Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial

Hadits Arbain Nawawi Ke-4 Sebagai Dalil Hubungan Sosial

Islam dibangun di atas kasih sayang dan kepedulian. Banyak ajarannya menekankan pentingnya memperhatikan sesama. Ketika hubungan antar manusia memburuk, rasa saling percaya ikut hilang. Akibatnya, muncul konflik, pertengkaran, dan kebencian. Di sinilah pentingnya kembali memahami nilai-nilai dasar Islam yang mendorong rasa cinta dan empati. Salah satu ajaran yang sangat kuat tentang hal ini terdapat dalam hadits arbain nawawi ke-4. Hadits ini menegaskan bahwa iman seseorang tidak sempurna tanpa cinta kepada sesama. Pesan tersebut sangat relevan, terutama di zaman ketika sikap individualis semakin meningkat. Karena itu, mempelajari dan mengamalkan hadits ini menjadi langkah penting untuk membangun masyarakat muslim yang penuh kasih dan harmoni.

Lafadz Hadits dan Penjelasan Maknanya

Berikut lafadz lengkap haditsnya:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Artinya: Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Makna hadits ini sangat luas. Hadits ini menegaskan bahwa iman tidak hanya sekadar keyakinan dalam hati. Iman harus diwujudkan dalam bentuk kasih sayang. Seorang muslim tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia harus memikirkan kebaikan untuk orang lain, sama seperti ia menginginkan kebaikan untuk dirinya. Hadits ini juga mengajarkan empati, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Ilustrasi dua wanita muslimah tersenyum, salah satunya membantu membenahi hijab temannya sebagai simbol menutupi aib sahabat dalam adab berteman menurut Islam
Ilustrasi adab hubungan sosial yang baik dari hadits arbain nawawi ke-4 (foto: freepik)

Nilai yang terkandung dalam hadits arbain nawawi ke-4 sangat penting bagi kehidupan sosial. Mengapa? Karena masyarakat yang peduli akan lebih mudah bersatu. Sebaliknya, masyarakat yang egois mudah terpecah. Hadits ini mengingatkan bahwa cinta sesama adalah bagian dari iman. Tanpa empati, seorang muslim belum mencapai kesempurnaan iman.

Baca juga: Hadits Arbain ke-2: Makna Islam, Iman, dan Ihsan

Manfaat Ajaran Hadits dalam Kehidupan Nyata

Jika dipahami dengan benar, hadits ini dapat mengubah banyak aspek kehidupan.
Berikut beberapa manfaat pentingnya:

1. Memperkuat hubungan sosial

Hadits ini mendorong kita untuk peduli dan membantu tanpa pamrih. Sikap ini menciptakan hubungan yang lebih harmonis.

2. Menghilangkan sifat egois

Sifat egois hanya mendatangkan perpecahan. Dengan mengamalkan hadits ini, seseorang terdorong untuk memikirkan orang lain sebelum mengambil keputusan.

Baca juga: Adab Berteman dalam Kitab Washiyatul Musthofa

3. Membangun lingkungan penuh kebaikan

Ketika seseorang mencintai saudaranya, ia akan menjaga lisan, tindakan, dan sikap agar tidak menyakiti orang lain.

4. Memperbaiki akhlak pribadi

Hadits ini menjadi pengingat untuk terus melatih diri agar menjadi muslim yang lembut dan ramah.

Ajaran dalam hadits arbain nawawi ke-4 juga sangat berguna dalam berbagai situasi.
Misalnya:

  • ketika terjadi perselisihan, hadits ini mengajak kita mencari solusi yang paling menguntungkan kedua pihak,

  • ketika melihat orang kesusahan, hadits ini mendorong kita untuk segera menolong,

  • ketika sukses, hadits ini mengingatkan agar berbagi kebahagiaan.

Dengan demikian, hadits ini bukan hanya teori. Ajarannya bisa diterapkan dalam dunia kerja, sekolah, keluarga, hingga media sosial.

Memahami hadits saja tidak cukup. Kini saatnya mengamalkannya. Mulailah dari perbuatan kecil: memberi senyum, menolong teman, menjaga adab berbicara, dan mengurangi sikap egois. Tindakan sederhana itu dapat memperkuat iman dan menyebarkan kebaikan. Pelajari hadits arbain nawawi ke-4 lebih dalam. Ajarkan kepada keluarga dan teman. Semakin banyak yang mengamalkan, semakin kuat persaudaraan umat Islam. Mulailah hari ini, karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.

Pengertian Zakat dan Jenisnya sebagai Panduan Praktis Muslim

Pengertian Zakat dan Jenisnya sebagai Panduan Praktis Muslim

Al MuanawiyahSetiap muslim ingin hidup berkah. Namun, banyak yang masih bingung ketika membahas zakat. Bahkan, sebagian belum memahami pengertian zakat dan jenisnya secara benar. Padahal, zakat bukan sekadar kewajiban tahunan. Zakat adalah pembersih jiwa dan penjaga keberkahan. Karena itu, ketidaktahuan tentang zakat dapat menimbulkan kerugian. Misalnya, seseorang mengeluarkan zakat tanpa syarat yang tepat. Akibatnya, amalan besar itu bisa tidak sah. Kondisi seperti ini sering terjadi di masyarakat. Maka dari itu, pengetahuan zakat harus dipahami sejak dini.

Makna Zakat dalam Kehidupan Seorang Muslim

Zakat berasal dari kata zakaa. Maknanya adalah suci, berkembang, dan baik. Secara istilah, zakat berarti mengeluarkan sebagian harta sesuai ketentuan syariat. Aturan itu menjaga keseimbangan sosial. Selain itu, zakat membersihkan hati dari sifat tamak. Intinya, zakat menghadirkan nilai spiritual dan sosial sekaligus.

