Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi

Hadits Niat, Hadits ke-1 Arbain Nawawi

Al MuanawiyahDalam setiap amal yang dilakukan oleh seorang Muslim, niat memiliki peran yang sangat penting. Niat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan tekad dan tujuan dalam hati yang menentukan nilai suatu amal di sisi Allah. Salah satu hadits paling terkenal tentang hal ini adalah hadits niat, yang menjadi pembuka dalam kumpulan Hadits Arbain An-Nawawi.

Hadits Arbain Pertama: “Sesungguhnya Segala Amal Bergantung pada Niat”

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Innamal a‘mālu binniyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā.”
“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khattab ra., dan menjadi hadits pertama dalam kumpulan Hadits Arbain karya Imam Nawawi. Para ulama menilai hadits ini sebagai salah satu pokok ajaran Islam, karena keikhlasan niat menjadi penentu diterima atau tidaknya amal seseorang.

 

Makna Hadits Niat

Hadits niat mengandung pesan mendalam bahwa niat adalah pembeda antara ibadah dan kebiasaan biasa. Misalnya, seseorang yang bangun pagi bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk shalat Subuh atau mencari rezeki halal. Namun, jika tanpa niat ibadah, maka perbuatan itu hanya rutinitas duniawi.

Imam Syafi’i rahimahullah bahkan berkata bahwa hadits niat mencakup sepertiga ilmu Islam, karena amal dalam Islam bergantung pada tiga hal: hati (niat), lisan, dan perbuatan. Maka, tanpa niat yang benar, amal tidak memiliki nilai di sisi Allah.

gambar matahari terbit waktu subuh dengan siluet menara masjid
Ilustrasi Subuh, waktu manusia memulai kesibukan dengan niat yang sesuai (sumber: freepik)

Pentingnya Menjaga Niat dalam Kehidupan

Menjaga niat bukan hanya saat memulai ibadah, tetapi juga selama melakukannya. Kadang seseorang memulai dengan niat yang ikhlas, namun di tengah jalan muncul keinginan dipuji atau dikenal.
Oleh karena itu, para ulama menekankan agar seorang Muslim senantiasa memperbarui niatnya. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa syirik kecil, yaitu riya’ (pamer amal), bisa menghapus nilai kebaikan seseorang tanpa disadari.

Tips menjaga niat:

  1. Luruskan tujuan setiap amal hanya untuk mengharap ridha Allah.

  2. Perbanyak doa, agar hati dijauhkan dari riya’ dan ujub.

  3. Renungkan keutamaan ikhlas, karena Allah hanya menerima amal dari hati yang bersih.

  4. Perbaharui niat setiap kali merasa tergoda oleh pujian atau ambisi duniawi.

Baca juga: 5 Hadits Menuntut Ilmu Shahih dan Maknanya

Relevansi Hadits Niat di Dunia Modern

Dalam kehidupan modern, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri. Aktivitas dakwah, belajar, atau bahkan berbagi di media sosial bisa menjadi ladang pahala, namun juga bisa kehilangan nilai jika tujuannya berubah menjadi pencitraan.

Hadits ke-1 Arbain Nawawi ini mengingatkan bahwa keberkahan amal tidak diukur dari besarnya pengaruh, tetapi dari keikhlasan di baliknya. Oleh karena itu, umat Islam perlu mengingat kembali pesan Rasulullah ﷺ bahwa segala amal harus dimulai dengan niat yang benar.

Hadits niat mengajarkan bahwa kunci utama amal adalah keikhlasan. Tanpa niat yang benar, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilai di sisi Allah. Maka, marilah kita menjaga niat dalam setiap langkah — baik dalam ibadah, belajar, maupun bekerja.

Sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ dalam hadits pertama Arbain Nawawi, “Segala amal tergantung pada niatnya.” Semoga setiap amal kita menjadi sarana meraih ridha-Nya.

Hikmah Surat At Takatsur: Peringatan Agar Tidak Lalai oleh Dunia

Hikmah Surat At Takatsur: Peringatan Agar Tidak Lalai oleh Dunia

Surat At Takatsur merupakan salah satu surat pendek dalam Al-Qur’an yang sering dibaca dalam shalat, namun memiliki makna yang sangat dalam. Surat ke-102 ini terdiri dari delapan ayat dan turun di Makkah (makkiyah). Tema utamanya adalah peringatan Allah terhadap manusia yang terlena oleh kesenangan dunia dan lupa pada akhirat. Melalui memahami hikmah surat At Takatsur, kita bisa belajar menata hati agar tidak terperangkap dalam kesombongan harta dan jumlah.

Isi dan Makna Surat At Takatsur

Surat At Takatsur diawali dengan firman Allah:

“Alhākumut-takāthur” — Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.

