satu tokoh yang mengadakan peringatan Maulid secara besar-besaran. Ada pula pendapat yang mengaitkan perkembangan Maulid dengan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

dinar fatimiyah mata uang yang digunakan di masa dinasti Fatimiyah dalam asal peringatan Maulid Nabi
Dinar Fatimiyah yang digunakan ketika masa dinasti Fatimiyah (foto: Wikimedia Commons)

Maulid Berkembang dalam Berbagai Bentuk

Setelah berkembang di berbagai wilayah Muslim, tradisi Maulid memiliki bentuk yang beragam. Masyarakat biasanya mengisinya dengan pembacaan shalawat, syair pujian kepada Rasulullah ﷺ, pengajian, jamuan makan, santunan anak yatim, hingga kegiatan sosial.

Di Indonesia, masyarakat mengenal berbagai tradisi pembacaan kitab Maulid. Beberapa di antaranya adalah Maulid Barzanji, Maulid Ad-Diba’i, Simtuddurar, dan Burdah. Selain itu, sebagian daerah menggabungkan peringatan Maulid dengan tradisi budaya setempat.

Karena itu, bentuk perayaan Maulid tidak selalu sama. Setiap daerah dapat memiliki tradisi yang berbeda, meskipun sama-sama menjadikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sebagai salah satu bagian penting dalam peringatan tersebut.

Mengapa Maulid Nabi Diperingati?

Secara umum, Maulid menjadi momentum bagi sebagian umat Islam untuk mengungkapkan kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Peringatan tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari kembali sirah, perjuangan, dan akhlak Rasulullah.

Bagi pelajar, misalnya, kegiatan Maulid dapat menjadi sarana mengenal Rasulullah dengan lebih dekat. Mereka dapat mempelajari bagaimana Nabi menghadapi kesulitan, memperlakukan keluarga, mendidik para sahabat, serta menyampaikan dakwah dengan penuh kesabaran.

Dengan demikian, peringatan Maulid dapat menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada acara seremonial. Nilai-nilai yang dipelajari dari kehidupan Rasulullah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan Pandangan tentang Maulid

Pembahasan asal peringatan Maulid Nabi juga tidak terlepas dari adanya perbedaan pandangan di kalangan umat Islam mengenai hukumnya. Sebagian ulama dan kelompok Muslim menerima peringatan Maulid sebagai tradisi kegiatan-kegiatan kebaikan. Sementara itu, sebagian ulama lainnya menolak perayaannya karena menilai praktik tersebut tidak dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.

Perbedaan tersebut telah menjadi bagian dari pembahasan sejarah dan keilmuan Islam. Karena itu, umat Islam perlu menyikapinya dengan ilmu serta menghormati perbedaan pendapat yang berkembang di tengah masyarakat.

Baca juga: Makna Maulid Nabi bagi Siswa dalam Kehidupan Sehari-hari

Maulid Nabi sebagai Momentum Meneladani Rasulullah

Terlepas dari beragam bentuk tradisi dan pandangan mengenai perayaannya, mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan umat Islam. Rasulullah merupakan teladan dalam ibadah, akhlak, keluarga, pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan bermasyarakat.

Oleh sebab itu, momentum yang berkaitan dengan Maulid dapat kita manfaatkan untuk memperbanyak membaca shalawat, mempelajari sirah, serta mengevaluasi sejauh mana kita mengikuti akhlak Rasulullah.

Dengan memahami asal peringatan Maulid Nabi, kita juga dapat melihat bahwa tradisi ini memiliki sejarah perkembangan yang panjang. Peringatan tersebut kemudian hadir dalam beragam bentuk di tengah masyarakat Muslim, termasuk Indonesia. Yang tidak kalah penting, kecintaan kepada Rasulullah hendaknya tidak hanya hadir ketika Maulid, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan kehidupan seorang Muslim setiap hari.

Makna Maulid Nabi bagi Siswa dalam Kehidupan Sehari-hari

Makna Maulid Nabi bagi Siswa dalam Kehidupan Sehari-hari

Makna Maulid Nabi bagi siswa bukan hanya tentang memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ. Peringatan Maulid Nabi juga dapat menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal kembali kehidupan, perjuangan, dan akhlak Rasulullah. Dengan begitu, siswa tidak sekadar mengikuti acara, tetapi juga mengambil teladan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di lingkungan sekolah maupun pondok pesantren, Maulid Nabi dapat menjadi sarana pendidikan karakter. Melalui kajian, pembacaan shalawat, ceramah, dan berbagai kegiatan lainnya, siswa dapat memahami bahwa kecintaan kepada Rasulullah perlu terlihat dalam perilaku. Karena itu, momentum Maulid sebaiknya tidak berhenti setelah acara selesai.

