Cara Memasang Kain Kafan Sesuai Sunnah Rasulullah

Cara Memasang Kain Kafan Sesuai Sunnah Rasulullah

Al MuanawiyahMengurus jenazah adalah kewajiban setiap muslim. Salah satu bagian penting dari proses itu adalah mengkafani, yaitu membungkus tubuh jenazah dengan kain putih bersih sesuai syariat Islam. Oleh karena itu, memahami cara memasang kain kafan sangat penting agar tata cara pengurusan jenazah berjalan dengan baik dan penuh penghormatan.

Pengertian dan Tujuan Mengkafani Jenazah

Kain kafan berfungsi menutupi seluruh tubuh jenazah dari pandangan orang lain, sebagai bentuk penghormatan terakhir. Rasulullah ﷺ bersabda:

Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.” (HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih).

Hadis ini menunjukkan bahwa kain putih menjadi pilihan utama untuk mengkafani jenazah, sebab melambangkan kesucian dan kesederhanaan.

Baca juga: Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Tuntunan Islam

Jumlah Lapis Kain Kafan

Dalam fiqih, jumlah lapis kain kafan berbeda antara laki-laki dan perempuan:

  • Jenazah laki-laki dikafani dengan tiga lembar kain putih tanpa baju atau sorban.

  • Jenazah perempuan dikafani dengan lima lembar kain, meliputi sarung, kerudung, baju, dan dua lembar kain pembungkus luar.

gambar kain kafan putih untuk jenazah
Ilustrasi cara memakai kain kafan (sumber: youtube.com)

Cara Memasang Kain Kafan untuk Jenazah Laki-Laki

Berikut langkah-langkah cara memasang kain kafan bagi laki-laki:

  1. Persiapkan tiga lembar kain putih yang telah diberi wewangian seperti kapur barus.

  2. Bentangkan ketiga kain di tempat yang bersih. Letakkan kain terluar di bawah, lalu tumpuk dengan kain kedua dan ketiga.

  3. Letakkan jenazah di atas tumpukan kain dengan posisi terlentang dan kepala di arah kanan kiblat.

  4. Tutup bagian tubuh tertentu terlebih dahulu — aurat jenazah ditutup sebelum kain dikencangkan.

  5. Lilitkan kain bagian kanan ke arah kiri tubuh, lalu kain kiri ke arah kanan. Ulangi dengan kain kedua dan ketiga.

  6. Ikat bagian ujung kepala, tengah, dan kaki menggunakan tali kain agar kafan tidak terbuka. Tali nanti boleh dilepas saat jenazah akan dimasukkan ke liang lahat.

Kain kafan laki-laki sebaiknya longgar, tidak terlalu ketat, dan menutup seluruh tubuh dengan sempurna.

Baca juga: Tata Cara Shalat Jenazah dalam Islam

Cara Memasang Kain Kafan untuk Jenazah Perempuan

Untuk perempuan, prosesnya lebih banyak tahapnya karena jumlah kain lebih banyak. Berikut urutannya:

  1. Siapkan lima lembar kain putih bersih, terdiri dari:

    • Kain pertama: sarung (penutup dari pinggang ke bawah).

    • Kain kedua: baju panjang atau gamis.

    • Kain ketiga: kerudung (penutup kepala hingga dada).

    • Kain keempat dan kelima: dua lembar pembungkus luar.

  2. Bentangkan kain secara berurutan, dimulai dari kain pembungkus luar, lalu kain dalam.

  3. Letakkan jenazah di atas tumpukan kain.

  4. Kenakan sarung dan baju panjang terlebih dahulu, lalu tutup kepala dengan kerudung.

  5. Bungkus tubuh dengan dua kain luar, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri.

  6. Ikat di bagian kepala, dada, pinggang, dan kaki agar kafan tidak terlepas.

Dengan demikian, aurat jenazah perempuan lebih tertutup sempurna dibanding laki-laki, sesuai dengan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kehormatan wanita.

Mengurus jenazah, termasuk cara memasang kain kafan, mengingatkan manusia akan hakikat kehidupan. Semua yang hidup akan kembali kepada Allah dengan kesederhanaan dan tanpa membawa harta apa pun. Dalam kematian, setiap muslim sama di hadapan Tuhannya.

Dengan memahami cara memasang kain kafan dengan benar, kita tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga memperlihatkan rasa kasih sayang dan menunaikan hak muslim terhadap muslim lainnya. Semoga Allah menerima amal baik orang yang mengurus jenazah dengan niat ikhlas.

