Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Latar Belakang dan Pendidikan Awal KH Hasyim Asy’ari

Sejarah KH Hasyim Asy’ari dimulai pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang “Kota Santri”. Beliau lahir dari keluarga ulama, KH Asy’ari dan Nyai Halimah, yang sudah terbiasa dengan tradisi pesantren. Sejak kecil, beliau belajar di berbagai pesantren di Jawa Timur, termasuk Pesantren Wonokoyo, Pesantren Langitan, dan Pesantren Siwalan Panji.

Pada usia muda, KH Hasyim Asy’ari berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Selama tujuh tahun di tanah suci, beliau berguru kepada ulama terkemuka, salah satunya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari pengalaman itu, beliau memiliki dasar keilmuan yang kuat dalam bidang fikih, hadits, tafsir, dan tasawuf.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng. Pesantren ini kemudian berkembang pesat, menjadi pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa Timur. Selain mempelajari kitab kuning, para santri juga dilatih kemandirian, disiplin, dan kepedulian sosial.

Melalui Pesantren Tebuireng, jaringan dakwah Islam di Jawa Timur semakin luas. Banyak alumni yang kemudian mendirikan pesantren baru di daerahnya masing-masing. Dengan demikian, peran KH Hasyim Asy’ari tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga membangun jaringan pendidikan yang berpengaruh hingga ke seluruh Nusantara.

Foto sejarah KH Hasyim Asy'ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, tokoh perjuangan Islam dan kemerdekaan Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari, sosok pendiri Nahdlatul Ulama dan Pondok Tebuireng Jombang

Perjuangan Organisasi dan Kemerdekaan

Pada 1926, KH Hasyim Asy’ari memimpin berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini berfungsi sebagai wadah perjuangan ulama pesantren untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merespons perubahan zaman.

Dalam bidang keilmuan, beliau menekankan pentingnya keteladanan. Salah satu nasihatnya yang tercantum dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim adalah:

“Hendaknya seorang penuntut ilmu mensucikan hatinya dari akhlak tercela agar ia layak menerima ilmu.”

Tidak hanya di bidang pendidikan, pahlawan santri pendiri salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini juga ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan. Pada Oktober 1945, beliau mengeluarkan fatwa jihad yang melahirkan Resolusi Jihad. Fatwa ini mendorong kaum santri untuk ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang kemudian berpengaruh pada pertempuran 10 November di Surabaya.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Karya-Karya Penting KH Hasyim Asy’ari

Selain melalui pesantren dan organisasi, beliau juga meninggalkan karya tulis yang hingga kini masih dipelajari di pesantren. Beberapa di antaranya adalah:

  • Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim (etika guru dan murid dalam mencari ilmu).

  • Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (prinsip akidah Ahlussunnah).

  • Mukaddimah al-Qanun al-Asasi (prinsip dasar organisasi NU).

  • al-Tanbihat al-Wajibat (nasihat kewajiban seorang muslim).

  • al-Dzakhirah al-Mursalah (tentang tauhid dan akidah Islam).

Karya-karya ini menunjukkan bahwa pemikiran beliau bukan hanya untuk zamannya, melainkan juga relevan bagi generasi setelahnya.

Warisan yang Tetap Hidup

KH Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 di Jombang dan dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Hingga kini, warisan beliau tetap hidup melalui pesantren, organisasi NU, karya tulis, serta jaringan ulama dan santri yang terus melanjutkan perjuangan beliau.