Mengenal Rasulullah Lebih Dekat

Salah satu makna Maulid Nabi bagi siswa adalah kesempatan untuk mengenal sosok Rasulullah ﷺ dengan lebih dekat. Siswa dapat mempelajari perjalanan hidup beliau sejak masa kecil, perjuangan menyampaikan Islam, hingga cara beliau memperlakukan keluarga dan para sahabat.

Semakin banyak siswa mengenal Rasulullah, semakin mudah pula mereka menemukan contoh dalam menghadapi berbagai persoalan. Rasulullah menunjukkan kesabaran ketika menghadapi kesulitan, tetap jujur ketika bermuamalah, dan selalu berusaha menyampaikan kebaikan kepada orang lain.

Dengan demikian, mempelajari sirah Nabi bukan hanya menambah pengetahuan agama. Siswa juga memperoleh contoh nyata tentang bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan.

tulisan muhammad ilustrasi makna Maulid Nabi bagi siswa
Tulisan kaligrafi Nabi Muhammad

Menumbuhkan Kecintaan kepada Rasulullah

Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan ucapan. Seorang Muslim perlu mengikuti petunjuk dan sunnah beliau.

Karena itu, siswa dapat menunjukkan kecintaannya melalui kebiasaan sederhana. Misalnya, memperbanyak shalawat, menjaga adab kepada guru, berkata jujur, menghormati orang tua, dan berusaha mengikuti akhlak Rasulullah.

Meneladani Akhlak Rasulullah

Selanjutnya, makna Maulid Nabi bagi siswa dapat diwujudkan melalui pembentukan akhlak. Rasulullah ﷺ memiliki berbagai sifat terpuji yang relevan dengan kehidupan pelajar.

Siswa dapat meneladani kejujuran Rasulullah ketika mengerjakan tugas dan ujian. Mereka juga dapat belajar disiplin, bertanggung jawab, menjaga perkataan, serta menghormati teman meskipun memiliki perbedaan karakter.

Dengan cara tersebut, peringatan Maulid Nabi memiliki dampak yang lebih panjang. Nilai yang siswa pelajari dalam acara dapat mereka bawa ke ruang kelas, rumah, dan lingkungan pergaulan.

Baca juga: Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Perempuan

Menjadikan Maulid sebagai Momentum Memperbaiki Diri

Peringatan Maulid juga dapat menjadi waktu yang tepat bagi siswa untuk melakukan evaluasi diri. Setelah mempelajari kehidupan Rasulullah, siswa dapat bertanya kepada dirinya sendiri tentang akhlak dan kebiasaan yang masih perlu diperbaiki.

Apakah sudah menghormati orang tua? Sudahkah menjaga perkataan kepada teman? Atau sudah bersungguh-sungguh dalam belajar? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu siswa melakukan muhasabah.

Lebih dari itu, siswa dapat memilih satu atau dua kebiasaan baik untuk mulai diterapkan. Misalnya, membiasakan membaca shalawat, meningkatkan kedisiplinan, atau mengurangi kebiasaan menunda tugas.

Belajar Menjadi Pelajar yang Berakhlak

Pada akhirnya, makna Maulid Nabi bagi siswa terletak pada bagaimana mereka menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan. Pendidikan tidak hanya bertujuan membuat siswa memiliki pengetahuan luas, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki akhlak baik.

Oleh sebab itu, momentum Maulid Nabi dapat menjadi pengingat bahwa prestasi dan akhlak perlu berjalan bersama. Siswa yang berilmu akan semakin baik ketika menggunakan ilmunya untuk kebaikan dan mengikuti teladan Rasulullah.

Dengan mengenal Rasulullah, mencintai beliau, dan berusaha mengikuti akhlaknya, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter siswa.

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Perempuan

Peran Ayah dalam Pendidikan Anak Perempuan

Peran ayah dalam pendidikan anak perempuan tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan materi keluarga. Ayah juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk keimanan, karakter, dan cara anak memandang dirinya sendiri. Dalam keluarga, ayah menjadi salah satu figur penting yang memberikan rasa aman sekaligus menjadi teladan bagi anak.

Penelitian Putri dan Febrianingsih dalam AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan dan Keislaman Vol. 6 No. 2 (2020) menjelaskan bahwa ayah memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan Islam dalam keluarga, termasuk pendidikan bagi anak perempuan. Keluarga sendiri menjadi tempat pertama bagi anak untuk mempelajari keyakinan, akhlak, komunikasi, interaksi sosial, dan berbagai keterampilan hidup.

