Keutamaan Hari Jumat Bagi Umat Muslim

Keutamaan Hari Jumat Bagi Umat Muslim

Hari Jumat adalah salah satu anugerah besar bagi umat Islam. Ia tidak hanya disebut sebagai Sayyidul Ayyam (penghulu hari-hari), tetapi juga penuh dengan keutamaan spiritual yang sayang jika dilewatkan. Sejak zaman Rasulullah ﷺ, kaum Muslimin diajarkan untuk memuliakan hari Jumat sebagai hari ibadah, doa, dan amalan istimewa.

Berikut adalah beberapa keutamaan hari Jumat yang perlu kita renungi bersama:

1. Hari Terbaik Sepanjang Pekan

Pertama-tama, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jumat…”

(HR. Muslim)

Hari Jumat memiliki nilai ibadah yang lebih tinggi dibanding hari-hari lainnya. Pada hari ini, Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan diturunkan ke bumi. Maka, hari Jumat menjadi momentum besar dalam sejarah manusia. Banyak ulama menyebutkan bahwa hari ini adalah waktu terbaik untuk memperbarui komitmen keimanan dan meningkatkan amal saleh.

gambar jamaah shalat jumat ilustrasi keutamaan hari jumat
Keutamaan hari Jumat bagi Muslim

2. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Selanjutnya, pada hari Jumat terdapat satu waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa doa pada waktu ini pasti dikabulkan oleh Allah, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Mayoritas ulama menyebut waktu tersebut adalah antara Ashar hingga Maghrib. Oleh karena itu, sebaiknya kita manfaatkan waktu tersebut dengan memperbanyak doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Ini menjadi peluang emas bagi siapa pun yang sedang memiliki hajat, ingin memohon pertolongan, atau berharap ampunan dari Allah.

3. Pahala Amal Dilipatgandakan

Selain itu, hari Jumat juga memiliki keutamaan lipat ganda pahala amal. Sedekah di hari Jumat disebut lebih utama dibanding hari lainnya. Membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, dan menghadiri khutbah Jumat termasuk amalan yang sangat dianjurkan.

Bahkan menurut Imam Ibn Qayyim dalam Zadul Ma’ad, hari Jumat bagi sedekah bagaikan bulan Ramadhan bagi hari-hari lainnya. Maka, manfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya untuk menanam pahala jangka panjang.

Baca juga: Orasi Ilmiah Al-Qur’an DR. Hazin dalam Wisuda II Al Muanawiyah

4. Hari yang Menghapus Dosa Mingguan

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Jumat ke Jumat adalah penghapus dosa di antara keduanya, jika dijauhi dosa-dosa besar.”
(HR. Muslim)

Jelaslah bahwa keutamaan hari Jumat juga membawa keberkahan dalam bentuk pengampunan dosa. Artinya, seseorang yang menjaga shalat Jumat secara rutin dan melakukan kebaikan di antara dua Jumat akan mendapatkan pengampunan dari Allah untuk dosa-dosa kecilnya.

Dengan memahami berbagai keutamaan hari Jumat, kita diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu berharga ini. Jadikan hari Jumat sebagai hari refleksi diri, memperbanyak amal, serta sarana untuk mendekatkan diri pada Allah. Mulailah dari hal kecil—berdoa, bersedekah, atau membaca Al-Qur’an. Bahkan, membiasakan diri bershalawat pada hari Jumat bisa menjadi sebab terkabulnya doa dan dekatnya pertolongan Allah.

Mari sempurnakan amalan Jumat kita dengan sedekah terbaik. Wakaf pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk generasi penghafal Al-Qur’an dan calon pemimpin umat. Di hari penuh berkah ini, salurkan wakaf terbaikmu untuk mendukung pendidikan santri di pesantren tahfidz.