Sejarah KH Hasyim Asy’ari memperlihatkan bahwa peran seorang ulama tidak hanya terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga meliputi dakwah, perjuangan politik, dan pembangunan masyarakat. Beliau menjadi teladan bagaimana ilmu, amal, dan perjuangan bisa menyatu demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Manfaat Tasmi’ Hafalan Bersama Teman Sebaya

Manfaat Tasmi’ Hafalan Bersama Teman Sebaya

Dalam kegiatan tahfidz Al-Qur’an, proses mengulang bacaan atau murojaah menjadi kunci penting dalam menjaga hafalan agar tetap kuat. Salah satu metode yang sangat efektif adalah tasmi’ hafalan, yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain. Kegiatan ini jauh lebih menantang dibanding murojaah sendiri, karena ketika sendirian santri bisa saja membuka mushaf ketika lupa. Namun saat tasmi’, ia harus benar-benar mengandalkan hafalan yang tersimpan dalam ingatan. Berikut adalah beberapa manfaat tasmi’ hafalan ketika disimak oleh teman sebaya:

  1. Menumbuhkan rasa tanggung jawab
    Santri akan lebih serius menjaga hafalan karena harus memperdengarkannya dengan baik di depan orang lain.

  2. Melatih ketelitian dan fokus
    Pendengar dituntut memperhatikan bacaan temannya agar bisa mengoreksi jika terjadi kesalahan.

  3. Memperkuat ukhuwah islamiyah
    Kegiatan tasmi’ menciptakan kebersamaan, saling mendukung, dan memotivasi antar santri.

  4. Melatih kepercayaan diri
    Membaca hafalan di depan teman membuat santri terbiasa tampil, sehingga percaya diri mereka meningkat.

  5. Menguatkan hafalan
    Tantangan memperdengarkan hafalan tanpa membuka mushaf menjadikan hafalan lebih kokoh dan teruji.

  6. Mendapat keberkahan ibadah
    Saling menyimak hafalan juga termasuk bagian dari mengajarkan Al-Qur’an, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Manfaat tasmi' hafalan. kegiatan tahfidz Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al Muanawiyah Jombang, tasmi' bil ghoib 30 juz menjelang wisuda tahfidz
Salah satu kegiatan di PPTQ Al Muanawiyah Jombang, tasmi’ hafalan

Penelitian Manfaat Tasmi’ Hafalan

Manfaat tasmi’ hafalan tidak hanya terasa dalam peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an, tetapi juga mendukung tumbuhnya keterampilan belajar bersama. Hal ini sejalan dengan penelitian Ndoye (2017) yang menunjukkan bahwa peer learning melalui mekanisme peer assessment mampu memberikan umpan balik efektif, menciptakan lingkungan belajar yang suportif, serta meningkatkan kolaborasi antarsiswa.

Baca juga: Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Dalam konteks tasmi’, ketika santri saling menyimak hafalan temannya, mereka bukan hanya memperbaiki kesalahan bacaan tetapi juga belajar bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri, menguatkan hafalan tanpa bergantung pada mushaf, serta membangun kepercayaan diri untuk tampil di depan orang lain. Dengan demikian, praktik tasmi’ hafalan menjadi metode yang selaras dengan konsep pembelajaran modern, karena mendorong keterlibatan aktif, rasa tanggung jawab, dan semangat kebersamaan dalam mencapai tujuan belajar.

Di PPTQ Al Muanawiyah Jombang, program tasmi’ hafalan menjadi salah satu tips murojaah hafalan untuk menjaga kualitas hafalan santri. Melalui metode ini, para santri tidak hanya menambah kedekatan dengan Al-Qur’an, tetapi juga melatih mental, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan. Untuk mengetahui lebih banyak tentang program pendidikan kami, silakan kunjungi website resmi PPTQ Al Muanawiyah.

Referensi:

Ndoye, Abdou. (2017). Peer/ self-assessment and student learning. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education 29(2): 255-269 

Cerita Inspirasi Shalat dari Ali bin Abi Thalib

Cerita Inspirasi Shalat dari Ali bin Abi Thalib

Al MuanawiyahSetiap muslim tentu mendambakan shalat yang khusyuk. Melalui cerita inspirasi shalat dari para sahabat Nabi, kita bisa belajar bagaimana menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah. Salah satu kisah yang masyhur datang dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, menantu Rasulullah sekaligus khalifah keempat dalam sejarah Islam.