Ayah sebagai Pemimpin Sekaligus Pendidik

Dalam keluarga, ayah memiliki posisi sebagai pemimpin dan penanggung jawab. Namun, kepemimpinan tersebut tidak cukup hanya diwujudkan melalui aturan atau keputusan. Peran ayah dalam pendidikan anak perempuan juga terlihat dari keterlibatannya dalam mendampingi, mengarahkan, dan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ngalim Purwanto, ayah memiliki beberapa peran dalam keluarga, seperti memberikan rasa aman, melindungi keluarga, menjadi penghubung keluarga dengan lingkungan luar, menyelesaikan perselisihan, serta menjalankan fungsi pendidikan. Karena itu, kehadiran ayah dapat membantu menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung perkembangan anak.

foto ayah tersenyum memeluk anak perempuan ilustrasi peran ayah dalam pendidikan anak perempuan
Peran ayah dalam pendidikan anak perempuan sangat krusial dalam membentuk kematangan emosionalnya (foto: freepik.com)

1. Memberikan Rasa Aman kepada Anak

Anak perempuan membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa aman dan dihargai. Kehadiran ayah yang hangat dapat membantu membangun perasaan tersebut sejak anak masih kecil.

Ayah dapat menunjukkannya melalui perhatian sederhana. Misalnya, mendengarkan cerita anak, menanyakan aktivitasnya, atau memberikan apresiasi ketika anak berhasil melakukan sesuatu. Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa rumah merupakan tempat yang aman untuk berbicara dan meminta bantuan.

2. Menjadi Teladan dalam Akhlak dan Agama

Pendidikan Islam tidak hanya berlangsung melalui nasihat. Anak juga belajar dengan mengamati perilaku orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Karena itu, ayah perlu menunjukkan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajak anak shalat, membaca Al-Qur’an, menjaga ucapan, menepati janji, serta memperlakukan anggota keluarga dengan baik menjadi bentuk pendidikan yang nyata.

Bagi anak perempuan, teladan ayah juga dapat memengaruhi cara mereka memahami sosok laki-laki dalam kehidupan. Ayah yang memperlakukan ibu dan anak dengan hormat dapat memberikan gambaran tentang pentingnya akhlak dalam hubungan keluarga.

3. Meluangkan Waktu untuk Anak

Kesibukan bekerja sering membuat ayah memiliki waktu terbatas bersama keluarga. Padahal, penelitian tentang keluarga yang sehat dalam referensi tersebut menempatkan tersedianya waktu bersama keluarga sebagai salah satu unsur penting.

Tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam. Ayah dapat membangun kedekatan melalui kegiatan sederhana, seperti makan bersama, menemani belajar, berbincang sebelum tidur, atau berjalan bersama pada akhir pekan. Yang terpenting bukan hanya durasinya, tetapi kualitas interaksinya. Ketika ayah benar-benar hadir dan mendengarkan, anak akan merasakan bahwa dirinya memiliki tempat penting dalam kehidupan ayah.

Baca juga: Anak Perempuan Sulit Bercerita? Kenali Penyebab dan Cara Mendekatinya

4. Mendorong Anak Menjadi Mandiri

Ayah juga berperan dalam menyiapkan anak menghadapi kehidupan. Salah satu caranya dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan tanggung jawab sesuai usianya.

Orang tua memang perlu memberikan arahan, tetapi tidak harus menyelesaikan semua persoalan anak. Sebaliknya, ayah dapat mendampingi anak ketika menghadapi masalah dan membantunya menemukan solusi. Dengan begitu, anak perempuan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang taat dan berakhlak, tetapi juga memiliki keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian.

5. Membangun Komunikasi yang Terbuka

Keterlibatan ayah juga berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi. Referensi penelitian tersebut menjelaskan bahwa kepribadian dan kemampuan orang tua dalam mengekspresikan emosi turut memengaruhi proses pembentukan pribadi anak.

Oleh sebab itu, ayah perlu membangun komunikasi yang sehat. Ketika anak melakukan kesalahan, ayah dapat menjelaskan kesalahannya tanpa merendahkan harga dirinya. Apalagi ketika anak mulai memasuki masa remaja, kebutuhan untuk didengarkan semakin besar. Komunikasi yang terbuka sejak kecil akan membuat anak lebih mudah bercerita ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks.

6. Menumbuhkan Pendidikan Agama dalam Keluarga

Kehidupan beragama menjadi salah satu unsur penting dalam membangun keluarga yang sehat. Ayah dapat mengambil bagian dalam menciptakan suasana tersebut melalui pembiasaan sederhana di rumah.

Misalnya, keluarga dapat membiasakan shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdiskusi tentang kisah nabi, atau mengajarkan adab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan agama tidak hanya menjadi materi yang anak dapatkan di sekolah atau pondok, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

poster pendaftaran santri baru pondok tahfidz putri jombang Al Muanawiyah

Ayah dan Masa Depan Anak Perempuan

Pada akhirnya, peran ayah dalam pendidikan anak perempuan mencakup lebih dari sekadar mencari nafkah. Ayah dapat menjadi pelindung, pendidik, teladan, sekaligus tempat anak mendapatkan rasa aman.