Buah-Buahan yang Disebut Al-Qur’an dan Manfaatnya

Buah-Buahan yang Disebut Al-Qur’an dan Manfaatnya

Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk, tetapi juga mengandung banyak isyarat tentang ciptaan Allah yang bermanfaat bagi manusia, termasuk buah-buahan. Tidak sedikit buah-buahan yang Allah sebutkan langsung dalam ayat-ayat-Nya, baik sebagai simbol kenikmatan surga maupun anjuran konsumsi yang sehat di dunia. Mengetahui buah-buahan yang disebut Al Quran dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menjaga kesehatan dan mengenal lebih dalam makna penciptaan-Nya.

buah-buahan yang disebut al quran mencakup pisang, anggur, kurma, zaitun, tin yang bermanfaat bagi kesehatan
Sebagian ilustrasi buah-buahan yang disebut Al Quran

Buah-Buahan yang Disebut Al Quran

1. Buah Tin (QS. At-Tin: 1)

Allah membuka surah At-Tin dengan sumpah: “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun…”
Buah tin kaya akan serat, antioksidan, dan mineral. Dalam ilmu kedokteran modern, buah ini dikenal membantu melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan jantung, dan menstabilkan gula darah.

2. Buah Zaitun (QS. An-Nur: 35)

Zaitun disebut sebagai pohon yang diberkahi. Minyak zaitun dikenal memiliki kandungan lemak tak jenuh yang baik untuk kesehatan jantung, anti-inflamasi, dan menjaga daya tahan tubuh.

3. Anggur (QS. Yasin: 34, QS. An-Nahl: 11)

Anggur adalah buah surga yang juga dikonsumsi di dunia. Mengandung vitamin C, K, dan antioksidan, anggur membantu menjaga sistem imun, kesehatan otak, dan jantung.

4. Kurma (QS. Maryam: 25, QS. Al-An’am: 99)

Kurma sangat dianjurkan dalam Islam, terutama saat berbuka puasa. Kandungan glukosa dan seratnya sangat bermanfaat sebagai sumber energi instan, mencegah sembelit, dan menjaga stamina.

5. Delima (QS. Ar-Rahman: 68, QS. Al-An’am: 99)

Buah delima disebut sebagai buah surga. Dalam dunia kesehatan, delima dikenal menyehatkan jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengandung antioksidan tinggi yang mencegah kerusakan sel.

6. Pisang (QS. Al-Waqi’ah: 29 – “thalhin mandūd”)

Menurut sebagian ulama tafsir, thalḥan diartikan sebagai pisang. Pisang kaya akan potasium dan serat yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan dan sistem saraf.

Dengan mengetahui buah-buahan yang disebut Al Quran, kita dapat lebih mencintai ciptaan Allah dan menjaga kesehatan tubuh yang diamanahkan kepada kita. Mengajarkan anak-anak tentang buah-buahan ini juga bisa menjadi cara menyenangkan untuk memperkenalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus dapat meningkatkan kesehatan tubuh jika mengonsumsinya dalam jumlah yang cukup dan rutin.

Mari jadikan pola makan sehat sebagai bagian dari ibadah, karena menjaga tubuh termasuk dalam bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

Manfaat Buah Zaitun, Buah yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Manfaat Buah Zaitun, Buah yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Buah zaitun bukan sekadar tanaman biasa. Dalam Al-Qur’an, manfaat buah zaitun disebutkan secara eksplisit sebagai buah yang diberkahi. Salah satunya terdapat dalam Surah An-Nur ayat 35:

“…yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak di sebelah barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.”
(QS. An-Nur: 35)

Ayat ini menggambarkan zaitun sebagai pohon penuh cahaya dan keberkahan. Bahkan, dalam Surat At-Tin, Allah bersumpah dengan zaitun:

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun…” (QS. At-Tin: 1)
Ini menandakan kedudukan khusus buah zaitun di sisi Allah.

Manfaat Buah Zaitun Bagi Kesehatan

Sebagaimana buah-buahan lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an, berbagai penelitian medis modern juga membuktikan bahwa buah zaitun memiliki ragam manfaat.  Tidak terbatas pada nilai spiritual, melainkan juga berdampak positif bagi kesehatan fisik manusia. Berikut beberapa penjelasan ilmiahnya:

gambar buah zaitun di atsa sendok dengan minyak zaitun ilustrasi manfaat buah zaitun
Manfaat buah zaitun yang baik untuk kesehatan
  • Sumber Lemak Sehat
    Buah zaitun dan minyak zaitun mengandung asam lemak tak jenuh tunggal, terutama oleic acid, yang bermanfaat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL), sehingga baik untuk kesehatan jantung.