Kisah Panah yang Dicabut Saat Shalat

Diriwayatkan dalam banyak kitab tarikh (sejarah), termasuk oleh Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, bahwa suatu ketika Ali terkena panah dalam peperangan. Panah itu tertancap di pahanya hingga sulit untuk dicabut, karena setiap upaya menimbulkan rasa sakit yang hebat. Para sahabat bingung, bagaimana cara mengeluarkannya tanpa membuat Ali kesakitan.

Ali lalu berkata dengan tenang: “Tunggulah sampai aku berdiri dalam shalat.”
Ketika ia mulai mengerjakan shalat, para sahabat melihat wajahnya dipenuhi ketenangan. Saat itu mereka mencabut panah dari tubuhnya, dan ajaibnya Ali tidak bergeming sedikit pun. Setelah selesai shalat, barulah ia sadar bahwa panah telah berhasil dikeluarkan.

foto seorang pria sedang shalat dan tertusuk panah di kakinya ilustrasi Ali bin Abi Thalib
Ilustrasi sayyidina Ali bin Abi Thalib tertusuk panah saat shalat (foto: ChatGPT, tidak menggambarkan kondisi nyata)

Makna dari Kisah Ali bin Abi Thalib

Kisah ini menggambarkan betapa dalamnya kekhusyukan Ali. Shalat membuatnya tenggelam sepenuhnya dalam kehadiran Allah, sehingga rasa sakit fisik seolah lenyap. Para ulama kemudian menjadikan kisah ini sebagai teladan bahwa shalat yang khusyuk bisa membuat hati terlepas dari segala urusan dunia.

Dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun: 1–2), dijelaskan bahwa khusyuk berarti menghadirkan hati, merendahkan diri, dan memutus pikiran dari kesibukan dunia. Ali telah mencontohkan makna ini dengan sempurna.

Baca juga: Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

Inspirasi untuk Kita Semua

Kisah ini memberi pesan kuat bagi umat Islam. Jika Ali bisa melupakan rasa sakit yang luar biasa karena tenggelam dalam shalat, maka kita pun bisa berlatih melupakan gangguan kecil seperti suara bising, notifikasi ponsel, atau pikiran yang melayang.

Shalat khusyuk bukan hanya kewajiban, tetapi juga terapi hati yang mampu menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Melalui cerita inspirasi shalat ini, kita diajak untuk menjadikan shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan dialog spiritual yang menguatkan iman dan menghadirkan kedamaian sejati.

5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

Cara shalat khusyuk merupakan dambaan setiap muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketenangan hati. Apalagi shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam Islam. Ia adalah tiang agama, penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Namun, seringkali kita merasa pikiran melayang saat melaksanakan shalat, sehingga sulit meraih kekhusyukan. Padahal, Allah memuji orang-orang yang shalat khusyuk dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–2).

Lalu, bagaimana cara shalat khusyuk agar ibadah ini benar-benar menghadirkan ketenangan jiwa?

cara shalat khusyuk dan hati tenang. pria sedang sujud shalat di masjid, moslem pray in mosque
Cara shalat khusyuk dan hati tenang

1. Membersihkan Hati dan Niat yang Tulus

Khusyuk dimulai dari hati. Seorang muslim harus menata niat, bahwa shalat dilakukan hanya untuk Allah, bukan karena rutinitas semata. Dengan niat yang tulus, hati akan lebih mudah merasakan kedekatan kepada Allah.

2. Memahami Bacaan Shalat

Salah satu penyebab sulitnya khusyuk adalah karena tidak memahami makna bacaan shalat. Jika kita tahu arti takbir, doa iftitah, dan ayat Al-Qur’an yang dibaca, maka hati akan lebih terikat dengan setiap gerakan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa memahami bacaan adalah kunci utama kekhusyukan.

