Doa Sapu Jagat: Lafadz, Makna, dan Keutamaannya

Doa Sapu Jagat: Lafadz, Makna, dan Keutamaannya

Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam selalu dihadapkan dengan berbagai kebutuhan doa. Ada doa untuk keselamatan, doa untuk rezeki, doa untuk keberkahan, hingga doa memohon perlindungan dari musibah. Namun, ada satu doa yang disebut sangat lengkap karena mencakup semua permintaan utama seorang hamba kepada Allah. Doa itu dikenal dengan nama doa sapu jagat.

Istilah “sapu jagat” berasal dari masyarakat Indonesia yang menggambarkan doa singkat, padat, tetapi mengandung makna luas, seolah menyapu seluruh kebutuhan hidup. Sebutan umum lainnya untuk doa ini adalah doa untuk keselamatan dunia akhirat.

Baca juga: Asbabun Nuzul Surat Al-Insyirah: Saat Hidup Terasa Berat

Lafadz Doa Sapu Jagat

Doa sapu jagad diambil dari Al-Qur’an, tepatnya dalam Surat Al-Baqarah ayat 201:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-naar

Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

gambar berisi lafadz doa sapu jagat atau rabbana atina fiddunya hasanah, doa keselamatan dunia akhirat
Lafadz doa sapu jagat

 

Makna Doa Sapu Jagad

Doa sapu jagat begitu singkat, namun memiliki makna yang sangat luas:

  • Kebaikan di dunia mencakup kesehatan, harta, keluarga yang sakinah, dan kehidupan yang penuh keberkahan.

  • Kebaikan di akhirat adalah keselamatan dari azab kubur, kemudahan hisab, serta masuk surga Allah.

  • Terhindar dari siksa neraka menjadi doa puncak yang menunjukkan kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah.

Dengan membaca doa ini, seorang Muslim seolah tidak hanya fokus pada urusan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.

Keutamaan Membaca Doa Keselamatan Dunia Akhirat

Rasulullah ﷺ sendiri sering membaca doa sapu jagat, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Doa ini menunjukkan keseimbangan hidup seorang Muslim: tidak terjebak pada kenikmatan dunia semata, namun juga tidak melupakan akhirat.

Selain itu, doa ini juga dapat dijadikan amalan harian dalam berbagai kesempatan, seperti setelah shalat agar khusyuk, ketika berzikir, atau saat berdoa memohon pertolongan Allah. Dengan konsisten membacanya, hati menjadi lebih tenang karena kita selalu mengingat bahwa dunia hanyalah jalan menuju akhirat.

Doa sapu jagad adalah bukti betapa Islam memberikan tuntunan doa yang sederhana namun penuh makna. Hanya dengan satu doa, seorang Muslim sudah memohon tiga hal terpenting: kebaikan dunia, kebaikan akhirat, dan perlindungan dari neraka. Dengan mengamalkan doa ini setiap hari, semoga kita semua diberi kehidupan yang penuh berkah, keselamatan di dunia, dan kebahagiaan abadi di akhirat.

Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

Al MuanawiyahDi era digital yang serba cepat, kata-kata tidak lagi hanya terucap lewat lisan, melainkan juga lewat jari-jari di media sosial. Saat suasana bangsa memanas dengan demonstrasi menuntut revolusi pemerintahan, setiap kalimat yang disebarkan bisa memicu efek besar. Sering kali, bahaya banyak bicara tidak disadari, padahal perdebatan kecil atau komentar provokatif justru dapat memperkeruh keadaan. Fenomena ini serupa dengan hikmah Perang Uhud, ketika perbedaan pendapat di antara pasukan pemanah berakhir pada bencana besar bagi umat Islam.

 

Peristiwa Perang Uhud Berkaitan dengan Adab Bicara

Perang Uhud (3 H) kerap dikenang sebagai momen pahit yang mengajarkan kedisiplinan dan ketaatan. Di sana, kaum Muslimin yang sebelumnya merasakan euforia kemenangan di perang Badar, tiba-tiba harus menelan pelajaran mahal: menang tidak cukup dengan jumlah, strategi, atau semangat—melainkan dengan ketaatan teguh pada perintah Rasulullah ﷺ. Salah satu titik krusialnya berawal di bukit pemanah, ketika sebagian sahabat berdebat: tetap di pos sesuai instruksi, atau turun meraih ghanimah (rampasan) karena merasa pertempuran telah usai. Di sinilah kita melihat bahaya banyak bicara. Bukan karena bicara itu sendiri haram, melainkan ketika obrolan yang berlarut menggeser ketaatan menjadi keraguan, lalu berubah menjadi tindakan yang berakibat fatal.