  • Kaya Antioksidan
    Zaitun kaya akan antioksidan seperti oleuropein dan hydroxytyrosol yang membantu melawan radikal bebas. Antioksidan ini berperan penting dalam mencegah penuaan dini, menjaga elastisitas kulit, dan mengurangi risiko penyakit kronis seperti kanker.

  • Anti-inflamasi Alami
    Kandungan polifenol dalam zaitun berfungsi sebagai anti-peradangan. Beberapa studi menunjukkan konsumsi minyak zaitun secara teratur dapat membantu mengurangi nyeri sendi dan peradangan, bahkan efektif untuk penderita arthritis ringan.

  • Menstabilkan Gula Darah
    Manfaat buah zaitun juga mencakup kestabilan gula darah. Asupan lemak sehat dari zaitun membantu memperlambat penyerapan glukosa, sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes tipe 2.

  • Meningkatkan Fungsi Otak
    Konsumsi rutin zaitun terbukti membantu menjaga fungsi kognitif. Antioksidan dalam buah ini mampu melindungi sel otak dari kerusakan oksidatif, yang sangat penting dalam mencegah penurunan daya ingat.

  • Menyehatkan Sistem Pencernaan
    Serat alami dalam buah zaitun membantu melancarkan buang air besar dan meningkatkan kesehatan usus. Selain itu, minyak zaitun juga bisa merangsang produksi empedu untuk membantu pencernaan lemak.

 

Mengkonsumsi buah zaitun tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mengingatkan kita akan kebesaran Allah yang telah menjadikannya sebagai bagian dari ciptaan-Nya yang diberkahi. Dalam membesarkan anak dan membangun keluarga Islami, pola makan yang sehat seperti buah zaitun bisa menjadi bagian dari kebiasaan yang bernilai ibadah.

Karena itu, mari jadikan manfaat buah zaitun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga amalan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah yang luar biasa ini.

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu di Era Digital

Adab mencerminkan kesiapan hati dan jiwa dalam menerima ilmu. Apalagi di era digital seperti sekarang, ilmu bisa didapat dengan cepat. Namun, satu hal sering dilupakan: pentingnya adab sebelum ilmu. Padahal, para ulama terdahulu sangat menekankan bahwa akhlak harus didahulukan sebelum ilmu masuk ke hati. Seorang murid yang mengamalkan adab kepada guru, menjaga sopan santun di majelis ilmu, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar, akan lebih mudah menerima ilmu yang masuk. Sebaliknya, ilmu yang datang kepada orang yang sombong dan tidak beradab seringkali tidak menetap dan tidak membuahkan hikmah.

Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar Madinah, menjadi contoh terbaik. Ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah, pelajarilah adabnya sebelum kau ambil ilmunya.” Nasihat itu bukan sekadar petuah. Ia menjadi fondasi kesuksesan Imam Malik dalam keilmuannya.

Seorang ulama zuhud yang lain, Abdullah bin Mubarak, pernah berkata,

“Kami mempelajari adab selama 30 tahun dan ilmu selama 20 tahun.”

Itu menunjukkan pentingnya adab sebelum ilmu sebagai bekal utama memperoleh ilmu yang bermanfaat. Contoh lain datang dari Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau tidak hanya belajar dari Imam Syafi’i, tetapi juga sangat menghormatinya. Ia lebih memilih mendengar dan menyimak adab gurunya dibanding langsung bertanya atau mengoreksi.

gambar siswa sekolah membungkuk memberi penghormatan sebagai ilustrasi dari adab sebelum ilmu
Menghormati guru adalah salah satu bentuk pentingnya adab sebelum ilmu

Pentingya Adab di Era Digital

Kini, kita bisa belajar dari video ceramah, e-book, dan kelas daring. Namun, adab tetap penting. Misalnya, tidak memotong penjelasan guru saat Zoom. Atau, tidak asal menyebar ilmu tanpa memahami isinya. Karena itu, tetap jaga sikap hormat, meski hanya lewat layar.

