Global Sumud Flotilla, Simbol Keberanian Membela Palestina

Global Sumud Flotilla, Simbol Keberanian Membela Palestina

Apa Itu Global Sumud Flotilla?

Global Sumud Flotilla (GSF) adalah inisiatif kemanusiaan internasional yang diluncurkan pertengahan 2025, sebagai upaya sipil untuk menerobos blokade laut yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza.

Ada ratusan relawan dan aktivis dari lebih dari 40 negara yang ikut dalam GSF, termasuk dokter, pelaut, seniman, pekerja sosial, dan pemuka agama. Mereka bergerak di bawah koordinasi beberapa organisasi seperti Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara.

Misi utama mereka adalah:

  • membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza: makanan, obat-obatan, bahan medis, kebutuhan dasar lainnya, karena warga Gaza menghadapi kekurangan akut akibat blokade.

  • menantang blokade laut Israel dan membuka koridor kemanusiaan melalui jalur laut.

  • menyuarakan keadilan, mencuri perhatian dunia agar masyarakat internasional melihat penderitaan warga Palestina dan mengambil langkah nyata.

Global Sumud Flotilla gerakan menembus blokade Gaza Palestina melalui jalur air dengank kapal
Kapal Global Sumud Flotilla (foto: www.middleeasteye.net)

Latar Belakang Global Sumud Flotilla

Beberapa latar belakang yang mendorong lahirnya gerakan ini:

  • Blokade laut Israel terhadap Gaza sudah berlangsung lama (sejak 2007), membuat Gaza menjadi “penjara terbuka” bagi warga sipil, dengan hambatan besar terhadap suplai makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.

  • Krisis kemanusiaan yang makin parah: kurangnya akses air bersih, masalah kesehatan, dan kondisi gizi buruk (kelaparan). Kesulitan ini terus memburuk di era konflik yang terus bergulir.

  • Frustrasi terhadap kegagalan lembaga internasional dan pemerintah dunia dalam menghentikan penderitaan warga Gaza, membuat banyak orang merasa bahwa aksi nyata (solidaritas) sangat diperlukan.

Baca juga: Sejarah Masjid Al Aqsa sebagai Kiblat Pertama Umat Islam

Hikmah Global Sumud Flotilla bagi Masyrakat luas

Gerakan Global Sumud Flotilla menyimpan banyak pelajaran berharga bagi umat, terutama bagi mereka yang masih belum menyadari pentingnya membela Palestina. Pertama, aksi ini menunjukkan bahwa persaudaraan sesama Muslim dan sesama manusia melampaui batas negara. Walau berbeda bangsa, bahasa, dan budaya, para relawan tetap bersatu untuk menegakkan keadilan dan membela rakyat Palestina. Kedua, flotilla mengajarkan bahwa solidaritas tidak cukup hanya berupa kata-kata atau slogan. Membawa bantuan, menghadapi risiko di laut, dan menembus blokade menjadi bukti nyata bahwa keberpihakan harus diwujudkan dalam tindakan.

Selain itu, kata sumud sendiri bermakna keteguhan. Dari sini kita belajar bagaimana keteguhan hati mampu mengalahkan rasa takut, meskipun tantangan besar menghadang. Hikmah lainnya adalah munculnya panggilan moral bagi setiap individu. Tidak semua orang bisa berlayar langsung ke Gaza. Tetapi setiap kita tetap dapat berkontribusi melalui doa, menyebarkan informasi yang benar, berdonasi, atau mendesak pihak berwenang agar lebih berpihak kepada rakyat Palestina.

Pada akhirnya, gerakan ini juga menegaskan bahwa membela kaum tertindas adalah bagian dari ibadah sosial yang mulia. Membantu Gaza bukan sekadar urusan politik. Melainkan bagian dari jihad kemanusiaan yang damai, yang justru semakin menguatkan iman dan rasa tanggung jawab kita sebagai umat.