Gambar gunung Uhud di Madinah Arab Saudi
Gunung Uhud di Madinah, tempat terjadinya Perang Uhud (foto: wikipedia)

Sejak awal, Rasulullah ﷺ menempatkan 50 pemanah di Jabal Rumāh (bukit pemanah) di bawah komando Abdullah bin Jubair r.a. Perintahnya jelas: jangan tinggalkan posisi apa pun yang terjadi; menang atau kalah. Ketika pasukan musyrik mulai buyar, sebagian pemanah melihat peluang ghanimah di medan. Percakapan pun muncul: “Bukankah perang telah selesai?” “Kita juga berhak atas rampasan.” Yang lain mengingatkan: “Rasul melarang kita turun.” Perdebatan itu memecah barisan—sebagian turun, sebagian tetap bertahan.

Pada level taktis, waktu adalah segalanya. Sebentar saja posisi kosong, pasukan berkuda Khalid bin al-Walid (saat itu masih di pihak Quraisy) memutar dari celah bukit dan menyerbu dari belakang. Kejutan itu mengubah situasi: kaum Muslimin kocar-kacir, banyak yang gugur, dan Rasulullah ﷺ sendiri terluka, dan Muslim mengalami kekalahan di Perang Uhud.

Ayat yang Turun Pasca Kekalahan di Perang Uhud

Al-Qur’an menyinggung peristiwa ini secara langsung. Allah berfirman:

“Sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai kamu lemah, berselisih dalam urusan (itu), dan mendurhakai perintah (Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu cintai (ghanimah).” (QS. Āli ‘Imrān 3:152)

Ayat ini menyebut tiga faktor berurutan: lemah – berselisih – mendurhakai perintah. Di tengahnya ada “berselisih”—indikasi bahwa perdebatan (yang salah tempat) menjadi jembatan dari semangat ke kerapuhan, dari kerapuhan ke ketidaktaatan.

Hikmah Kekalahan di Perang Uhud

Apa pelajarannya? Bicara—dalam arti berunding, mempertimbangkan, berdebat—adalah bagian dari hidup. Namun, pada momen yang menuntut ketaatan tanpa tunda, banyak bicara bisa melemahkan keputusan. Karena itulah, para ulama sirah sering menekankan: ada saatnya syūrā (musyawarah), ada saatnya thā‘ah (taat). Uhud mengajarkan garis batas itu dengan sangat jelas.

Hikmah dari kekalahan di Perang Uhud dan kondisi bangsa saat ini mengingatkan kita bahwa bahaya banyak bicara tidak bisa dianggap sepele. Baik di dunia nyata maupun media sosial, seorang Muslim wajib menjaga adab berbicara. Rasulullah ﷺ telah menekankan pentingnya ucapan yang benar atau memilih diam. Kondisi ini sangat relevan di masa kini, terutama ketika masyarakat tengah menyuarakan aspirasi lewat demonstrasi atau media sosial. Terlalu banyak bicara, menyebar postingan provokatif, atau berdebat tanpa kendali justru bisa melemahkan perjuangan bersama. Di era digital, menjaga ucapan—baik lisan maupun tulisan—adalah bagian dari amanah moral agar aspirasi tidak berubah menjadi keributan yang merugikan umat.

Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat dan Hikmahnya

Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat dan Hikmahnya

Al- Muanawiyah – Dalam sejarah Islam, banyak sahabat Nabi ﷺ yang menjadi teladan dalam ibadah dan ketakwaan. Salah satu di antaranya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau dikenal sebagai sahabat yang lembut hatinya dan sering tersentuh ketika membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak heran jika banyak riwayat menyebut Abu Bakar menangis saat shalat, bahkan ketika beliau diangkat menjadi imam.

Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat

Ketika Rasulullah ﷺ sakit menjelang wafat, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk maju menjadi imam shalat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sempat meminta agar ayahnya tidak ditunjuk, karena ia tahu Abu Bakar mudah sekali menangis saat membaca Al-Qur’an. Namun Rasulullah ﷺ tetap bersabda:

“Perintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Benar saja, ketika menjadi imam, Abu Bakar sering kali suaranya terputus-putus karena tangisannya. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti ketulusan hatinya ketika bermunajat kepada Allah.

gambar siluet seorang pria sedang terduduk sedih di sajadah masjid, menggambarkan kisah Abu Bakar menangis saat shalat
Ilustrasi kisah Abu Bakar yang menangis saat shalat (foto: ChatGPT)

Sikap Abu Bakar dalam Shalat Malam

Riwayat lain juga menyebutkan, Rasulullah ﷺ pernah menyinggung perbedaan shalat malam sahabat-sahabatnya. Abu Bakar dikenal membaca dengan suara lirih, berbeda dengan Umar bin Khattab yang membacanya dengan suara lantang. Ketika ditanya alasannya, Abu Bakar menjawab:

“Aku bermunajat kepada Rabb-ku, dan Dia sudah mendengar.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Jawaban ini menunjukkan kerendahan hati dan rasa kedekatannya dengan Allah, sehingga tangis dalam shalat menjadi sesuatu yang alami bagi beliau.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

Hikmah dari Kisah

Kisah ini menjadi cermin bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas gerakan, melainkan perjumpaan hati dengan Allah. Air mata beliau lahir dari rasa takut sekaligus cinta yang mendalam kepada Sang Pencipta. Menangis dalam ibadah adalah tanda kekhusyukan dan kelembutan hati. Al-Qur’an bahkan menyebutkan bahwa orang-orang beriman menangis ketika mendengar ayat Allah dibacakan (QS. Al-Isra: 109).

Dari sini kita diajak untuk merenung, sudahkah shalat kita menghadirkan kekhusyukan yang sama? Tidak harus selalu dengan tangisan, namun setiap shalat seharusnya membuat hati semakin lembut, jauh dari kesombongan, dan dekat dengan Allah. Mari jadikan shalat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana untuk memperbaiki diri dan menumbuhkan cinta yang tulus kepada-Nya.

Hikmah Perang Uhud dan Relevansinya Bagi Kehidupan Sekarang

Hikmah Perang Uhud dan Relevansinya Bagi Kehidupan Sekarang

bagi umat. Salah satunya adalah Perang Uhud, pertempuran yang terjadi pada tahun ketiga Hijriah antara kaum Muslimin Madinah melawan kaum Quraisy Makkah. Meskipun umat Islam sempat mengalami kekalahan, perang ini meninggalkan hikmah yang sangat berharga untuk generasi setelahnya.

Latar Belakang Perang Uhud

Perang Uhud terjadi setelah kemenangan besar kaum Muslimin dalam Perang Badar. Kemenangan tersebut membuat Quraisy merasa terhina dan ingin membalas dendam. Dengan pasukan yang lebih besar, mereka datang menyerang Madinah. Rasulullah ﷺ bersama sekitar 700 sahabat berusaha bertahan di kaki Gunung Uhud.

Namun, karena sebagian pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Rasulullah ﷺ untuk tetap di pos mereka, pasukan Quraisy berhasil melakukan serangan balik. Akibatnya, banyak sahabat gugur, bahkan Rasulullah ﷺ sendiri terluka.

gambar pasukan arab memegang panah di gurun pasir sebagai gambaran Perang Uhud
Ilustrasi pasukan pemanah Perang Uhud (foto: ChatGPT)

Baca juga: Sedekah Abu Bakar dan Umar di Perang Tabuk

Hikmah Perang Uhud

Dari kejadian ini, ada sejumlah hikmah penting yang bisa dipetik:

  1. Ketaatan adalah kunci kemenangan. Kekalahan di Uhud terjadi karena sebagian pasukan tergoda harta rampasan perang dan meninggalkan posnya. Ini menjadi pelajaran bahwa disiplin terhadap perintah pemimpin sangat penting.
  2. Ujian adalah bagian dari tarbiyah Allah. Kekalahan Uhud bukan tanda kelemahan Islam, melainkan cara Allah mendidik kaum Muslimin agar lebih sabar, kuat, dan tidak lengah setelah kemenangan.
  3. Kekalahan bukan akhir segalanya. Meskipun secara militer kaum Muslimin kalah, semangat iman mereka justru semakin kuat. Mereka belajar bahwa kemenangan sejati ada pada keteguhan hati, bukan hanya pada strategi dan jumlah pasukan.
  4. Musibah menjadi pengingat. Perang Uhud menegaskan bahwa dunia tidak boleh membuat manusia lalai. Kekalahan itu menjadi titik muhasabah bagi sahabat yang sebelumnya terlena oleh semangat mengejar harta rampasan.