Ayat pertama ini menggambarkan bagaimana manusia sering berlomba-lomba dalam memperbanyak harta, kedudukan, bahkan pengikut. Persaingan itu akhirnya membuat mereka lupa pada tujuan hidup sebenarnya, yaitu beribadah dan menyiapkan bekal akhirat.

gambar istana megah yang indah
Ilustrasi bermegah-megahan dalam hikmah surat At Takatsur (sumber: freepik)

Ayat-ayat berikutnya menegaskan bahwa manusia baru akan menyadari kesalahan itu ketika sudah memasuki alam kubur. Di sana, semua kebanggaan dunia tidak lagi berarti. Allah menegaskan bahwa setiap manusia akan ditanya tentang nikmat-nikmat yang telah diterimanya.

Intinya, surat At Takatsur mengajarkan agar manusia tidak terbuai oleh kuantitas, melainkan fokus pada kualitas amal dan ketulusan hati.

Baca juga: Hikmah Surat Al Qori’ah dan Pesan yang Terkandung Di Dalamnya

Hikmah Surat At Takatsur

  1. Menanamkan Kesadaran Akhirat
    Surat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Kekayaan dan jabatan tidak akan membantu di hadapan Allah, kecuali amal saleh.

  2. Melatih Zuhud dan Syukur
    Dengan memahami hikmah surat At Takatsur, kita belajar untuk tidak berlebihan dalam mengejar dunia, namun tetap bersyukur atas rezeki yang diberikan.

  3. Menghindari Persaingan yang Sia-sia
    Ayat-ayatnya mengingatkan agar tidak terjebak dalam gengsi sosial, seperti bermegah-megahan atau membandingkan diri dengan orang lain.

  4. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Spiritual
    Allah berfirman bahwa setiap nikmat akan dipertanyakan. Ini menjadi pengingat bahwa semua yang kita miliki: waktu, ilmu, harta, yang akan dimintai pertanggungjawaban.

  5. Mengajak Introspeksi Diri
    Surat At Takatsur mendorong umat Islam untuk merenung: sejauh mana hidup ini diarahkan untuk kebaikan dan ibadah?

Relevansi Surat At Takatsur di Zaman Modern

Pada era media sosial dan konsumerisme saat ini, pesan surat At Takatsur terasa semakin relevan. Banyak orang terjebak dalam perlombaan citra dan harta: jumlah pengikut, barang bermerek, atau pencapaian material.
Namun, Islam mengingatkan bahwa ukuran sejati bukanlah kekayaan, tetapi ketakwaan dan keikhlasan amal. Dengan memahami pesan ini, kita bisa hidup lebih tenang, fokus pada makna, bukan sekadar angka.

Baca juga: Suasana Pondok Tahfidz Putri: Dzikir dan Tilawah Rutinitas Santri

Hikmah surat At Takatsur mengajarkan kita untuk tidak silau oleh gemerlap dunia. Sebaliknya, kita harus berfokus pada amal, keikhlasan, dan syukur. Dunia hanyalah jalan, bukan tujuan akhir.
Dengan meneladani pesan surat ini, semoga kita termasuk orang yang mampu memaknai nikmat dengan bijak dan menjadikannya sarana menuju ridha Allah.

Manfaat Sujud Bagi Kesehatan Fisik dan Psikologis

Manfaat Sujud Bagi Kesehatan Fisik dan Psikologis

Gerakan sujud dalam ibadah shalat bukan sekadar rutinitas ritual. Gerakan ini mengandung hikmah dan manfaat yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikologis. Dengan memahami manfaat sujud, seorang muslim bisa semakin menyadari bahwa ibadah bukan hanya menghubungkan diri dengan Allah, tetapi juga menjaga kesehatan tubuh dan jiwa.

Manfaat Sujud Secara Fisik

  1. Melancarkan aliran darah ke otak
    Dalam posisi sujud, kepala dan dahi berada lebih rendah dibanding jantung, sehingga aliran darah yang mengandung oksigen dan nutrisi dapat mengalir dengan lebih optimal ke otak. Hal ini bisa meningkatkan fungsi kognitif seperti konsentrasi dan memperbaiki suasana hati.

  2. Melatih otot dan persendian
    Saat melakukan sujud, otot-otot punggung, leher, bahu, dan pinggul ikut terlibat dalam gerakan. Hal ini membantu menjaga kelenturan tubuh, mengurangi kekakuan sendi, dan mendukung postur yang sehat.

  3. Mendukung sistem pernapasan dan limfatik
    Posisi tubuh saat sujud juga memberi kesempatan bagi paru-paru melakukan pengaturan napas secara teratur. Selain itu, sistem getah bening (limfatik) dalam tubuh bisa lebih aktif dalam membantu membersihkan racun dan limbah melalui aliran yang baik.

gambar orang sujud dalam shalat
Ilustrasi sujud dalam shalat (sumber: pinterest)

Manfaat Sujud Secara Psikologis

  1. Momen dekat dengan Allah
    Dari sisi spiritual, sujud disebutkan sebagai keadaan di mana seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya. Hal ini menjadikan sujud sebagai momen penting untuk doa, introspeksi, dan penghambaan diri.