Baca juga: Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal yang Perlu Diketahui

Dalam kehidupan modern, manfaat zakat semakin jelas. Misalnya, zakat membantu keluarga rentan. Selain itu, zakat mendukung stabilitas ekonomi umat. Karena itu, memahami pengertian zakat dan jenisnya menjadi kewajiban moral setiap muslim. Pengetahuan ini membuat seorang hamba lebih berhati-hati ketika mengelola harta.

Penjelasan Lengkap Tentang Jenis-Jenis Zakat

Zakat memiliki dua kelompok besar. Kedua kelompok ini berbeda dalam waktu, kadar, dan sasaran. Pengetahuan ini penting agar seseorang dapat menunaikan zakat dengan tepat.

1. Zakat Fitrah

Zakat fitrah wajib dikeluarkan setiap Ramadan. Besarannya satu sha’ makanan pokok. Dalam masyarakat Indonesia, ukuran itu setara dengan dua setengah kilogram beras. Tujuan zakat fitrah sangat mulia. Ia menyucikan jiwa seorang muslim. Selain itu, ia menyempurnakan ibadah puasa. Zakat fitrah juga membahagiakan saudara yang kekurangan saat Idulfitri. Karena alasan itulah, zakat fitrah harus ditunaikan sebelum shalat Id.

2. Zakat Mal

Zakat mal mencakup banyak jenis harta. Misalnya, emas, uang, perak, hasil pertanian, dan hasil perdagangan. Bahkan, ternak dan barang temuan juga termasuk dalam zakat mal. Masing-masing memiliki kadar dan nisab yang berbeda. Karena itu, setiap muslim harus mempelajarinya dengan teliti. Dengan demikian, zakat mal dapat dikeluarkan sesuai syarat.

pengertian zakat dan jenisnya mencakup zakat fitrah dan zakat mal
Tabel ringkasan perhitungan zakat mal

Dalam kondisi modern, ada zakat profesi. Zakat ini mengikuti prinsip zakat harta. Meski ulama berbeda pendapat, banyak muslim menunaikannya sebagai bentuk kehati-hatian. Intinya, zakat profesi membantu seseorang menjaga penghasilan dari sifat tidak berkah.

Manfaat Besar yang Sering Diabaikan

Zakat membawa banyak kebaikan. Pertama, zakat menumbuhkan rasa peduli. Kedua, zakat menguatkan hubungan sosial. Ketiga, zakat membuat harta terasa ringan. Selain itu, zakat membuka pintu kelapangan hati. Ketika seseorang menunaikan zakat, ia belajar melepas sedikit demi kebaikan besar. Nilai itu sangat berharga dalam kehidupan.

Pada kenyataannya, banyak masalah sosial dapat berkurang dengan zakat. Contohnya, kemiskinan ekstrem dan ketidakstabilan ekonomi. Karena itu, zakat bukan hanya ibadah personal. Zakat adalah kontribusi nyata untuk kemaslahatan umat. Semakin banyak orang memahami zakat, semakin kuat komunitas muslim.

Saatnya Bertindak dengan Keyakinan

Memahami pengertian zakat dan jenisnya adalah langkah awal yang sangat penting. Pengetahuan ini melindungi harta dari kesalahan. Selain itu, ia menjaga amalan agar tetap sah. Maka dari itu, jangan menunda belajar zakat. Pelajari aturan dasarnya dengan baik. Hitung harta dengan benar. Tunaikan zakat dengan penuh keikhlasan. Dengan demikian, harta akan menjadi lebih halal dan berkah. Selain itu, kehidupan akan terasa lebih tenang dan lebih dekat kepada Allah.

Pengertian Muamalah: Ruang Lingkup dan Contohnya

Pengertian Muamalah: Ruang Lingkup dan Contohnya

Pembahasan tentang pengertian muamalah selalu menarik bagi banyak muslim. Istilah ini hadir dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi. Bahkan, ia berkaitan dengan interaksi manusia yang terjadi setiap hari. Secara bahasa, muamalah berasal dari kata ‘aamala’ yang berarti saling berbuat atau saling bertindak. Secara istilah, muamalah bermakna aturan yang mengatur hubungan manusia dalam urusan dunia. Aturan itu mencakup transaksi, kerja sama, dan tata cara bermasyarakat. Intinya, muamalah membahas semua aktivitas yang melibatkan hak dan kewajiban antar individu.

Ruang Lingkup Muamalah dalam Kehidupan Sehari-hari

Ruang lingkup muamalah sangat luas. Namun, masyarakat sering melihatnya hanya sebagai transaksi jual beli. Padahal, cakupannya lebih banyak. Misalnya, muamalah mencakup sewa-menyewa, pinjam-meminjam, dan kerja sama usaha. Selain itu, ia membahas warisan, hutang, hingga akad pernikahan. Setiap interaksi yang melibatkan manfaat, harta, atau tanggung jawab termasuk dalam ranah muamalah.

Baca juga: Jenis Akad Muamalah dalam Islam dan Contohnya

Dalam kehidupan modern, ruang lingkup muamalah juga terlihat pada penggunaan jasa digital. Contohnya, seseorang membayar ongkos kirim atau membeli barang secara daring. Bahkan, kegiatan kecil seperti meminjamkan barang kepada tetangga pun masuk kategori ini. Oleh karena itu, memahami muamalah menjadi semakin penting. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui aturan dasarnya agar kegiatan harian tetap halal dan berkah.

gambar jabat tangan ilustrasi pengertian mumalah
Ilustrasi muamalah (foto: freepik)

Perbedaan Muamalah dengan Ibadah Mahdhah

Seringkali, orang mengira muamalah sama dengan ibadah mahdhah. Namun, keduanya sangat berbeda. Ibadah mahdhah meliputi ibadah yang tata caranya sudah ditetapkan secara rinci oleh syariat. Contohnya, shalat, puasa, zakat, dan haji. Aturannya tidak boleh diubah. Sementara itu, muamalah bersifat lebih fleksibel. Aturannya mengikuti prinsip umum syariat, yaitu keadilan dan kemaslahatan. Selama aktivitas itu tidak mengandung unsur haram, maka ia diperbolehkan. Inilah perbedaan paling jelas antara keduanya.

