Pendidikan Pondok Pesantren Pembentuk Karakter Santri

Pendidikan Pondok Pesantren Pembentuk Karakter Santri

Pendidikan pondok pesantren memiliki cara tersendiri dalam membentuk karakter para santri. Sistem yang sudah mengakar sejak berabad-abad ini menjaga kesinambungan ilmu, adab, dan spiritualitas. Bahkan, dalam suasana belajar yang berjalan selama 24 jam, santri ditempa bukan hanya melalui materi kitab kuning, tetapi juga lewat pembiasaan akhlak yang diterapkan dalam berbagai aktivitas harian.

Lingkungan yang Menguatkan Kemandirian

Sejak awal, santri dibiasakan hidup mandiri. Mereka mengatur jadwal, menjaga kebersihan, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari secara bertanggung jawab. Intinya, pola hidup komunal melatih ketangguhan mental. Biasanya, mereka juga terlibat dalam kepengurusan kamar dan kegiatan asrama, sehingga kemampuan sosial berkembang secara alami.

Baca juga: 7 Manfaat Mondok untuk Menciptakan Generasi Islami dan Mandiri

Keteladanan Guru yang Membangun Adab

Dalam pendidikan pondok pesantren, sosok kiai dan ustadz menjadi teladan yang sangat memengaruhi karakter santri. Nyatanya, santri belajar bukan hanya dari materi yang dibacakan dalam kitab, tetapi juga dari sikap dan akhlak gurunya. Contohnya, kesederhanaan, kesabaran, serta ketulusan diamalkan setiap hari dan akhirnya membentuk kepribadian para santri.

gambar santri putri sedang setoran hafalan Al Qur'an ke ustadz
Potret penerapan adab dalam pendidikan pondok peesantren Al Muanawiyah Jombang

Tradisi Ilmu yang Mengikat Komitmen Moral

Tradisi kajian kitab kuning menjadi pusat kegiatan pesantren. Santri diajak memahami dalil, sekaligus menghubungkannya dengan akhlak dan kehidupan nyata. Karenanya, ilmu agama tidak berhenti pada hafalan. Mereka dibimbing untuk mengamalkan nilai agama dengan konsisten. Sementara itu, kegiatan seperti zikir dan mujahadah menumbuhkan kedalaman spiritual.

Baca juga: Santri Melek Teknologi Bukti Adaptasi Pesantren di Era Modern

Kehidupan Komunitas yang Menumbuhkan Sikap Moderat

Kehidupan sehari-hari di pesantren membuat santri terbiasa menghadapi perbedaan latar belakang, bahasa, hingga budaya. Mulanya terasa menantang, tetapi lambat laun mereka memahami pentingnya toleransi. Akhirnya, kebersamaan tumbuh kuat dan membentuk santri yang berjiwa moderat.

Pendidikan pondok pesantren terus menjadi model pembinaan karakter yang terbukti efektif di Indonesia. Dengan kombinasi antara adab, ilmu, dan pembiasaan spiritual, santri tumbuh menjadi generasi yang matang secara moral dan sosial. Jika Anda ingin merasakan langsung bagaimana pembinaan karakter itu diterapkan pada santri putri masa kini, Anda bisa mengenal lebih dekat sistem pendidikan berakhlak Qurani di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang.

Kitab Fathul Bari dan Keistimewaannya dalam Tradisi Pesantren

Kitab Fathul Bari dan Keistimewaannya dalam Tradisi Pesantren

Al Muanawiyah – Di banyak pondok pesantren di Indonesia, para santri mempelajari beragam kitab kuning yang menjadi rujukan ulama Ahlussunnah. Salah satu kitab paling masyhur adalah Fathul Bari, sebuah karya besar yang menjadi penjelasan (syarah) paling otoritatif atas Shahih al-Bukhari. Kehadiran kitab ini bukan hanya memperkaya khazanah keilmuan pesantren, tetapi juga membantu umat Islam memahami sunnah Nabi ﷺ secara lebih mendalam dan komprehensif.

Identitas dan Latar Belakang Kitab Fathul Bari

Kitab Fathul Bari memiliki judul lengkap “Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari”. Kitab ini disusun oleh ulama besar abad ke-9 H, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani (773–852 H), seorang ahli hadits yang sangat dihormati dalam dunia Islam. Penyusunan kitab ini memakan waktu lebih dari 25 tahun, dan rampung sekitar tahun 842 H.

Kitab ini terdiri dari 13 jilid besar, berisi penjelasan terperinci terhadap seluruh hadits dalam Shahih Bukhari. Kitab ini juga membahas sanad, perbedaan versi riwayat, makna bahasa, fiqih, hingga penjelasan para ulama terdahulu. Karena kelengkapan dan ketelitian ilmunya, Fathul Bari dianggap sebagai syarah Shahih Bukhari terbaik sepanjang sejarah.

gambar semua jilid kitab fathul bari
Kitab Fathul Bari (sumber: www.alkhoirot.org)

Kandungan dalam Kitab Fathul Bari

Kitab ini mencakup beragam disiplin ilmu yang sangat luas. Para santri dan peneliti hadits mempelajari Kitab Fathul Bari karena menyajikan:

1. Penjelasan mendalam setiap hadits dalam Shahih Bukhari
Ibnu Hajar menguraikan makna, konteks, sebab munculnya hadits, dan pendapat para ulama klasik.