  2. Menenangkan pikiran dan mengurangi stres
    Dengan posisi yang rendah dan tenang, sujud menjadi waktu untuk melepas beban dunia dan menghadirkan ketenangan batin. Riset menunjukkan bahwa gerakan sujud bisa membantu menurunkan hormon stres dan menstabilkan emosi.

  3. Menguatkan akhlak tawadhu’ (rendah hati)
    Sujud secara simbolis menegaskan sikap tunduk di hadapan Allah, yang mendorong seseorang untuk rendah hati, tidak sombong, dan terus memperbaiki diri. Sikap ini penting untuk keseimbangan spiritual dan sosial.

Baca juga: Manfaat Rukuk Shalat untuk Kesehatan dan Jiwa

Mengapa Sujud Penting untuk Kita?

Mengetahui manfaat sujud membawa kita pada dua hal utama. Pertama, ia memotivasi kita agar melaksanakan ibadah shalat dengan penuh kesadaran dan bukan sekadar rutinitas. Kedua, kesadaran akan manfaat fisik dan batin ini menuntun kita menjadi lebih konsisten, karena kita memahami dampak nyata bagi tubuh dan jiwa.
Sebagai umat yang hidup di era modern dengan tekanan tinggi, sujud menjadi salah satu obat alami. Manfaat sujud bisa menjadi detoks fisik lewat gerakan dan detoks batin lewat penghambaan kepada Allah.

Baca juga: Keutamaan Shalat Tepat Waktu dan Dampaknya pada Kehidupan

Dengan memahami dan mengamalkan gerakan sujud dengan khusyu’, kita tidak hanya menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga merawat tubuh dan jiwa kita. Jangan anggap sujud hanya sekadar salah satu rukun shalat—ia adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan menyehatkan hidup. Semoga kita termasuk orang-yang konsisten dalam berdiri, rukuk, sujud, dan mengakhiri shalat dengan kesadaran penuh, sehingga tubuh sehat dan hati tenang.

Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan Nabi

Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan Nabi

Shalat adalah tiang agama yang menjadi pembeda antara seorang muslim dan bukan muslim. Oleh karena itu, memahami tata cara  shalat dengan benar menjadi kewajiban bagi setiap mukallaf. Rasulullah ﷺ bersabda,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menjadi pedoman utama dalam menunaikan ibadah shalat sesuai sunnah. Maka, berikut adalah runtutannya

Tata Cara Shalat Menurut Nabi

1. Niat

Niat dilakukan di dalam hati, bukan dengan ucapan. Cukup menghadirkan kesadaran bahwa shalat ini semata karena Allah, misalnya shalat Dzuhur, Maghrib, atau shalat sunnah lainnya.

2. Takbiratul Ihram

Angkat kedua tangan sejajar telinga sambil mengucapkan Allāhu akbar. Gerakan ini menandai dimulainya shalat dan meninggalkan urusan dunia.

3. Membaca Doa Iftitah

Disunnahkan membaca doa pembuka shalat (iftitah) sebagai bentuk pujian kepada Allah sebelum membaca Al-Qur’an.

gambar praktek tata cara shalat membaca doa iftitah
Contoh praktek tata cara shalat yang dilakukan santri Al Muanawiyah

4. Membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Pendek

Al-Fatihah wajib dibaca di setiap rakaat. Setelahnya, bacalah satu surah pendek atau beberapa ayat dari Al-Qur’an sesuai kemampuan.

5. Rukuk

Bungkukkan badan hingga punggung sejajar dengan kepala, letakkan tangan di lutut, dan ucapkan Subhāna rabbiyal ‘azhīm tiga kali. Dengan posisi yang benar, kita kana mendapatkan manfaat rukuk shalat.

6. I‘tidal (Berdiri Setelah Rukuk)

Bangkit sambil mengucapkan Sami‘allāhu liman hamidah, lalu berdiri tegak dengan bacaan Rabbana lakal hamd.

7. Sujud Pertama

Letakkan tujuh anggota sujud ke tanah (dahi, dua tangan, dua lutut, dan ujung kaki) sambil membaca Subhāna rabbiyal a‘lā tiga kali. Jika dilakukan dengan baik, kita juga akan mendapatkan manfaat sujud bagi kesehatan dan ketenangan batin.

8. Duduk di Antara Dua Sujud

Bangun dari sujud dan duduk tenang sambil berdoa:
“Rabbighfirli warhamni, wajburni, warfa‘ni, warzuqni, wahdini, wa‘āfini, wa‘fu ‘anni.”