Baca juga: Qadha Shalat Karena Haid Panduan Lengkap

Memahami pengertian muamalah sangat penting. Dalam hal ini, setiap muslim harus tahu aturan dasar yang mengatur interaksi sosialnya. Pada akhirnya, pemahaman itu akan menjaga seseorang dari risiko kerugian. Selain itu, ia akan terhindar dari dosa akibat transaksi yang tidak sesuai syariat. Karena alasan itulah, pelajari hukum muamalah sejak sekarang. Dengan demikian, setiap langkah yang berkaitan dengan harta menjadi lebih aman dan halal.

Penyebab Santri Malas dalam Menghafal Al-Qur’an

Penyebab Santri Malas dalam Menghafal Al-Qur’an

Proses menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesabaran yang panjang. Namun, banyak santri mengalami rasa malas yang muncul secara tiba-tiba. Fenomena ini tentu wajar, meski perlu dipahami akar masalahnya. Penyebab santri malas sering kali berkaitan dengan kondisi psikologis dan lingkungan belajar.

Penyebab Santri Malas Saat Menghafal Al Quran

1. Kesulitan Memahami Ayat

Intinya, beberapa santri merasa kesulitan memahami ayat. Kesulitan ini membuat hafalan terasa berat. Akhirnya, muncul tekanan batin yang mengurangi semangat. Contoh kasus yang paling umum terjadi adalah mereka merasa gagal ketika menemui ayat panjang atau mirip seperti di surat Ar Rahman, dan banyak surat lainnya. Kondisi ini menurunkan motivasi secara signifikan.

2. Kebosanan karena Rutinitas

Biasanya, hafalan dilakukan dengan pola yang sama setiap hari. Rutinitas yang berulang memicu kebosanan. Kadang, santri menganggap hafalan sebagai kewajiban, bukan kebutuhan. Kebosanan juga muncul karena kurangnya variasi metode belajar. Hasilnya, santri kehilangan rasa antusias. Inilah pentingnya lembaga menghafal Al-Qur’an menyusun program unggulan tahfidz yang tidak membebani santri.

3. Homesick dan Kerinduan pada Keluarga

Home sick menjadi penyebab yang sulit dihindari. Santri yang baru mondok harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang berbeda. Perubahan ini membuat emosi tidak stabil. Kadang-kadang, kerinduan meningkat ketika mereka menghadapi kesulitan hafalan. Akibatnya, mental mereka mudah lelah.

Baca juga: Tips Memilih Pondok Tahfidz Terbaik untuk Anak

4. Kurang Dukungan Teman Sebaya

Lingkungan belajar sangat memengaruhi semangat hafalan. Santri bisa merasa minder ketika melihat teman yang lebih cepat, atau permasalahan bullying. Perasaan ini membuat mereka menarik diri. Bahkan, rasa iri bisa membuat motivasi turun. Dukungan pertemanan sangat penting agar santri tetap kuat dalam proses menghafal Al-Qur’an.

gambar dua orang santri putri saling menyiumak hafalan al quran
Manfaat teman sebaya dalam mengatasi penyebab santri malas menghafal Al Qur’an

5. Faktor Kelelahan Fisik

Aktivitas pesantren biasanya padat. Jadwal ini menuntut santri untuk menjaga stamina. Kelelahan yang berkepanjangan menurunkan fokus. Sehingga, hafalan terasa semakin berat ketika tubuh tidak bugar.

Keunggulan Program di PPTQ Al Muanawiyah

PPTQ Al Muanawiyah memahami faktor psikologis santri. Lembaga ini memakai pendekatan berbasis keilmuan psikologi dan pendidikan. Pendekatan ini membantu santri mengenali potensi diri. Santri tidak ditekan oleh target lembaga. Sebaliknya, mereka belajar karena dorongan internal. Dorongan ini membuat hafalan berjalan lebih natural dan menyenangkan. Pendampingan yang mendalam juga membuat santri merasa aman secara emosional. Dengan cara ini, hafalan dapat terselesaikan dengan hati yang tenang.

Ingin anak menghafal Al-Qur’an dengan metode yang menenangkan?
Daftarkan sekarang juga di PPTQ Al Muanawiyah, tempat di mana hafalan tumbuh dari kesadaran diri, bukan tekanan.
Klik untuk mendaftar dan mulai perjalanan Qur’ani terbaik bersama kami!

Qadha Shalat Karena Haid Panduan Lengkap

Qadha Shalat Karena Haid Panduan Lengkap

Al MuanawiyahBanyak perempuan yang belum memahami tentang qadha shalat karena haid. Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah ada kondisi tertentu yang membuat perempuan wajib mengganti shalat? Kapan qadha dilakukan? Bagaimana urutan qadha yang benar?

Agar tidak keliru, artikel ini merangkum penjelasan ulama fikih, terutama dari mazhab Syafi’i, beserta contoh kasus yang mudah dipahami.

Hukum Umum: Perempuan Tidak Qadha Shalat Selama Haid

Para ulama sepakat bahwa perempuan tidak wajib mengqadha shalat yang ditinggalkan selama masa haid. Dasarnya adalah hadis dari Aisyah ra, ketika beliau ditanya mengapa perempuan haid tidak meng-qadha shalat:

“Dari Sahabat Muadzah ia berkata: “Bahwa ada wanita bertanya kepada Sayyidah Aisyah ra: “Apakah wanita haid berkewajiban mengqadha shalat?” Sayyidah Aisyah kembali bertanya: “Apakah engkau wanita Haruriyyah? Kami telah benar-benar mengalami haid di masa Rasul saw, kemudian kami tidak mengqadha shalat dan kami juga tidak diperintahkan untuk mengqadhanya.” (HR Abu Dawud).