Hikmah Surat Al Zalzalah tentang Berhati-Hati dalam Beramal

Hikmah Surat Al Zalzalah tentang Berhati-Hati dalam Beramal

Surat Al Zalzalah adalah surat ke-99 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari delapan ayat. Kata zalzalah berarti guncangan dahsyat yang menggambarkan peristiwa kiamat. Membaca dan memahami surat ini memberi pelajaran mendalam tentang kehidupan, kematian, dan keadilan Allah SWT di akhirat. Artikel ini akan mengulas singkat asbabun nuzul, tafsir, serta hikmah surat Al Zalzalah agar kita bisa mengambil manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Asbabun Nuzul Surat Al Zalzalah

Menurut riwayat, surat ini turun di Madinah dan termasuk surat Madaniyah. Imam At-Thabari dan ahli tafsir lain menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kedahsyatan kiamat, di mana bumi akan mengguncang isi perutnya dan menampakkan semua amal manusia. Asbabun nuzul Al Zalzalah ini dikaitkan dengan peringatan Allah kepada orang-orang yang lalai, bahwa sekecil apapun amal baik maupun buruk akan diperlihatkan dan dibalas setimpal.

gambar hari kiamat dengan terjadi goncangan gempa besar di bumi sebagai gamabran Hikmah Surat Al Zalzalah tentang Berhati-Hati dalam Beramal
Gambaran goncangan bumi yang dahsyat pada hikmah surat Al Zalzalah (foto: freepik)

Surat ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun amal yang sia-sia. Perbuatan kecil seperti tersenyum, memberi jalan, atau bersedekah recehan pun dicatat dan bernilai di sisi Allah SWT. Sebaliknya, dosa sekecil apapun juga tidak akan luput dari hisab.

Baca juga:Tafsir Al Zalzalah: Setiap Amal Pasti Dipertanggungjawabkan

Hikmah Surat Al Zalzalah

Ada banyak hikmah surat Al Zalzalah yang bisa kita ambil, di antaranya:

  1. Mengajarkan kesadaran akan hari kiamat. Kehidupan dunia hanyalah sementara, dan surat ini mengingatkan kita untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi hari pembalasan.

  2. Amal kecil pun bernilai. Ayat 7–8 menegaskan bahwa sekecil apapun amal baik atau buruk akan dibalas. Ini memberi motivasi untuk istiqamah berbuat kebaikan, meski sederhana, baik amal sunnah maupun wajib.

  3. Bumi sebagai saksi. Surat ini menekankan bahwa bumi yang kita pijak akan menjadi saksi amal kita. Maka, menjaga bumi dari kerusakan juga termasuk ibadah.

  4. Optimisme bagi orang beriman. Surat ini menumbuhkan keyakinan bahwa keadilan Allah SWT pasti ditegakkan. Meskipun manusia tidak adil di dunia, di akhirat setiap amal akan mendapat balasan setimpal.

  5. Peringatan bagi orang yang lalai. Orang yang meremehkan dosa kecil akan diingatkan bahwa semua tercatat dan diperlihatkan.

Hikmah surat Al Zalzalah memberikan kesadaran mendalam bahwa hidup ini bukan sekadar mengejar dunia, tetapi juga bekal akhirat. Dengan memahami tafsir dan asbabun nuzulnya, kita semakin yakin bahwa sekecil apapun amal tidak akan sia-sia. Mari perbanyak amal kebaikan, jauhi dosa, dan persiapkan diri menghadapi hari ketika bumi mengguncangkan segala isinya.

Adab Berteman dalam Kitab Washiyatul Musthofa

Adab Berteman dalam Kitab Washiyatul Musthofa

Berteman adalah fitrah manusia. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam Islam, pertemanan bukan hanya perkara duniawi, tetapi juga bernilai ibadah jika dijalani dengan niat yang baik. Oleh karena itu, penting bagi seorang Muslim untuk memahami adab berteman agar persahabatan membawa manfaat, bukan mudarat.

 

Pentingnya Memilih Teman yang Baik

Dalam kitab Washiyatul Musthofa dijelaskan bahwa teman yang baik ibarat cermin. Ia akan menegur dengan cara yang benar ketika kita salah, sekaligus mendukung dalam kebaikan. Sebaliknya, teman yang buruk bisa menjadi pintu kehancuran. Misalnya, teman yang gegabah dalam berbicara atau menghina pilihan orang lain, seperti dalam urusan pemilu. Hal kecil ini bisa merusak hubungan, bahkan menimbulkan permusuhan.