Baca juga: Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat dan Hikmahnya

3. Menjaga Wudhu dengan Sempurna

Wudhu yang dilakukan dengan khusyuk akan mengantar pada shalat yang khusyuk. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya, maka dosa-dosanya keluar dari tubuhnya…” (HR. Muslim). Bersih lahir dan batin akan menenangkan hati dalam ibadah.

4. Shalat di Tempat yang Tenang

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kekhusyukan. Shalat di tempat yang tenang, jauh dari keramaian, akan memudahkan kita untuk fokus. Pahlawan santri dan ulama terdahulu sering mencari masjid yang hening atau ruang khusus agar hatinya tidak terganggu.

5. Mengingat Kematian dan Kehadiran Allah

Khusyuk hadir ketika kita merasa seakan-akan sedang melihat Allah, atau minimal menyadari bahwa Allah melihat kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Dengan kesadaran ini, hati akan tunduk dan penuh rasa takut kepada-Nya.

Cara shalat khusyuk memang tidak mudah, namun bisa dilatih dengan menjaga niat, memahami bacaan, menyempurnakan wudhu, memilih tempat yang tenang, serta menghadirkan rasa muraqabah kepada Allah. Dengan menerapkan cara shalat khusyuk, ibadah tersebut bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga sumber ketenangan dan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Refleksi Doa untuk Keamanan Negara Perayaan HUT RI ke-80

Refleksi Doa untuk Keamanan Negara Perayaan HUT RI ke-80

Setiap bangsa tentu mendambakan kedamaian dan keamanan. Tanpa rasa aman, pembangunan tidak dapat berjalan dan masyarakat sulit hidup tenteram. Dalam Islam, doa memiliki kedudukan penting sebagai ikhtiar spiritual. Salah satu doa yang sangat relevan dengan doa untuk keamanan negara adalah doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 35:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.’”

doa nabi ibrahim doa untuk kemanan negara hut ri ke-80
Doa Nabi Ibrahim, doa untuk kemanan negara

Baca juga: Huru Hara Politik Indonesia: Siapa yang Sebenarnya Bersalah?

Makna Doa untuk Kemanan Negara dalam HUT RI ke-80

Doa Nabi Ibrahim ini mengandung pesan mendalam. Pertama, keamanan sebuah negeri adalah nikmat terbesar yang harus dijaga. Dengan kondisi aman, masyarakat dapat beribadah, menuntut ilmu, serta bekerja tanpa rasa takut. Kedua, doa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi bangsa bukan hanya konflik fisik, tetapi juga penyimpangan akidah dan moral. Oleh sebab itu, Nabi Ibrahim memohon agar keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala, yang dalam konteks modern dapat dimaknai sebagai segala bentuk penyimpangan nilai.

Momentum HUT RI ke-80 menjadi saat yang tepat untuk merenungkan makna doa ini. Indonesia yang kita cintai tidak hadir begitu saja, melainkan melalui perjuangan panjang para pahlawan. Keamanan dan kemerdekaan yang kita rasakan hari ini merupakan jawaban dari doa-doa dan pengorbanan generasi terdahulu. Namun, tantangan bangsa saat ini tidak kalah berat. Konflik sosial muncul akibat perbedaan pandangan politik yang sering menimbulkan perpecahan. Ada pula gesekan antar kelompok karena isu SARA, serta ancaman hoaks dan ujaran kebencian yang memperkeruh persaudaraan. Bahkan, korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan juga dapat dianggap sebagai bentuk “berhala modern” yang merusak tatanan bangsa.

Dalam konteks ini, doa Nabi Ibrahim menjadi teladan agar masyarakat tidak hanya memohon keamanan secara fisik, tetapi juga menjaga keutuhan moral dan spiritual bangsa. Merayakan HUT RI ke-80 hendaknya bukan sekadar pesta, melainkan ajakan untuk memperkuat persatuan dan menghindari segala bentuk perpecahan. Negara yang aman tidak hanya berarti bebas dari perang, melainkan juga bebas dari fitnah, ketidakadilan, dan penyimpangan yang melemahkan persaudaraan.