Keterlibatan tersebut tentu membutuhkan kesiapan psikologis, kepribadian yang baik, sikap yang tepat, dan kesadaran spiritual. Karena itu, ayah juga perlu terus belajar memperbaiki diri agar mampu mendampingi anak dengan cara yang bijaksana.

Pendidikan Anak Perempuan di PPTQ Al Muanawiyah

Pendidikan anak perempuan membutuhkan sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan. Di PPTQ Al Muanawiyah Jombang, santriwati tidak hanya mendapatkan pendidikan Al-Qur’an dan tahfidz, tetapi juga pembinaan keislaman serta bekal menjadi perempuan yang berilmu dan berakhlak.

Jika Ayah dan Bunda sedang mencari lingkungan pendidikan yang mendukung tumbuh kembang putri dalam suasana Islami, PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan bagi putri untuk belajar dan bertumbuh bersama. Informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui nomor WhatsApp admin PPTQ Al Muanawiyah.

Pelajaran dari Kaum ‘Ad: Kesombongan yang Berujung Kebinasaan

Pelajaran dari Kaum ‘Ad: Kesombongan yang Berujung Kebinasaan

Pelajaran dari kaum ‘Ad dapat menjadi pengingat bagi setiap Muslim tentang bahaya kesombongan, kufur terhadap nikmat, dan menolak kebenaran. Kaum ‘Ad merupakan salah satu umat terdahulu yang Allah kisahkan dalam Al-Qur’an. Mereka memiliki kekuatan, kemakmuran, serta kemampuan membangun yang besar, tetapi semua itu tidak membuat mereka tunduk kepada Allah.

Kisah kaum ‘Ad bukan sekadar cerita tentang umat masa lalu. Al-Qur’an menyampaikannya sebagai peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Karena itu, memahami perjalanan kaum ‘Ad dapat membantu kita melihat bagaimana nikmat yang tidak disyukuri justru dapat berubah menjadi sebab kebinasaan.

Siapa Kaum ‘Ad?

Kaum ‘Ad merupakan salah satu bangsa yang disebut dalam Al-Qur’an. Mereka hidup setelah kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam dan dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kekuatan besar.

Allah mengutus Nabi Hud ‘alaihissalam kepada mereka. Nabi Hud mengajak kaumnya menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Namun, sebagian besar kaum ‘Ad justru menolak dakwah tersebut.

Di sinilah pelajaran pertama dari kaum ‘Ad muncul: kekuatan dan kemajuan tidak selalu membuat seseorang mudah menerima kebenaran. Bahkan, ketika seseorang terlalu bangga dengan apa yang dimilikinya, kelebihan tersebut dapat menjadi penghalang untuk tunduk kepada Allah.

Kaum ‘Ad Memiliki Kekuatan yang Besar

Allah menggambarkan kaum ‘Ad sebagai bangsa yang memiliki kekuatan. Mereka juga dikenal memiliki kemampuan membangun dan kehidupan yang makmur.

Dalam dakwahnya, Nabi Hud mengingatkan mereka agar bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat tersebut. Namun, mereka justru menunjukkan kesombongan dan merasa memiliki kedudukan yang lebih kuat.

Allah berfirman:

وَإِذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh dan Dia telah melebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan.”
(QS. Al-A’raf: 69)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kaum ‘Ad memperoleh kelebihan dari Allah. Akan tetapi, mereka tidak menggunakan nikmat itu untuk meningkatkan ketakwaan. Sebaliknya, mereka semakin membanggakan kekuatan yang dimiliki.

Baca juga: Santri Mengajar TPQ, Bentuk Syiar Al Muanawiyah Kepada Masyarakat

1. Jangan Menjadikan Kekuatan sebagai Alasan untuk Sombong

Salah satu pelajaran dari kaum ‘Ad yang paling penting adalah bahaya kesombongan. Mereka merasa memiliki kekuatan yang membuat mereka sulit dikalahkan.

Allah mengabadikan perkataan mereka:

مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

“Siapakah yang lebih kuat daripada kami?”
(QS. Fussilat: 15)

Pertanyaan tersebut menunjukkan bagaimana mereka memandang kekuatan sebagai alasan untuk merasa aman. Mereka lupa bahwa kekuatan tersebut berasal dari Allah dan dapat hilang kapan saja.

Pelajaran ini tetap relevan dalam kehidupan modern. Seseorang mungkin memiliki kekayaan, jabatan, pendidikan, popularitas, atau kemampuan tertentu. Namun, semua kelebihan tersebut tidak seharusnya membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin besar nikmat yang Allah berikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar.