Baca juga: Kisah Abu Bakar Menangis Saat Shalat dan Hikmahnya

9. Sujud Kedua

Lakukan sujud kedua dengan bacaan yang sama seperti sebelumnya. Setelah itu, berdiri untuk rakaat berikutnya.

10. Tasyahud Awal

Dilakukan setelah rakaat kedua pada shalat yang terdiri dari tiga atau empat rakaat (seperti Maghrib, Isya, dan Dzuhur). Duduk dengan posisi kaki kiri dilipat dan kaki kanan ditegakkan, lalu membaca:
“Attahiyyātu lillāhi was shalawātu wat thayyibāt, assalāmu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh, assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhish shālihīn. Asyhadu allā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasūluh.”

Setelah selesai, berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya.

11. Tasyahud Akhir dan Salam

Pada rakaat terakhir, duduk tasyahud akhir dengan posisi bersila. Bacalah tahiyyat akhir lengkap dengan shalawat kepada Nabi ﷺ dan doa sebelum salam.
Akhiri shalat dengan menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan:
“Assalāmu ‘alaikum warahmatullāh.”

Baca juga: Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut Tuntunan Islam

Hikmah di Balik Pelaksanaan Shalat

Tata cara shalat yang benar tidak hanya memastikan sahnya ibadah, tetapi juga membentuk kedisiplinan, kekhusyukan, dan kesabaran. Shalat yang dilakukan dengan penuh kesadaran menjadi sarana pembersih jiwa. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Melalui shalat yang tertib dan khusyuk, seorang muslim dilatih untuk tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah ﷻ.

Dengan memahami tata cara shalat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, seorang muslim tidak hanya menegakkan ibadah secara lahir, tetapi juga membangun hubungan spiritual yang kuat dengan Sang Pencipta. Shalat yang dilakukan dengan benar akan melahirkan ketenangan batin serta memperkuat keimanan.

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Al Muanawiyah

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Al Muanawiyah

Al MuanawiyahDi era digital yang semakin maju, kemampuan memahami teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Menyadari hal itu, SMP-SMA Qur’an Al Muanawiyah menghadirkan kegiatan ekstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial bagi para santri. Kegiatan ini menjadi jembatan agar mereka bisa memanfaatkan teknologi secara kreatif, produktif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam.

Belajar Koding dan AI dengan Cara yang Menyenangkan

Program ini dibina oleh M. Muhlas Saifuddin Nur, S.Kom. yang berpengalaman di bidang pemrograman dan edukasi digital. Dalam setiap pertemuan, santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung melalui proyek-proyek sederhana yang membuat pembelajaran terasa nyata dan menarik.

Salah satu kegiatan yang disukai adalah membuat permainan interaktif sederhana menggunakan sistem blok visual. Melalui metode ini, santri belajar berpikir logis, mengatur urutan perintah, hingga memahami bagaimana komputer merespons instruksi mereka. Hasilnya, mereka mampu membuat game kecil yang bisa dimainkan sendiri maupun bersama teman-teman.

gambar siswa berpakaian baju pramuka sedang belajar koding
Potret suasana ekstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial di SMP-SMA Qur’an Al Muanawiyah

Antusiasme Tinggi dan Semangat Inovasi

Menurut pembina, para santri menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Materi yang modern dan menantang membuat mereka semakin penasaran. Mereka aktif bertanya dan mencoba instruksi yang merupakan hal baru bagi mereka.

EKstrakurikuler koding dan kecerdasan artifisial ini juga menjadi sarana melatih kesabaran, kerja sama, dan rasa percaya diri. Santri tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga belajar bagaimana menyelesaikan masalah dan berpikir kreatif dalam setiap langkah.

Baca juga: Program IT Pesantren Al Muanawiyah Didik Santri Terampil Digital

Ekstrakurikuler Koding dan Kecerdasan Artifisial Mempersiapkan Santri

Tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengenalkan teknologi, tetapi juga menumbuhkan pola pikir komputasional dan keterampilan abad ke-21. Di masa depan, kemampuan memahami dasar koding dan kecerdasan buatan akan sangat berguna, baik untuk studi lanjutan maupun karier profesional.

Alhasil, santri Al Muanawiyah tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga siap menjadi bagian dari generasi cerdas digital yang berakhlak mulia.

Baca juga: HSN 2025 Al Muanawiyah Rayakan Semangat Kaum Sarungan

Ingin tahu bagaimana pondok modern menggabungkan pendidikan agama dan teknologi? SMP Qur’an Al Muanawiyah dan SMA Qur’an Al Muanawiyah membuka peluang bagi putra-putri terbaik bangsa untuk bergabung dalam lingkungan belajar yang seimbang antara spiritualitas dan inovasi.