Karena itu, shalat yang terlewat selama darah masih keluar tidak wajib diganti. Namun, ada kondisi tertentu yang menyebabkan perempuan harus qadha. Inilah yang sering kurang dipahami.

wanita muslimah sujud shalat ilustrasi qadha shalat karena haid
Ilustrasi pelaksanaan qadha shalat karena haid (foto: freepik)

Kondisi yang Mewajibkan Qadha Shalat Karena Haid

Ada dua kondisi yang menyebabkan perempuan harus mengqadha shalat yang berhubungan dengan haid:

1. Haid Datang Setelah Masuk Waktu Shalat, Namun Belum Shalat

Menurut ulama Syafi’iyah, jika waktu shalat sudah masuk dan durasi yang cukup untuk melakukan satu rakaat sudah tersedia, namun perempuan belum shalat, lalu tiba-tiba haid, maka ia wajib mengqadha shalat tersebut saat suci.

Dasarnya adalah kaidah:
siapa yang mendapatkan satu rakaat dari waktu shalat, maka ia mendapatkan seluruh shalat.

Contoh kasus:

  • Masuk waktu Magrib jam 17.30

  • Haid jam 17.50

  • Tersedia 20 menit, cukup untuk shalat Magrib

  • Perempuan belum shalat
    → Maka Shalat Maghrib hari tersebut harus diqadha setelah suci.

2. Suci dari Haid Di Sisa Waktu yang Masih Cukup Satu Rakaat

Jika perempuan suci sebelum waktu shalat habis, dan masih cukup waktu untuk satu rakaat, maka ia wajib melaksanakan shalat waktu itu, atau jika terlambat maka wajib qadha.

Contoh:

  • Waktu Subuh sampai 04.30

  • Perempuan suci jam 04.28
    → Masih cukup untuk satu rakaat Subuh
    → Ia wajib shalat segera
    → Jika tidak sempat, Subuh wajib diqadha.

Baca juga: Tanda Suci dari Haid yang Benar agar Ibadah Tidak Keliru

Tata Cara Qadha Shalat

Berikut penjelasan yang sering ditanyakan.

1. Kapan Waktu Pelaksanaan Qadha?

Qadha dilakukan setelah perempuan benar-benar suci dan selesai mandi junub (mandi besar). Setelah itu, ia boleh langsung qadha shalat yang menjadi kewajiban. Tidak ada batas waktu khusus. Namun disunnahkan segera.

2. Bagaimana Urutan Shalat Qadha?

Ada dua aturan penting:

a. Jika qadha hanya satu shalat

→ Langsung kerjakan shalat itu saja.

b. Jika qadha dua shalat (misal Magrib dan Isya)

Ini terjadi karena dua shalat tersebut jamaknya dekat, sebagaimana panduan beberapa kitab fikih.

Contoh kasus:

  • Suci saat waktu Isya
    → Ia wajib qadha Magrib dulu, lalu Isya.

Contoh lain:

  • Suci di waktu Subuh
    → Tidak perlu qadha Isya karena waktu sudah jauh (Isya dan Subuh tidak dijamak).

3. Shalat Apa Saja yang Diqadha Berdasarkan Jam Mulai dan Berhentinya Haid?

Jika haid mulai:

  • Setelah masuk waktu shalat dan masih cukup waktu satu rakaat → shalat itu harus qadha.

  • Sebelum masuk waktu shalat → tidak ada qadha.

Jika haid selesai:

  • Masih tersisa waktu satu rakaat dari shalat itu → wajib shalat saat itu (atau qadha bila tidak sempat).

  • Tidak tersisa waktu sama sekali → tidak wajib qadha shalat itu.

Baca juga: Batasan Ibadah Ketika Haid: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh?

Contoh Kasus Qadha Shalat Karena Haid

1. Haid datang jam 12.10, sedangkan Dzuhur masuk jam 12.00
→ Masih cukup waktu satu rakaat
→ Wajib qadha Dzuhur.

2. Suci jam 15.45, Ashar habis jam 15.55
→ Masih tersisa 10 menit
→ Wajib mengerjakan Ashar. Jika tidak sempat → wajib qadha.

3. Suci setelah Magrib selesai (misal jam 18.40, waktu habis 18.25)
→ Tidak cukup satu rakaat
→ Magrib tidak wajib qadha.

Kesimpulannya, qadha shalat karena haid merupakan ketentuan fikih yang memiliki aturan jelas berdasarkan penjelasan para ulama dalam kitab-kitab klasik. Perempuan tidak diwajibkan mengqadha shalat yang ditinggalkan selama masa haid, namun diwajibkan mengganti shalat yang waktunya bertepatan dengan saat haid mulai atau saat haid selesai. Ketentuan ini lahir karena shalat tersebut dianggap telah “masuk kewajiban” sebelum haid atau setelah suci. Tata cara qadha juga fleksibel: boleh dikerjakan segera setelah suci dan tidak harus mengikuti urutan waktu shalat harian, yang penting adalah mendahulukan shalat yang menjadi tanggungan terlebih dahulu. Selain itu, jenis shalat yang diqadha ditentukan oleh waktu mulai dan berhentinya haid — apakah haid tiba setelah masuk waktu shalat atau berhenti ketika masih ada waktu shalat fardhu. Dengan memahami aturan ini, muslimah dapat menjalankan ibadah dengan tenang, teratur, dan sesuai tuntunan ulama.