Teman buruk juga digambarkan sebagai orang yang suka membuka rahasia. Contoh nyata adalah membongkar aib temannya, seperti hutang atau masalah pribadi. Padahal, Islam menekankan agar kita menutupi aib saudara Muslim, bukan menyebarkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Ilustrasi dua wanita muslimah tersenyum, salah satunya membantu membenahi hijab temannya sebagai simbol menutupi aib sahabat dalam adab berteman menurut Islam

Menutupi aib teman dengan membenarkna hijabnya adalah salah satu adab berteman (foto: freepik)

Hikmah dari Persahabatan

Ada pepatah bijak yang menyebutkan: “Seribu teman baik lebih baik daripada satu musuh.” Pepatah ini sejalan dengan kenyataan bahwa ketika kita memiliki banyak teman yang tulus, hidup terasa ringan. Namun, jika kita memiliki satu musuh saja, hati bisa terus diliputi kegelisahan. Musuh muncul bukan selalu karena kebencian, tetapi bisa jadi karena salah paham atau kurangnya pengetahuan tentang diri kita.

Dengan menjaga adab berteman, kita bisa meminimalisir munculnya permusuhan. Sikap saling menghargai, menghindari bahaya banyak bicara yang tidak perlu, dan menutupi kekurangan sahabat akan mempererat ukhuwah.

Baca juga: Bukan Obat, Ini Terapi Mental Health Paling Ampuh Menurut Riset

Adab Berteman Menurut Islam

Beberapa adab yang perlu dijaga antara lain:

  • Menjaga rahasia teman.

  • Saling menasihati dalam kebaikan.

  • Tidak menghina atau merendahkan pilihan orang lain.

  • Mendukung sahabat di kala senang maupun susah.

  • Menjaga lisan agar tidak menyakiti hati.

Dengan menerapkan adab ini, persahabatan menjadi sarana menuju ridha Allah. Demikian ulasan tentang adab berteman yang bisa kita ambil dari ajaran Islam dan nasihat ulama. Mari kita pilih sahabat yang bisa membawa kita semakin dekat kepada Allah SWT.

Untuk penjelasan lebih lengkap, silakan saksikan tayangan utuhnya di kanal YouTube resmi PPTQ Al Muanawiyah.

Doa Bangun Tidur: Dalil, Manfaat, dan Keutamaannya

Doa Bangun Tidur: Dalil, Manfaat, dan Keutamaannya

Bangun tidur adalah nikmat besar dari Allah SWT yang sering kita lupakan. Setelah seharian beraktivitas, tubuh membutuhkan istirahat, dan tidur menjadi bentuk “kematian kecil” sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an (QS. Az-Zumar: 42). Maka, ketika terbangun kembali, sejatinya kita mendapatkan kesempatan hidup baru. Dalam Islam, ada doa bangun tidur khusus yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar seorang Muslim mengawali harinya dengan penuh syukur.

 

Dalil Doa Bangun Tidur

Doa ini berasal dari hadits shahih riwayat Imam Bukhari:

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kami akan kembali.” (HR. Bukhari, no. 6314).

Hadits ini menegaskan bahwa tidur diibaratkan sebagai “kematian sementara”, dan bangun tidur adalah bukti kasih sayang Allah yang memberikan kesempatan untuk memperbaiki amal sunnah dan wajib sebelum benar-benar kembali kepada-Nya.

doa bangun tidur hadits rasulullah
Lafadz doa bangun tidur

Manfaat Membaca Doa Bangun Tidur

  1. Mengawali hari dengan rasa syukur
    Doa ini mengajarkan kita untuk tidak lupa bersyukur sejak membuka mata. Orang yang terbiasa bersyukur sejak pagi hari biasanya lebih tenang dan mampu menghadapi kesulitan dengan sabar.

  2. Mengingat tujuan hidup
    Kalimat “wa ilaihin-nusyur” (kepada-Nya kita akan kembali) menanamkan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Dengan begitu, doa ini menumbuhkan motivasi untuk menjalani aktivitas sesuai syariat.

  3. Menjaga hati dari kelalaian
    Tidak sedikit orang yang bangun tidur lalu lalai dari zikir. Membaca doa ini melatih kita agar tidak langsung sibuk dengan dunia, melainkan terlebih dahulu mengingat Sang Pencipta.

  4. Membangun mental yang positif
    Doa bangun tidur membuat hati lebih lapang. Dengan pikiran yang bersih, seseorang lebih siap menghadapi tugas sehari-hari, baik belajar, bekerja, maupun beribadah.