Tata Cara Shalat Jenazah dalam Islam

Tata Cara Shalat Jenazah dalam Islam

Shalat jenazah merupakan salah satu bentuk penghormatan terakhir umat Islam kepada saudaranya yang telah meninggal dunia. Ibadah ini termasuk fardhu kifayah, artinya jika sebagian umat Islam telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun, jika tidak ada seorang pun yang melaksanakan, semua akan berdosa. Oleh sebab itu, memahami tata cara shalat jenazah menjadi penting bagi setiap muslim.

Niat dan Rukun Shalat Jenazah

Berbeda dengan shalat biasa, shalat jenazah tidak menggunakan rukuk, sujud, maupun duduk di antara dua sujud. Shalat ini dilakukan sambil berdiri dan terdiri dari empat kali takbir. Adapun niatnya disesuaikan dengan siapa yang dishalatkan. Jika yang dishalatkan adalah perempuan, kata mayyiti diganti menjadi mayyitatin.

gambar lafadz niat shalat jenazah
Niat shalat jenazah

Rukun shalat jenazah terdiri dari:

  1. Berdiri bagi yang mampu.

  2. Niat.

  3. Empat kali takbir.

  4. Membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama.

  5. Membaca shalawat Nabi setelah takbir kedua.

  6. Mendoakan jenazah setelah takbir ketiga.

  7. Salam setelah takbir keempat.

Baca juga: Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Urutan Tata Cara Shalat Jenazah

Berikut langkah-langkah pelaksanaan tata cara shalat jenazah secara ringkas:

  1. Takbir pertama – membaca surat Al-Fatihah.

  2. Takbir kedua – membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, misalnya seperti dalam tasyahhud.

  3. Takbir ketiga – membaca doa untuk jenazah. Untuk jenazah laki-laki dewasa, salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:

    “Allāhumma-ghfir lahu, warhamhu, wa ‘āfihi, wa‘fu ‘anhu…”
    (Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, dan maafkanlah dia).

  4. Takbir keempat – membaca doa pendek dan diakhiri dengan salam ke kanan dan kiri.

Posisi Imam dan Makmum

Jika jenazahnya laki-laki, imam berdiri sejajar dengan kepala jenazah. Sedangkan jika perempuan, imam berdiri sejajar dengan bagian tengah tubuhnya. Jenazah diletakkan di depan jamaah dan semua berdiri menghadap kiblat.

Baca juga: Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Tuntunan Islam

Hikmah Shalat Jenazah

Shalat jenazah bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga doa agar Allah mengampuni dosa-dosa almarhum. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu dishalatkan oleh kaum muslimin sebanyak seratus orang yang semuanya mendoakan baginya, melainkan mereka akan diberi syafaat untuknya.” (HR. Muslim).

Dari hadis tersebut, jelas bahwa shalat jenazah memiliki keutamaan besar bagi yang melakukannya dan bagi jenazah yang dishalatkan.

Melaksanakan tata cara shalat jenazah dengan benar adalah wujud kasih sayang sesama muslim. Selain doa dan penghormatan, shalat ini juga mengingatkan kita akan kematian yang pasti datang. Semoga kita termasuk orang yang selalu siap dengan amal shalih dan menunaikan hak saudara kita hingga akhir hayatnya.

Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Tuntunan Islam

Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Tuntunan Islam

Al MuanawiyahMengurus jenazah merupakan salah satu kewajiban fardhu kifayah bagi umat Islam. Artinya, bila sebagian umat telah melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun, bila tidak ada seorang pun yang melakukannya, seluruh umat di suatu daerah menanggung dosa. Karena itu, penting bagi setiap Muslim memahami tata cara mengurus jenazah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Tata Cara Mengurus Jenazah

1. Memastikan Jenazah dalam Keadaan Suci

Langkah pertama dalam mengurus jenazah adalah menutup aurat dan memastikan tubuh tidak terlihat oleh orang yang tidak berhak. Setelah itu, jenazah dimandikan dengan penuh kehati-hatian. Biasanya yang memandikan adalah keluarga atau orang yang sejenis kelamin dengannya. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan:

“Barang siapa memandikan mayit dan menutup aibnya, maka Allah akan mengampuni dosanya empat puluh kali.”
(HR. Al-Hakim, 1: 354, 362; Al-Baihaqi, 3: 395. Hadits ini Shahih menurut Al-Hakim)

Baca juga: Makna Hari Kiamat dalam Pandangan Al-Qur’an

2. Memandikan dan Mengkafani

Proses memandikan dilakukan minimal sekali basuhan, namun disunnahkan tiga kali atau lebih dengan bilangan ganjil. Gunakan air bersih dan daun bidara, serta kapur barus pada basuhan terakhir. Setelah itu, jenazah dikafani dengan kain putih bersih. Rasulullah ﷺ sendiri dikafani dengan tiga lapis kain putih polos tanpa gamis dan sorban. (HR. Bukhari no. 1264)

gambar kain putih kain kafan jenazah
Contoh kain kafan untuk jenazah (sumber: bincangsyariah.com)