Kunjungi Al Muanawiyah dan temukan bagaimana semangat pendidikan modern membawa santri menuju masa depan yang lebih cemerlang.

5 Pondok Pesantren NU Jombang yang Terbesar

5 Pondok Pesantren NU Jombang yang Terbesar

Kabupaten Jombang dikenal luas sebagai “Kota Santri” karena menjadi tempat lahir dan tumbuhnya banyak ulama besar Nahdlatul Ulama (NU). Di daerah inilah, sistem pendidikan pesantren berkembang pesat dengan corak keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah. Berikut ini beberapa pondok pesantren NU Jombang yang memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan Islam di Nusantara.\

5 Pondok Pesantren NU di Jombang

1. Pondok Pesantren Tebuireng

Didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, Tebuireng menjadi salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Dari pondok ini lahir banyak tokoh nasional dan ulama besar NU. Sistem pendidikannya memadukan pengajaran kitab kuning klasik dengan pendidikan formal hingga tingkat universitas. Selain itu, Tebuireng juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan dakwah, menjadikannya pusat pembentukan karakter dan akhlak santri yang kuat.

pondok pesantren Tebuireng
Pondok pesantren Tebuireng yang menjadi cikal bakal pendidikan Nahdlatul Ulama di Jombang (sumber: detikJatim)

2. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas

Berdiri pada tahun 1825 di Tambakrejo, Kecamatan Jombang, pesantren ini memiliki akar sejarah panjang bahkan sebelum masa pendirian NU. KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU, pernah menjadi pengasuh di sini. Bahrul Ulum terkenal sebagai pesantren besar dengan banyak unit pendidikan, mulai dari madrasah diniyah, sekolah formal, hingga perguruan tinggi. Pesantren ini juga menjadi tempat belajar ribuan santri dari berbagai daerah Indonesia, bahkan luar negeri, yang ingin memperdalam ilmu agama dalam bingkai tradisi NU.

3. Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan

Didirikan oleh KH. Tamim Irsyad pada tahun 1885, Pondok Pesantren Darul Ulum termasuk lembaga pendidikan Islam terbesar di Jawa Timur. Pesantren ini dikenal dengan motonya “Ilmu amaliyah dan amal ilmiah”, menekankan keseimbangan antara ilmu dan amal. Di dalamnya terdapat berbagai lembaga pendidikan, mulai dari MI, MTs, MA, hingga Universitas Darul Ulum (UNDAR). Dengan ribuan santri, pesantren ini menjadi bukti keberhasilan model pendidikan NU yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai klasik.

4. Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar

Pesantren ini berdiri pada tahun 1917 di Desa Denanyar, Jombang, oleh KH. Bisri Syamsuri, yang juga dikenal sebagai salah satu ulama besar dan Rais Aam PBNU. Mambaul Ma’arif menjadi salah satu pesantren pelopor dalam memperjuangkan peran perempuan dalam dunia pendidikan Islam. Di bawah kepemimpinan Nyai Hj. Khofifah Indar Parawansa, pesantren ini kini terus berkembang dengan sistem pendidikan yang kuat dan berkarakter. Selain kajian kitab, pesantren juga membuka peluang bagi santri untuk menempuh pendidikan formal dan kegiatan sosial masyarakat.

5. Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto

Berbeda dengan pesantren NU lainnya, Hamalatul Qur’an memiliki fokus utama pada hafalan dan pengamalan Al-Qur’an. Didirikan oleh KH. Muhajirun pada awal tahun 1980-an di Dusun Sumberbendo, Jogoroto, Jombang, pesantren ini menanamkan semangat cinta Al-Qur’an kepada para santri sejak dini. Kurikulum pembelajarannya menekankan tahsin, tahfidz, dan tafsir, disertai penguatan akhlak dan pembinaan ibadah sesuai manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Hingga kini, Hamalatul Qur’an telah melahirkan banyak hafidz dan hafidzah yang berkiprah di bidang pendidikan Islam.

Pesantren Tahfidz Modern di Lingkungan Jombang

Selain pesantren besar yang telah berdiri lama, kini banyak lembaga tahfidz modern di bawah naungan nilai-nilai NU bermunculan. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al Muanawiyah, yang mengintegrasikan pendidikan tahfidz, karakter Islami, dan keterampilan modern. Melalui program pembinaan hafalan, literasi digital, dan pelatihan kepemimpinan santri, Al Muanawiyah menjadi pilihan ideal bagi orang tua yang ingin anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an sekaligus berdaya di era modern.

Dengan tradisi keilmuan yang kuat, pondok pesantren NU Jombang telah menjadi pilar penting pendidikan Islam di Indonesia. Setiap pesantren memiliki ciri khas dan kontribusinya masing-masing, dari pengajaran kitab klasik, hafalan Al-Qur’an, hingga inovasi pendidikan modern. Bagi para orang tua, memilih pesantren berarti menanamkan nilai agama dan karakter yang akan menjadi bekal hidup anak di masa depan.