Sejarah Baghdad Kota Seribu Ilmu yang Mengubah Wajah Dunia

Sejarah Baghdad Kota Seribu Ilmu yang Mengubah Wajah Dunia

Selama berabad-abad, para sejarawan menempatkan sejarah Baghdad sebagai salah satu pusat peradaban paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Kota ini bukan sekadar ibu kota Dinasti Abbasiyah, tetapi juga simbol bagaimana ilmu pengetahuan, peradaban, dan adab berkembang hingga mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika banyak ilmuwan, ulama, dan penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia datang ke Baghdad untuk belajar dan berkontribusi. Bahkan, tokoh besar seperti Imam Bukhari dan Syekh Abdul Qadir Jaelani termasuk di antara mereka yang merasakan langsung atmosfer keilmuan kota tersebut.

Artikel ini mengulas mengapa Baghdad pernah menjadi kota paling berpengaruh di dunia, serta bagaimana warisan ilmiahnya masih terasa hingga sekarang.

Pusat Peradaban Baghdad: Mengapa Bisa Mencapai Puncak Kejayaan?

Ada beberapa alasan mengapa Baghdad berkembang dengan sangat cepat pada abad ke-8 hingga ke-11, masa yang dikenal sebagai Golden Age dunia Islam.

1. Dukungan Khalifah terhadap Ilmu Pengetahuan

Para khalifah Abbasiyah, terutama Harun ar-Rasyid dan Al-Ma’mun, memprioritaskan ilmu sebagai fondasi pembangunan negara. Mereka memberikan dukungan dana, fasilitas, dan perlindungan kepada para ilmuwan. Tradisi ini melahirkan stabilitas intelektual yang jarang ditemui pada zaman itu.

2. Berdirinya Bayt al-Hikmah

Salah satu simbol utama kejayaan Baghdad adalah berdirinya Bayt al-Hikmah, sebuah lembaga ilmiah yang meliputi perpustakaan raksasa, pusat penerjemahan, akademi riset, dan tempat diskusi terbuka. Di sinilah karya-karya Yunani, Persia, India, dan Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dari sini pula lahir pemikiran baru yang memperkaya sains dunia.

3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Menakjubkan

Baghdad melahirkan banyak tokoh ilmuwan yang hingga kini dirujuk dunia modern. Di antaranya:

  • Al Kindi (filsafat dan matematika)

  • Al Khawarizmi (aljabar dan algoritma)

  • Ibnu Sina (kedokteran)

  • Ibnu Haitsam (optika)

  • Al Baitar (farmasi)

  • Al Farabi (logika dan etika)

Kontribusi-kontribusi mereka menjadi pijakan awal kemajuan sains di Eropa.

gambar sejarah baghdad ibu kota irak di zaman lalu
Potret kota sejarah Baghdad (sumber: www.britannica.com)

Baghdad sebagai Magnet Ulama Dunia

Selain menjadi pusat sains, sejarah Baghdad juga menceritakan bagaimana wilayah tersebut menjadi pusat ilmu agama dan tasawuf. Banyak ulama besar lahir atau menuntut ilmu di kota ini.

Imam Bukhari

Imam ahli hadis yang terkenal dengan kitab sahihnya ini pernah tinggal di Baghdad untuk berdiskusi dan menguji hafalan hadisnya di hadapan para ulama. Para ahli hadis Baghdad menguji beliau dengan mengacak sanad, tetapi Imam Bukhari mampu mengembalikan seluruhnya dengan tepat. Hal ini menunjukkan reputasi Baghdad sebagai pusat kritik ilmiah hadis kelas tinggi.

Syekh Abdul Qadir Jaelani

Tokoh sufi besar ini lahir di Persia, kemudian hijrah ke Baghdad untuk menuntut ilmu. Di kota ini, beliau belajar fikih Hanbali, tafsir, hadis, dan tasawuf. Kelak beliau mendirikan majelis ilmu yang sangat berpengaruh dan melahirkan tarekat Qadiriyah, yang tersebar di berbagai penjuru dunia hingga hari ini.

Keduanya adalah bukti bahwa Baghdad menjadi tempat bertemunya para ulama besar dari berbagai negeri, sekaligus bukti kualitas keilmuan kota tersebut.

Warisan Baghdad untuk Dunia Modern

Ada beberapa warisan penting dari sejarah Baghdad yang bertahan hingga sekarang:

1. Tradisi Riset dan Akademik

Konsep universitas modern, lembaga riset, dan metode ilmiah berkembang melalui dialog dan penelitian di Baghdad.

2. Sistem Rumah Sakit Modern

Baghdad memperkenalkan konsep bimaristan atau rumah sakit dengan standar profesional: dokter, catatan medis, kurikulum kedokteran, hingga apotek.

3. Perkembangan Matematika dan Teknologi

Penemuan aljabar, algoritma, hingga sistem angka saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran ilmuwan Baghdad.

4. Peradaban Multikultural

Baghdad mengajarkan dunia bahwa peradaban maju lahir dari kerja sama lintas budaya, bukan dari isolasi.

Baghdad Mengubah Wajah Dunia

Sebagai pusat peradaban dunia, Baghdad memberikan pengaruh besar pada perkembangan ilmu pengetahuan, pemerintahan, pendidikan, hingga etika intelektual. Kota ini menjadi bukti bahwa ketika ilmu dihormati, kemajuan akan muncul. Kehadiran tokoh besar seperti Imam Bukhari dan Syekh Abdul Qadir Jaelani semakin memperlihatkan bagaimana Baghdad menjadi tempat lahirnya berbagai cabang keilmuan yang memiliki nilai keberkahan sekaligus manfaat praktis bagi umat manusia.

Sejarah Baghdad adalah pesan penting bahwa peradaban besar dibangun dengan ilmu, kerja keras, dan keterbukaan terhadap pengetahuan.