3. Menyelenggarakan Shalat Jenazah

Setelah jenazah dikafani, dilaksanakan shalat jenazah yang memiliki empat kali takbir tanpa rukuk dan sujud. Doa utama dalam shalat ini adalah memohonkan ampunan dan rahmat bagi si mayit. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi no. 1028 dan Abu Daud no. 3166. Imam Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ 5/212 bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini hasan jika sahabat yang mengatakan)

4. Menguburkan dengan Penuh Hormat

Jenazah kemudian diantarkan ke pemakaman dengan adab yang baik. Disunnahkan mempercepat proses penguburan agar tidak menunda hak jenazah. Kubur digali cukup dalam dan jenazah diletakkan miring ke kanan menghadap kiblat. Setelah dikubur, disunnahkan berdoa agar Allah mengokohkan si mayit dalam menjawab pertanyaan di alam kubur.

Hikmah Mengurus Jenazah

Mengurus jenazah bukan sekadar ritual, melainkan bentuk kasih sayang terakhir kepada sesama Muslim. Proses ini juga menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dengan menunaikan kewajiban ini, seorang hamba belajar tentang ikhlas, empati, dan tanggung jawab sosial.

Mengetahui tata cara mengurus jenazah adalah bagian dari ilmu fardhu kifayah yang perlu dipelajari oleh setiap Muslim. Melalui proses ini, kita tidak hanya menunaikan amanah agama, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap makna kehidupan dan kematian. Semoga Allah memberikan kita kemampuan untuk mengurus jenazah dengan cara yang diridhai-Nya dan menutup kehidupan kita dalam husnul khatimah.

JQH UNIA Prenduan Studi Banding ke PPTQ Al Muanawiyah

JQH UNIA Prenduan Studi Banding ke PPTQ Al Muanawiyah

Al MuanawiyahPondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah kembali menjadi tempat berbagi inspirasi bagi para penghafal Al-Qur’an. Kali ini, kunjungan studi banding datang dari Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz Universitas Al Amien Prenduan (JQH UNIA) , yang mengangkat tema “Mengintegrasikan Tirakat dan Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Sehari-hari.”

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 5 November 2025 ini dihadiri oleh 25 mahasantri dan 3 pembina, dengan pendamping utama Ustadz Muhammad Nurul Yaqin, M.Pd.I. Kunjungan tersebut berawal dari inspirasi seorang alumni PPTQ Al Muanawiyah, A’yun, yang kini tengah menempuh studi di Universitas Al Amien melalui program beasiswa tahfidz. Hubungan ini menjadi jembatan ukhuwah dan motivasi tersendiri bagi kedua lembaga.

gambar mahasantri putri menyimak penjelasan pembicara dalam studi banding
Foto kegiatan studi banding JQH UNIA Prenduan di PPTQ Al Muanawiyah Jombang

Berbagi Inspirasi untuk Mahasantri JQH UNIA

Suasana hangat terasa sejak awal acara. Sesi pertama diisi oleh Ananda Julia Rahmah, salah satu santri PPTQ Al Muanawiyah, yang menyampaikan materi tentang pentingnya tirakat dan konsistensi dalam menjaga hafalan Al-Qur’an. Ananda menuturkan bahwa setiap hafidz harus menyiapkan diri bukan hanya secara intelektual, tetapi juga spiritual, agar hafalannya senantiasa terjaga.

Kemudian, Ustadz A. Muammar, pengasuh PPTQ Al Muanawiyah, memberikan penguatan motivasi tentang kekuatan pikiran dalam proses menghafal.

“Pikiran adalah kekuatan. Afirmasi positif yang sejalan dengan keimanan akan menumbuhkan dorongan kuat untuk berusaha. Tanpa pikiran yang jernih, hafalan sulit bertahan,” ungkapnya memberikan motivasi.

Selanjutnya, Ustadzah Ita Harits turut menyampaikan pandangan inspiratif seputar pentingnya kebersamaan dalam menghafal Al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa seorang santri baru benar-benar teruji kekuatannya ketika mampu khatam 30 juz dan tetap istiqamah menjaga hafalannya di tengah kesibukan.

Baca juga: Forum Kerjasama PPTQ Al Muanawiyah dengan UIN Sunan Ampel

Menguatkan Semangat Tahfidz dan Silaturahmi

Melalui studi banding Al Amien Prenduan ini, para peserta dari JQH UNIA berkesempatan untuk berdialog langsung dengan pengasuh Al Muanawiyah. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, membahas metode tahfidz, menjaga hafalan, hingga cara menumbuhkan ruh Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Para pembina JQH UNIA menyampaikan rasa syukur atas kesempatan belajar bersama ini. “Kami menemukan semangat baru di sini. Cara para santri Al Muanawiyah menyeimbangkan hafalan dan tirakat sangat menginspirasi,” ujar salah satu pembina dalam kesan penutup.