Maka, doa untuk keamanan negara harus terus dipanjatkan oleh setiap warga. Semoga dengan semangat HUT RI ke-80, bangsa ini diberi keamanan, dijauhkan dari konflik, dan diberkahi dengan generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta siap membangun Indonesia yang maju dan bermartabat.

Semarak HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah Jombang

Semarak HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah Jombang

Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi momen penuh makna bagi seluruh rakyat. Hal ini juga terasa di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah Jombang. Tahun 2025 ini, pesantren ikut merayakan HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah dengan semangat kebersamaan yang luar biasa. Bagi para santri, momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan cara untuk mengenang jasa para pahlawan. Lebih dari itu, santri juga belajar menghayati arti kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan di pesantren berlangsung meriah sekaligus mendidik. Para santri mengikuti berbagai acara dengan penuh antusias. Ada malam kebersamaan dengan bakar-bakar, upacara bendera, hingga lomba-lomba kreatif yang mengasah kerja sama. Selain itu, kegiatan seperti lomba tongkat sahabat, tebak surat, puzzle ayat, balap sarung, dan sendok kelereng membuat suasana semakin hangat.

Tidak berhenti di situ, santri juga diajak memperkuat nilai religius melalui doa dan tahlil bersama. Kemudian, ada pula nonton bareng film bertema nasionalisme yang memberikan pelajaran berharga. Dengan demikian, seluruh kegiatan menghadirkan suasana menyenangkan, penuh tawa, sekaligus mengandung nilai pendidikan.

Peringatan HUT RI Ke-80 pondok pesantren tahfidz putri JOmbang Al Muanawiyah
Semarak peringatan HUT RI ke-80 PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Pesan Pengasuh dalam HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah

Dalam momen HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah, Pengasuh pesantren menyampaikan pesan inspiratif. Pertama, beliau menekankan pentingnya bersatu sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 103:

“وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا”

yang artinya “Berpeganglah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”

Selain itu, santri juga diajak untuk memahami arti berdaulat. Menurut beliau, rakyat harus berani menegakkan kebenaran serta menolak kebatilan, bahkan saat pemimpin tidak bersikap adil. Kemudian, beliau menekankan peran santri dalam menjadi bagian dari Indonesia maju. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara terbaik sesuai peran masing-masing. Seorang guru mendidik dengan penuh dedikasi. Seorang pemimpin membawa keadilan. Sementara seorang murid berusaha menjadi insan luar biasa yang kelak berkontribusi bagi bangsa.

Selanjutnya, beliau menegaskan bahwa kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Beliau mengutip sebuah pesan: “When one generation tolerates one sin, the next generation celebrates the sin, then the generation after did not know that it’s sin.” Oleh karena itu, santri diingatkan untuk tidak menormalisasi kesalahan. Sebab, jika hal itu dibiarkan, akan menimbulkan bahaya besar di masa depan.

Peringatan HUT RI Ke-80 Al Muanawiyah menjadi momen penuh hikmah. Di satu sisi, kegiatan menghadirkan keceriaan. Namun di sisi lain, ia juga menanamkan rasa syukur dan tanggung jawab. Harapannya, para santri tidak hanya mampu menjaga nilai kemerdekaan, tetapi juga merawatnya dengan ilmu dan akhlak mulia. Dengan semangat belajar serta tekad kuat, santri Al Muanawiyah siap menjadi generasi penerus bangsa. Mereka diharapkan tumbuh menjadi insan berilmu, berakhlak, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

5 Pahlawan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

5 Pahlawan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Santri sejak dahulu memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Mereka tidak hanya dikenal sebagai penuntut ilmu agama di pesantren, tetapi juga pejuang yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Banyak pahlawan santri yang tercatat dalam sejarah sebagai tokoh sentral perjuangan, baik melalui medan perang maupun jalur diplomasi.