Baca juga: Ikhlas vs Pasrah: Polemik Kesejahteraan Guru di Indonesia

Relevansi untuk Kehidupan Sekarang

Hikmah Perang Uhud tetap relevan hingga kini. Dalam kehidupan modern, kita pun sering menghadapi “pertempuran” berupa krisis ekonomi, persaingan karier, atau ujian sosial. Dari Uhud, kita belajar bahwa kesuksesan hanya datang dengan disiplin, kesabaran, dan keteguhan iman. Bahkan jika mengalami kegagalan, itu bisa menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan meraih kemenangan yang lebih besar di masa depan.

Perbedaan Haid dan Istihadzah: Durasi dan Kewajiban Ibadah

Perbedaan Haid dan Istihadzah: Durasi dan Kewajiban Ibadah

Bulan demi bulan, kaum muslimah mengalami kondisi khusus yang berkaitan dengan darah kewanitaan. Islam sebagai agama sempurna memberikan panduan jelas agar ibadah tidak salah dilakukan. Salah satu rujukan penting dalam memahami masalah fiqh haid adalah Risalatul Mahidh, sebuah kitab kuning yang dipelajari di banyak pesantren, termasuk PPTQ Al Muanawiyah Jombang. Kitab tersebut menjelaskan dengan rinci perbedaan haid dan istihadzah. Artikel ini akan membahas poin perhitungan waktu dan hukum kewajiban ibadah  dalam kondisi haid dan istihadzah. Pemahaman ini sangat penting, agar seorang muslimah dapat menunaikan kewajiban sehari-hari dengan tenang dan sesuai syariat.

Durasi Hari dalam Haid dan Istihadzah

Menurut Risalatul Mahidh, haid memiliki ketentuan hari tertentu. Minimalnya satu hari satu malam, sedangkan maksimalnya lima belas hari. Jika darah keluar melebihi batas itu, maka dihukumi sebagai istihadzah. Adapun masa suci di antara dua haid paling sedikit lima belas hari. Aturan hitungan hari ini menjadi dasar utama bagi muslimah untuk membedakan jenis darah yang keluar.

gambar kalender perhitungan haid
Perbedaan haid dan istihadzah dari durasi dan kewajiban ibadah

Studi Kasus: Perhitungan Haid dan Istihadzah

Seorang muslimah bernama Fatimah mengalami keluarnya darah selama 10 hari, kemudian berhenti 5 hari, lalu keluar lagi selama 8 hari. Bagaimana cara menghitungnya?

  1. Hari 1–10: Darah keluar terus-menerus selama 10 hari. Karena masih di bawah batas maksimal 15 hari, maka semuanya dihukumi haid.

  2. Hari 11–15: Tidak ada darah yang keluar. Masa ini disebut suci, tetapi belum mencapai minimal 15 hari untuk bisa dihitung sebagai pemisah antara dua haid.

  3. Hari 16–23: Darah keluar lagi selama 8 hari. Karena jarak sucinya hanya 5 hari (kurang dari 15 hari), maka darah yang keluar pada hari ke-16 sampai ke-23 dihukumi istihadzah, bukan haid.

  4. Hari 23-28: Darah masih keluar. Maka hari 23-25 dihukumi istihadzah, karena masih dalam masa minimal suci antara 2 haid, yaitu 15 hari. Sedangkan hari 26-28 dihukumi haid, karena sudah melewati masa suci setelah haid pertama selama 15 hari.

Hukum terhadap Ibadah Wajib

Ketentuan hukum ibadah ketika haid dan istihadzah berbeda. Seorang wanita yang sedang haid tidak boleh melaksanakan shalat, puasa, thawaf, atau berhubungan suami-istri hingga suci. Sebaliknya, wanita yang mengalami istihadzah tetap diwajibkan shalat dan puasa. Hanya saja ia perlu menjaga kebersihan diri, misalnya dengan berwudhu untuk setiap waktu shalat.

Di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang, pembahasan tentang haid dan istihadzah diajarkan langsung dari kitab Risalatul Mahidh dan Uyunul Masail. Santri putri dibimbing untuk memahami detail hukum, bukan sekadar teori, tetapi juga cara mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal ilmu ini, mereka diharapkan mampu menjadi rujukan di masyarakat dalam masalah fiqih kewanitaan. Untuk mengetahui materi apa saja yang diajarkan kepada santri di sini, hubungi kami di website resmi Al Muanawiyah.