Adab juga tampak dari kesiapan belajar. Datang tepat waktu, mencatat dengan serius, dan tidak melakukan kegiatan lain saat guru berbicara. Hal-hal kecil ini mencerminkan penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Singkatnya, pentingnya adab sebelum ilmu tidak hanya berlaku di pesantren, tetapi juga di dunia digital. Ilmu tanpa adab akan sulit berbekas dan membawa manfaat jangka panjang.

Bagi yang ingin belajar adab dari kitab klasik seperti Ta’lim Muta’allim dan yang lainnya, banyak pondok pesantren yang mengajarkannya secara sistematis. Salah satunya Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah Jombang , untuk membentuk generasi berilmu dan berakhlak mulia.

4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

4 Kitab Adab Penuntut Ilmu yang Bisa Dipelajari

Menuntut ilmu tidak hanya soal kecerdasan atau banyaknya pelajaran yang dikuasai.  Adab adalah fondasi utama sebelum ilmu itu sendiri. Banyak ulama besar yang menekankan bahwa keberkahan ilmu terletak pada sikap dan akhlak seorang murid terhadap gurunya, sesama penuntut ilmu, serta terhadap ilmu itu sendiri. Untuk itu, mempelajari kitab adab penuntut ilmu adalah langkah penting bagi siapa pun yang ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan penuh berkah. Berikut adalah rekomendasi kitab adab penuntut ilmu, beberapa di anataranya sudah familiar sebagai bahan ajar di pondok pesantren.

Seorang anak sedang belajar mengaji kepada ustadznya, menggambarkan pentingnya kitab adab penuntut ilmu sebagai pedoman bagi santri.
Ilustrasi adab belajar untuk rekomendasi kitab adab penuntut ilmu

 

1. Ta’limul Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji

Kitab ini paling populer dalam dunia pesantren. Isinya membahas adab menuntut ilmu, bagaimana memilih guru, manajemen waktu belajar, hingga pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu. Banyak pondok pesantren menjadikan kitab ini sebagai bacaan wajib bagi santri baru.

2. Hilyah Thalibil ‘Ilm karya Syaikh Bakr Abu Zaid

Kitab ini lebih modern dan cocok bagi generasi muda yang ingin menyeimbangkan adab klasik dan tantangan zaman sekarang. Penjelasannya runtut, disertai dalil dari Al-Qur’an dan hadits.

3. Tadzkirat As-Sami’ wal Mutakallim karya Ibnu Jama’ah

Kitab ini lebih luas pembahasannya. Tidak hanya adab murid, tetapi juga adab guru dalam mengajar. Sangat cocok bagi para pengajar dan calon pendidik.

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Kitab Kuning di Pondok Pesantren

4. Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Salah satu warisan ulama Nusantara yang sangat berharga, yaitu KH. KH Hasyim Asy’ari. Kitab ini menanamkan pentingnya menghormati guru dan menjaga hati agar ilmu yang dipelajari benar-benar membawa manfaat dunia-akhirat.

Mempelajari kitab adab penuntut ilmu tak hanya memperkuat karakter, tetapi juga melatih kedisiplinan dan ketundukan seorang murid pada proses belajar. Di berbagai pondok pesantren salafiyah, seperti Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah, kitab-kitab kuning diajarkan secara mendalam oleh asatidz yang berpengalaman.

Jika Anda mencari tempat pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak, maka pesantren dengan program kitab kuning bisa menjadi pilihan terbaik untuk masa depan anak Anda.

Manfaat Buah Tin dan Inspirasi Cerita Anak dari Al Qur’an

Manfaat Buah Tin dan Inspirasi Cerita Anak dari Al Qur’an

Buah tin bukan hanya dikenal karena rasanya yang manis dan lezat, tapi juga karena kedudukannya yang istimewa dalam Al-Qur’an. Allah menyebutkan buah ini secara khusus dalam ayat pembuka surat At-Tin. Penyebutan ini menandakan manfaat buah tin memiliki keutamaan dan nilai yang sangat tinggi.