Kitab Bulughul Maram dan Pentingnya dalam Kajian Islam

Kitab Bulughul Maram dan Pentingnya dalam Kajian Islam

Dalam khazanah keilmuan Islam, kitab Bulughul Maram menjadi salah satu rujukan utama bagi para penuntut ilmu, khususnya di pondok pesantren. Kitab ini memuat kumpulan hadis-hadis hukum yang menjadi dasar dalam memahami syariat Islam secara komprehensif.

Identitas Kitab

Kitab Bulughul Maram disusun oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang ulama besar yang hidup pada masa abad ke-9 Hijriah (773–852 H / 1372–1449 M). Ibnu Hajar dikenal sebagai pakar hadis dan penulis kitab monumental Fathul Bari, syarah dari Shahih Bukhari.

Kitab ini mulai dikenal luas di kalangan ulama sejak masa klasik hingga kini, karena sistematikanya yang jelas dan bahasanya yang ringkas. Di dalamnya, Ibnu Hajar menghimpun lebih dari 1.300 hadis, sebagian besar bersumber dari kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Kitab Bulughul Maram
Kitab Bulughul Maram (sumber: daimuda.org)

Isi Kitab Bulughul Maram

Isi dari kitab Bulughul Maram terbagi dalam beberapa bab besar yang mengikuti struktur fikih Islam. Di antaranya:

  1. Kitab Thaharah (Bersuci)
    Membahas hukum wudhu, tayamum, mandi, dan hal-hal yang membatalkannya.

  2. Kitab Shalat
    Menjelaskan syarat, rukun, dan tata cara pelaksanaan shalat, baik wajib maupun sunnah.

  3. Kitab Zakat, Puasa, dan Haji
    Menguraikan kewajiban ibadah sosial dan fisik yang menjadi pilar Islam.

  4. Kitab Nikah dan Jual Beli
    Mengulas aturan muamalah dan hukum keluarga dalam Islam.

  5. Kitab Hudud dan Jihad
    Menguraikan hukum pidana Islam dan etika perjuangan dalam menegakkan agama.

Setiap hadis dalam kitab ini disertai sumbernya, sehingga santri atau pembelajar dapat melacak keotentikan hadis dengan mudah.

Baca juga: Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal yang Perlu Diketahui

Pentingnya Mempelajari Kitab

Penting untuk dipahami bahwa kitab ini tidak hanya berisi hukum, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang akhlak, ibadah, dan muamalah berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ. Oleh sebab itu, kitab ini menjadi jembatan antara teori fikih dan praktik keseharian umat Muslim.

Selain itu, kitab Bulughul Maram juga sering dijadikan materi wajib di berbagai lembaga pendidikan Islam. Para santri diajak untuk memahami hadis secara kontekstual, agar dapat menerapkannya dalam kehidupan modern tanpa kehilangan nilai-nilai syar’i.

Baca juga: 5 Cara Sederhana Agar Shalat Khusyuk dan Tenang

Pembelajaran Kitab di Pondok Pesantren Jombang

Di berbagai pondok pesantren di Jombang, termasuk Pondok Tahfidz Jombang Al Muanawiyah, kitab ini digunakan sebagai salah satu rujukan penting dalam kajian fikih dan hadis. Santri belajar tidak hanya menghafal matan hadis, tetapi juga memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Melalui pembelajaran kitab Bulughul Maram, para santri diarahkan untuk menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah di masyarakat. Sejalan dengan visi Al Muanawiyah yang menanamkan semangat tafakkuh fiddin, mempelajari kitab ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Siapa KH Bisri Syamsuri dan Apa Perannya dalam Berdirinya NU?

Siapa KH Bisri Syamsuri dan Apa Perannya dalam Berdirinya NU?

Dalam sejarah panjang Islam di Indonesia, nama KH Bisri Syamsuri menempati posisi penting. Sebagai salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan perintis kebangkitan pesantren di Nusantara. Membahasnya berarti menelusuri jejak seorang ulama yang berjuang tak hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan keteladanan dan pengabdian untuk umat.