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung Akreditasi PBI UINSA

Kegiatan asesmen lapangan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) berlangsung pada 4–5 Desember 2025 di gedung Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya. Proses asesmen berjalan dengan tanya jawab antara asesor dan para alumni yang berkecimpung di bidang pendidikan, edupreneur, dan penelitian. Dalam kesempatan itu, hadir Pendiri PPTQ Al Muanawiyah, Ustadz A. Muammar Sholahuddin, sebagai alumni yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam dunia edupreneur.

Pendiri PPTQ Al Muanawiyah Siap Dukung PBI UINSA

Asesmen kali ini dipimpin oleh dua asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan. Keduanya ialah Prof. Dr. Anam Sutopo dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Prof. Iskandar dari Universitas Negeri Makassar. Mereka menggali berbagai pengalaman alumni, khususnya yang bergerak di sektor pendidikan. Penilaian meliputi tujuh aspek penting. Di antaranya ialah kemampuan bahasa Inggris, penggunaan teknologi, komunikasi, kerja sama, pengembangan diri, keahlian sesuai bidang, dan etika profesional.

Ustadz Muammar menjelaskan bahwa beliau siap mendukung pengembangan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Bahkan, beliau menawarkan lembaganya sebagai tempat magang bagi mahasiswa. Tawaran ini menegaskan bahwa alumni yang aktif di masyarakat dapat membantu penguatan mutu akademik kampus. Selain itu, mahasiswa juga berpeluang melihat praktik pendidikan berbasis Al-Qur’an yang terkelola secara profesional.

beberapa orang foto bersama di depan tulisan UIN Sunan Ampel Surabaya termasuk pendiri PPTQ Al Muanawiyah
Potret pendiri PPTQ Al Muanawiyah (nomer 7 dari kanan) pasca kegiatan asesmen akreditasi Prodi PBI UINSA

Akreditasi memiliki fungsi penting bagi masyarakat luas. Akreditasi membantu calon mahasiswa menentukan pilihan pendidikan. Proses ini juga menjaga kualitas pembelajaran agar tetap sesuai standar nasional. Hasilnya amat terasa bagi lulusan karena akreditasi mempermudah proses kerja maupun studi lanjutan. Karena itu, keterlibatan alumni seperti Ustadz Muammar dalam akreditas PBI UIN Sunan Ampel Surabaya memberi nilai tambah bagi asesmen kali ini.

Al Muanawiyah dengan Program Unggulan Tahfidz

PPTQ Al Muanawiyah memiliki misi pendidikan yang terarah. Misinya mencakup empat nilai utama. Nilai itu meliputi Qur’an in mouth, Qur’an in hand, Qur’an in heart and soul, serta Qur’an in doings. Nilai tersebut membantu santri membiasakan interaksi harian dengan Al-Qur’an. Program tahfidz juga memadukan pendekatan psikologi dan pendidikan. Program unggulan tahfidz mendorong santri menyelesaikan hafalan dengan mutqin. Selain tahfidz, santri juga belajar akhlak dan fiqh melalui kitab kuning.

Santri terbiasa dengan pembiasaan ibadah yang teratur. Kebiasaan ini membentuk karakter yang siap terjun ke masyarakat. Dengan pola pendidikan tersebut, Pendiri PPTQ Al Muanawiyah hadir sebagai sosok alumni yang berkontribusi pada penguatan akreditasi kampus. Kehadiran beliau menunjukkan hubungan erat antara pesantren dan perguruan tinggi dalam membangun kualitas pendidikan Islam masa kini.

Ingin anak tumbuh dengan karakter kuat dan kecintaan mendalam pada Al-Qur’an? PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan bagi calon santri yang ingin menempuh pendidikan tahfidz yang terarah, berakhlak, dan berbasis ilmu.

Daftarkan putra-putri Anda sekarang dan rasakan lingkungan pendidikan yang memadukan metode Qur’ani, psikologi belajar, serta pembinaan karakter harian. Klik untuk website resmi Al Muanawiyah dan jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya masa depan mereka.

Syekh Abdul Karim Banten: Ulama Penyebar Tarekat Qadiriyah

Syekh Abdul Karim Banten: Ulama Penyebar Tarekat Qadiriyah

Di antara nama besar dalam sejarah perkembangan tasawuf di Nusantara, Syekh Abdul Karim Banten menempati posisi yang sangat penting. Beliau dikenal sebagai penyebar Tarekat Qadiriyah pada abad ke-18, khususnya di wilayah Banten, Jawa, hingga beberapa pusat keilmuan di Nusantara. Pengaruhnya tidak hanya bertahan pada masa hidupnya, tetapi juga diteruskan oleh para murid yang kemudian membentuk jaringan pesantren yang kuat.

Latar Belakang

Syekh Abdul Karim Banten adalah ulama asal Banten yang hidup pada abad ke-18 dan menuntut ilmu di Makkah. Pada masa itu, banyak ulama Nusantara bermukim di Haramain untuk memperdalam fikih, hadis, dan tasawuf. Di Makkah pula beliau mendalami tarekat dan mendapatkan ijazah untuk mengajarkan beberapa disiplin ilmu, termasuk ajaran Tarekat Qadiriyah.

Menurut sejumlah catatan sejarah pesantren, beliau merupakan salah satu murid Syekh Abdul Wahhab Bugis dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ketika mereka sama-sama menuntut ilmu di Timur Tengah. Lingkungan keilmuan yang kuat inilah yang melahirkan generasi ulama Nusantara berpengaruh pada masa itu.

gambar beberapa orang Arab sedang duduk melingkar belajar bersama Syekh di Mekkah seperti Syekh Abdul Karim Banten
Contoh majelis ilmu sejenis yang diikuti oleh Syekh Abdul Karim Banten (foto: www.panjimas.com)

Peran Syekh Abdul Karim Banten dalam Penyebaran Tarekat Qadiriyah

Tarekat Qadiriyah merupakan salah satu tarekat tertua dan berasal dari ajaran Syekh Abdul Qodir Jaelani di Baghdad. Pada abad ke-18, ajaran ini berkembang cepat di Nusantara karena dibawa oleh para ulama yang berinteraksi langsung dengan pusat-pusat keilmuan Timur Tengah.