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.”
(QS. At-Tin: 1)

 Dalam banyak tafsir, para ulama menjelaskan bahwa buah tin memiliki manfaat baik secara spiritual maupun kesehatan jasmani. Maka tidak heran, jika umat Islam dianjurkan untuk memperhatikan kandungan makanan yang disebut dalam Al-Qur’an.

Manfaat Buah Tin Bagi Kesehatan

Buah tin mengandung antioksidan tinggi, seperti polifenol, yang membantu melawan radikal bebas penyebab penuaan dan berbagai penyakit kronis. Kandungan seratnya juga sangat baik untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan menurunkan risiko kolesterol tinggi.

manfaat buah tin untuk kesehatan dan inspirasi cerita anak dari Al-Qur'an tentang menjaga kesehatan.
Manfaat buah tin dan inspirasi cerita Al Qur’an untuk anak

1. Menstabilkan Tekanan Darah

Kandungan kalium dalam buah tin sangat baik untuk menjaga tekanan darah tetap stabil. Nutrisi ini juga membantu memperkuat fungsi jantung dan mengurangi risiko hipertensi sejak usia muda.

2. Mengandung Kalsium dan Magnesium

Selain bermanfaat untuk organ tubuh bagian dalam, buah tin juga mengandung mineral seperti kalsium dan magnesium yang membantu memperkuat tulang dan mencegah pengeroposan. Hal ini penting bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan maupun orang dewasa untuk mencegah osteoporosis.

3. Meningkatkan Kesehatan Kulit dan Imun

Vitamin A, B, dan C dalam buah tin berfungsi memperbaiki sel-sel kulit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Rutin mengonsumsi buah tin dapat menjadikan kulit lebih cerah alami dan membantu tubuh melawan infeksi ringan.

Baca juga: Bahaya Tidur Pagi Menurut Hadits dan Sains

Buah Tin Sebagai Inspirasi Pendidikan Anak

Lebih dari sekadar makanan sehat, manfaat buah tin juga bisa menjadi inspirasi dalam mendidik anak. Ketika Allah menyebut buah tin di dalam Al-Qur’an, tentu bukan tanpa hikmah. Ini bisa menjadi pintu masuk yang lembut untuk mengenalkan Al-Qur’an kepada anak-anak. Anda bisa memulainya dengan membacakan surat At-Tin sambil memperlihatkan bentuk buahnya secara langsung.

Orangtua dapat memanfaatkan momen makan buah tin sebagai waktu bercerita tentang kandungan gizi, kisah para nabi, dan bagaimana Al-Qur’an menyebutkan banyak hal yang menakjubkan. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa isi Al-Qur’an itu dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Secara tidak langsung, hal ini menumbuhkan cinta terhadap Al-Qur’an, serta mendorong mereka untuk ingin mempelajarinya lebih dalam.

Selain itu, memperkenalkan manfaat buah tin kepada anak juga mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan secara islami. Dengan pendekatan yang menyenangkan, pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an bisa dimulai dari rumah dan sejak dini.

Buah tin bukan hanya sekadar buah yang disebut dalam kitab suci. Ia membawa pesan yang dalam, baik bagi tubuh maupun jiwa. Manfaat buah tin mencakup aspek kesehatan jasmani hingga menjadi pintu bagi pendidikan ruhani anak-anak kita.

Hikmah Surat At Tin: Semangat Beramal Shalih di Usia Muda

Hikmah Surat At Tin: Semangat Beramal Shalih di Usia Muda

Surat At-Tin adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur’an yang sering kita dengar dalam shalat. Meski hanya terdiri dari delapan ayat, kandungan maknanya sangat dalam dan relevan dengan kehidupan, terutama bagi para pemuda dan remaja yang sedang berada di masa emasnya. Salah satu hikmah surat At-Tin adalah dorongan untuk memanfaatkan masa muda untuk memperbanyak amal shalih dan tidak menunda-nunda kebaikan.