Kota Dzat al-Imad di Aram dibangun untuk mewujudkan replika surga. Pelajaran dari Kaum 'Ad
Replikasi surga yang bernama Kota Dzat al-Imad, mahakarya Kaum ‘Ad (foto: culturefocus.com dalam islamdigest.republika.com)

2. Nikmat Harus Diiringi dengan Rasa Syukur

Kaum ‘Ad mendapatkan berbagai kenikmatan duniawi. Mereka hidup dalam kondisi yang memungkinkan mereka berkembang dan memiliki kekuatan. Namun, mereka tidak menjadikan nikmat tersebut sebagai alasan untuk semakin dekat kepada Allah.

Karena itu, kisah mereka mengajarkan bahwa memiliki banyak nikmat saja tidak cukup. Manusia juga harus menyadari siapa yang memberikan semua nikmat tersebut.

Dengan demikian, rasa syukur bukan hanya ucapan. Syukur juga terlihat dari cara seseorang menggunakan harta, ilmu, kesehatan, dan kekuasaan. Jika Allah memberikan ilmu, gunakan untuk mengajarkan kebaikan. Jika mendapatkan harta, gunakan untuk membantu sesama. Sementara itu, jika memperoleh kedudukan, gunakan untuk berlaku adil.

3. Kesyirikan Dapat Menjauhkan Manusia dari Kebenaran

Nabi Hud tidak hanya mengingatkan kaumnya agar meninggalkan kesombongan. Beliau juga menyeru mereka untuk meninggalkan penyembahan kepada selain Allah. Kaum ‘Ad diketahui menyembah berhala. Dalam referensi Muslim.or.id, kisah mereka juga dikaitkan dengan penyembahan berhala setelah munculnya praktik tersebut pada umat terdahulu.

Nabi Hud kemudian mengingatkan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Namun, kaum ‘Ad tetap mempertahankan keyakinan mereka dan menolak seruan Nabi Hud. Dari sini, kita dapat memahami bahwa menjaga tauhid menjadi dasar utama kehidupan seorang Muslim. Berbagai bentuk kemajuan duniawi tidak akan memberikan keselamatan apabila manusia meninggalkan hubungan yang benar dengan Allah.

Baca juga: Hikmah Surat Al Fajr dan Pelajaran tentang Kehidupan

4. Jangan Menolak Nasihat karena Merasa Lebih Hebat

Nabi Hud telah menyampaikan dakwah dengan jelas. Beliau mengajak kaumnya kembali kepada Allah dan memperingatkan mereka mengenai akibat dari kedurhakaan. Namun, kaum ‘Ad justru menolak seruan tersebut. Mereka bahkan meragukan ancaman yang disampaikan Nabi Hud.

Karena itu, kisah kaum ‘Ad juga mengajarkan pentingnya kerendahan hati ketika menerima nasihat. Jangan sampai kedudukan, usia, ilmu, atau pengalaman membuat kita merasa tidak membutuhkan nasihat dari orang lain. Orang yang rendah hati akan berusaha memeriksa nasihat sebelum menolaknya. Sebaliknya, kesombongan dapat membuat seseorang menutup diri meskipun kebenaran telah datang kepadanya.

5. Kekuasaan Allah Mengatasi Kekuatan Manusia

Pada akhirnya, kaum ‘Ad tidak dapat menyelamatkan diri dari azab Allah. Mereka yang sebelumnya membanggakan kekuatan justru tidak mampu menghadapi angin yang Allah kirimkan kepada mereka.

Allah berfirman:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

“Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang.”
(QS. Al-Haqqah: 6)

Kisah tersebut memperlihatkan perbandingan yang sangat jelas. Di satu sisi, manusia dapat memiliki kekuatan yang besar. Di sisi lain, Allah mampu membinasakan kekuatan tersebut dengan sesuatu yang tidak mampu mereka lawan. Maka, manusia tidak sepatutnya menyombongkan kemampuan yang dimilikinya. Sebesar apa pun kekuatan manusia, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah.

6. Jadikan Kisah Kaum ‘Ad sebagai Cermin

Al-Qur’an tidak menceritakan kaum ‘Ad hanya untuk mengenalkan sejarah umat terdahulu. Kisah tersebut mengajak manusia mengambil ibrah. Kita mungkin tidak memiliki kekuatan seperti kaum ‘Ad. Namun, setiap orang memiliki bentuk nikmatnya sendiri. Ada yang mendapatkan kecerdasan, kesehatan, harta, keluarga, jabatan, atau kesempatan belajar.

Oleh sebab itu, pertanyaannya bukan sekadar seberapa banyak nikmat yang kita miliki. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan nikmat tersebut.

Kesimpulan

Ada banyak pelajaran dari kaum ‘Ad yang dapat kita terapkan dalam kehidupan. Kisah mereka mengajarkan bahaya kesombongan, pentingnya menjaga tauhid, kewajiban mensyukuri nikmat, serta kesadaran bahwa kekuatan manusia tidak pernah melebihi kekuasaan Allah.