2. Analisis sanad dan jalur periwayatan
Kitab ini memberikan perbandingan antara berbagai versi sanad, serta validitas masing-masing.

3. Kajian fiqih lintas mazhab
Ibnu Hajar menyebutkan pendapat mazhab-mazhab besar, lalu menjelaskan argumentasi masing-masing berdasarkan hadits.

4. Ilmu bahasa dan syarah istilah
Banyak istilah dalam hadits dijelaskan secara bahasa dan makna, membuat pembaca memahami konteks secara utuh.

5. Pendekatan sejarah dan perkembangan hukum Islam
Kitab ini memadukan ilmu hadits, sirah, serta tradisi keilmuan ulama sejak generasi sahabat hingga masa Ibnu Hajar.

Karena kandungannya sangat luas, Fathul Bari menjadi salah satu rujukan penting dalam ilmu hadits, fiqih, pendidikan, dan kajian akademik di seluruh dunia.

Baca juga: 5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Penerapan Fathul Bari dalam Kehidupan Sehari-Hari

Walaupun tebal dan ilmiah, isi Fathul Bari dapat diterapkan dalam kehidupan modern. Kitab ini membantu umat Islam memahami:

1. Cara meneladani Nabi ﷺ secara lebih tepat
Syarah yang mendalam membuat seseorang memahami sunnah bukan hanya pada teks, tetapi juga pada konteks. Misalnya, adab pergaulan, akhlak, kesabaran, hingga semangat menuntut ilmu.

2. Sikap moderat dalam beragama
Ibnu Hajar selalu menyebut perbedaan pendapat ulama secara adil. Sikap ini mendorong umat untuk lebih bijaksana, toleran, dan tidak mudah mengklaim pendapat pribadi sebagai satu-satunya kebenaran.

3. Landasan kuat dalam mengambil keputusan fiqih
Pembahasan lintas mazhab membuat umat memahami bahwa hukum Islam itu luas dan penuh hikmah. Ini membantu seseorang memilih pendapat yang paling maslahat dan sesuai kebutuhan.

4. Etika sosial dan keutamaan akhlak
Banyak hadits tentang kasih sayang, persaudaraan, kerja keras, dan kejujuran dijelaskan secara praktis. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi pelajar, pekerja, dan masyarakat umum.

5. Penguatan tradisi belajar di pesantren
Bagi para santri, Kitab ini menjadi sumber semangat karena menunjukkan betapa luas dan telitinya ilmu para ulama. Kitab ini mengajarkan disiplin, kesabaran, dan ketekunan dalam menuntut ilmu.

Kitab Fathul Bari bukan sekadar kitab syarah hadits, tetapi karya monumental yang terus hidup dalam tradisi pondok pesantren di Indonesia. Ia mengajarkan ilmu, adab, dan keluasan pandangan dalam memahami agama. Dengan mempelajari kitab ini, santri dan umat Islam dapat mengambil hikmah Nabi ﷺ untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari secara bijak dan penuh kearifan.

Tata Cara Wudhu Sesuai Tuntunan Nabi

Tata Cara Wudhu Sesuai Tuntunan Nabi

Al MuanawiyahMemahami tata cara wudhu sangat penting agar ibadah shalat menjadi sah dan sempurna. Wudhu memiliki bagian-bagian yang wajib serta sunnah yang menguatkan kesempurnaan ibadah. Penjelasan ini merujuk pada QS. Al Maidah ayat 6 dan berbagai hadits shahih tentang wudhu.

Bagian Wajib dalam Wudhu

Bagian wajib harus dikerjakan dalam urutan yang benar. Jika salah satunya tertinggal, wudhu tidak sah.

1. Niat

Niat penting karena dapat membedakan ibadah dari aktivitas biasa. Cukup diucapkan di dalam hati. Tidak ada lafadz khusus yang diwajibkan.

2. Membasuh Wajah

Wajah dibasuh dari batas rambut hingga dagu dan dari telinga ke telinga. Air harus merata. Dalilnya ada pada QS. Al-Maidah: 6.

3. Membasuh Kedua Tangan Hingga Siku

Tangan dibasuh dari telapak sampai siku. Nabi ﷺ selalu memastikan air merata ke seluruh bagian tangan.

4. Mengusap Sebagian Kepala

Cukup mengusap sebagian kepala. Namun, ada sunnah untuk mengusap seluruhnya. Nabi ﷺ mengusap kepala dari depan ke belakang lalu kembali lagi.

5. Membasuh Kedua Kaki Hingga Mata Kaki

Kaki dibasuh dengan merata hingga bagian tumit. Kesalahan yang sering terjadi adalah kurang memperhatikan bagian belakang kaki.