Pertemuan ini menjadi bukti bahwa semangat mencintai Al-Qur’an tak berhenti di dinding pesantren mana pun. Melalui kegiatan seperti ini, kedua lembaga berharap tercipta sinergi dalam melahirkan generasi Qurani yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa dakwah.

Sejarah Pondok Tahfidz di Indonesia

Sejarah Pondok Tahfidz di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, dan tradisi menghafal Al-Qur’an telah mengakar kuat sejak masa para ulama terdahulu. Berdasarkan penelitian Puslitbang Lektur Keagamaan (2003–2005), ditemukan sekitar 250 naskah Al-Qur’an tulisan tangan di berbagai daerah di Nusantara. Naskah-naskah tersebut merupakan karya para ulama Indonesia yang diyakini juga hafal Al-Qur’an 30 juz. Tradisi ini menunjukkan betapa mulianya peran hafidz di masa itu—mereka bukan hanya penghafal, tapi juga penjaga orisinalitas mushaf suci.

Pada masa awal, kegiatan Hifzul Qur’an biasanya dilakukan secara pribadi melalui bimbingan seorang guru. Jika pun berlangsung di lembaga, biasanya itu di pesantren umum yang kebetulan memiliki kiai hafidz. Namun, seiring waktu, beberapa ulama mulai merintis lembaga khusus tahfidzul Qur’an, yang kelak dikenal sebagai pondok tahfidz.

Perintis Pondok Tahfidz di Indonesia

Salah satu tokoh penting dalam sejarah pondok tahfidz di Indonesia adalah KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau belajar di Makkah dan Madinah selama enam belas tahun, mendalami ilmu qira’at sab’ah serta tafsir. Setelah kembali ke tanah air, pada tahun 1909 M KH. Munawwir merintis pesantren yang khusus mengajarkan hafalan Al-Qur’an, dan pada 1910 M mulai membuka pengajaran tahfidz untuk para santri.

Metode pengajaran yang beliau terapkan memiliki ciri khas tersendiri:

  1. Tahapan pembelajaran bertingkat — dimulai dari bin-nazar (membaca fasih), bil-ghaib (menghafal), hingga Qira’ah Sab’ah (variasi bacaan Al-Qur’an).

  2. Penekanan pada fasahah dan murattal — setiap santri dilatih membaca secara tartil dan benar makhraj hurufnya sebelum menghafal secara penuh.

Model pembelajaran ini kemudian menjadi acuan hampir seluruh pesantren Al-Qur’an di Jawa, dan bahkan hingga kini masih digunakan di berbagai pondok tahfidz di Indonesia.

foto KH Ahmad Munawwir pendiri Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta
Foto KH. M. Munawwir (sumber: www.mahadalyjakarta.com)

Perkembangan Pondok Tahfidz di Era Modern

Perkembangan pondok tahfidz semakin pesat setelah tahun 1981, ketika cabang tahfidzul Qur’an resmi dimasukkan ke dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) nasional. Sejak saat itu, banyak pesantren yang menambah kurikulum tahfidz, baik di pesantren salafiyah maupun lembaga takhasus yang berdiri mandiri. Selain menghafal, para santri kini juga mempelajari ulumul Qur’an dan tafsir sebagai bekal memahami makna ayat-ayat suci.

Di berbagai daerah, termasuk Jombang, semangat ini terus hidup. Banyak lembaga pendidikan Islam yang mendirikan pondok tahfidz modern, menggabungkan metode tradisional khas pesantren dengan sistem pendidikan formal.

Baca juga: Santri Al Muanawiyah Bersinar di Lomba Keagamaan Islam 2025

Dakwah dan Tahfidz di Jombang

Kabupaten Jombang dikenal sebagai “kota santri”, tempat lahir dan tumbuhnya banyak pondok pesantren besar. Salah satu lembaga yang turut melanjutkan tradisi tersebut adalah PPTQ Al Muanawiyah, yang berfokus pada pendidikan tahfidz sekaligus pengembangan karakter dan ilmu agama. Melalui program terarah, para santri tidak hanya menjadi penghafal, tetapi juga siap berdakwah dengan akhlak dan ilmu yang mendalam.

Sejarah pondok tahfidz di Indonesia merupakan bukti nyata betapa bangsa ini telah lama berperan dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an. Dari ulama perintis seperti KH. Munawwir hingga pondok-pondok modern di Jombang, semangat mencetak generasi hafidz Qur’an terus diwariskan dari masa ke masa.