Asal-usul dan Pendidikan KH Bisri Syamsuri

KH Bisri Syamsuri lahir di Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tahun 1886. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam mempelajari ilmu agama. Setelah menimba ilmu di pesantren daerahnya, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, di bawah bimbingan langsung KH Hasyim Asy’ari.
Dari sinilah hubungan guru dan murid itu tumbuh menjadi ikatan spiritual dan intelektual yang kuat. Beliau dikenal sebagai murid yang tekun dan cepat memahami persoalan fiqih serta ilmu alat.

foto KH Bisri Syamsuri pendiri Nahdlatul Ulama
Foto KH Bisri Syamsuri (Sumber: Laduni)

Perjuangan Sebelum Berdirinya NU

Sebelum NU resmi berdiri, beliau telah aktif berdakwah dan mendirikan majelis ilmu di berbagai daerah. Beliau memadukan metode tradisional pesantren dengan semangat pembaruan dalam dakwah.
Dalam masa-masa sulit penjajahan, beliau turut memperkuat kesadaran umat untuk mempertahankan akidah dan martabat bangsa melalui pendidikan Islam. Semangat keulamaan ini kelak menjadi fondasi kuat bagi berdirinya organisasi ulama terbesar di Indonesia.

Peran KH Bisri Syamsuri dalam Berdirinya NU

Ketika Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 di Surabaya, beliau menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam penyusunan dasar-dasar organisasi. Bersama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan ulama lainnya, perannya tidak hanya administratif, tetapi juga ideologis. Beliau turut menanamkan nilai tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (keadilan) sebagai dasar sikap keagamaan NU. KH Bisri juga dikenal sebagai ulama yang sangat hati-hati dalam berfatwa, menjaga agar setiap keputusan berlandaskan pada Al-Qur’an, hadis, dan ijtihad ulama salaf.

Kiprah Pasca Berdirinya NU

Setelah berdirinya NU, beliau mendirikan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang. Pesantren ini menjadi wadah pendidikan bagi generasi muda Islam yang ingin memperdalam ilmu agama sekaligus mengamalkan nilai-nilai ke-NU-an.
Beliau juga aktif mendampingi KH Hasyim Asy’ari dalam berbagai keputusan penting organisasi dan dakwah kebangsaan, termasuk dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Warisan dan Teladan KH Bisri Syamsuri

Warisan terbesar beliau adalah keteguhan menjaga kemurnian ajaran Islam dengan tetap berpijak pada akhlak. Dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama, terlihat bagaimana beliau menyeimbangkan ilmu dan amal, kepemimpinan dan keteladanan.
Nilai-nilai inilah yang terus menjadi inspirasi pesantren-pesantren modern saat ini, termasuk PPTQ Al Muanawiyah Jombang, yang berupaya mencetak generasi santri berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah di berbagai bidang.

Bagi para orang tua dan calon santri yang ingin meneladani semangat keilmuan dan keikhlasan KH Bisri Syamsuri, PPTQ Al Muanawiyah membuka kesempatan pendaftaran santri baru. Mari bersama melanjutkan perjuangan para ulama dengan menjadi bagian dari generasi penghafal Al-Qur’an dan penerus dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin.

Peran Pondok NU dalam Pendidikan Islam di Nusantara

Peran Pondok NU dalam Pendidikan Islam di Nusantara

Pondok pesantren telah menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Di antara berbagai pesantren yang tumbuh dan berkembang, pondok NU memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam yang moderat dan berakar kuat pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Sejak berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, pesantren menjadi pusat pendidikan, dakwah, dan pengkaderan ulama yang berakhlak dan berwawasan kebangsaan.

Sejarah Singkat Pondok NU Pertama Kali

Cikal bakal pondok NU dapat ditelusuri jauh sebelum berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama. Sejak abad ke-18, telah muncul berbagai pesantren tradisional di Jawa Timur yang kelak menjadi basis NU. Salah satu yang tertua adalah Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, yang berdiri sekitar tahun 1745. Pesantren ini menjadi pusat kajian keilmuan Islam dengan sistem pengajaran klasik berbasis kitab kuning.

Kemudian, pada awal abad ke-20, lahirlah Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899. Dari sinilah embrio pesantren NU mulai terbentuk dengan kuat. Tebuireng tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan semangat perjuangan. Setelah NU berdiri, banyak pondok lain yang bergabung dan menjadi bagian dari jaringan pendidikan Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

pondok pesantren Tebuireng
Pondok pesantren Tebuireng yang menjadi cikal bakal pendidikan Nahdlatul Ulama (sumber: detikJatim)

Kontribusi Pondok NU dalam Dunia Pendidikan

Dalam perkembangannya, pesantren Nahdlatul Ulama berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang mampu memadukan keilmuan agama dan pengetahuan umum. Santri tidak hanya dibekali dengan ilmu syariah, tafsir, dan hadits, tetapi juga diberi wawasan teknologi, bahasa, dan keterampilan hidup yang relevan dengan zaman.

Nilai-nilai seperti keikhlasan, tawadhu’, dan kemandirian menjadi ciri khas pendidikan di pesantren NU. Dengan karakter tersebut, banyak alumni pesantren yang kemudian menjadi tokoh masyarakat, pendidik, dan pemimpin yang berpengaruh di berbagai bidang.