6. Tertib

Urutan wudhu harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Rukun tidak boleh dibalik atau ditinggalkan.

gambar tangan mengambil air ilustrasi wudhu
Ilustrasi wudhu (sumber: freepik)

Sunnah-Sunnah dalam Wudhu

Beberapa sunnah membantu menyempurnakan wudhu. Jika tidak dilakukan, wudhu tetap sah.

1. Membaca Basmalah

Membaca “Bismillah” di awal sangat dianjurkan. Perintah ini terdapat dalam hadits Abu Dawud.

2. Mencuci Telapak Tangan

Rasulullah ﷺ mencuci kedua telapak tangan tiga kali sebelum memulai wudhu.

3. Berkumur dan Istinsyaq

Berkumur dan memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya adalah sunnah yang selalu dilakukan Nabi ﷺ.

4. Mengusap Seluruh Kepala

Mengusap seluruh kepala lebih utama daripada mengusap sebagian.

Baca juga: Doa Masuk Kamar Mandi dan Keutamaannya

5. Mengusap Kedua Telinga

Bagian luar dan dalam telinga diusap dengan air baru atau sisa air di tangan.

6. Mendahulukan yang Kanan

Dalam hal bersuci, Nabi ﷺ lebih dahulu mendahulukan anggota kanan.

7. Mengulang Basuhan Tiga Kali

Kecuali kepala, basuhan dianjurkan tiga kali. Hadits Utsman bin Affan r.a. menjadi dalil utama amalan ini.

8. Doa Setelah Wudhu

Nabi ﷺ mengajarkan doa berikut:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“ Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya.”

Dalam riwayat Muslim ada tambahan doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Dengan memahami tata cara wudhu, seorang muslim dapat beribadah dengan benar dan penuh keyakinan. Wudhu membersihkan tubuh dan menenangkan hati. Ibadah yang dimulai dengan wudhu yang baik insyaAllah membawa keberkahan sepanjang hari.

Santri Melek Teknologi Bukti Adaptasi Pesantren di Era Modern

Santri Melek Teknologi Bukti Adaptasi Pesantren di Era Modern

Di tengah derasnya arus globalisasi, santri melek teknologi menjadi kebutuhan nyata bagi pesantren masa kini. Dunia digital telah membuka ruang dakwah baru yang tak terbatas oleh jarak dan waktu. Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang termasuk lembaga yang mampu beradaptasi, dengan menghadirkan berbagai program berbasis teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai Qurani dan akhlakul karimah.

Belajar Teknologi untuk Dakwah yang Bermakna

Pondok Pesantren Al Muanawiyah membentuk Tim Multimedia sebagai wadah pembelajaran bagi santri yang ingin berkontribusi melalui media digital. Mereka belajar mengoperasikan peralatan publikasi seperti live streaming, podcast, desain grafis, dan video editing. Tim ini berperan penting dalam menjaga kualitas publikasi dakwah agar tetap profesional, inspiratif, dan bernuansa islami.

Selain itu, pesantren juga memiliki laboratorium komputer yang digunakan untuk pelatihan digital dan pelaksanaan ANBK. Melalui fasilitas ini, para santri belajar komputer, desain, dan editing multimedia secara langsung. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, santri juga diajak mengenal dunia koding dan kecerdasan artifisial (AI) dengan metode belajar yang interaktif dan menyenangkan.

gambar siswa berpakaian baju pramuka sedang belajar koding
Potret suasana ekstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial di SMP-SMA Qur’an Al Muanawiyah

Teknologi Sebagai Sarana Dakwah Modern

Kegiatan pembelajaran IT di Al Muanawiyah tidak hanya bertujuan menguasai keterampilan, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa teknologi adalah sarana dakwah yang efektif. Santri belajar menjadikan media digital sebagai ruang amar ma’ruf nahi munkar, bukan sekadar hiburan. Dengan begitu, setiap karya digital mereka menjadi bagian dari amal jariyah yang bermanfaat bagi umat.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Santri yang memahami teknologi diharapkan mampu mengisi dunia maya dengan konten positif, edukatif, dan bernilai dakwah. Mereka menjadi penjaga moralitas digital, membawa cahaya ilmu dan adab di tengah derasnya arus informasi modern.

Mencetak Generasi Qurani Cakap Digital

Langkah Al Muanawiyah membina santri melek teknologi menunjukkan bahwa pesantren dapat berkembang tanpa kehilangan ruh keislaman. Kombinasi iman, ilmu, dan inovasi digital menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Qurani yang cerdas dan berkarakter.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program IT dan dakwah digital di sini silakan kunjungi website resmi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah. Temukan bagaimana para santri belajar menggabungkan kreativitas teknologi dengan nilai-nilai Qurani untuk berdakwah di era modern.

Adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Al MuanawiyahDalam Islam, setiap aktivitas sehari-hari memiliki tuntunan, termasuk hal yang tampak sederhana seperti adab masuk kamar mandi. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya agar menjaga kebersihan, kesucian, dan etika, karena Islam adalah agama yang sangat memperhatikan thaharah (bersuci).