Ingin anak Anda tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an yang berilmu dan berakhlak?
Mari bergabung bersama PPTQ Al Muanawiyah Jombang, pondok tahfidz yang memadukan tradisi, ilmu, dan akhlak Islami.

Makna Hari Kiamat dalam Pandangan Al-Qur’an

Makna Hari Kiamat dalam Pandangan Al-Qur’an

Dalam ajaran Islam, hari kiamat merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. Percaya akan datangnya hari tersebut berarti mengakui bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat pembalasan yang kekal. Maka, memahami makna hari kiamat bukan hanya soal mengetahui tanda-tandanya, tetapi juga merenungi hikmah dan pesan spiritual yang terkandung di baliknya.

Pengertian dan Makna Hari Kiamat

Secara bahasa, kata kiamat berasal dari akar kata qāma yang berarti “bangkit” atau “berdiri”. Dalam konteks syariat, kiamat berarti saat seluruh makhluk dibangkitkan kembali setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di dunia.

Makna hari kiamat dalam Islam tidak hanya tentang kehancuran alam semesta, tetapi juga kebangkitan manusia menuju kehidupan yang abadi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan semua orang yang di dalam kubur.”
(QS. Al-Hajj [22]: 7)

Ayat ini menegaskan kepastian datangnya hari pembalasan, di mana segala amal baik maupun buruk akan diperlihatkan tanpa sedikit pun yang tersembunyi.

Baca juga: Makna Syahadat Bagi Muslim Agar Ibadah Menjadi Sah

Tanda dan Tahapan Hari Kiamat

Para ulama membagi tanda-tanda hari kiamat menjadi dua, yaitu kiamat kecil (as-sughra) dan kiamat besar (al-kubra).

  1. Kiamat kecil terjadi pada setiap individu ketika ajal menjemput. Ini menjadi peringatan bahwa kematian adalah gerbang menuju akhirat.

  2. Kiamat besar adalah kehancuran seluruh alam semesta, yang ditandai dengan tiupan sangkakala oleh malaikat Israfil.

Setelah itu, manusia akan melalui tahapan kebangkitan, pengumpulan di Padang Mahsyar, penimbangan amal, hingga masuk surga atau neraka sesuai dengan hisabnya.

gambar pasien pria lansia sedang kritis di rumah sakit
Ilustrasi tanda kiamat kecil (sumber: freepik)

Hikmah di Balik Hari Kiamat

Memahami makna hari kiamat memberikan banyak pelajaran penting bagi kehidupan seorang Muslim:

  1. Menumbuhkan kesadaran akan kefanaan dunia.
    Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Segala harta, jabatan, dan kemewahan tidak akan berguna kecuali amal saleh.

  2. Mendorong manusia berbuat baik dan menjauhi maksiat.
    Keyakinan terhadap hari pembalasan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak dan berkata.

  3. Menumbuhkan rasa takut sekaligus harapan kepada Allah.
    Takut akan azab-Nya, namun tetap berharap pada rahmat-Nya yang luas.

  4. Mendidik jiwa agar ikhlas dan bertanggung jawab.
    Karena setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan diperhitungkan, maka manusia diajak untuk selalu beramal dengan niat yang tulus.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Zalzalah:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Al-Zalzalah [99]: 7–8)

Makna hari kiamat mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan kekal. Kiamat bukan sekadar peristiwa menakutkan, melainkan momen pembuktian keadilan Allah atas seluruh makhluk-Nya.

Oleh karena itu, marilah kita memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan memperdalam ilmu agama agar siap menghadapi hari yang pasti datang itu. Karena sesungguhnya, orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati.

Hikmah Surat Al Qori’ah dan Pesan yang Terkandung Di Dalamnya

Hikmah Surat Al Qori’ah dan Pesan yang Terkandung Di Dalamnya

Surat Al Qori’ah adalah salah satu surat Makkiyah yang berisi peringatan keras tentang hari kiamat. Dengan gaya bahasa yang kuat dan menggugah, surat ini menggambarkan betapa dahsyatnya peristiwa pada hari pembalasan nanti. Dalam Al-Qur’an, hikmah surat Al Qori’ah menjadi pengingat agar manusia tidak terlena oleh dunia dan selalu mempersiapkan bekal amal untuk kehidupan akhirat.

Identitas Singkat Surat Al Qori’ah

Surat Al Qori’ah terdiri dari 11 ayat dan diturunkan di Makkah. Kata Al Qori’ah secara bahasa berarti “ketukan yang keras” atau “suara yang mengguncang”. Para ulama menafsirkan bahwa kata ini menggambarkan kedahsyatan suara yang akan mengguncang manusia pada hari kiamat, membuat hati mereka ketakutan dan bumi bergetar hebat.