 

Hikmah Surat At Tin dan Artinya

Allah berfirman:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan sempurna, memiliki akal, jiwa, dan potensi luar biasa. Masa muda adalah masa terbaik dalam hidup seseorang. Fisik masih kuat, semangat masih tinggi, dan beban tanggung jawab belum terlalu banyak. Maka sayang sekali jika masa ini hanya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, inilah saatnya untuk memperbanyak amal baik dan menanam bekal kehidupan akhirat.

Baca juga: Keteladanan Cinta Mu’adz bin Jabal Kepada Al-Qur’an

Namun Allah juga memperingatkan:

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” (QS. At-Tin: 5)

Ini adalah ancaman bagi mereka yang menyia-nyiakan potensi dan waktunya. Tidak semua manusia mampu menjaga fitrahnya. Ketika seseorang memilih untuk menjauh dari iman dan amal shalih, ia akan kehilangan kemuliaannya sebagai manusia yang sebaik-baik ciptaan.

Tapi Allah memberikan harapan:

“Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka bagi mereka pahala yang tidak putus-putus.” (QS. At-Tin: 6)

Ayat ini menjadi kunci utama hikmah surat At-Tin, yaitu bahwa iman dan amal saleh adalah penyelamat, dan harus dimulai sejak usia muda. Anak-anak muda harus diberi semangat untuk beramal, agar tidak menyesal di masa tua.

Seorang pria sedang memberikan hadiah kepada temannya, keduanya tersenyum bahagia, menggambarkan semangat beramal shalih di usia muda sesuai pesan Surat At-Tin.
Hikmah surat At Tin untuk motivasi beramal shalih

 

Motivasi Beramal Shalih di Usia Muda

Melalui hikmah surat At-Tin, kita belajar bahwa masa muda bukan untuk bermalas-malasan, melainkan waktu terbaik untuk memperbanyak hafalan Al-Qur’an, membantu orangtua, berbakti, dan menanam kebaikan sebanyak mungkin. Maka jangan tunda amalmu. Jadilah anak muda yang bersinar karena kebaikannya. Perbanyaklah waktu untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, dan tidak lupa senantiasa melantukan doa sebelum belajar agar ilmu bermanfaat. Karena salah satu tanda pemuda sholih yang pantas menjadi pemimpin adalah yang hafalan Al-Qur’annya paling banyak dan akhlaknya yang mulia.

Jangan lewatkan masa emasmu tanpa Al-Qur’an. Bergabunglah bersama ribuan pemuda lainnya di pondok tahfidz yang tidak hanya menguatkan hafalan, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan jiwa kepemimpinan. Temukan lingkungan terbaik untuk bertumbuh bersama Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Muanawiyah Jombang. Daftarkan dirimu sekarang dan jadilah bagian dari generasi pemimpin Qur’ani masa depan.

Manfaat Shalat Dhuha yang Sayang Jika Dilewatkan

Manfaat Shalat Dhuha yang Sayang Jika Dilewatkan

Di tengah kesibukan pagi hari, tak sedikit orang yang melupakan satu amalan ringan namun penuh keberkahan: shalat dhuha. Padahal, manfaat shalat dhuha sangat besar, bukan hanya dari sisi spiritual, tapi juga dari segi psikologis dan sosial.

Shalat dhuha merupakan ibadah sunnah yang dilakukan di waktu dhuha, yaitu mulai sekitar 20 menit setelah matahari terbit hingga menjelang waktu zuhur. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk rutin menunaikannya, karena keutamaan yang terkandung di dalamnya sangat luar biasa.