Jenis Sedekah Harta dalam Islam dan Perbedaannya Lengkap

Jenis Sedekah Harta dalam Islam dan Perbedaannya Lengkap

Dalam Islam, jenis sedekah harta memiliki banyak pilihan, dari yang bersifat wajib sampai dengan sunnah. Sedekah bukan hanya sekadar memberi, melainkan juga bentuk ibadah yang membersihkan harta dan jiwa dari sifat tamak. Allah ﷻ berfirman dalam QS. At-Taubah: 103,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Dari ayat ini jelas bahwa harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik pribadi, melainkan ada hak orang lain di dalamnya. Berikut jenis sedekah harta berdasarkan pembagian hukumnya.

jenis sedekah harta dalam Islam, zakat mal, zakat fitrah, nadzar, kafarat, sedekah harian, wakaf, infaq, hibah, hadiah
Jenis sedekah harta dalam Islam dan perbedaannya

Sedekah Wajib

Sedekah wajib adalah pemberian harta yang tidak boleh ditinggalkan. Jika seorang Muslim mampu tetapi enggan menunaikannya, maka ia berdosa. Beberapa bentuknya meliputi:

  1. Zakat Mal
    Zakat mal adalah zakat atas harta yang sudah mencapai nisab (batas minimal) dan haul (satu tahun kepemilikan). Contohnya emas, perak, uang simpanan, hasil pertanian, atau hewan ternak. Tujuannya adalah membantu fakir miskin dan menegakkan keadilan sosial, sehingga harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya.

  2. Zakat Fitrah
    Zakat fitrah wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim menjelang Idul Fitri. Besarnya setara dengan satu sha’ (sekitar 2,5–3 kg) bahan makanan pokok. Hikmahnya adalah membersihkan kekurangan dalam ibadah puasa dan menjamin kebahagiaan bagi orang miskin saat hari raya. Baca juga: Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal yang Perlu Diketahui

  3. Nazar
    Jika seseorang berniat atau bernazar akan bersedekah ketika suatu keinginannya terkabul, maka ia wajib menunaikannya. Misalnya bernazar untuk memberikan sejumlah uang kepada anak yatim jika berhasil lulus ujian. Melanggar nazar termasuk dosa.
  4. Kafarat
    Kafarat adalah tebusan harta untuk menebus pelanggaran, seperti melanggar sumpah, membatalkan puasa dengan sengaja, atau melakukan kesalahan lain yang diatur syariat. Bentuknya bisa berupa memberi makan fakir miskin atau membebaskan budak (pada masa lalu).

gambar donasi bahan makanan seperti gula, apel, dan beras untuk gamabran sedekah harta yang sunnah
Contoh sedekah harta sunnah berupa bahan makanan (foto: freepik)

Sedekah Sunnah

Sedekah sunnah tidak diwajibkan, tetapi sangat dianjurkan karena pahalanya besar dan manfaatnya luas. Muslim yang melakukannya akan mendapat keberkahan hidup, meski tidak berdosa jika ditinggalkan. Beberapa bentuknya adalah:

  1. Infaq
    Infaq adalah mengeluarkan sebagian harta tanpa syarat nisab dan haul. Bentuknya fleksibel, bisa berupa uang, makanan, atau pakaian. Infaq bisa dilakukan kapan saja sesuai kemampuan, baik untuk keluarga, masjid, maupun kegiatan sosial.

  2. Wakaf
    Wakaf adalah menyerahkan harta untuk kepentingan umum atau ibadah secara berkelanjutan, seperti tanah untuk masjid, sekolah, pesantren, atau sumur. Keistimewaannya, pahala wakaf terus mengalir meskipun pemberinya sudah meninggal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa amal jariyah termasuk pahala yang tidak terputus.

  3. Hibah dan Hadiah
    Hibah adalah pemberian sukarela tanpa imbalan, biasanya kepada keluarga atau kerabat. Sedangkan hadiah diberikan sebagai bentuk penghargaan atau kasih sayang. Nabi ﷺ sangat menganjurkan saling memberi hadiah karena dapat menumbuhkan cinta di antara sesama Muslim.

  4. Sedekah Harian
    Ini adalah bentuk sedekah kecil tetapi berdampak besar, seperti memberi makan anak yatim, membantu tetangga, atau menyumbang untuk pembangunan pesantren. Meskipun sederhana, amalan ini termasuk dalam sedekah yang sangat dicintai Allah, karena Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan ketika seseorang sehat dan membutuhkan.