Baca juga: Doa Sebelum Tidur sebagai Perlindungan Saat Kematian Kecil

Keutamaan Membaca Doa Bangun Tidur

  • Dicatat sebagai zikir pagi
    Doa ini termasuk bagian dari zikir yang disukai Allah. Memulainya dengan kalimat pujian menjadikan seorang hamba lebih dekat dengan Rabb-nya.

  • Mengundang keberkahan waktu pagi
    Rasulullah ﷺ sering mendoakan keberkahan bagi umatnya di waktu pagi. Membaca doa berarti membuka pintu keberkahan sejak awal hari.

  • Menenangkan jiwa dan raga
    Dengan doa ini, hati seorang Muslim lebih damai karena sadar hidupnya ada dalam genggaman Allah. Rasa cemas pun berkurang karena ia menggantungkan harapannya hanya kepada-Nya.

  • Menjadi pembeda seorang Mukmin
    Orang yang beriman tidak hanya terbangun secara fisik, tetapi juga bangun secara spiritual. Dengan doa, ia langsung menghubungkan hidupnya kembali kepada Allah.

Dengan memahami doa bangun tidur, kita belajar bahwa hidup bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan baru yang harus dimulai dengan rasa syukur. Mari biasakan membaca doa ini setiap pagi agar aktivitas harian kita dipenuhi keberkahan. Baca juga doa sebelum belajar agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat di sini.

almuanawiyah.com

Siti Walidah, Pendiri Aisyiyah yang Menginspirasi

Siti Walidah, Pendiri Aisyiyah yang Menginspirasi

Al-Muanawiyah – Siti Walidah adalah sosok perempuan tangguh yang namanya tercatat sebagai pendiri Aisyiyah, organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia. Beliau lahir di Yogyakarta pada tahun 1872, di lingkungan keluarga ulama terpandang. Sejak kecil, Siti Walidah tumbuh dalam suasana religius yang membentuk akhlaknya, meski pada masa itu kesempatan belajar formal bagi perempuan sangat terbatas.

Pendiri Aisyiyah sekaligus Istri KH. Ahmad Dahlan

Siti Walidah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sejak itu, beliau aktif mendampingi perjuangan suaminya dalam menyebarkan dakwah Islam. Tidak hanya mendukung di balik layar, Siti Walidah juga ikut mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu agama kepada kaum perempuan. Semangat beliau untuk mengangkat derajat kaum muslimah membuat dakwah Kiai Ahmad Dahlan semakin luas dan berpengaruh.

foto Siti Walidah pendiri Aisyiyah dan istri dari KH Ahmad Dahlan
Siti Walidah, pendiri Aisyiyah

Lahirnya Aisyiyah

Pada tahun 1917, Siti Walidah mendirikan Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Dari pengajian Sopo Tresno yang dipimpin Siti Walidah sejak 1914, lahirlah gerakan perempuan yang lebih terorganisir. Pada tahun 1917, pengajian ini berkembang menjadi organisasi Aisyiyah. Kehadiran Aisyiyah menjadi tonggak penting karena membuka ruang bagi kaum perempuan untuk terlibat aktif dalam pembangunan umat. Melalui Aisyiyah, banyak sekolah perempuan didirikan, pengajian diselenggarakan, hingga program keterampilan digalakkan agar perempuan lebih mandiri dan berdaya.

Langkah ini tergolong berani pada masanya, sebab mayoritas masyarakat masih memandang peran perempuan terbatas hanya di rumah tangga. Namun berkat visi Siti Walidah, Aisyiyah tumbuh pesat dan kini menjadi salah satu organisasi perempuan Islam terbesar di dunia.

Baca juga: Sejarah Dewi Sartika, Perintis Pendidikan Perempuan

Dukungan terhadap Perjuangan Umat dan Bangsa

Setelah Ahmad Dahlan wafat pada 1923, Siti Walidah tetap aktif dalam Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ia memastikan perjuangan suaminya tidak berhenti, bahkan makin meluas. Beliau bahkan ikut memimpin sidang-sidang Muhammadiyah pada masanya, sesuatu yang jarang dilakukan perempuan kala itu. Selain mendidik perempuan, Siti Walidah juga mendorong peran aktif mereka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengajak kaum muslimah untuk ikut serta mendukung perjuangan para pejuang dengan doa, pendidikan, dan kontribusi sosial.