Adab Masuk Kamar Mandi Menurut Sunnah

Sebelum memasuki kamar mandi, umat Islam dianjurkan membaca doa masuk kamar mandi sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
“Allahumma inni a‘ūdzu bika minal khubutsi wal khabā’its.”
Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.
(HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375)

Doa ini mengajarkan agar seorang Muslim memohon perlindungan dari gangguan makhluk halus yang sering berada di tempat najis seperti kamar mandi.

Selain membaca doa, ada beberapa adab penting yang diajarkan Nabi ﷺ:

  1. Masuk dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan
    Berdasarkan riwayat dari Anas bin Malik RA, Rasulullah ﷺ “apabila masuk ke kamar kecil, beliau mendahulukan kaki kiri, dan bila keluar beliau mendahulukan kaki kanan.” (HR. Tirmidzi)

  2. Tidak membawa lafadz Allah atau Al-Qur’an ke dalam kamar mandi
    Para ulama seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa menjaga kehormatan nama Allah termasuk bagian dari adab kesopanan terhadap kalam Ilahi.

  3. Tidak berbicara di dalam kamar mandi
    Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, beliau berkata: “Seorang lelaki lewat di hadapan Rasulullah ﷺ yang sedang buang air kecil lalu mengucapkan salam, tetapi beliau tidak menjawab.” (HR. Muslim) Ini menunjukkan adab untuk tidak berzikir atau berbicara ketika berada di tempat buang hajat.

  4. Menjaga aurat dan tidak menghadap kiblat saat buang air
    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Apabila kalian datang ke tempat buang hajat, maka janganlah menghadap atau membelakangi kiblat.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  5. Membersihkan diri dengan benar setelah selesai
    Setelah buang air, disunnahkan menggunakan tangan kiri untuk istinja, sebagaimana disebutkan dalam HR. Abu Dawud:

    “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja dengan tangan kanannya.”

gambar pria sedang bernyanyi di dalam kamar mandi
Berbicara atau bernyanyi merupakan larangan dalam adab masuk kamar mandi (sumber: freepik)

Keutamaan Menjaga Adab Ini

Menjaga adab masuk kamar mandi bukan hanya perkara kesopanan, tetapi bagian dari menjaga kesucian hati dan tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kebersihan adalah separuh dari iman.”
(HR. Muslim no. 223)

Hadits ini menunjukkan bahwa kebersihan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, bahkan menjadi bagian dari kesempurnaan iman. Dengan menerapkan adab-adab tersebut, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesehatan jasmani tetapi juga spiritualitasnya.

Baca juga: Adab Berteman dalam Kitab Washiyatul Musthofa

Pelajaran Bagi Santri dan Generasi Muda

Santri dan generasi Muslim masa kini perlu meneladani perhatian Rasulullah ﷺ terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan. Dari adab masuk kamar mandi saja, Islam mengajarkan tentang kesopanan, kebersihan, dan kesadaran spiritual. Nilai-nilai ini penting untuk membentuk pribadi yang disiplin dan berakhlak mulia.

Setiap adab yang diajarkan Nabi ﷺ, termasuk adab masuk kamar mandi, mengandung hikmah besar. Islam menuntun umatnya untuk menjaga kebersihan, menghormati nama Allah, dan selalu memulai aktivitas dengan doa. Dengan mengikuti sunnah ini, setiap Muslim dapat meraih kebersihan lahir dan batin sekaligus keberkahan dalam setiap aktivitas harian.

Kisah Ibnu Hajar al Asqalani Penulis Bulughul Maram

Kisah Ibnu Hajar al Asqalani Penulis Bulughul Maram

Ibnu Hajar Al Asqalani lahir pada 23 Sya’ban 773 H (sekitar 18 Februari 1372 M) di kawasan Kairo, Mesir (beberapa sumber mencantumkan 12 Sya’ban 773 H) dari keluarga yang berasal dari kota Asqalan (Palestina) yang kemudian menetap di Mesir. Kedua orangtuanya meninggal ketika beliau masih sangat mud. Ayahnya wafat ketika ia berusia sekitar 4 tahun. Ia diasuh oleh kerabatnya, Zakī ad-Dīn al-Kharrūbī, yang membimbingnya sejak usia lima tahun memasuki pengajian Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu Islam.

Sejak usia sangat muda, Ibnu Hajar menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam bidang keilmuan. Ia dikabarkan telah menghafal Al-Qur’an ketika masih berusia 9 tahun. Kemudian ia melakukan perjalanan menuntut ilmu ke berbagai tempat seperti Syam (Suriah), Hijaz, dan Yaman, menimba ilmu hadits, fiqh, bahasa Arab, dan sejarah Islam.

Beliau wafat pada 8 Dzulhijjah 852 H (2 Februari 1449 M) di Kairo. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang dari berbagai kalangan ulama, penguasa, dan masyarakat umum.