Baca juga: Doa untuk Guru Agar Ilmu Menjadi Berkah

Tokoh Pahlawan Santri yang Berpengaruh

Berikut beberapa tokoh santri yang berjasa besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia:

  1. KH. Hasyim Asy’ari
    Pendiri Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai penggagas Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Resolusi ini memicu semangat rakyat, khususnya para santri, dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Beliau termasuk dalam tokoh yang dkabadikan dalam sejarah Jombang “Kota Santri”.

  2. KH. Wahid Hasyim
    Putra KH. Hasyim Asy’ari yang juga Menteri Agama pertama RI. Beliau berperan dalam perumusan dasar negara serta memperjuangkan agar nilai-nilai Islam berjalan beriringan dengan semangat kebangsaan.

  3. KH. Zainul Arifin
    Pemimpin Laskar Hizbullah yang anggotanya mayoritas santri. Pasukan ini menjadi bagian penting dalam mendukung TNI melawan Belanda. Peran santri dalam Hizbullah menegaskan bahwa pesantren ikut aktif di garis depan perjuangan fisik.

  4. KH. Noer Alie
    Ulama pejuang dari Bekasi yang dijuluki “Singa Karawang-Bekasi.” Ia memimpin perlawanan rakyat melawan pasukan Belanda dengan keberanian luar biasa. KH. Noer Alie juga dikenal membina santri agar memiliki jiwa cinta tanah air.

  5. KH. Agus Salim
    Dijuluki “The Grand Old Man,” beliau aktif dalam diplomasi internasional. KH. Agus Salim memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di dunia, membuktikan bahwa seorang santri mampu berkiprah di kancah global.

Foto Haji Agus Salim, tokoh pergerakan nasional dan pahlawan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia
Haji Agus Salim yang termasuk dalam pahlawan santri pejuang kemerdekaan Indonesia (foto: news.indozone.id)

Spirit Pahlawan Santri untuk Generasi Sekarang

Semangat yang diwariskan para pahlawan santri menunjukkan bahwa santri bukan hanya berperan di bidang agama, tetapi juga pilar bangsa. Nilai keikhlasan, keberanian, dan cinta tanah air menjadi warisan yang harus dijaga. Generasi sekarang dapat meneladani mereka dengan cara berkontribusi sesuai zaman, baik melalui ilmu, pendidikan, maupun aksi sosial.

Dengan demikian, peran santri tetap relevan hingga hari ini: menjaga agama sekaligus menguatkan persatuan bangsa.

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, kemandirian, dan gotong royong. Bagi para santri pramuka, momen ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tidak hanya sebatas pada kegiatan baris-berbaris, tetapi juga berkaitan dengan membentuk akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Gerakan Pramuka mengajarkan disiplin, keberanian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kehidupan di pesantren yang membentuk santri agar siap menjadi pemimpin umat. Seorang santri tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keteguhan iman, kecerdasan berpikir, serta kepekaan sosial. Inilah yang menjadikan keikutsertaan santri dalam kegiatan Pramuka sebagai sarana pelatihan hidup bermasyarakat sejak dini.

santri pramuka Hari Pramuka. Santri tangguh, disiplin, berakhlak mulia. Murid SMP perempuan berpakaian pramuka
Potret santri pramuka tangguh dan berakhlak mulia SMP Qur’an Al Muanawiyah

Santri Pramuka: Perpaduan Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Kegiatan Pramuka di pesantren memberikan ruang kreatif bagi santri untuk mengasah keterampilan hidup (life skill). Mulai dari keterampilan pertolongan pertama, memasak bersama, hingga kerjasama tim dalam kegiatan perkemahan. Semua itu menumbuhkan jiwa kemandirian yang kelak sangat bermanfaat ketika santri terjun langsung di tengah masyarakat. Selaras dengan manfaat mondok, santri pramuka mampu menghadirkan kombinasi antara keilmuan agama dan keterampilan praktis yang seimbang.