Atas jasa dan perjuangannya, Siti Walidah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hingga kini, nama beliau tetap dikenang sebagai sosok inspiratif yang mengajarkan pentingnya pendidikan, kemandirian, dan dakwah bagi perempuan muslim. Kisah pendiri Aisyiyah ini semoga dapat menginspirasi kita untuk terus bergerak memberikan kontribusi bagi masyarakat luas.

Ujian Tertutup MHQ 30 Juz Road to Wisuda II Al Muanawiyah

Ujian Tertutup MHQ 30 Juz Road to Wisuda II Al Muanawiyah

Jombang, 9 September 2025 – Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang kembali menggelar agenda penting dalam rangkaian Road to Wisuda Tahfidz II, yaitu ujian tertutup MHQ 30 juz. Kegiatan ini dilaksanakan setelah sebelumnya para wisudawan menyelesaikan tasmi’ bil ghoib 30 juz.

Peserta dan Dewan Juri

Ujian tertutup ini diikuti oleh empat wisudawan bil ghoib: Qurrota A’yun (Madura), Irma Nurlailatul Mafaza (Gresik), Nasywa Mitsfalah (Gresik), dan Qori Qonitatuz Zahra (Jombang). Dalam acara ini, setiap santri maju secara bergiliran dan diberikan 15 soal dengan rincian: 10 soal sambung ayat, 2 soal tebak juz dan halaman, dan 3 soal menjawab awal surat. Para juri menggunakan tanda bel sebagai instruksi: mulai, salah, ganti soal, hingga tanda selesai. Pelaksanaan disaksikan oleh santriwati PPTQ Al Muanawiyah dengan penilaian dari dewan juri: Ustadzah Fiqul, Ustadzah Fauziah, dan Ustadzah Aini.

MHQ musabaqah hifdzil Qur'an 30 juz menjelang wisuda tahfidz Pondok Pesantren Tahfidz Putri Al Muanawiyah Jombang, ujian sambung ayat tahfidz
Tampilan salah satu wisudawan bil ghoib, Nasywa, dalam ujian tertutup MHQ 30 juz

Baca juga: Wisuda Tahfidz 2025: Mewujudkan Mimpi Ayah Tercinta

Semangat dalam Ujian Tertutup MHQ 30 Juz

Menurut pengasuh, Ayah A. Muammar Shalahuddin, ujian ini bukan hanya penilaian teknis hafalan, tetapi juga bentuk motivasi bagi seluruh santri.

“Momen ini adalah sarana untuk menguji kelancaran hafalan para wisudawan, sekaligus memberi inspirasi bagi santri lain agar semangat menuju mutqin 30 juz. Ujian tertutup ini bagian penting sebelum puncak Wisuda Tahfidz II mendatang.”

Selain itu, hasil ujian juga menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan wisudawan terbaik.

Salah satu wisudawan mengungkapkan pengalamannya:

“Semakin grogi ketika dengar tanda bel. Tapi Allah mudahkan, alhamdulillah sudah selesai, tinggal melanjutkan ke tahap berikutnya.”

Kegiatan ini menjadi pintu menuju ujian terbuka yang akan digelar bersamaan dengan Wisuda Tahfidz II pada 14 September 2025. Pada acara puncak nanti, para undangan hadir menyaksikan capaian luar biasa para penghafal Al-Qur’an Al Muanawiyah. Acara ini tidak hanya menjadi momen khidmat bagi para wisudawan, tetapi juga sarana syiar untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada Al-Qur’an. Saksikan kemeriahan momen penganugerahan penghafal Al-Qur’an dalam Wisuda Tahfidz II PPTQ AL Muanawiyah live melalui akun youtube Al Muanawiyah

Tanda Suci dari Haid yang Benar agar Ibadah Tidak Keliru

Tanda Suci dari Haid yang Benar agar Ibadah Tidak Keliru

Haid adalah ketentuan Allah yang alami bagi perempuan. Namun, dalam praktik ibadah sehari-hari, sering muncul pertanyaan: kapan seorang perempuan dianggap sudah suci dari haid dan kembali boleh beribadah? Untuk menjawab hal ini, para ulama merujuk kepada dalil shahih tentang tanda suci dari haid yang pernah dijelaskan oleh istri Nabi ﷺ, Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Baca juga: Ringkasan Fiqh Haid: Urgensi, Batasan Waktu, dan Tanda Suci

Dalil tentang Tanda Suci dari Haid

Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan,

“Kaum wanita mengirimkan kain yang terdapat bekas darah haid kepada Aisyah, untuk menanyakan tentang shalat. Maka Aisyah berkata kepada mereka: ‘Janganlah kalian tergesa-gesa (menganggap sudah suci), sampai kalian melihat cairan putih (القصَّة البيضاء / al-qashshah al-baydha’).’
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ no. 130, dinilai shahih).