Karya-Kitab Utama

Ibnu Hajar Al Asqalani dikenal sebagai salah satu ulama hadits paling penting di dunia Islam klasik. Beliau menulis lebih dari 150 hingga 270 buah kitab dalam berbagai disiplin ilmu seperti hadits, sejarah, biografi, tafsir, dan fiqh. Beberapa karya utama beliau antara lain:

  • Fathul Bari bi Syarh Sahih al‑Bukhari – komentar paling terkenal atas kitab Sahih al-Bukhari; banyak dianggap sebagai syarah terperinci yang hingga kini menjadi rujukan utama

  • Tahdzib al‑Tahdzib – kajian biografi perawi hadits dan kritik sanad.

  • Al‑Ishābah fī Tamyīz al‑Shahābah – biografi sahabat Nabi SAW dan klasifikasi mereka.

  • Bulughul Maram min Adillatil Ahkām – kumpulan hadis-hukum yang sangat populer.

Kitab Bulughul Maram
Kitab Bulughul Maram, salah satu karya Ibnu Hajar Al Asqalani (sumber: daimuda.org)

Jejak Dakwah dan Peran Sosial

Beliau Ibnu Hajar tidak hanya aktif sebagai penulis dan akademisi, tetapi juga dalam peran sosial dan pemerintahan. Beliau pernah menjabat sebagai qāḍī (hakim) di Mesir selama lebih dari 20 tahun. Selain itu, beliau menjadi khatib di Masjid al-Azhar dan Masjid Amr ibn al-‘Âsh, serta memimpin perpustakaan al-Mahmudiyyah. Selama hidupnya, banyak murid dari berbagai wilayah datang menimba ilmu darinya, sehingga pengaruhnya meluas ke dunia Islam.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

Inspirasi untuk Generasi Masa Kini

Kisah hidup beliau adalah inspirasi besar bagi generasi muda dan para pelajar Islam. Betapapun beliau telah kehilangan orang tua sejak kecil, beliau tidak menyerah pada situasi, melainkan menjadikan ilmuwan besar. Sikapnya yang gigih menuntut ilmu, rendah hati dalam bertingkah laku, dan produktif dalam menulis, menjadi teladan bahwa ilmu dan amal bisa berjalan beriringan. Selain itu, karya-karyanya yang tertata dan sistematis mengajarkan kita pentingnya metodologi, kedisiplinan, dan dedikasi dalam studi agama. Dengan mengikuti jejak beliau, para santri, mahasiswa, dan pemuda Islam dapat menanamkan cita-cita untuk menjadi bukan hanya penghafal ilmu, tetapi juga pengamal yang menyebarkan manfaat.

Ibnu Hajar Al Asqalani adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam tradisi keilmuan Islam. Biodatanya menunjukkan perjalanan yang penuh tekad, karya-karyanya menunjukkan keluasan wawasan, dan jejak dakwahnya menunjukkan keterlibatan nyata dalam masyarakat. Maka dari itu, generasi sekarang mendapat banyak pelajaran dari beliau: bahwa kemuliaan ilmu tidak hanya diukur dari seberapa banyak tahu, tetapi juga dari seberapa banyak memberikan manfaat.

Doa Masuk Kamar Mandi dan Keutamaannya

Doa Masuk Kamar Mandi dan Keutamaannya

Al MuanawiyahDalam ajaran Islam, setiap aktivitas sehari-hari memiliki adab dan doa tersendiri yang mengandung kebersihan lahir dan batin. Salah satu amalan sederhana namun bernilai adalah membaca doa ketika masuk kamar mandi. Berikut pembahasan lengkap tentang lafadz, dasar hadits, serta keutamaannya, agar kita tidak sekadar membaca, melainkan memahami makna dan tujuan.

Baca juga: Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan Nabi

Lafadz Doa Masuk Kamar Mandi

Lafadz Arab yang diajarkan ketika hendak memasuki kamar mandi adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-khubutsi wal-khabā’iṡi

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari (pengaruh) setan-laki dan setan-perempuan.”
Sebelumnya, disunnahkan untuk membaca بِسْمِ اللَّهِ (Bismillāh) sebagai pembuka.

lafadz Doa Masuk Kamar Mandi
Doa Masuk Kamar Mandi

Dalil Hadits

Adapun hadits yang menjadi dasar amalan tersebut berasal dari riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah saw apabila akan masuk tempat buang hajat (kamar kecil), beliau membaca:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ»
“Allāhumma innī a‘ūżu bika minal-khubutsi wal-khabā’iṡi”
Hadits ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari no. 142 dan Sahih Muslim no. 375.


Selain itu, terdapat riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ أَنْ يَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ
“Penutup antara jin dan aurat Bani Adam apabila masuk ke kamar kecil adalah mengucapkan ‘Bismillāh’.” (HR. Jami’ at‑Tirmidhi)

Baca juga: Doa Sebelum Belajar Agar Mendapat Ilmu Bermanfaat

Keutamaan dan Hikmah Membaca Doa

  1. Memohon perlindungan kepada Allah
    Tempat seperti kamar mandi atau WC dianggap ruang yang rawan gangguan makhluk halus seperti jin atau setan-laki dan setan-perempuan. Dengan membaca doa tersebut, seorang Muslim memohon perlindungan Allah dari keburukan dan gangguan tersebut.