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, surat ini berfungsi sebagai peringatan bagi manusia agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia. Ia menekankan bahwa semua amal akan ditimbang, dan tidak ada satu pun yang luput dari penilaian Allah.

Baca juga: Tafsir Al Zalzalah: Setiap Amal Pasti Dipertanggungjawabkan

Kandungan Surat Al Qori’ah

Surat ini dimulai dengan tiga ayat yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat:

“Al-Qāri‘ah. Apakah Al-Qāri‘ah itu? Tahukah kamu apakah Al-Qāri‘ah itu?” (QS. Al-Qāri‘ah [101]: 1–3).

Tiga ayat tersebut menegaskan pentingnya kesadaran manusia terhadap realitas hari akhir. Dalam Tafsir Al-Jalalain, disebutkan bahwa pengulangan kalimat itu dimaksudkan untuk menimbulkan efek kejut dan renungan mendalam.

Kemudian Allah menggambarkan keadaan manusia yang tercerai-berai seperti laron beterbangan dan gunung yang hancur seperti bulu yang dihambur. Pada saat itulah, amal manusia akan ditimbang:

“Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qāri‘ah [101]: 6–9).

gambar bumi hancur hari kiamat
Ilustrasi hikmah surat Al Qori’ah tentang hari kiamat

Hikmah Surat

Dari kandungannya, terdapat beberapa hikmah surat Al Qori’ah yang bisa diambil, antara lain:

  1. Mengingatkan akan kepastian hari kiamat.
    Surat ini mengajak manusia untuk selalu sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan semua amal akan dimintai pertanggungjawaban.

  2. Menanamkan pentingnya amal saleh.
    Setiap amal baik, sekecil apa pun, akan diperhitungkan di akhirat. Karena itu, surat ini memotivasi umat Islam untuk memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi maksiat.

  3. Mendidik manusia agar tidak sombong.
    Dunia dan segala isinya akan musnah. Kesombongan atas harta, pangkat, atau ilmu tidak akan berguna saat amal ditimbang.

  4. Menumbuhkan rasa takut sekaligus harapan.
    Takut terhadap azab Allah, namun juga berharap pada rahmat-Nya. Inilah keseimbangan iman yang menjadi ciri khas seorang mukmin sejati.

  5. Mendorong manusia untuk introspeksi diri.
    Surat ini mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa muhasabah — menilai amalnya setiap hari, apakah menambah berat timbangan kebaikan atau sebaliknya.

Melalui hikmah surat Al Qori’ah, kita belajar bahwa kehidupan di dunia hanyalah ujian singkat menuju keabadian. Maka, persiapkan amal terbaik sebelum hari itu tiba.

Sebagaimana pesan para ulama, “Barang siapa mengingat hari akhir, maka ringanlah baginya musibah dunia.”
Mari jadikan surat ini sebagai pengingat agar kita hidup lebih taat, beramal dengan ikhlas, dan memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an.

Tips Memilih Pondok Tahfidz Terbaik untuk Anak

Tips Memilih Pondok Tahfidz Terbaik untuk Anak

Memasukkan anak ke pondok tahfidz bukan keputusan yang ringan. Orang tua tentu berharap anaknya tumbuh menjadi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga berakhlak mulia. Namun, di tengah banyaknya pilihan pondok yang ada saat ini, bagaimana cara menentukan mana yang terbaik? Berikut beberapa tips memilih pondok tahfidz yang bisa menjadi panduan Anda.

1. Perhatikan Kurikulum Tahfidz dan Pendampingan Akhlak

Pondok tahfidz yang baik tidak hanya menekankan target hafalan, tetapi juga pembinaan adab dan akhlak santri. Sebab, tujuan utama menghafal Al-Qur’an bukan hanya hafal di lisan, melainkan tertanam dalam perilaku sehari-hari. Carilah pondok yang memiliki kurikulum seimbang antara hafalan, pemahaman kitab dan Al-Qur’an, serta pembiasaan ibadah seperti shalat berjamaah dan qiyamul lail.

2. Ketahui Latar Belakang Pengasuh dan Ustadz

Penting untuk mengetahui siapa yang membimbing anak Anda. Pengasuh dan para ustadz yang memiliki sanad hafalan yang jelas, serta pengalaman membina santri, akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran. Dalam hal ini, pondok tahfidz yang memiliki struktur pengajar yang kuat dan berpengalaman biasanya lebih konsisten dalam menjaga mutu hafalan santri.