Hadits ini menjadi dasar penting bahwa tanda suci dari haid adalah keluarnya cairan putih bening dari rahim setelah darah berhenti. Dengan begitu, seorang perempuan baru diwajibkan mandi besar (ghusl) dan dapat kembali menunaikan shalat, puasa, serta ibadah lainnya.

gambar pembalut wanita dengan bercak merah di atasnya menggambarkan haid
Ilustrasi haid (foto: freepik)

Pentingnya Memahami Siklus Haid

Mengetahui siklus ini sangat penting agar seorang perempuan tidak terburu-buru dalam memutuskan suci. Jika belum terlihat tanda tersebut, ibadah seperti shalat atau puasa belum sah dilakukan. Sebaliknya, jika sudah jelas tanda sucinya, maka tidak boleh menunda mandi wajib dan mengerjakan ibadah.

Selain itu, para ulama juga menyebutkan bahwa sebagian perempuan tidak mengalami cairan putih, melainkan cukup dengan berhentinya darah secara total. Hal ini juga dianggap tanda suci yang sah menurut banyak pendapat.

Para ulama juga menjelaskan bahwa menjelang suci, terkadang perempuan masih melihat bercak-bercak dengan warna yang berbeda dari darah haid. Dalam hal ini, Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

“Kami tidak menganggap bercak kekuningan dan keruh (كُدْرَةً وَصُفْرَةً) setelah suci sebagai sesuatu (yakni bukan darah haid).”
(HR. Abu Dawud no. 307, dinilai shahih oleh Al-Albani).

Artinya, apabila seorang perempuan sudah berhenti dari darah merah atau hitam, lalu muncul bercak kekuningan atau keruh menjelang suci, maka itu tidak lagi dianggap sebagai haid. Dengan demikian, dia sudah dihukumi suci dan boleh melaksanakan ibadah setelah mandi wajib.

Pemahaman tentang ini membantu kaum muslimah agar lebih yakin dalam beribadah dan tidak ragu-ragu. Dengan berpegang pada dalil shahih dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, perempuan bisa lebih mudah membedakan kapan masa haid benar-benar telah selesai. Semoga kita semua dimudahkan untuk senantiasa menjaga ibadah dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Batasan Ibadah Ketika Haid: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh?

Batasan Ibadah Ketika Haid: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh?

Al-Muanawiyah – Haid adalah kondisi alami yang pasti dialami setiap perempuan. Namun, sering muncul pertanyaan: bagaimana dengan ibadah ketika haid? Apa saja yang boleh dilakukan, dan mana yang sebaiknya ditinggalkan? Islam telah memberikan tuntunan jelas agar muslimah tetap bisa mendekatkan diri kepada Allah meski dalam keadaan ini.

Baca juga: Perbedaan Haid dan Istihadzah: Durasi dan Kewajiban Ibadah

Ibadah yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Haid

  1. Shalat dan Puasa
    Perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan shalat dan puasa. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
    “Kami dahulu mengalami haid pada zaman Nabi ﷺ, lalu kami suci. Beliau memerintahkan kami untuk mengqadha puasa, tetapi tidak memerintahkan mengqadha shalat.” (HR. Muslim, no. 335).

  2. Membaca dan Menyentuh Mushaf Al-Qur’an
    Allah berfirman: “Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur’an) kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai larangan menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats besar, termasuk haid.

  3. Masuk Masjid
    Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid untuk orang haid dan orang junub.” (HR. Abu Daud, no. 232; dinilai hasan oleh Al-Albani).

  4. Thawaf di Ka’bah
    Saat haji, Nabi ﷺ bersabda kepada Aisyah yang sedang haid: “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali jangan thawaf di Ka’bah sampai engkau suci.” (HR. Bukhari, no. 305; Muslim, no. 1211).

gambar wanita berhijab sedang memegang tasbih ilustrasi Batasan Ibadah Ketika Haid Apa yang Boleh dan Tidak Boleh
Ilustrasi batasan ibadah wanita ketika haid (foto: freepik)

 

Ibadah yang Tetap Boleh Saat Haid

Meski ada beberapa larangan, bukan berarti perempuan kehilangan kesempatan beribadah. Beberapa amalan berikut tetap bisa dilakukan:

  1. Dzikir dan Doa
    Nabi ﷺ bersabda: “Orang-orang yang banyak berdzikir telah mendahului (mendapatkan pahala besar).” (HR. Muslim, no. 2676). Dzikir dan doa bisa dilakukan kapan saja, tanpa terikat syarat suci.