Pada akhirnya, setiap jenis sedekah harta baik yang wajib maupun sunnah adalah cara membersihkan rezeki, mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, dan menolong sesama. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Karena itu, jadikanlah sedekah sebagai bagian dari keseharian kita, agar harta lebih berkah, hati lebih tenang, dan pahala terus mengalir hingga akhirat.

Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Sejarah KH Hasyim Asy’ari dan Jejak Perjuangannya di Jombang

Latar Belakang dan Pendidikan Awal KH Hasyim Asy’ari

Sejarah KH Hasyim Asy’ari dimulai pada 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Jombang “Kota Santri”. Beliau lahir dari keluarga ulama, KH Asy’ari dan Nyai Halimah, yang sudah terbiasa dengan tradisi pesantren. Sejak kecil, beliau belajar di berbagai pesantren di Jawa Timur, termasuk Pesantren Wonokoyo, Pesantren Langitan, dan Pesantren Siwalan Panji.

Pada usia muda, KH Hasyim Asy’ari berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Selama tujuh tahun di tanah suci, beliau berguru kepada ulama terkemuka, salah satunya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari pengalaman itu, beliau memiliki dasar keilmuan yang kuat dalam bidang fikih, hadits, tafsir, dan tasawuf.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng. Pesantren ini kemudian berkembang pesat, menjadi pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa Timur. Selain mempelajari kitab kuning, para santri juga dilatih kemandirian, disiplin, dan kepedulian sosial.

Melalui Pesantren Tebuireng, jaringan dakwah Islam di Jawa Timur semakin luas. Banyak alumni yang kemudian mendirikan pesantren baru di daerahnya masing-masing. Dengan demikian, peran KH Hasyim Asy’ari tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga membangun jaringan pendidikan yang berpengaruh hingga ke seluruh Nusantara.

Foto sejarah KH Hasyim Asy'ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama, tokoh perjuangan Islam dan kemerdekaan Indonesia.
KH Hasyim Asy’ari, sosok pendiri Nahdlatul Ulama dan Pondok Tebuireng Jombang

Perjuangan Organisasi dan Kemerdekaan

Pada 1926, KH Hasyim Asy’ari memimpin berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini berfungsi sebagai wadah perjuangan ulama pesantren untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus merespons perubahan zaman.

Dalam bidang keilmuan, beliau menekankan pentingnya keteladanan. Salah satu nasihatnya yang tercantum dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim adalah:

“Hendaknya seorang penuntut ilmu mensucikan hatinya dari akhlak tercela agar ia layak menerima ilmu.”

Tidak hanya di bidang pendidikan, pahlawan santri pendiri salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini juga ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan. Pada Oktober 1945, beliau mengeluarkan fatwa jihad yang melahirkan Resolusi Jihad. Fatwa ini mendorong kaum santri untuk ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang kemudian berpengaruh pada pertempuran 10 November di Surabaya.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Karya-Karya Penting KH Hasyim Asy’ari

Selain melalui pesantren dan organisasi, beliau juga meninggalkan karya tulis yang hingga kini masih dipelajari di pesantren. Beberapa di antaranya adalah:

  • Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim (etika guru dan murid dalam mencari ilmu).

  • Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (prinsip akidah Ahlussunnah).

  • Mukaddimah al-Qanun al-Asasi (prinsip dasar organisasi NU).

  • al-Tanbihat al-Wajibat (nasihat kewajiban seorang muslim).

  • al-Dzakhirah al-Mursalah (tentang tauhid dan akidah Islam).

Karya-karya ini menunjukkan bahwa pemikiran beliau bukan hanya untuk zamannya, melainkan juga relevan bagi generasi setelahnya.

Warisan yang Tetap Hidup

KH Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 di Jombang dan dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Hingga kini, warisan beliau tetap hidup melalui pesantren, organisasi NU, karya tulis, serta jaringan ulama dan santri yang terus melanjutkan perjuangan beliau.

Sejarah KH Hasyim Asy’ari memperlihatkan bahwa peran seorang ulama tidak hanya terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga meliputi dakwah, perjuangan politik, dan pembangunan masyarakat. Beliau menjadi teladan bagaimana ilmu, amal, dan perjuangan bisa menyatu demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Cerita Inspirasi Shalat dari Ali bin Abi Thalib

Cerita Inspirasi Shalat dari Ali bin Abi Thalib

Al MuanawiyahSetiap muslim tentu mendambakan shalat yang khusyuk. Melalui cerita inspirasi shalat dari para sahabat Nabi, kita bisa belajar bagaimana menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah. Salah satu kisah yang masyhur datang dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, menantu Rasulullah sekaligus khalifah keempat dalam sejarah Islam.