Beliau menjadi tokoh penting dalam penyebaran tarekat ini melalui beberapa langkah berikut.

1. Mengajarkan Qadiriyah sepulang dari Haramain

Setelah kembali ke Nusantara, beliau mulai mengajarkan wirid dan suluk Qadiriyah kepada para santri dan ulama lokal. Metode beliau dikenal sistematis dan mengikuti disiplin spiritual yang diwarisi dari para masyayikh di Makkah.

2. Membentuk jaringan ulama dan pesantren

Beberapa murid Syekh Abdul Karim Banten kelak menjadi penyebar tarekat di daerah mereka masing-masing. Melalui jaringan ini, ajaran Qadiriyah menyebar ke Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga sebagian wilayah Sumatra.

3. Mewariskan disiplin tasawuf yang moderat

Ajaran beliau dikenal sejalan dengan tradisi pesantren: menyeimbangkan antara syariat, ibadah, dan akhlak. Pendekatan ini membantu tarekat diterima oleh masyarakat luas tanpa resistensi budaya.

Baca juga: Pondok Jombang dan Dakwah Moderat Aswaja

Pengaruh dalam Tradisi Keilmuan Nusantara

Pengaruh beliau tidak hanya terbatas pada bidang tasawuf. Syekh Abdul Karim Banten juga berperan dalam:

1. Penguatan tradisi pesantren

Ajaran-ajaran beliau memperkaya kurikulum pesantren pada masa itu, terutama dalam bidang akhlak dan pembinaan spiritual.

2. Melahirkan generasi ulama

Banyak muridnya yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di daerah masing-masing. Hal ini membuat ajaran Qadiriyah tersebar secara organik dari satu pesantren ke pesantren lain.

3. Membawa dinamika baru dalam perkembangan tasawuf

Pada abad ke-18, tasawuf di Nusantara mengalami fase penguatan doktrin dan kelembagaan. Beliau adalah salah satu tokoh yang memberi landasan kuat bagi perkembangan tersebut.

Hingga kini, pengaruh Syekh Abdul Karim Banten tetap dirasakan melalui:

  • amalan wirid dan suluk Tarekat Qadiriyah yang masih dipraktikkan,

  • sanad keilmuan di sejumlah pesantren yang merujuk pada ajaran beliau,

  • literatur tasawuf klasik yang memuat penjelasan tentang tarekat yang beliau sebarkan.

Warisan ini menjadikan beliau tokoh penting dalam perjalanan spiritual umat Islam di Indonesia.

Doa Masuk Rumah, Keutamaan, dan Adabnya

Doa Masuk Rumah, Keutamaan, dan Adabnya

Al MuanawiyahSaat seseorang pulang setelah beraktivitas seharian, rumah menjadi tempat untuk beristirahat dan mencari ketenangan. Namun, adakalanya suasana rumah terasa kurang nyaman, hati menjadi gelisah, atau muncul pertengkaran tanpa sebab. Dalam ajaran Islam, kondisi seperti ini bisa dihindari dengan membiasakan membaca doa masuk rumah. Amalan sederhana ini memiliki banyak faedah, termasuk menjaga keharmonisan keluarga, menghadirkan keberkahan, dan mengundang rahmat.

Pengertian Doa Masuk Rumah

Doa masuk rumah adalah bacaan yang dianjurkan oleh Nabi sebagai bentuk doa dilindungi Allah dari hal-hal yang buruk. Ketika seseorang pulang, membaca doa dapat menolak gangguan, termasuk ketidaknyamanan yang tidak terlihat. Selain itu, amalan ini sekaligus menjadi bentuk adab karena seorang Muslim diajarkan agar setiap aktivitas diawali dengan mengingat Allah.

Lafadz yang biasa dapat diamalkan setiap hari adalah sebagai berikut:

Allahumma inni as-aluka khairal maulaji wa khairal makhraji. Bismillahi walajna wa bismillahi kharajna wa ala rabbina tawakkalna.

Artinya, “Ya Allah, aku memohon kebaikan ketika masuk dan keluar. Dengan nama Allah kami masuk dan dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Tuhan kami bertawakkal.”

Doa ini berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Baca juga: Doa Sebelum Belajar Agar Mendapat Ilmu Bermanfaat

Keutamaan Membaca Doa Masuk Rumah

Berikut beberapa keutamaan yang sering disebutkan dalam literatur para ulama.

1. Mendatangkan ketenangan

Ketika seseorang memasuki rumah dengan membaca doa, rumah itu akan dipenuhi ketentraman. Ketenangan ini, diantaranya, dapat mencegah munculnya pertengkaran dalam keluarga.

2. Menjauhkan gangguan yang tidak terlihat

Adakalanya seorang hamba tidak menyadari adanya gangguan yang memengaruhi kondisi rumah. Dengan membaca doa, gangguan tersebut akan dijauhkan karena rumah yang diberkahi bacaan doa lebih terlindungi.

3. Membiasakan tawakkal

Membaca doa ini dapat menguatkan tawakkal seorang Muslim. Kebiasaan ini menumbuhkan kesadaran bahwa segala aktivitas harus dikembalikan kepada Allah.

4. Menghadirkan keberkahan

Doa yang dibaca ketika masuk rumah menjadi sebab turunnya keberkahan. Aktivitas keluarga menjadi lebih harmonis, hubungan antaranggota lebih terjaga, dan suasana rumah menjadi lebih nyaman.

gambar tangan mengetuk pintu ilustrasi doa masuk rumah
Ilustrasi adab masuk rumah (foto: freepik)

Adab-adab masuk rumah

Agar semakin sempurna, doa ini dapat disertai beberapa adab berikut.