  2. Menumbuhkan kesadaran ibadah dalam hal kecil
    Membaca doa pada aktivitas yang tampak biasa mengajarkan bahwa setiap gerak-gerik kita bisa menjadi ibadah bila disertai niat, adab, dan kesadaran akan kehadiran Allah. Singkatnya, kebersihan jasmani dan spiritual berjalan beriringan.

  3. Menjaga adab dan kesucian
    Dengan adab seperti membaca “Bismillāh” dan doa “Allāhumma…” sebelum masuk kamar mandi, seseorang menjaga dirinya dari perilaku acuh tak acuh terhadap ibadah kecil dan kebersihan, serta menunjukkan penghormatan terhadap syariat.

  4. Menguatkan hubungan dengan sunnah Nabi SAW
    Dengan mengamalkan doa ini, seorang Muslim mengikuti langkah-langkah Rasulullah saw dalam hal-hal detil kehidupan sehari-hari. Ini memperkuat nilai sunnah dalam kehidupan pribadi.

Secara ringkas, membaca doa masuk kamar mandi bukan hanya ritual kosong, tetapi langkah konkret untuk menjaga kebersihan lahir dan batin, memperkuat hubungan dengan Allah, serta menghidupkan adab Islam dalam setiap langkah kita. Semoga kita selalu ingat untuk mengucapkannya dengan penuh kesadaran ketika hendak memasuki kamar mandi. Wallahu a’lam bish-shawāb.

Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia dan Perkembangannya

Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia dan Perkembangannya

Al MuanawiyahPondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan tradisi keilmuan umat Muslim. Sejarah pondok pesantren di Indonesia telah dimulai sejak abad ke-14, jauh sebelum berdirinya sekolah-sekolah formal. Lembaga ini menjadi wadah bagi para santri untuk menuntut ilmu agama sekaligus belajar hidup mandiri di bawah bimbingan seorang kiai.

Asal Usul dan Makna Pondok Pesantren

Secara etimologis, kata “pesantren” berasal dari kata santri yang diberi imbuhan “pe-” dan “-an”, sehingga berarti tempat tinggal atau pusat kegiatan para santri. Sejak masa awal Islam di Nusantara, sistem pendidikan ini sudah dikenal, terutama pada masa dakwah Sunan Ampel di Surabaya pada abad ke-14. Ia dianggap sebagai pelopor sistem asrama santri di lingkungan masjid, yang kemudian dikenal sebagai pondok pesantren.

Pesantren memiliki ciri khas yang membedakannya dari lembaga pendidikan lain. Ciri utamanya meliputi adanya kiai sebagai pusat pengajaran, santri yang tinggal di asrama, masjid sebagai tempat kegiatan utama, serta pengajaran kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Tradisi ini berlanjut dari generasi ke generasi, menjadikan pesantren sebagai benteng ilmu agama dan moralitas masyarakat Indonesia.

Baca juga: Mengapa Tradisi Keilmuan Salaf Tetap Relevan di Era Digital

Pesantren Tertua dan Jejak Penyebaran Islam

Salah satu pesantren tertua di Indonesia adalah Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh Sayyid Sulaiman dan Kiai Aminullah pada sekitar tahun 1745, meski sebagian sumber menyebutkan tahun 1718. Sidogiri menjadi contoh kuat bahwa pesantren telah lama menjadi pusat pendidikan Islam dan dakwah di tanah air.

gambar beberapa laki-laki mengenakan kopiah dan bju putih sedang belajar bersama di madrasah miftahul ulum sidogiri
Pembelajaran madrasah di Pondok Pesantren Sidogiri (sumber: sidogiri.net)

Selain Sidogiri, pesantren-pesantren lain seperti Tebuireng (didirikan KH Hasyim Asy’ari pada 1899), Gontor (didirikan KH Ahmad Sahal pada 1926), dan Lirboyo (didirikan KH Abdul Karim pada 1910) juga berperan besar dalam melahirkan banyak tokoh ulama, pemimpin bangsa, dan pendidik Islam. Dari sinilah penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai melalui jalur pendidikan dan sosial.

Dinamika Pesantren di Masa Kolonial dan Modern

Pada masa penjajahan Belanda, pondok pesantren sering dianggap sebagai pusat perlawanan karena aktivitas sosial dan dakwahnya yang membangkitkan semangat kebangsaan. Meski diawasi ketat oleh pemerintah kolonial, banyak pesantren tetap bertahan berkat sistem wakaf tanah dan dukungan masyarakat setempat. Para santri saat itu tidak hanya belajar agama, tetapi juga dilatih untuk mandiri dan berjuang melawan ketidakadilan.