Baca juga: Sejarah Shalat: Perjalanan Agung yang Penuh Hikmah

Manfaat Shalat Dhuha Membuka Pintu Rezeki

Salah satu manfaat yang paling dikenal adalah sebagai pembuka rezeki. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat rakaat di awal siang (dhuha), niscaya Aku akan mencukupi kebutuhanmu hingga akhir hari.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Melalui shalat dhuha, seorang hamba menunjukkan tawakal dan keyakinannya bahwa rezeki sejati datang dari Allah, bukan hanya dari usaha semata.

manfaat shalat dhuha menurut hadits nabi yang digambarkan dengan laki laki bersujud di masjid dengan sorotan sinar cahaya sebagai tanda waktu dhuha
Manfaat shalat dhuha menurut hadits nabi

 

Mengganti Sedekah 360 Sendi

Setiap manusia memiliki 360 sendi yang harus disyukuri dengan bentuk kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap sendi tubuh manusia wajib disedekahi setiap hari. Dua rakaat shalat dhuha mencukupi semuanya.”
(HR. Muslim)

Dengan kata lain, shalat dhuha adalah bentuk sedekah spiritual yang menggantikan ratusan amal kebaikan fisik.

Mendatangkan Ketenangan Jiwa

Manfaat shalat dhuha tidak hanya tampak dalam urusan duniawi, tetapi juga berdampak besar bagi mental health. Menunaikan shalat dhuha di pagi hari—ketika udara masih segar dan suasana relatif tenang—membantu menenangkan pikiran, menjernihkan fokus, serta mengurangi stres. Banyak yang merasakan, setelah shalat dhuha, hati terasa lebih lapang dan siap menghadapi rutinitas harian.

Dicintai dan Dicontohkan oleh Nabi ﷺ

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata:

“Rasulullah biasa mengerjakan shalat dhuha empat rakaat dan menambah sesuai yang Allah kehendaki.”
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa shalat dhuha termasuk amalan yang dijaga Nabi, dan menjadi ciri khas orang-orang shalih. Dengan menirunya, kita ikut dalam barisan orang-orang yang dicintai Allah.

Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit untuk dua rakaat. Namun manfaat shalat dhuha sangat besar: menenangkan jiwa, mencukupi kebutuhan hidup, mengganti ratusan sedekah, dan menjadi jalan mendekatkan diri pada Allah. Mulailah dari sekarang, walau hanya dua rakaat setiap hari. Siapa tahu dari shalat dhuha yang kita jaga, Allah membukakan rezeki, kesehatan, dan jalan kemudahan dalam hidup kita.

Tanda Ilmu yang Bermanfaat Bagi Kehidupan Sehari-Hari

Tanda Ilmu yang Bermanfaat Bagi Kehidupan Sehari-Hari

Ilmu yang sejati bukan hanya tumpukan hafalan atau gelar akademik. Dalam pandangan para ulama, tanda ilmu yang bermanfaat adalah ketika ilmu tersebut berdampak nyata pada perilaku dan hati seseorang. Ia menjadi penerang, bukan sekadar pengetahuan yang tak membuahkan amal.

1. Membawa Ketundukan dan Rasa Takut kepada Allah

Ilmu yang bermanfaat membuat pemiliknya semakin rendah hati dan semakin takut kepada Allah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir QS. Fathir ayat 28

“Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308).

Jika semakin banyak tahu, tapi semakin jauh dari ketaatan, maka ilmu itu belum membawa manfaat.

Baca juga: Motivasi Penghafal Al-Qur’an: Hafal 18 Juz di Usia 14 Tahun

2. Mendorong Pemiliknya untuk Mengamalkan Ilmu

Ilmu yang baik akan mendorong seseorang untuk mengamalkannya, bukan hanya menyimpannya dalam kepala. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Ini menunjukkan bahwa salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah ketika ia memberi manfaat juga bagi orang lain.

3. Membuat Hati Lebih Sabar dan Tidak Suka Pujian

Orang yang ilmunya benar akan semakin sabar, tidak mudah emosi, dan tidak mencari popularitas. Ia memahami bahwa ilmu adalah amanah yang harus disampaikan dengan ikhlas, bukan alat untuk meninggikan diri.

tanda ilmu yang bermanfaat berkah bagi kehidupan sehari hari bukan hanya gelar akademik
Tanda ilmu yang bermanfaat dan berkah bagi kehidupan sehari-hari

4. Menjauhkan Diri dari Perbuatan Sia-Sia

Ilmu yang bermanfaat akan menjaga pemiliknya dari kesia-siaan. Ia tahu mana yang layak dilakukan dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Waktunya terisi dengan hal-hal bermanfaat.