Kaum ‘Ad pernah merasa kuat. Namun, kekuatan tersebut tidak mampu menyelamatkan mereka ketika mereka memilih mendustakan kebenaran. Karena itu, mari menjadikan kisah mereka sebagai cermin untuk memperbaiki diri: semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin besar pula rasa syukur dan ketundukan kita kepada Allah.

Hikmah Surat Al Fajr dan Pelajaran tentang Kehidupan

Hikmah Surat Al Fajr dan Pelajaran tentang Kehidupan

Hikmah Surat Al Fajr dapat kita renungkan melalui pesan yang Allah sampaikan sejak awal surah. Surat yang terdiri dari 30 ayat ini mengajak manusia memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah, mengambil pelajaran dari kehancuran umat terdahulu, serta memahami bahwa kesombongan dan kezaliman dapat membawa kebinasaan.

Surat Al Fajr juga memiliki keunikan karena Allah membuka surah dengan sumpah menggunakan waktu fajar. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa fajar dapat dimaknai sebagai waktu terbitnya cahaya pada pagi hari. Namun, sumpah tersebut tidak sekadar menunjukkan keistimewaan waktu fajar. Allah mengajak manusia menggunakan akal untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Sumpah Allah dengan Waktu Fajar

Allah berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ۝ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ ۝ هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

“Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam apabila berlalu. Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?” (QS. Al-Fajr: 1–5).

Menurut sejumlah ulama tafsir, Allah menggunakan sumpah untuk menarik perhatian manusia. Setelah itu, Allah mengajak manusia berpikir dan memperhatikan berbagai tanda kebesaran-Nya. Dengan demikian, salah satu hikmah Surat Al Fajr ialah pentingnya menggunakan akal untuk mengambil pelajaran dari fenomena yang Allah hadirkan.

Fajar sendiri menghadirkan perubahan yang mudah manusia saksikan. Kegelapan malam perlahan berganti menjadi cahaya. Karena itu, fenomena tersebut dapat menjadi pengingat bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak atas pergantian waktu dan kehidupan manusia.

Fajar Menjadi Gambaran Datangnya Ketetapan Allah

Selain mengandung keindahan, waktu fajar dalam Surat Al Fajr juga memiliki pesan peringatan. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa terbitnya matahari pada waktu fajar menunjukkan sebuah kepastian. Matahari terbit secara teratur, sebagaimana ketetapan Allah terhadap makhluk-Nya.

Dalam konteks Surat Al Fajr, kepastian tersebut juga menjadi gambaran tentang kepastian datangnya azab bagi orang yang terus-menerus durhaka. Sebagaimana fajar membelah kegelapan malam, ketetapan Allah juga akan datang pada waktunya.

Karena itu, manusia tidak seharusnya merasa aman ketika terus melakukan kezaliman. Kekuasaan, harta, kedudukan, dan berbagai kemampuan duniawi tidak dapat menghindarkan seseorang dari ketetapan Allah.

Terbitnya matahari ilustrasi hikmah Surat Al Fajr
Ilustrasi waktu fajar atau terbitnya matahari (foto: canva)

Kisah Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun

Setelah sumpah tersebut, Allah menyebut beberapa kaum yang pernah memiliki kekuatan besar. Mereka adalah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun.

Kaum ‘Ad memiliki kekuatan fisik dan kemampuan membangun peradaban. Mereka bahkan memiliki bangunan-bangunan yang tinggi. Namun, kekuatan tersebut tidak menyelamatkan mereka ketika mereka memilih berbuat zalim dan mendustakan kebenaran.

Kemudian Allah menyebut kaum Tsamud yang memiliki kemampuan memahat batu. Mereka mampu menciptakan bangunan dengan memanfaatkan kekuatan dan keterampilan yang mereka miliki. Akan tetapi, kemampuan tersebut juga tidak membuat mereka terbebas dari akibat kedurhakaan.

Selanjutnya, Allah menyebut Fir’aun yang memiliki kekuasaan besar. Ia bersama pasukannya mengejar Nabi Musa dan Bani Israil hingga akhirnya Allah menenggelamkan mereka. Kisah ketiga kelompok tersebut memberikan pelajaran penting. Sebesar apa pun kemampuan manusia, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah. Oleh karena itu, kemajuan peradaban seharusnya mendorong manusia semakin bersyukur, bukan semakin sombong.

Kesombongan Dapat Menghancurkan Manusia

Salah satu hikmah Surat Al Fajr yang penting untuk kehidupan saat ini ialah bahaya kesombongan. Allah menggambarkan kaum terdahulu sebagai kelompok yang memiliki kekuatan dan kemampuan luar biasa. Namun, mereka menggunakan kelebihan tersebut untuk melakukan kerusakan dan bertindak sewenang-wenang.