Kisah Panah yang Dicabut Saat Shalat

Diriwayatkan dalam banyak kitab tarikh (sejarah), termasuk oleh Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, bahwa suatu ketika Ali terkena panah dalam peperangan. Panah itu tertancap di pahanya hingga sulit untuk dicabut, karena setiap upaya menimbulkan rasa sakit yang hebat. Para sahabat bingung, bagaimana cara mengeluarkannya tanpa membuat Ali kesakitan.

Ali lalu berkata dengan tenang: “Tunggulah sampai aku berdiri dalam shalat.”
Ketika ia mulai mengerjakan shalat, para sahabat melihat wajahnya dipenuhi ketenangan. Saat itu mereka mencabut panah dari tubuhnya, dan ajaibnya Ali tidak bergeming sedikit pun. Setelah selesai shalat, barulah ia sadar bahwa panah telah berhasil dikeluarkan.

foto seorang pria sedang shalat dan tertusuk panah di kakinya ilustrasi Ali bin Abi Thalib
Ilustrasi sayyidina Ali bin Abi Thalib tertusuk panah saat shalat (foto: ChatGPT, tidak menggambarkan kondisi nyata)

Makna dari Kisah Ali bin Abi Thalib

Kisah ini menggambarkan betapa dalamnya kekhusyukan Ali. Shalat membuatnya tenggelam sepenuhnya dalam kehadiran Allah, sehingga rasa sakit fisik seolah lenyap. Para ulama kemudian menjadikan kisah ini sebagai teladan bahwa shalat yang khusyuk bisa membuat hati terlepas dari segala urusan dunia.

Dalam tafsir Ibnu Katsir tentang ayat “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun: 1–2), dijelaskan bahwa khusyuk berarti menghadirkan hati, merendahkan diri, dan memutus pikiran dari kesibukan dunia. Ali telah mencontohkan makna ini dengan sempurna.

Baca juga: Hikmah Kekalahan di Perang Uhud yang Mengajarkan Adab Bicara

Inspirasi untuk Kita Semua

Kisah ini memberi pesan kuat bagi umat Islam. Jika Ali bisa melupakan rasa sakit yang luar biasa karena tenggelam dalam shalat, maka kita pun bisa berlatih melupakan gangguan kecil seperti suara bising, notifikasi ponsel, atau pikiran yang melayang.

Shalat khusyuk bukan hanya kewajiban, tetapi juga terapi hati yang mampu menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Melalui cerita inspirasi shalat ini, kita diajak untuk menjadikan shalat bukan sekadar rutinitas, melainkan dialog spiritual yang menguatkan iman dan menghadirkan kedamaian sejati.

5 Pahlawan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

5 Pahlawan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Santri sejak dahulu memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Mereka tidak hanya dikenal sebagai penuntut ilmu agama di pesantren, tetapi juga pejuang yang mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Banyak pahlawan santri yang tercatat dalam sejarah sebagai tokoh sentral perjuangan, baik melalui medan perang maupun jalur diplomasi.

Baca juga: Doa untuk Guru Agar Ilmu Menjadi Berkah

Tokoh Pahlawan Santri yang Berpengaruh

Berikut beberapa tokoh santri yang berjasa besar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia:

  1. KH. Hasyim Asy’ari
    Pendiri Nahdlatul Ulama ini dikenal sebagai penggagas Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Resolusi ini memicu semangat rakyat, khususnya para santri, dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Beliau termasuk dalam tokoh yang dkabadikan dalam sejarah Jombang “Kota Santri”.

  2. KH. Wahid Hasyim
    Putra KH. Hasyim Asy’ari yang juga Menteri Agama pertama RI. Beliau berperan dalam perumusan dasar negara serta memperjuangkan agar nilai-nilai Islam berjalan beriringan dengan semangat kebangsaan.

  3. KH. Zainul Arifin
    Pemimpin Laskar Hizbullah yang anggotanya mayoritas santri. Pasukan ini menjadi bagian penting dalam mendukung TNI melawan Belanda. Peran santri dalam Hizbullah menegaskan bahwa pesantren ikut aktif di garis depan perjuangan fisik.