5. Menambah Cinta terhadap Kebaikan dan Kebenaran

Seseorang yang memiliki ilmu bermanfaat akan cenderung mencintai kebenaran, keadilan, dan nasihat. Ia terbuka terhadap perbaikan dan tidak membenci orang yang mengingatkan. Hatinya tidak keras, tapi lembut dan mudah menerima nasihat. Penting bagi penuntut ilmu agar senantiasa melantunkan doa dijauhkan dari syirik, karena ujian paling kecil dari ilmu salah satunya adalah kesombongan.

Tanda ilmu yang bermanfaat bisa dikenali dari efeknya dalam kehidupan: lebih taat kepada Allah, lebih baik akhlaknya, dan lebih besar kontribusinya untuk sekitar. Sehingga kita dianjurkan untuk melantunkan doa berikut, terutama selepas Shalat Subuh, agar Allah anugerahkan ilmu yang bermanfaat dan menjadikannya sebagai cahaya sepanjang hidup.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah … aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.) (muslim.or.id)

Akhlak Terhadap Guru dalam Kitab Ta’lim Muta’allim

Akhlak Terhadap Guru dalam Kitab Ta’lim Muta’allim

Dalam Islam, akhlak terhadap guru bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga bagian penting dari keberhasilan menuntut ilmu. Adab kepada guru yang baik diyakini menjadi pintu datangnya ilmu yang bermanfaat dan keberkahan dalam proses belajar. Tak heran, para ulama terdahulu menaruh perhatian besar terhadap adab ini, bahkan sebelum membahas isi pelajaran.

Adab-Adab Penting dalam Menjaga Akhlak Terhadap Guru

Pertama, seorang murid dianjurkan tidak duduk di tempat guru atau berjalan di depannya tanpa izin. Meskipun terlihat sepele, namun ini adalah bentuk penghormatan lahiriah yang mencerminkan kedalaman akhlak batin. Duduk di tempat guru atau menyalipnya tanpa sopan santun bisa mencerminkan kurangnya rasa hormat.

Selanjutnya, tidak menyela atau mendebat guru saat sedang mengajar adalah prinsip penting lainnya. Interupsi atau menyanggah guru dengan cara yang tidak sopan dapat menghalangi keberkahan ilmu. Bahkan, banyak kisah ulama besar yang menahan pertanyaan demi menjaga adab saat gurunya sedang berbicara.

akhlak adab terhadap guru ustadz yang mengajar ilmu kepada murid
akhlak terhadap guru dalam kitab ta’lim muta’allim

Tak kalah penting, murid sebaiknya datang ke majelis ilmu sebelum guru hadir. Dengan datang lebih awal, murid menunjukkan kesungguhan dan kesiapan dalam menuntut ilmu. Ini juga melatih kedisiplinan dan menumbuhkan rasa hormat terhadap waktu guru.

Selain itu, Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menasihati agar tidak belajar dari banyak guru sekaligus di awal perjalanan belajar. Hal ini bertujuan agar fondasi ilmu tidak tercampur dan murid tidak bingung dengan banyak perbedaan pendapat.

Terakhir, tawadhu’ dan menyadari kedudukan guru adalah puncak dari akhlak yang baik. Guru adalah pewaris ilmu para nabi. Oleh karena itu, seorang murid harus bersikap rendah hati dan memuliakan mereka dalam tutur kata maupun perilaku.

Adab sebagai Jalan Menuju Ilmu yang Bermanfaat

Menjaga akhlak terhadap guru bukan hanya tradisi, melainkan juga warisan para ulama yang terbukti mendatangkan keberhasilan. Jika ingin ilmu yang kita pelajari membawa perubahan dan keberkahan, maka akhlak kepada guru harus menjadi prioritas utama. Karena sesungguhnya, keberhasilan dalam belajar bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga keikhlasan dan adab yang tinggi.

Dengan mempraktikkan adab-adab ini, semoga kita menjadi murid yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan diberi kemudahan dalam memahami ilmu.