Baca juga: Keutamaan Memelihara Anak Yatim dalam Islam

Pelajaran ini tetap relevan bagi manusia modern. Kemajuan teknologi, pendidikan, ekonomi, maupun jabatan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semua kemampuan tersebut merupakan amanah yang harus digunakan untuk kebaikan.

Dengan begitu, seseorang dapat menjadikan kisah umat terdahulu sebagai cermin. Ketika memiliki kelebihan, ia belajar bersyukur. Ketika memiliki kekuasaan, ia belajar berlaku adil. Sementara itu, ketika mendapatkan ilmu, ia menggunakannya untuk memberikan manfaat.

Mengapa Surat Al Fajr Mengingatkan Kita pada Umat Terdahulu?

Allah tidak menceritakan kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun sekadar sebagai cerita sejarah. Kisah tersebut menjadi peringatan bagi orang-orang yang menolak kebenaran dan memilih melakukan kezaliman.

Pada masa turunnya Surat Al Fajr, Rasulullah SAW menghadapi kaum Quraisy yang menentang dakwah beliau. Karena itu, kisah umat terdahulu menjadi peringatan agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, pesan tersebut tidak hanya berlaku bagi kaum Quraisy. Setiap generasi dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat tersebut. Ketika manusia mengabaikan kebenaran, melakukan kezaliman, dan menggunakan kekuatan untuk merusak, ia perlu mengingat bahwa Allah dapat mencabut semua kenikmatan tersebut kapan saja.

Pelajaran Surat Al Fajr bagi Kehidupan Sehari-hari

Dari rangkaian ayat tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran. Pertama, manusia perlu membiasakan diri merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Pergantian malam dan fajar merupakan salah satu contoh sederhana yang dapat mengingatkan kita kepada kebesaran-Nya.

Kedua, manusia perlu menggunakan kelebihan yang dimiliki secara bertanggung jawab. Harta, ilmu, jabatan, dan kemampuan bukan alasan untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, semua itu seharusnya menjadi sarana untuk berbuat baik dan membantu sesama.

Ketiga, kisah umat terdahulu mengajarkan bahwa kezaliman memiliki konsekuensi. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu menjaga diri dari kesombongan, penindasan, dan perilaku yang merugikan orang lain.

Terakhir, hikmah Surat Al Fajr mengajarkan bahwa kehidupan dunia memiliki batas. Manusia tidak boleh hanya mengejar kekuatan dan kesenangan dunia, tetapi juga perlu mempersiapkan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kesimpulan

Surat Al Fajr menggabungkan sumpah dengan waktu fajar, peringatan tentang umat terdahulu, serta gambaran tentang akibat kesombongan dan kezaliman. Melalui rangkaian ayat tersebut, Allah mengajak manusia menggunakan akalnya dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa.

Fajar yang mengakhiri kegelapan juga dapat menjadi pengingat bagi manusia bahwa setiap kehidupan memiliki perubahan dan ketetapan. Karena itu, mari menjadikan Surat Al Fajr sebagai pengingat untuk bersyukur, menjauhi kesombongan, serta menggunakan setiap kelebihan yang Allah berikan untuk kebaikan.

 

Santri Mengajar TPQ, Bentuk Syiar Al Muanawiyah Kepada Masyarakat

Santri Mengajar TPQ, Bentuk Syiar Al Muanawiyah Kepada Masyarakat

gambar anak-anak dan guru TPQ Darussalam Ceweng dalam santri mengajar TPQ
Potret murid dan tenaga pendidik TPQ Darussalam Ceweng yang berasal dari santri Al Muanawiyah

Menghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang menjaga ayat dalam ingatan. Ilmu yang dipelajari juga perlu dibagikan agar memberikan manfaat bagi orang lain. Hal inilah yang diwujudkan melalui program santri mengajar TPQ yang dijalankan PPTQ Al Muanawiyah Jombang.

Program ini memberi kesempatan kepada santri yang telah memenuhi usia dan dinilai layak untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungan sekitar pondok. Salah satunya berlangsung di TPQ Darussalam, Masjid Darussalam, Ceweng. Melalui kegiatan tersebut, santri belajar mengamalkan ilmu sekaligus berkontribusi dalam pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Santri Mengajar TPQ Darussalam Selama Dua Tahun

Sudah sekitar dua tahun santri Al Muanawiyah yang terpilih diterjunkan untuk membantu menghidupkan kembali TPQ Darussalam di Masjid Darussalam Ceweng. Kehadiran para santri mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Bahkan, antusiasme terhadap pembelajaran Al-Qur’an terus menunjukkan perkembangan.