Baca juga: Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Tidak kalah penting, nilai keislaman juga mewarnai kegiatan Pramuka di pesantren. Kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama, shalat berjamaah tetap ditegakkan, dan semangat ukhuwah Islamiyah menjadi pondasi dalam setiap aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa kepramukaan di kalangan santri bukanlah sekadar aktivitas duniawi, melainkan ibadah yang bernilai di hadapan Allah Ta’ala.

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah berpesan:

“Santri harus siap menjadi kader umat dan bangsa, memiliki jiwa yang merdeka, serta berpegang teguh pada agama dan cinta tanah air.”

Pesan ini sejalan dengan nilai kepramukaan yang mengajarkan santri untuk berdisiplin, tangguh, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bagi santri untuk semakin menguatkan tekad menebar manfaat. Sebagaimana semboyan “Satya Ku Kudarmakan, Darma Ku Kubaktikan”, santri diharapkan mampu mengamalkan ilmunya, menjaga keutuhan bangsa, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan umat. Dengan semangat praja muda karana, tercipta generasi muda yang berjiwa Qur’ani, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.

6 Syarat Sah Shalat yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

6 Syarat Sah Shalat yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Al – MuanawiyahShalat adalah kewajiban utama seorang muslim yang tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Namun, shalat baru dianggap sah jika memenuhi syarat-syarat tertentu. Memahami syarat sah shalat sangat penting agar ibadah yang dilakukan benar-benar diterima oleh Allah ﷻ dan tidak sia-sia. Berikut penjelasan detail mengenai syarat-syarat tersebut beserta dalilnya.

gambar pria Muslim sedang melakukan sujud shalat ilustrasi syarat sah shalat
Syarat sah shalat

 

1. Suci dari Hadas Besar dan Kecil

Seorang muslim wajib dalam keadaan suci sebelum shalat, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Suci dari hadas kecil dilakukan dengan wudhu, sementara dari hadas besar dengan mandi junub. Hadas besar di sini termasuk haid, istihadzoh, dan nifas. Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah ayat 6).

2. Suci dari Najis pada Badan, Pakaian, dan Tempat

Shalat tidak sah jika terdapat najis pada pakaian, tubuh, atau tempat shalat. Hal ini sesuai dengan firman Allah ﷻ:

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatsir: 4).

3. Menutup Aurat

Menutup aurat merupakan syarat utama shalat. Bagi laki-laki, auratnya adalah antara pusar hingga lutut. Sedangkan perempuan seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah tidak menerima shalat perempuan yang sudah haid (baligh) kecuali dengan memakai khimar (penutup aurat).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Baca juga: Surat Al Adiyat: Penjelasan, Asbabun Nuzul dan Tafsirnya

4. Masuk Waktu Shalat

Setiap shalat memiliki waktu tertentu, dan shalat tidak sah jika dilakukan sebelum waktunya. Dalilnya terdapat dalam firman Allah ﷻ:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).

5. Menghadap Kiblat

Menghadap kiblat, yaitu Ka’bah di Makkah, merupakan syarat sah yang tidak boleh ditinggalkan. Allah ﷻ berfirman:

“Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144).

6. Beragama Islam, Berakal, dan Baligh

Shalat hanya diwajibkan bagi muslim yang berakal sehat dan sudah baligh. Anak kecil diajarkan shalat sebagai pendidikan, namun kewajiban sebenarnya berlaku ketika sudah baligh. Nabi ﷺ bersabda:

“Pena (pencatat amal) diangkat dari tiga orang: dari anak kecil sampai ia baligh, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Mengetahui dan memenuhi syarat sah shalat adalah hal penting agar ibadah seorang muslim diterima. Mulai dari menjaga kesucian, menutup aurat, memastikan waktu shalat, hingga menghadap kiblat, semua itu menjadi pondasi sahnya shalat. Dengan memahami syarat-syarat ini, kita bisa melaksanakan shalat dengan benar sesuai tuntunan syariat.