Kini, pondok pesantren NU terus berinovasi menghadapi tantangan era digital. Banyak pesantren yang telah mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, membentuk santri melek IT, bahkan membuka ekstrakurikuler di bidang sains dan kewirausahaan. Namun demikian, nilai-nilai klasik seperti adab terhadap guru, cinta ilmu, dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi dasar utama pendidikan pesantren.

Dengan cara ini, pondok NU tetap menjadi benteng moral dan intelektual di tengah derasnya arus modernisasi.

Al Muanawiyah Mewarisi Semangat Ilmu dan Akhlak

Salah satu pesantren yang mewarisi semangat pendidikan pondok NU adalah Pondok Tahfidzul Qur’an Al Muanawiyah di Jombang. Pondok ini memadukan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendidikan karakter dan disiplin khas pesantren NU. Melalui program tahfidz, pendidikan formal, dan kegiatan spiritual, Al Muanawiyah berupaya membentuk generasi Qur’ani yang berilmu dan berakhlak.

Bagi orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh dalam lingkungan Islami yang seimbang antara ilmu, amal, dan adab, Pondok Tahfidz Al Muanawiyah menjadi pilihan tepat untuk masa depan yang berkah dan penuh nilai.

Hak Muslim terhadap Muslim Lainnya Menurut Bulughul Maram

Hak Muslim terhadap Muslim Lainnya Menurut Bulughul Maram

Dalam Islam, hubungan antarumat Muslim tidak hanya sebatas persaudaraan iman, tetapi juga disertai dengan kewajiban untuk saling menjaga dan menghormati. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki hak yang harus dipenuhi oleh muslim lainnya. Menunaikan hak muslim ini merupakan wujud nyata dari keimanan dan kasih sayang dalam persaudaraan Islam.

Pengertian

Secara umum, hak muslim berarti kewajiban moral dan sosial yang harus dipenuhi antara sesama umat Islam. Hak tersebut mencerminkan nilai ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) yang menjadi pondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Islam menuntun umatnya untuk tidak hanya beribadah secara individual, tetapi juga peduli terhadap sesama.

Baca juga: Keutamaan Orang Berilmu dalam Pandangan Islam

Dalam Kitab Bulughul Maram Kitabul Jami’, yang ditulis oleh Ibnu Hajar rahimahullah, disebutkan ada enam hak muslim terhadap muslim lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.”
Para sahabat bertanya, “Apa saja, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Apabila engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasihat maka berilah nasihat, apabila dia bersin dan mengucap alhamdulillah maka doakanlah, apabila dia sakit maka jenguklah, dan apabila dia meninggal dunia maka antarkanlah jenazahnya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi dasar utama dalam memahami hak-hak antar sesama Muslim.

Kitab Bulughul Maram
Kitab Bulughul Maram (sumber: daimuda.org)

Penjabaran Enam Hak Muslim yang Harus Dilakukan

  1. Memberi Salam
    Salam bukan sekadar sapaan, tetapi doa kebaikan bagi saudara seiman. Dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum,” seorang muslim mendoakan keselamatan dan rahmat Allah bagi saudaranya.

  2. Memenuhi Undangan
    Ketika seorang muslim diundang, terutama dalam acara yang baik seperti walimah atau pertemuan ukhuwah, maka ia dianjurkan untuk hadir sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi.

  3. Memberi Nasihat yang Baik
    Salah satu wujud cinta sesama muslim adalah saling menasihati dalam kebaikan. Nasihat harus disampaikan dengan lembut, tanpa menjatuhkan harga diri saudara kita.

  4. Mendoakan Saat Bersin
    Ketika seseorang bersin dan mengucapkan alhamdulillah, maka muslim lain menjawab dengan doa yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Hal ini menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian dalam keseharian.

  5. Menjenguk yang Sakit
    Menjenguk orang sakit bukan hanya memberikan semangat, tetapi juga menjadi amal besar di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia berada dalam taman surga hingga kembali.” (HR. Muslim).

  6. Mengantarkan Jenazah
    Mengiringi jenazah hingga ke pemakaman merupakan penghormatan terakhir bagi sesama muslim. Kegiatan ini juga mengingatkan setiap insan akan kematian dan pentingnya memperbanyak amal.

Baca juga: Hikmah Perang Uhud dan Relevansinya Bagi Kehidupan Sekarang

Menjaga hak muslim terhadap sesama bukan sekadar bentuk kebaikan sosial, tetapi juga wujud ketaatan kepada Allah SWT. Dalam kehidupan modern yang serba sibuk, menunaikan hak-hak ini bisa menjadi sarana mempererat ukhuwah dan menghidupkan nilai-nilai Islam yang luhur. Selain itu, menegakkan hak ini juga menjadi bentuk keteladanan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya. Dengan saling menghormati, membantu, dan mendoakan, umat Islam dapat hidup damai dalam kasih sayang Allah SWT.