1. Mengucapkan salam

Salam dianjurkan karena termasuk doa kebaikan dan wujud penghormatan kepada penghuni rumah.

2. Tidak membuat kegaduhan

Masuk rumah hendaknya dilakukan dengan tenang. Cara ini melatih kesadaran diri dan menunjukkan penghargaan kepada anggota keluarga.

Baca juga: Adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

3. Memulai dengan kaki kanan

Kebiasaan ini diajarkan dalam adab sehari-hari. Mulai dengan kaki kanan menunjukkan harapan akan datangnya kebaikan.

4. Tidak membawa energi negatif

Letih, marah, atau emosi sebaiknya ditenangkan sebelum masuk rumah. Hal ini membantu menjaga keharmonisan dan suasana positif di dalam rumah.

Seseorang yang membiasakan doa masuk rumah akan merasakan perubahan yang bersifat jangka panjang. Rumah menjadi lebih tenteram, hubungan keluarga lebih hangat, dan keberkahan lebih terasa dalam setiap aktivitas. Kebiasaan ini sekaligus melatih kedisiplinan spiritual yang akan berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Bangun Sebelum Subuh Rahasia Kesuksesan Santri

Bangun Sebelum Subuh Rahasia Kesuksesan Santri

Banyak santri terbiasa bangun sebelum subuh. Rutinitas ini ternyata bukan hanya bentuk kedisiplinan kehidupan pesantren, tetapi juga kebiasaan yang membentuk karakter jangka panjang. Banyak alumni pesantren mengaku mudah fokus, lebih tangguh menghadapi aktivitas harian, dan memiliki manajemen waktu yang lebih baik dibandingkan ketika mereka masih sekolah formal biasa. Mengapa kebiasaan sederhana seperti bangun sebelum subuh bisa memberikan dampak sebesar itu?

Manfaat Kebiasaan Santri Bangun Sebelum Subuh

Kegiatan pesantren biasanya dimulai sebelum adzan subuh. Santri melaksanakan ibadah malam, berdzikir, membaca Al Quran, hingga mempersiapkan kegiatan belajar. Kedisiplinan ini melatih mereka untuk bangun secara teratur, tidak menunda-nunda, dan memulai hari dengan ketenangan. Pada akhirnya, kebiasaan ini membentuk pola hidup produktif yang terbawa hingga dewasa.

Secara biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme yang disebut cortisol awakening response (CAR). Ini adalah peningkatan kadar kortisol secara alami sekitar 30–45 menit setelah seseorang bangun. Kortisol di pagi hari bukan “hormon stres” negatif, tetapi hormon kesiagaan yang membantu tubuh:

  • memunculkan energi,

  • meningkatkan fokus,

  • mengatur metabolisme,

  • menstabilkan mood.

gambar matahari terbit waktu subuh dengan siluet menara masjid ilustrasi manfaat bangun sebelum subuh
Ilustrasi Subuh (foto: freepik)

Bangun sebelum subuh—yakni pada fase alami ritme sirkadian ketika tubuh memang bersiap untuk bangun—membuat CAR bekerja lebih efektif. Ketika seseorang bangun terlalu siang, respons kortisol ini bisa berkurang atau tidak teratur, sehingga tubuh terasa lemas, sulit fokus, dan produktivitas menurun.

Santri yang terbiasa bangun pada waktu yang sama setiap hari menciptakan CAR yang lebih stabil. Saat matahari mulai terbit, paparan cahaya pagi memperkuat ritme biologis mereka, menghasilkan energi yang konsisten sepanjang hari.

Baca juga: Santri Putri Pondok Tahfidz yang Disiplin dari Fajr ke Malam

Dampak Jangka Panjang bagi Karakter dan Kesuksesan

Jika diamati, banyak santri sukses di dunia pendidikan, pekerjaan, maupun pengabdian masyarakat. Salah satu sebabnya adalah ketahanan disiplin yang mereka bangun sejak di pondok. Bangun sebelum subuh melatih mereka:

  • tidak bergantung pada mood,

  • menjadi pribadi yang proaktif,

  • mampu mengatur waktu dengan rapi,

  • tidak mudah menunda pekerjaan.

Gabungan antara disiplin spiritual dan kestabilan biologis inilah yang membuat santri terbiasa tampil lebih fokus, tidak mudah panik, dan kuat menghadapi aktivitas padat.

Baca juga: Pendidikan Pondok Pesantren Pembentuk Karakter Santri

Manfaat Kesehatan dari Bangun Sebelum Subuh

Kebiasaan ini juga didukung oleh manfaat kesehatan, antara lain:

  • ritme tidur lebih teratur,

  • kadar stres lebih stabil,

  • daya tahan tubuh meningkat,

  • kualitas tidur malam membaik,

  • hormon tubuh bekerja pada waktu yang tepat.

Inilah sebabnya bangun sebelum subuh sering disebut sebagai kebiasaan kecil yang memberikan dampak besar untuk kesehatan tubuh dan kejernihan pikiran.

Bangun sebelum Subuh bukan hanya kebiasaan mulia, tetapi juga cara efektif membentuk karakter, memperkuat mental, dan menjaga kesehatan. Namun, kebiasaan baik ini perlu lingkungan yang membimbing, aturan yang jelas, dan pendampingan spiritual yang konsisten.

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah hadir sebagai tempat belajar yang menanamkan disiplin harian—mulai dari bangun sebelum Subuh, menjaga adab, hingga membangun fondasi akhlak yang kokoh. Di sini, setiap santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga dilatih untuk berhasil dalam kehidupan melalui rutinitas yang membentuk karakter.

Daftar di Al Muanawiyah sekarang dan rasakan perubahan nyata dalam diri—lebih disiplin, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi masa depan.