3. Fasilitas Pendukung dan Lingkungan yang Nyaman

Meskipun fokus utama adalah tahfidz, lingkungan juga memegang peran penting. Pilihlah pondok dengan suasana yang tenang, bersih, serta memiliki fasilitas seperti asrama yang tertata, ruang kelas yang kondusif, dan akses ke perpustakaan atau laboratorium komputer. Fasilitas yang baik membantu santri belajar dengan nyaman dan semangat.

Baca juga: Program IT Pesantren Al Muanawiyah Didik Santri Terampil Digital

4. Program Kegiatan yang Menumbuhkan Kemandirian

Beberapa pondok tahfidz kini mengembangkan kegiatan tambahan seperti keterampilan teknologi, kewirausahaan, atau pelatihan public speaking. Program semacam ini membentuk santri yang tidak hanya hafal, tetapi juga siap berdakwah di masyarakat dengan cara-cara modern.

Musabaqoh syahril Qur'an santri pondok pesantren tahfidz putri Al Muanawiyah Jombang. Gambar santri menyampaikan ceramah dakwah dengan lagu
Contoh kegiatan latihan public speaking di PPTQ Al Muanawiyah, Musabaqoh Syahril Qur’an

5. Evaluasi Sistem Pembelajaran dan Metode Setoran

Setiap pondok memiliki sistem setoran hafalan yang berbeda—harian, mingguan, atau target juz tertentu. Pastikan metode yang digunakan sesuai dengan kemampuan anak dan tetap menumbuhkan semangat, bukan tekanan. Selain itu, pondok yang memberikan pendampingan psikologis atau motivasi spiritual biasanya membantu menjaga konsistensi hafalan anak.

Baca juga: Program Unggulan Tahfidz Mengantarkan Mutqin 30 Juz

Menentukan pondok tahfidz terbaik bagi anak membutuhkan pertimbangan matang. Mulai dari kurikulum, kualitas ustadz, lingkungan, hingga program penunjang lainnya. Semua itu bertujuan agar anak tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga pribadi yang unggul dan berakhlak Qur’ani.

Sebagai contoh, PPTQ Al Muanawiyah Jombang menjadi salah satu lembaga yang memadukan tahfidz dengan pembinaan akhlak serta pelatihan keterampilan modern. Dengan kegiatan seperti multimedia dakwah dan pelatihan IT, santri tidak hanya menghafal, tetapi juga belajar berdakwah di era digital.
Jika Anda sedang mencari pondok tahfidz yang seimbang antara ilmu, akhlak, dan teknologi, segera daftarkan putra-putri Anda ke PPTQ Al Muanawiyah, pondok tahfidz putri terbaik di Jombang.

Amal Jariyah: Investasi Pahala yang Tak Pernah Terputus

Amal Jariyah: Investasi Pahala yang Tak Pernah Terputus

Dalam Islam, amal jariyah menjadi salah satu bentuk amal paling mulia karena pahalanya terus mengalir, bahkan setelah pelakunya meninggal dunia. Tidak seperti amal lain yang berhenti bersama usia, ibadah ini menjadi tabungan akhirat yang abadi.

Pengertian Amal Jariyah

Secara bahasa, “jariyah” berarti mengalir. Maka, amal jariyah berarti amal yang pahalanya terus mengalir tanpa henti. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)

Hadits ini menjadi dasar bahwa sedekah jariyah adalah amal yang akan terus mendatangkan pahala selama manfaatnya masih dirasakan orang lain.

Dalil tentang Keutamaannya

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menggambarkan betapa besar balasan bagi orang yang berinfak atau bersedekah dengan niat ikhlas karena Allah. Amal kecil yang dilakukan dengan niat yang benar bisa berlipat ganda pahalanya, sebagaimana satu biji yang tumbuh menjadi ratusan buah.

Baca juga: Teladan Sedekah dari Kedermawanan Asma’ binti Abu Bakar

Contoh Amal yang Pahalanya Tidak Terputus

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak contoh yang bisa dilakukan, antara lain:

  1. Membangun masjid atau mushalla – setiap orang yang shalat di dalamnya akan menambah pahala bagi orang yang membantu pembangunannya.

  2. Berwakaf untuk pendidikan – seperti wakaf berupa tanah, bangunan, atau fasilitas pesantren.

  3. Memberi mushaf Al-Qur’an – selama Al-Qur’an tersebut dibaca dan dipelajari, pahalanya terus mengalir.

  4. Menyebarkan ilmu yang bermanfaat – baik melalui tulisan, pengajaran, maupun dakwah digital.

  5. Menyumbang sumur atau sarana air bersih – manfaatnya terus dirasakan oleh banyak orang.

Semua amal di atas bernilai jariyah bila dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih, dan untuk kepentingan umat.

gambar air yang mengisi teko
Ilustrasi contoh amal jariyah berupa sumur air (sumber: freepik)

Makna di Balik Amal Jariyah

Beramal bukan hanya bentuk sedekah, tetapi wujud cinta sejati kepada Allah dan sesama manusia. Melalui ibadah ini, seseorang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meski dirinya telah tiada. Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup sejati adalah ketika seseorang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad no. 23408, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Artinya, amal jariyah adalah cerminan kepedulian sosial yang bernilai ibadah, sekaligus bukti ketulusan iman.