  2. Sedekah dan Amal Sosial
    Allah berfirman: “Apa saja kebaikan yang kalian kerjakan untuk diri kalian, niscaya kalian mendapat balasannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110). Artinya, peluang sedekah, membantu sesama, atau berbuat baik tetap terbuka lebar.

  3. Mendengarkan dan Mempelajari Al-Qur’an
    Meski tidak boleh menyentuh mushaf, muslimah tetap bisa mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mengkaji tafsir, atau mengikuti kajian ilmu agama.

Haid bukanlah penghalang bagi seorang muslimah untuk tetap dekat dengan Allah. Meski ada batasan tertentu dalam ibadah ketika haid, banyak amalan lain yang tetap bisa dikerjakan. Dengan memahami aturan ini, seorang perempuan bisa tetap menjaga semangat ibadahnya tanpa rasa waswas, serta menata hati untuk selalu dalam keadaan taat kepada Allah.

Tasmi’ Bil Ghoib 30 Juz Road to Wisuda Tahfidz II Al Muanawiyah

Tasmi’ Bil Ghoib 30 Juz Road to Wisuda Tahfidz II Al Muanawiyah

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang kembali menggelar kegiatan tasmi’ bil ghoib 30 juz pada 7–8 September 2025. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Wisuda Tahfidz II yang akan berlangsung pada 14 September 2025 mendatang.

Kegiatan ini diikuti oleh empat wisudawan bil ghoib, yaitu Qurrota A’yun (Madura), Irma Nurlailatul Mafaza (Gresik), Nasywa Mitsfalah (Gresik), dan Qori Qonitatuz Zahra (Jombang). Mereka menjadi teladan dalam menjaga kemurnian hafalan Al-Qur’an, khususnya melalui tantangan membaca 30 juz tanpa melihat mushaf.

Gambar santri putri sedang tilawah Al-Qur'an tasmi' bil ghoib 30 juz sekali duduk
Potret santri dalam kegiatan tasmi’ bil ghoib 30 juz PPTQ Al Muanawiyah

Kegiatan dimulai serentak ba’da Subuh pada 7 September 2025, dibuka dengan tawashul yang dipimpin oleh Uma Ita Harits. Dalam kesempatan itu, para santri yang hendak tasmi’ juga menuliskan nama orang yang akan mereka kirimkan doa serta daftar mimpi-mimpi mereka. Harapannya, dengan wasilah Al-Qur’an, cita-cita tersebut dimudahkan oleh Allah ﷻ.

Proses tasmi’ berlangsung dengan para wisudawan membaca Al-Qur’an 30 juz tanpa berhenti, disimak oleh 20 santri lain yang bergantian. Ada yang berhasil menyelesaikan sebelum pukul 22.00 WIB, sementara yang lain melanjutkan hingga pagi keesokan harinya.

Baca juga: Ujian Tertutup MHQ 30 Juz Road to Wisuda II Al Muanawiyah

Pengasuh PPTQ Al Muanawiyah, Ayah A. Muammar Shalahuddin, menjelaskan bahwa tasmi’ ini diadakan sebagai wujud dari prioritas program pesantren, yaitu mutqin atau kokoh dalam hafalan. “Harapannya, tasmi’ bil ghoib 30 juz dalam sekali duduk ini menjadi momen untuk meningkatkan kelancaran hafalan Al-Qur’an wisudawan bil ghoib Al Muanawiyah,” tutur beliau.

Tasmi’ Bil Ghoib 30 Juz sebagai Momen Memutqinkan Hafalan

Uma Ita Harits menekankan bahwa tasmi’ bukanlah ajang untuk menunjukkan siapa yang paling cepat, melainkan perlombaan dengan diri sendiri. “Tidak perlu terburu-buru harus selesai cepat, yang penting dinikmati hingga selesai,” ungkapnya.