  4. KH. Noer Alie
    Ulama pejuang dari Bekasi yang dijuluki “Singa Karawang-Bekasi.” Ia memimpin perlawanan rakyat melawan pasukan Belanda dengan keberanian luar biasa. KH. Noer Alie juga dikenal membina santri agar memiliki jiwa cinta tanah air.

  5. KH. Agus Salim
    Dijuluki “The Grand Old Man,” beliau aktif dalam diplomasi internasional. KH. Agus Salim memperjuangkan pengakuan kedaulatan Indonesia di dunia, membuktikan bahwa seorang santri mampu berkiprah di kancah global.

Foto Haji Agus Salim, tokoh pergerakan nasional dan pahlawan santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia
Haji Agus Salim yang termasuk dalam pahlawan santri pejuang kemerdekaan Indonesia (foto: news.indozone.id)

Spirit Pahlawan Santri untuk Generasi Sekarang

Semangat yang diwariskan para pahlawan santri menunjukkan bahwa santri bukan hanya berperan di bidang agama, tetapi juga pilar bangsa. Nilai keikhlasan, keberanian, dan cinta tanah air menjadi warisan yang harus dijaga. Generasi sekarang dapat meneladani mereka dengan cara berkontribusi sesuai zaman, baik melalui ilmu, pendidikan, maupun aksi sosial.

Dengan demikian, peran santri tetap relevan hingga hari ini: menjaga agama sekaligus menguatkan persatuan bangsa.

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Santri Pramuka, Potret Santri Tangguh Berakhlak Mulia

Setiap tanggal 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka sebagai momentum untuk meneguhkan kembali semangat kebangsaan, kemandirian, dan gotong royong. Bagi para santri pramuka, momen ini memiliki makna yang lebih mendalam. Tidak hanya sebatas pada kegiatan baris-berbaris, tetapi juga berkaitan dengan membentuk akhlak mulia yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Gerakan Pramuka mengajarkan disiplin, keberanian, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kehidupan di pesantren yang membentuk santri agar siap menjadi pemimpin umat. Seorang santri tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga memiliki keteguhan iman, kecerdasan berpikir, serta kepekaan sosial. Inilah yang menjadikan keikutsertaan santri dalam kegiatan Pramuka sebagai sarana pelatihan hidup bermasyarakat sejak dini.

santri pramuka Hari Pramuka. Santri tangguh, disiplin, berakhlak mulia. Murid SMP perempuan berpakaian pramuka
Potret santri pramuka tangguh dan berakhlak mulia SMP Qur’an Al Muanawiyah

Santri Pramuka: Perpaduan Nilai Keislaman dan Kebangsaan

Kegiatan Pramuka di pesantren memberikan ruang kreatif bagi santri untuk mengasah keterampilan hidup (life skill). Mulai dari keterampilan pertolongan pertama, memasak bersama, hingga kerjasama tim dalam kegiatan perkemahan. Semua itu menumbuhkan jiwa kemandirian yang kelak sangat bermanfaat ketika santri terjun langsung di tengah masyarakat. Selaras dengan manfaat mondok, santri pramuka mampu menghadirkan kombinasi antara keilmuan agama dan keterampilan praktis yang seimbang.

Baca juga: Kurikulum Pondok Pesantren di Era Digital, Masihkah Relevan?

Tidak kalah penting, nilai keislaman juga mewarnai kegiatan Pramuka di pesantren. Kegiatan biasanya diawali dengan doa bersama, shalat berjamaah tetap ditegakkan, dan semangat ukhuwah Islamiyah menjadi pondasi dalam setiap aktivitas. Hal ini menunjukkan bahwa kepramukaan di kalangan santri bukanlah sekadar aktivitas duniawi, melainkan ibadah yang bernilai di hadapan Allah Ta’ala.

KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah berpesan:

“Santri harus siap menjadi kader umat dan bangsa, memiliki jiwa yang merdeka, serta berpegang teguh pada agama dan cinta tanah air.”

Pesan ini sejalan dengan nilai kepramukaan yang mengajarkan santri untuk berdisiplin, tangguh, dan siap mengabdi kepada masyarakat.

Momentum ini seharusnya menjadi refleksi bagi santri untuk semakin menguatkan tekad menebar manfaat. Sebagaimana semboyan “Satya Ku Kudarmakan, Darma Ku Kubaktikan”, santri diharapkan mampu mengamalkan ilmunya, menjaga keutuhan bangsa, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan umat. Dengan semangat praja muda karana, tercipta generasi muda yang berjiwa Qur’ani, disiplin, dan siap menghadapi tantangan zaman.