Ajak Beramal Melalui Wakaf Pendidikan di Al Muanawiyah

Di Pondok Pesantren Jombang Al Muanawiyah, amal jariyah diwujudkan melalui program wakaf pendidikan dan pembangunan sarana belajar santri. Dengan berwakaf, setiap donatur ikut membangun generasi penghafal Al-Qur’an, pembelajar ilmu agama, dan calon dai yang siap berdakwah di masa depan.

Pahala dari wakaf pendidikan ini akan terus mengalir selama santri belajar, menghafal, dan menyebarkan ilmu yang mereka peroleh. Mari ambil bagian dalam kebaikan abadi ini. Karena wakaf bukan sekadar memberi, tetapi menanam pahala tanpa batas waktu.

Yuk, berwakaf di Pondok Pesantren Al Muanawiyah.
Jadikan amalmu investasi abadi yang menghidupkan ilmu dan cahaya Islam di hati generasi muda. Klik laman wakaf pondok Al Muanawiyah.

Keutamaan Orang Berilmu dalam Pandangan Islam

Keutamaan Orang Berilmu dalam Pandangan Islam

Al MuanawiyahDalam Islam, keutamaan orang berilmu menempati derajat yang sangat tinggi. Ilmu bukan hanya sarana untuk memahami dunia, tetapi juga jalan menuju ridha Allah. Seseorang yang berilmu bukan sekadar tahu, melainkan mampu menuntun dirinya dan orang lain kepada kebenaran.

Ilmu sebagai Cahaya Kehidupan

Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an,

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menunjukkan perbedaan besar antara orang berilmu dan yang tidak berilmu. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun manusia agar dapat membedakan mana yang benar dan salah. Bahkan, menurut para ulama tafsir, ilmu yang dimaksud di sini bukan sekadar ilmu dunia, tetapi juga ilmu agama yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan mendorong amal saleh.

Baca juga: Asbabun Nuzul Al Zalzalah: Setiap Amal Kecil Pasti Dibalas

Hadits tentang Keutamaan Orang Berilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”
(HR. Abu Dawud no. 3641, Tirmidzi no. 2682, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Hadits ini menggambarkan betapa tingginya derajat ulama dan penuntut ilmu dibandingkan dengan sekadar ahli ibadah. Seperti halnya bulan yang memberi cahaya di tengah kegelapan, orang berilmu menerangi umat dengan petunjuk dan hikmah. Ilmu menjadikan ibadah seseorang lebih bermakna, karena dilakukan dengan pemahaman yang benar.

gambar beberapa orang pria Arab sedang duduk melingkar mengaji Al Quran
Ilustrasi para penuntut ilmu (sumber: freepik)

Selain itu, dalam hadits lain disebutkan:

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim no. 2699)

Hadits ini menjadi motivasi bagi setiap muslim agar terus menuntut ilmu sepanjang hayat. Belajar bukan hanya untuk dunia, tetapi menjadi ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Baca juga: 5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Ilmu yang Diamalkan

Namun, Islam tidak memandang tinggi orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Rasulullah ﷺ pernah berdoa:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
(HR. Muslim no. 2722)

Doa ini menunjukkan bahwa ilmu sejati harus membuahkan amal. Orang berilmu yang berakhlak baik menjadi teladan dan sumber manfaat bagi lingkungannya. Karena itu, ilmu dan amal harus berjalan seiring, seperti pohon yang rindang dan berbuah lebat.

Ilmu Sebagai Amal Jariyah

Salah satu keutamaan terbesar ilmu adalah pahalanya yang terus mengalir meski pemiliknya telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)

Dari hadits ini, jelas bahwa ilmu yang bermanfaat menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Orang yang mengajarkan kebaikan, menulis ilmu, atau membimbing orang lain kepada kebenaran akan terus mendapatkan pahala selama ilmunya diamalkan.

Kesimpulannya, keutamaan orang berilmu terletak pada kemampuannya menebar manfaat dan menjaga kemurnian ajaran Islam. Ilmu bukan hanya alat berpikir, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap muslim hendaknya meneladani semangat para ulama dan santri terdahulu, menjadikan ilmu sebagai jalan dakwah dan kebaikan. Dengan ilmu yang benar dan diamalkan, seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.