Setelah Indonesia merdeka, sistem pendidikan pesantren mengalami transformasi besar. Sebagian pesantren tetap mempertahankan model tradisional (salafiyah), sementara yang lain beradaptasi dengan memasukkan pelajaran umum dan kurikulum formal (khalafiyah). Langkah ini membuat pesantren tetap relevan dan berperan penting dalam pembangunan nasional hingga saat ini.

Peran dan Relevansi Pesantren di Era Modern

Kini, pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga pusat pengembangan karakter, kewirausahaan, dan literasi digital bagi generasi muda. Pemerintah pun secara resmi mengakui pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya posisi pesantren dalam sejarah pendidikan Indonesia dan kontribusinya terhadap pembangunan umat.

Sejarah pondok pesantren di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang pendidikan Islam yang berakar kuat dalam budaya bangsa. Dari masa Sunan Ampel hingga era modern, pesantren tetap menjadi lembaga yang menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan pengabdian sosial. Nilai-nilai yang diwariskan pesantren, seperti keikhlasan, kedisiplinan, dan cinta tanah air, menjadi fondasi moral yang relevan bagi generasi muda Indonesia masa kini.

Sejarah panjang pondok pesantren menunjukkan betapa pentingnya peran lembaga ini dalam menjaga ilmu dan moral bangsa. Hingga kini, pesantren terus beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi Islam yang kuat.

Bagi kamu yang ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah membuka kesempatan untuk mendidik anak menjadi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak mulia. Kunjungi website resminya untuk informasi lebih lanjut.

KH Mas Mansur Ulama Cerdas Pemersatu Umat

KH Mas Mansur Ulama Cerdas Pemersatu Umat

KH Mas Mansur adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan Islam dan kebangsaan Indonesia. Ia lahir di Surabaya pada 25 Juni 1896 dari pasangan KH Mas Ahmad Marzuqi dan Nyai Raudhah Sagipoddin. Beliau dibesarkan di keluarga religius yang dikenal di lingkungan Masjid Ampel. Sejak kecil, ia menimba ilmu di berbagai pesantren, termasuk Pesantren Sidoresmo dan Pesantren Demangan Bangkalan, Madura, tempat ia memperdalam Al-Qur’an dan kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Pada usia remaja, KH Mas Mansur berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu agama. Kemudian melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Di sana, ia berinteraksi dengan pemikiran pembaruan Islam yang sedang berkembang di dunia Arab pada awal abad ke-20. Sekitar tahun 1915, ia kembali ke Indonesia membawa semangat tajdid, yaitu pembaruan dalam memahami Islam secara rasional tanpa meninggalkan tradisi pesantren. Pemikiran tersebut kelak mewarnai seluruh kiprah dakwah dan sosialnya di tanah air.

Kiprahnya Mendirikan Muhammadiyah

Tahun 1921 menjadi tonggak penting ketika KH Mas Mansur mendirikan cabang Muhammadiyah di Surabaya. Langkah ini menandai komitmennya untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan pembaruan pendidikan dan sosial. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1937–1942, di mana ia memperkenalkan konsep “10 Falsafah Hidup Muhammadiyah” yang berisi panduan moral, spiritual, dan sosial bagi umat Islam. Melanjutkan jejak perjuangan perintisnya, KH. Ahmad Dahlan.

gambar beberap apria mengenakan peci dan baju formal sebagai pimpinan Muhammadiyah tahun 1937-1943
Pimpinan pusat Muhammadiyah periode 1937-1942 yang diketuai oleh KH Mas Mansur (sumber: Muhammadiyah)

Selain berdakwah lewat mimbar dan pengajaran, beliau aktif di dunia pers. Ia mendirikan dan menulis di berbagai media seperti Soeara Santri, Djinem, dan Siaran, yang berfungsi sebagai saluran penyebaran gagasan Islam modern dan ajakan untuk meninggalkan kejumudan berpikir. Melalui tulisan-tulisannya, ia menekankan pentingnya menyeimbangkan iman dengan ilmu serta menghidupkan semangat sosial dalam setiap amal ibadah.

KH Mas Mansur, Ulama Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

Dalam perjuangan kebangsaan, KH Mas Mansur juga dikenal sebagai tokoh nasionalis-religius yang ikut merintis organisasi. Salah satunya Majelis Islam A‘la Indonesia (MIAI), wadah persatuan berbagai ormas Islam untuk melawan penjajahan. Ia bersahabat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, pendiri Nahdlatul Ulama. Beliau menunjukkan bahwa perbedaan organisasi tidak menghalangi semangat ukhuwah. Semasa pendudukan Jepang, beliau bersama Soekarno, Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara menjadi anggota Empat Serangkai yang berperan dalam menyuarakan kepentingan bangsa di masa transisi penjajahan.

Beliau wafat pada 25 April 1946 di Surabaya setelah ditahan oleh pihak NICA. Atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 162 Tahun 1964.