Perbedaan Haid, Istihadzoh, dan Nifas dalam Islam

Perbedaan Haid, Istihadzoh, dan Nifas dalam Islam

Al-MuanawiyahPenting bagi muslimah untuk memahami perbedaan haid, istihadzoh, dan nifas. Ketiga kondisi ini sama-sama berkaitan dengan keluarnya darah dari rahim, tetapi memiliki hukum yang berbeda. Pengetahuan ini bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga syarat sahnya ibadah seperti shalat dan puasa. Karena itu, para ulama sejak dahulu telah menulis kitab khusus, salah satunya Risalatul Mahidh, untuk membimbing muslimah dalam memahami fiqh kewanitaan.

Perbedaan haid, istihadzah, istihadzoh, nifas. Fiqh darah wanita, risalatul mahidh
Perbedaan haid, istihadzoh, dan nifas

1. Haid

Haid adalah darah tabiat yang keluar dari rahim wanita pada waktu tertentu setiap bulan. Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukankah apabila wanita haid, ia tidak shalat dan tidak pula berpuasa?”
(HR. Bukhari Muslim).

Dalam Risalatul Mahidh dijelaskan:
“وَالْحَيْضُ دَمٌ يَخْرُجُ مِنْ رَحِمِ الْمَرْأَةِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَةٍ”
(Haid adalah darah yang keluar dari rahim wanita pada hari-hari tertentu).

Batas minimal haid sehari semalam, maksimal 15 hari. Selama haid, wanita tidak diwajibkan shalat dan puasa. Setelah suci, wajib mandi besar untuk kembali beribadah.

Baca juga: Tanda Suci dari Haid yang Benar agar Ibadah Tidak Keliru

2. Istihadzoh

Istihadzah adalah darah penyakit, bukan haid dan bukan nifas. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Fatimah binti Abi Hubaisy:

“Sesungguhnya itu hanyalah darah penyakit, bukan haid. Maka apabila datang haid, tinggalkanlah shalat, dan jika berhenti (darah haid), maka mandilah dan shalatlah.”
(HR. Bukhari Muslim).

Dalam Risalatul Mahidh disebutkan:
“وَالِاسْتِحَاضَةُ دَمٌ يَخْرُجُ فِي غَيْرِ أَوَانِ الْحَيْضِ وَلَا النِّفَاسِ”
(Istihadzah adalah darah yang keluar bukan pada waktu haid dan bukan nifas).

Wanita istihadzah tetap wajib shalat dan puasa, cukup menjaga wudhu di tiap waktu shalat.

3. Nifas

Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Dalam Risalatul Mahidh dijelaskan:
“وَالنِّفَاسُ دَمٌ يَخْرُجُ عَقِبَ وِلَادَةِ الْمَرْأَةِ”
(Nifas adalah darah yang keluar setelah wanita melahirkan).

Masa nifas maksimal 40 hari. Hukum nifas sama dengan haid: wanita tidak shalat, tidak puasa, dan tidak boleh berhubungan suami-istri hingga benar-benar suci.

Mempelajari fiqh darah wanita seperti haid, istihadzoh, dan nifas adalah kewajiban penting bagi setiap muslimah. Hal ini karena ketiga kondisi tersebut langsung berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah sehari-hari, seperti shalat, puasa, dan bahkan hubungan rumah tangga. Dengan memahami hukum-hukumnya melalui Al-Qur’an, hadits, serta penjelasan para ulama dalam kitab-kitab fiqh, seorang wanita akan lebih mantap dalam beribadah tanpa ragu atau waswas. Pengetahuan ini juga menjadi bentuk penjagaan diri agar ibadah diterima oleh Allah ﷻ sekaligus sebagai bekal mendidik generasi muslimah berikutnya.