Saat ini, TPQ Darussalam telah memiliki sekitar 35 murid. Jumlah tersebut menjadi salah satu tanda bahwa masyarakat memiliki kebutuhan dan perhatian yang besar terhadap pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.

Selain jumlah murid yang bertambah, jadwal pembelajaran TPQ juga semakin aktif. Ayah Amar, selaku pengasuh PPTQ Al Muanawiyah, menyampaikan bahwa sebelumnya kegiatan pengajian hanya berlangsung dua kali dalam sepekan, yaitu Sabtu dan Minggu. Kini, kegiatan tersebut berlangsung empat kali dalam sepekan dengan tambahan jadwal pada Selasa dan Kamis.

 

Berawal dari Wasiat untuk Menghidupkan TPQ

Program santri mengajar TPQ di Masjid Darussalam juga memiliki cerita tersendiri. Menurut Ayah Amar, kegiatan tersebut merupakan bagian dari wasiat H.M. Sulthon, mertua beliau sekaligus salah satu warga yang aktif menghidupkan kegiatan di masjid tersebut.

H.M. Sulthon berpesan agar Al Muanawiyah dapat mengelola dan mengembangkan TPQ di Masjid Darussalam. Beliau juga menyampaikan kesediaannya untuk mendukung kebutuhan operasional kegiatan mengajar di sana. Dukungan tersebut kemudian membuka ruang bagi santri Al Muanawiyah untuk mengambil peran. Para santri tidak hanya datang sebagai peserta didik, tetapi juga belajar menjadi pendidik bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

foto bersama santri Al Muanawiyah dan murid TPQ Darussalam Ceweng dalam perayaan Maulid Nabi 1448 H
Semarak Maulid Nabi 1448 H di Masjid Darussalam Ceweng

Menjadi Laboratorium Belajar bagi Santri

Bagi Al Muanawiyah, kegiatan ini bukan sekadar program mengajar. Ayah Amar menyebut kesempatan tersebut sebagai laboratorium belajar bagi santri. Melalui pengalaman mengajar secara langsung, santri dapat melatih kemampuan komunikasi, tanggung jawab, kesabaran, sekaligus keterampilan menyampaikan ilmu.

Karena itu, pihak pondok juga berupaya meningkatkan kemampuan para santri yang menjadi guru TPQ. Ayah Amar menyampaikan,

“Santri yang menjadi guru TPQ ini InsyaAllah akan di ikutkan dalam pembelajaran menggunakan metode Ummi (yang akan) dibayarkan oleh donatur.”

Langkah tersebut tujuannya untuk membuat proses pembelajaran semakin profesional. Pada saat yang sama, kemampuan santri dalam mengajarkan Al-Qur’an juga dapat berkembang sehingga mereka lebih siap berdakwah di tengah masyarakat.

Tidak Hanya Menghafal, tetapi Mengajarkan Al-Qur’an

Program ini sejalan dengan semangat pendidikan di PPTQ Al Muanawiyah. Santri tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang telah mereka dapatkan.

Semangat tersebut juga tercermin dalam Mars Al Muanawiyah yang mengutip hadits shahih Bukhari no. 5027:

“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dengan demikian, kegiatan santri mengajar TPQ menjadi salah satu cara untuk menerapkan pesan tersebut. Santri belajar Al-Qur’an di pondok, kemudian membawa ilmu itu kepada masyarakat melalui kegiatan mengajar.

TPQ Darussalam Diharapkan Terus Berkembang

Pengembangan TPQ Darussalam juga tidak berhenti pada pembelajaran membaca Al-Qur’an. Ke depan, Ayah Amar berharap kegiatan tersebut dapat berkembang dengan tambahan pembelajaran diniyah, seperti fasholatan dan fikih dasar.

Keterlibatan antara pondok dan masyarakat juga semakin erat. Pada Milad ke-6 Al Muanawiyah sebelumnya, santri TPQ Darussalam turut mendapat undangan sebagai bentuk apresiasi. Mereka dipandang telah menjadi bagian dari keluarga Al Muanawiyah yang memiliki semangat untuk terus mempelajari Al-Qur’an.

Pada akhirnya, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. Santri mendapatkan pengalaman untuk mengajar dan mengabdi, sementara anak-anak di sekitar pondok memperoleh kesempatan belajar Al-Qur’an secara lebih rutin.

Ingin Santri Belajar Al-Qur’an Sekaligus Mengabdi?

PPTQ Al Muanawiyah Jombang mendidik santriwati untuk tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki ilmu, kemandirian, dan kepedulian terhadap masyarakat. Melalui lingkungan pendidikan dan berbagai kegiatan pengabdian, santri mendapat ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus mengamalkan ilmu yang dimiliki. Daftarkan putri Anda di PPTQ Al Muanawiyah dan tumbuhkan generasi Qur’ani yang siap belajar, mengajar, dan memberi manfaat bagi sesama.