Dalam penutupan acara, Ayah A. Muammar Shalahuddin memberikan pesan mendalam kepada seluruh santri. Beliau menekankan pentingnya menginstal karakter pejuang yang tangguh, sebagaimana Rasulullah ﷺ yang meskipun hidup sebagai yatim piatu, sering dihina, dan dikucilkan, tetap teguh dalam perjuangannya. “Begitu juga dengan para penghafal Al-Qur’an, jangan pantang menyerah sampai mutqin 30 juz. Tasmi’ ini adalah bentuk perjuangan untuk menjaga hafalan agar tetap mutqin,” tegas beliau.

Kegiatan tasmi’ bil ghoib 30 juz ini tidak hanya menjadi syarat wisuda, tetapi juga momentum spiritual yang mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an. Semangat para santri Al Muanawiyah menunjukkan bahwa menjaga hafalan bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan menuju keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

Ikuti terus rangkaian kegiatan Wisuda Tahfidz II Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah di youtube Al-Muanawiyah

dan kanal Instagram Al-Muanawiyah

Abdullah bin Ummi Maktum, Teladan Semangat dan Ketaatan

Abdullah bin Ummi Maktum, Teladan Semangat dan Ketaatan

Al-Muanawiyah – Nama Abdullah bin Ummi Maktum tercatat indah dalam sejarah Islam. Ia adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang buta sejak lahir, namun semangatnya dalam menuntut ilmu dan menjaga shalat berjamaah tetap bersinar. Bahkan, kisah perjumpaannya dengan Nabi ﷺ diabadikan dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat ‘Abasa.

Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan

Abdullah bin Ummi Maktum dikenal sebagai pribadi yang haus akan ilmu. Ia sering mendatangi Rasulullah ﷺ untuk mendengarkan wahyu dan mempelajari ajaran Islam. Suatu ketika, ia datang saat Rasulullah ﷺ sedang berdakwah kepada para pemuka Quraisy. Nabi sempat bermuka masam, namun Allah ﷻ menegur beliau dengan turunnya surat ‘Abasa. Hal ini menjadi bukti betapa mulianya kedudukannya di sisi Allah.

Baca juga: Tanda Ilmu yang Bermanfaat Bagi Kehidupan Sehari-Hari

Menjaga Shalat Berjamaah

Kisah lain yang tak kalah menginspirasi adalah tentang shalat berjamaah. Abdullah pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah ia boleh shalat di rumah karena buta dan sulit berjalan ke masjid. Namun, Nabi bertanya, “Apakah engkau mendengar adzan?” Abdullah menjawab, “Ya.” Rasulullah ﷺ pun bersabda:

“Penuhilah panggilan itu (untuk shalat berjamaah).”
(HR. Muslim)

Sejak itu, beliau tetap berusaha datang ke masjid meskipun dengan keterbatasan. Semangatnya memberi teladan bahwa shalat berjamaah adalah kewajiban yang sebaiknya tidak ditinggalkan, khususnya bagi kaum laki-laki.

Muadzin Rasulullah ﷺ

Selain dikenal sebagai penuntut ilmu, beliau juga dipercaya Rasulullah ﷺ sebagai muadzin, bergantian dengan Bilal bin Rabah. Kehadiran beliau sebagai pengumandang adzan menandakan keistimewaannya dalam masyarakat Muslim awal, meski fisiknya terbatas. Suara adzannya mengajak kaum Muslimin untuk datang menegakkan shalat bersama.

abdullah bin ummi maktum yang menjadi asbabun nuzul surat Abasa, hadits tentang keutamaan shalat berjamaah
Ilustrasi muadzin Abdullah bin Ummi Maktum. Bukan gambaran aslinya (foto: dakwah.id)

 

Penjaga Madinah Saat Perang

Beliau juga mendapat amanah besar ketika Rasulullah ﷺ keluar untuk berperang. Beliau beberapa kali ditunjuk sebagai pemimpin sementara di Madinah, memimpin kaum Muslimin dalam urusan ibadah. Ini membuktikan kepercayaan yang tinggi dari Rasulullah ﷺ kepada dirinya.

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum adalah cermin kesungguhan seorang Muslim sejati. Meski memiliki keterbatasan fisik, beliau tidak pernah menyerah untuk belajar, berdakwah, dan menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Semangat beliau mengajarkan kepada kita bahwa kekurangan bukan alasan untuk lalai, justru menjadi jalan untuk meraih kedudukan mulia di sisi Allah ﷻ.