Bagi generasi muda dan para santri masa kini, perjuangan beliau menjadi teladan nyata tentang bagaimana ilmu dan iman dapat berjalan beriringan. Dalam konteks zaman modern, pemikiran dan perjuangannya sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda. Bersatu, berjuang, dan membangun bangsa tanpa kehilangan jati diri. Melalui kiprahnya, KH Mas Mansur membuktikan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan lewat kata, tetapi juga lewat karya, keteladanan, dan komitmen terhadap kemajuan umat.

Metode Belajar Pondok Pesantren yang Kini Masih Eksis

Metode Belajar Pondok Pesantren yang Kini Masih Eksis

Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Dalam perkembangannya, metode belajar pondok pesantren memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari sistem pendidikan formal. Metode ini tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian santri.

1. Sorogan: Belajar Langsung dengan Guru

Metode belajar pondok pesantren yang paling klasik adalah sorogan. Dalam sistem ini, seorang santri membaca kitab di hadapan ustadz atau kiai, kemudian guru memperbaiki bacaan dan menjelaskan makna kata per kata.
Biasanya, metode ini digunakan untuk mempelajari kitab kuning, seperti Tafsir Jalalain atau Fathul Qarib. Meskipun terkesan tradisional, sorogan membuat santri lebih aktif dan teliti dalam memahami isi kitab. Bahkan, cara ini dianggap efektif untuk melatih kesabaran dan ketekunan belajar.

2. Bandongan: Mendengarkan dan Mencatat Penjelasan Guru

Selain sorogan, ada juga bandongan, atau disebut juga wetonan di beberapa daerah. Dalam metode ini, kiai membaca kitab dan menjelaskan isinya di hadapan banyak santri, sedangkan para santri mendengarkan sambil mencatat makna di sela teks kitab.
Metode bandongan cocok digunakan untuk pengajian kitab besar seperti Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Umumnya, pengajian bandongan dilakukan secara rutin setiap hari atau pada bulan Ramadan.
Dengan cara ini, santri terbiasa menyimak dengan penuh perhatian dan menghafal istilah Arab klasik yang sulit dipahami tanpa bimbingan guru.

Baca juga: 3 Kebiasaan yang Dibenci Allah Menurut Kitab Nashaihul Ibad

3. Halaqah dan Musyawarah Kitab

Selanjutnya, ada halaqah, yakni sistem belajar berbentuk kelompok diskusi kecil. Dalam metode ini, santri saling bertukar pendapat untuk memahami isi kitab tertentu. Tak jarang, mereka mengadakan musyawarah kitab, yaitu forum untuk membahas perbedaan pendapat ulama dari teks yang sama.
Metode ini melatih santri berpikir kritis, mampu menyampaikan argumen, dan menghargai perbedaan pandangan. Halaqah juga menjadi jembatan antara cara belajar klasik dan kebutuhan berpikir analitis modern.

gambar santri sedang belajar bersama dalam halaqah
Contoh penerapan halaqah belajar di PPTQ Al Muanawiyah

4. Hafalan dan Muhafazhah

Metode belajar pondok pesantren juga tak lepas dari hafalan (muhafazhah). Santri biasanya diminta untuk menghafal matan kitab, ayat Al-Qur’an, atau bait nadham. Misalnya, hafalan Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu atau Taqrib dalam fikih.
Kegiatan ini tidak sekadar menguji daya ingat, melainkan juga menguatkan pemahaman mendalam terhadap ilmu yang dipelajari. Biasanya, hafalan dilanjutkan dengan ujian lisan di depan ustadz.

Baca juga: Hikmah Perintah Membaca dalam Surat Al Alaq secara Sosiologis

5. Metode Modern: Integrasi Teknologi dan Literasi

Dalam perkembangan zaman, beberapa pesantren kini mulai mengombinasikan metode tradisional dengan pendekatan modern. Contohnya, pembelajaran kitab menggunakan presentasi digital, forum diskusi daring, hingga program literasi pesantren yang mendorong santri menulis karya ilmiah.
Dengan demikian, metode belajar pondok pesantren tetap relevan dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan ruh keilmuan dan keikhlasan belajar yang menjadi cirinya sejak dahulu.

Pada dasarnya, setiap metode belajar pondok pesantren memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan ilmu sekaligus membentuk karakter santri yang berakhlak dan mandiri. Sorogan mengajarkan kesungguhan, bandongan menumbuhkan kesabaran, halaqah melatih berpikir kritis, sementara hafalan menumbuhkan ketekunan.
Dengan berbagai pendekatan ini, pondok pesantren terus menjadi benteng pendidikan Islam yang kuat, menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Bagi siapa pun yang ingin merasakan suasana belajar yang menggabungkan tradisi pesantren dan pendekatan modern, PPTQ Al Muanawiyah Jombang bisa menjadi pilihan tepat. Di pondok ini, santri tidak hanya memperdalam Al-Qur’an dan kitab kuning, tetapi juga belajar berpikir logis, kreatif, dan berdaya saing di era digital. Kunjungi website resmi untuk informasi lebih lanjut